
Ibunda dan Kakek Reinar serta putri Shania duduk di aula istana Kekaisaran Naga, menunggu hasil peperangan yang terjadi di perbatasan hutan kematian.
Tak begitu lama, seorang prajurit Kekaisaran datang menemui mereka dengan menunjukkan wajah senangnya.
“Laporkan apa yang ingin kamu laporkan, prajurit.” Kata Ibunda Reinar.
“Prajurit melapor, Kaisar Reinar dan yang lainnya berhasil mengalahkan pasukan besar Kekaisaran Dark Demones. Saat ini Yang Mulia Kaisar dan yang lainnya sedang dalam perjalanan kembali ke istana.” Kata tegas prajurit memberi laporan.
“Dengan begini seluruh benua akan tahu seberapa kuat kekuatan cucuku.” Kata Kakek Reinar senang.
“Tuanku, Yang Mulia Kaisar meminta pihak istana untuk menyiapkan acara pemakaman untuk para petinggi Kekaisaran Dark Demones yang jasadnya dibawa ke istana Kekaisaran Naga sebagai bukti memenangkan peperangan.” Ungkap prajurit Kekaisaran Naga.
“Baiklah, segera persiapkan acara pemakaman untuk orang-orang itu, dan aku sendiri nantinya yang akan memimpin upacara pemakaman untuk mereka.” Balas Kakek Reinar.
“Putriku, dan putri Shania, sambutlah kedatangan Yang Mulia Kaisar dan yang lainnya.” Kata Kakek Reinar sebelum pergi meninggalkan aula istana.
Ibunda Reinar dan putri Shania segera pergi ke gerbang istana untuk menyambut kedatangan Reinar dan yang lainnya.
Penduduk kota Sky Dragon yang mendengar kabar kemenangan Reinar dan yang lainnya, mereka segera berbondong-bondong pergi ke gerbang kota untuk menyambut kedatangan sang Kaisar.
“Yang Mulia memang hebat. Kekaisaran Dark Demones yang konon katanya bisa meluluhlantakkan seluruh kehidupan ras manusia bisa di kalahkan hanya dalam beberapa jam, itupun tanpa membawa prajurit Kekaisaran Naga.” Kata seorang penduduk kota.
“Hahahaha.... Dengan begini tak akan ada lagi yang berbuat semena-mena terhadap Kekaisaran Naga, dan kita bisa menjalani kehidupan dama tanpa takut akan adanya peperangan.” Timpal penduduk kota Sky Dragon yang lain.
***
Gerbang kota Sky Dragon.
Reinar dan lainnya yang memutuskan pulang dengan berjalan kaki akhirnya sampai di depan gerbang kota Sky Dragon. Di atas benteng kota, Reinar dapat melihat ratusan prajurit penjaga kota menyambut kedatangan mereka, dan saat gerbang kota terbuka, Reinar dan yang lainnya dibuat semakin takjub akan sambutan meriah seluruh penduduk kota.
Reinar tersenyum lebar melihat pemandangan di depan matanya. “Kalian semua, mari kita masuk dan menikmati sambutan mereka.” Kata Reinar dengan keras.
Perlahan rombongan Reinar memasuki kota Sky Dragon dengan dipimpin langsung oleh Reinar, dan ada enam wanita cantik yang mengikutinya serta dua pria berada di tempat paling belakang.
Terdengar sorakan para penduduk kota yang begitu bahagia menyambut kedatangan Reinar dan yang lainnya saat mereka memasuki kota Sky Dragon.
“Hidup Kaisar Reinar, Jaya selalu Kekaisaran Naga.” Kata seluruh penduduk yang menyambut di sepanjang jalan yang dilalui rombongan Reinar.
“Senyum dan tawa mereka, aku pasti akan menjaganya.” Batin Reinar melihat penduduk kotanya.
***
Istana Kekaisaran Naga.
Setelah beberapa saat berjalan, rombongan Reinar akhirnya sampai di istana Kekaisaran Naga, dan mereka sudah di sambut oleh dua wanita yang memang sedang menunggu kedatangan rombongan Reinar.
“Putraku, para calon menantuku, dan kalian dua pria tampan, selamat datang kembali ke istana Kekaisaran Naga.” Kata Ibunda Reinar, satu dari dua wanita yang menyanbut kedatangan rombongan Reinar.
“Selamat datang Yang Mulia.” Kata satu wanita lainnya yang tak lain adalah putri Shania.
“Ibunda dan putri Shania tidak perlu menyambut kami dan berdiri di tempat sepanas ini. Lebih baik kita bergegas ke tempat upacara pemakaman yang mungkin sudah di siapkan.” Kata Reinar sambil tersenyum.
“Hihihi.... baiklah putraku yang begitu perhatian, kita sekarang pergi ke tempat upacara pemakaman.” Allea menggandeng lengan putranya, dan memimpin jalan menuju tempat upacara pemakaman akan di langsungkan. Sedangkan putri Shania, setelah mendapatkan balasan senyuman dari Reinar, dia ikut dalam barisan para wanita di belakang Reinar.
