
Aula istana Kekaisaran Arkana.
“Arghhh....” Putra Mahkota meraung-raung saat kedua tangan dan kakinya dipotong Reinar, dan Reinar menggunakan skill yang akan membuat tangan dan kakinya tak lagi bisa di tumbuhkan.
Lima orang petinggi Kekaisaran yang tersisa merinding melihat kekejaman Reinar, mereka tidak menyangka, Pangeran kedua yang terkenal lembut dan pemaaf bisa berperilaku kejam kepada saudaranya sendiri.
“Aku akan menghentikan rasa sakit mu, tapi jangan harap tangan dan kakimu bisa tumbuh kembali, dan kamu tidak akan bisa memiliki keturunan untuk selamanya.” Kata Reinar berbisik sambil tersenyum.
“Kau, bunuh saja aku!.” Kata Putra Mahkota.
“Aku tidak akan membunuhmu, karena aku ingin melihat penderitaan mu sampai kematian menjemputmu dengan sendirinya.” Balas Reinar meninggalkan Putra Mahkota, dan dia beralih pada Kaisar Denis.
Melihat Reinar mendekati Ayahnya, Putra Mahkota berteriak mencoba menghentikan Reinar, dia tidak ingin satu-satunya orang yang bisa menolongnya bernasib sama dengannya.
“Kau jangan lagi menyentuh Ayahanda, bagaimanapun juga dia tetap Ayahmu.” Kata Putra Mahkota berteriak.
“Dia bukan Ayah kamu dan dia juga bukan saudaramu, putraku.” Kata seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke aula istana Kekaisaran, dan di belakangnya ada pria tua yang langsung membuat lima petinggi Kekaisaran berlutut saat melihatnya.
Reinar tersenyum melihat siapa yang datang. “Ibunda, Kakek, selamat datang.” Kata Reinar menundukkan kepalanya.
“Nak, bukannya kau terlalu kejam pada mereka?.” Tanya pria tua yang tak lain adalah Kaisar terdahulu Kekaisaran Arkana.
Reinar melihat sekilas keadaan Putra Mahkota dan Kaisar Denis, lalu dia tersenyum dan kembali melihat Kakeknya.
“Kakek, aku hanya ingin bermain-main dengan mereka, dan mebuat mereka sedikit merasakan penderitaan.” Kata Reinar dengan raut wajah tak bersalah.
Semua orang menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Reinar katakan. Jika apa yang dia lakukan hanya bermain-main dan sedikit memberi penderitaan, lalu seperti apa penderitaan yang sebenarnya bagi Reinar?. Pikir semua orang.
“Oh iya, apa maksud Ibunda jika mereka bukan Ayah dan saudaraku?. Bukannya Putra Mahkota juga putra Ibunda?.” Tanya Reinar penasaran.
Permaisuri Allea menggelengkan kepalanya. “Dia bukan Ayah mu, karena dia memang bukan Ayah mu. Dia bukan saudara mu dan dia juga bukan putraku, karena dia anak yang di bawa Kaisar Denis setelah menikah denganku.” Jawab Permaisuri Allea.
Akhirnya banyak orang yang tahu tentang rahasia yang begitu rapat di tutupi Keluarga Kekaisaran, termasuk Putra Mahkota yang tahu jika dia bukan putra dari sang Permaisuri.
“Jika Ibunda Permaisuri bukan Ibuku, lalu siapa Ibuku yang sebenarnya?.” Tanya Putra Mahkota dengan suara lirih.
“Aku juga ingin bertanya tentang siapa Ayahku.” Imbuh Reinar.
Permaisuri menatap Putra Mahkota. “Ibumu adalah wanita penghibur. Pria itu membuat hamil Ibu mu, dan lahirlah dirimu, Putra Mahkota. Kalau kamu bertanya di mana Ibu mu, pria itu lah yang membunuh Ibu mu sesaat setelah dia melahirkan dirimu.” Kata Permaisuri menjawab dan menjelaskan apa yang ingin di ketahui Putra Mahkota.
Permaisuri mengalihkan tatapannya pada putra yang sangat dia sayangi. “Belum saatnya kamu tahu siapa Ayahanda mu, tapi dia akan selalu menjagamu dan suatu saat nanti dia sendiri yang akan menemuimu.” Kata Permaisuri Allea penuh kelembutan.
Reinar mengangguk karena dia bukan tipe orang yang suka memaksa, tapi berbeda dengan Putra Mahkota yang begitu emosi melihat kearah Kaisar Denis.
“Dasar pembunuh!.” Teriak Putra Mahkota dan dia mencoba bergerak mendekati Kaisar Denis.
Melihat betapa rapuhnya Putra Mahkota, bukannya iba, Reinar justru menunjukkan senyum sinis nya, dan begitu saja dia mengabaikan keberadaan Putra Mahkota.