Sementara itu di tempat akan diadakannya upacara pemakaman untuk Kaisar Felix beserta para Jenderalnya, Kakek Reinar telah menyelesaikan semua persiapan dan tinggal menunggu kedatangan rombongan Reinar.
***
Halaman belakang istana Kekaisaran Naga.
Kakek Reinar dan ratusan prajurit Kekaisaran Naga membuat barisan rapi untuk menyambut kedatangan rombongan Reinar.
“Selamat atas kemenangannya Yang Mulia Kaisar.” Kata Kakek Reinar.
“Kakek, ada apa?. Kenapa Kakek tiba-tiba begitu formal padaku?.” Tanya Reinar pada Kakeknya.
Kakek Reinar tersenyum. “Sekarang cucuku adalah seorang Kaisar, jadi apa salahnya yang tua ini berperilaku sopan pada Yang Mulia Kaisar?.” Kata Kakek Reinar berbahagia.
Reinar menggelengkan kepalanya. “Aku lebih suka Kakek bersikap seperti biasanya. Biarpun aku seorang Kaisar, kita tetaplah keluarga.” Balas Reinar.
“Cucuku, kau memang berbeda dari kebanyakan orang berpengaruh yang gila akan hormat.” Puji Kakek Reinar.
Reinar tersenyum. “Dihormati secara berlebihan tak akan memberikan dampak apapun dalam kehidupan. Aku lebih memilih dicintai daripada di hormati.” Ungkap Reinar.
Semua orang mengangguk dan semakin mengagumi sosok Reinar setelah mendengar apa yang baru dia katakan.
“Kakek, apa semua sudah siap?.” Tanya Reinar pada Kakeknya.
“Cucuku, semua sudah siap.” Jawab Kakek Reinar menunjuk tumpukan kayu yang akan digunakan untuk membakar jasad Kaisar Felix dan para Jenderalnya serta seorang pria tua pelayan setia Kaisar Felix.
Suasana seketika hening saat Reinar berjalan kearah tumpukan kayu dan meletakkan belasan jasad di atas kayu pembakaran setelah sebelumnya Reinar mengeluarkan mereka dari kantong penyimpanan.
“Ini adalah bukti kemenangan ku, dan ini juga merupakan penghormatan terakhir ku untukmu serta untuk seluruh orang yang setia pada mu.” Kata Reinar lalu dia menyalakan api dan memulai prosesi pembakaran jenasah.
Semua orang menundukkan kepala bukan sebagai tanda berduka, melainkan mereka hanya sekedar memberi penghormatan pada musuh yang telah gugur.
Tak butuh waktu lama semua jasad telah menjadi abu, dan api pun sudah padam. Melihat itu, Reinar menyuruh beberapa prajurit untuk mengumpulkan abu Kaisar Felix dan abunya akan dikirimkan Reinar ke Kekaisaran Dark Demones.
***
Aula istana Kekaisaran Naga.
Satu persatu orang-orang mulai memasuki istana Kekaisaran Naga dengan dipimpin langsung oleh Reinar. Setelah semua orang duduk, Reinar menatap Ibundanya yang sejak tadi terlihat ingin mengatakan sesuatu padanya.
“Ibunda, apa ada yang ingin Ibunda tanyakan pada putramu ini?.” Kata Reinar sambil menatap lembut Ibundanya.
Allea tersenyum menatap putranya. “Putraku, kamu sudah menjadi seorang Kaisar, kapan kamu akan menikahi mereka bertujuh?.” Tanya Allea menatap bergantian Reinar dan para wanita yang mengelilinginya.
Reinar tersenyum canggung mendengar pertanyaan Ibundanya. “Apa aku bisa menunda itu?.” Reinar balik bertanya.
“Bagaimana kalau kita adakan acara lamaran terlebih dahulu, dan acara pernikahan akan dilakukan setelah acara pertemuan antar Kekaisaran.” Kata Allea menjawab pertanyaan putranya sekaligus memberi sebuah saran.
Para wanita tersenyum bahagia mendengar saran Allea, berbeda dengar Reinar yang hanya pasrah mendengarkan saran dari Allea.
[Mereka bertujuh adalah takdir tuan, jadi tuan tak akan bisa menolak sesuatu yang sudah ditakdirkan untuk tuan.]
“Tapi aku belum yakin bisa membahagiakan mereka, apa lagi aku belum punya pengalaman bersama wanita.”
[Dengan hanya bersama tuan mereka sudah bahagia. Soal pengalaman, biarkan waktu yang akan memberi pengalaman pada tuan.]
Akhirnya Reinar menyetujui saran Ibundanya, dan mempercayakan semua pada Ibu dan para wanitanya.
***
***Bersambung...***
>> Jangan lupa kasih like dan komentarnya walau hanya satu kata 😊😊..
>> Rate ⭐ lima, dan jangan ketinggalan untuk kasih kado serta vote seikhlasnya 😊😊..
>> Terimakasih...