“Ibunda, Kakek, apa yang akan kita lakukan pada mereka?.” Tanya Reinar.
“Hahahaha.... Cucuku, kenapa kamu harus bertanya?. Bukankah kamu bisa melakukan apapun pada mereka?. Dan lagi tidak ada yang akan menghalangi mu, kamu bebas melakukan apapun kepada mereka, termasuk membunuhnya.” Kata pris tus Kaisar terdahulu, dan Permaisuri Allea mengangguk setuju dengan yang dikatakan Ayahandanya.
“Lihatlah, dia sudah sadar dan dia sepenuhnya milik mu, tapi ingat jangan terlalu lama melakukannya.” Kata Permaisuri Allea sambil tersenyum.
Karena sama-sama memiliki rahasia tentang anak-anak mereka, Permaisuri Allea dan Kaisar Denis selalu menunjukkan hubungan yang begitu baik saat tampil di muka umum.
“Apa Ibunda benar-benar tidak keberatan jika aku membuatnya cacat.” Reinar masih ragu menyiksa Kaisar Denis di depan Ibundanya, karena dia merasa jika hubungan mereka terlihat cukup harmonis.
“Hahaha.... putraku, Ibunda cuma menunjukkan hubungan palsu dengannya selama ini. Sebenarnya Ibunda sangat jijik berdekatan dengannya, kalaupun kamu membunuhnya, itu justru lebih baik bagi Ibunda.” Kata Permaisuri Allea ke Reinar.
“Kalau begitu aku tidak akan ragu lagi." Kata Reinar tersenyum dan berjalan mendekati Kaisar Denis.
Kaisar Denis yang baru sadar, dia ketakutan saat melihat Reinar berjalan mendekatinya. “Nak, ingatlah aku ini Ayahmu, seburuk apapun yang pernah aku lakukan, seharusnya kamu bisa memaafkanku.” Kata Kaisar Denis belum tahu jika Reinar sudah mengetahui kebenaran hubungannya dengan Kaisar Denis.
“Kau meminta maaf dariku yang bukan siapa-siapa mu, sedangkan anak mu sendiri belum tentu memberimu maaf.” Kata Reinar memandang Kaisar Denis sambil tersenyum.
“Bagus, kau benar-benar anak durhaka karena berani mengancam dan melukai seorang Ayah yang membuat mu lahir di dunia ini.” Kata Kaisar Denis yang masih berharap mendapatkan maaf dari Reinar.
“Kau terlalu berisik.”
Plakk.... BOOMMM...
Reinar menampar pipi Kaisar Denis dan membuatnya terbang sampai menghantam dinding.
Reinar kembali muncul di samping Kaisar Denis. “Ibunda sudah menceritakan semuanya, bahkan anak mu saat ini sangat ingin membunuhmu.” Reinar mencengkeram kepala Kaisar Denis dan membuatnya melihat kearah Putra Mahkota.
Kaisar Denis melihat Putra Mahkota yang tak lagi memiliki sepasang tangan dan kaki. Dia sangat marah pada Reinar melihat kondisi putranya, tapi saat melit tatapan berapo penuh amarah Putra Mahkota, dia sadar jika semua telah tahu rahasia yang selama ini dijaga oleh keluarga Kekaisaran.
“Kau melihatnya bukan, betapa dia ingin membunuh mu!.” Kata Reinar.
“Iya, kau benar, inilah yang akan aku dapatkan atas semua kesalahanku di masa lalu. Tolong bunuh aku daripada aku mati di tangan anakku sendiri.” Kata Kaisar Denis penuh penyesalan.
“Bagus kalau kau sadar akan kesalahanmu, tapi semua itu sudah terlambat, dan memang benar, penyesalan selalu datang di akhir.” Balas Reinar kemudian menyeret tubuh Kaisar Denis mendekat kearah Putra Mahkota.
“Arrghhh...” Kaisar Denis meraung saat Reinar melakukan hal yang sama seperti apa yang dia lakukan pada Putra Mahkota.
“Kalian renungkan apa yang sudah kalian lakukan, dan nikmatilah sisa hidup kalian sengan sedikit hadiah dariku.”
Pluk... Pluk...
Kaisar Denis dan Putra Mahkota dalam waktu bersamaan kehilangan bola mata serta lidah mereka.
Tak ada rasa sakit, tak ada darah yang keluar, tapi mereka tak lagi bisa bicara atau pun melihat.
Dengan tubuh cacat serta tak lagi bisa melihat dan berbicara, mereka lebih memilih mati daripada harus hidup dengan segala penderitaan yang akan mereka alami, tapi sayangnya Reinar tak memberikan kematian cepat untuk mereka.
“Kalian tidak akan mati sebelum kalian menikmati penderitaan yang akan aku berikan.” Kata Reinar.
***
***Bersambung...***
Jangan lupa kasih like dan komentarnya walau hanya satu kata 😊😊😊....