
Kota Touloun.
Jenderal Kekaisaran Arkana hanya bisa terdiam melihat Putra Mahkota Kekaisarannya di siksa oleh Reinar. Bahkan dia tak sedikitpun berani bergerak karena ribuan anak panah bisa saja membunuhnya dalam hitungan detik.
“Jangan terlalu sombong dan membanggakan Kekaisaran mu di hadapan ku, karena aku tak pernah menganggap keberadaan Kekaisaran mu.” Kata Reinar sambil terus menampar wajah Putra Mahkota Kekaisaran Arkana, yang tak lain ialah kakaknya sendiri.
Rhea yang berdiri di belakang Reinar hanya membiarkan apa yang sedang tuannya lakukan. Untuk tiga orang pengawal yang menjaga Putra Mahkota, mereka saat ini tengah menjadi mainan Serena dan Scarla.
“Kalau saja dari awal kamu tidak mendatangi kotaku, mungkin saat ini kamu belum aku pukuli, tapi sayangnya kamu datang lebih dulu dan membuatku lebih awal memberi hukuman ringan padamu, kakak.” Kata Reinar dan dia menunjukkan warna pupil matanya pada Putra Mahkota.
“Ka... Ka... Kau Reinar?.” Mata Putra Mahkota melotot melihat Reinar.
“Putra Mahkota, aku memang Reinar, adik kecilmu yang ingin kamu bunuh karena membuat malu Kekaisaran Arkana di mata Kekaisaran yang lainnya.” Kata Reinar menatap wajah Putra Mahkota yang tak lagi bisa di kenali.
“Buk... Bukannya kau sudah mati?. Ba... Bagaimana bisa kamu masih hidup dan memiliki kekuatan yang begitu besar?.” Tanya Putra Mahkota kebingungan.
Reinar tersenyum. “Aku punya dua nyawa, dan kau baru satu kali membunuh ku.” Jawab Reinar sambil menarik rambut panjang Putra Mahkota dan membuat pemuda yang sudah babak belur itu menjerit kesakitan.
Arrgghhh....
Putra Mahkota menjerit semakin kencang saat Reinar menerik rambut nya dan membuat Putra Mahkota dalan kondisi tergantung.
Darah mengalir dari kulit kepala Putra Mahkota, membuat wajah yang sudah hancur terlihat semakin menyeramkan saat darah segar membasahi wajahnya.
“Dasar adik sial*n, setelah ini Ayahanda pasti akan membunuh mu!.” Teriak Putra Mahkota menumpahkan amarahnya.
“Kau mengancam disaat yang tidak tepat.” Kata Reinar yang kemudian membanting tubuh Putra Mahkota, dan terdengar suara tulang yang patah saat tubuh Putra Mahkota menghantam tanah.
“Uhuk....” Putra Mahkota memuntahkan seteguk darah menandakan dia mengalami luka dalam.
Bukannya iba, Reinar justru kembali mendekati Putra Mahkota dan mulai mematahkan tulang kaki dan tangan Putra Mahkota tanpa belas kasih.
Putra Mahkota meraung keras merasakan tulang-tulang kaki dan tangannya yang Reinar patahkan bagai mematahkan sebuah ranting kering.
“Kau iblis. Kau pasti akan mati dengan cara yang lebih kejaaarrrgghhh....” Reinar mematahkan jari-jari tangan Putra Mahkota dan membuatnya kembali meraung meneriakkan rasa sakitnya.
“Kau terlalu berisik!.” Kata Reinar sambil memotong salah satu jari Putra Mahkota dan memasukkan potongan jari itu ke mulut Putra Mahkota.
Semua orang yang menatap penyiksaan Reinar merasakan ngilu pada jari-jari tangan mereka.
“Tuan ternyata punya sisi yang lebih kejam daripada kita.” Kata Serena melihat apa yang Reinar lakukan.
Putra Mahkota ingin memuntahkan jari tangannya yang ada di mulutnya, tapi dengan kuat salah satu tangan Reinar membungkam mulutnya.
“Siapkan sebuah kereta untuk mereka!.”
“Baik tuan.”
“Dan kau tuan Jenderal yang terhormat, bawa Putra Mahkota pulang, dan sampaikan salam ku pada Ayahanda Kaisar.” Kata Reinar.
“Baik Pangeran....” Balas Jenderal Kekaisaran yang telah mendengar apa yang di katakan Putra Mahkota, dan akhirnya dia tahu jika pemuda di depannya adalah Pangeran Kekaisaran Arkana yang dikatakan menghilang.
Tak lama kereta kuda yang Reinar pesan datang dan dia membiarkan si Jenderal membawa kembali Putra Mahkota yang kondisinya sangat menyedihkan.
“Semoga dia menerima hadiah yang aku berikan padanya.” Kata Reinar melepas kepergian Jenderal beserta Putra Mahkota Kekaisaran Arkana.
***
Takai dan Matoi yang semula hanya akan beberapa hari di kota Touloun. Reinar akhirnya memutuskan mereka akan tinggal lebih lama di kota Touloun dan membantu menjaga keamanan kota.
Reinar juga memerintahkan beberapa orang untuk pergi ke kota Avalon dan meminta Argust untuk mengirim beberapa prajurit untuk membantu penjagaan di kota Touloun.
Kota Touloun sangat dekat dengan Kekaisaran Arkana. Untuk mencegah hal buruk terjadi, Reinar akan memperketat pengamanan kota Touloun.
“Tuan, apa tidak sebaiknya kita langsung menyerang mereka?.” Tanya Rhea.
“Aku akan menyerang balik mereka kalau mereka masih berani membuat ulah di wilayah kekuasaan ku. Selagi mereka diam, untuk sementara waktu mereka akan merasakan kedamaian.” Jawab Reinar tenang.
Semua mengangguk dan tak memprotes keputusan Reinar.
Setelah pertemuan singkat, Reinar dan Rhea memutuskan kembali ke kota Sky Dragon, dan menyerahkan penjagaan kota Touloun pada semua pengikutnya.
***
Di istana Kekaisaran Arkana
Tiga hari kembali berlalu.
Di saat Reinar dan para pengikutnya tengah membangun kota yang sedang mereka tempati. Di istana Kekaisaran Arkana tengah terjadi kehebohan saat Jenderal dan Putra Mahkota kembali dari kota Touloun.
Bukannya membawa kemenangan, mereka justru kembali dengan kondisi sangat menyedihkan.
“Jenderal, siapa yang melakukan ini pada putraku?.” Tanya Kaisar Denis yang melihat kondisi putranya yang sangat menyedihkan.
Setelah sampai di istana, Putra Mahkota langsung mendapatkan perawatan dari seorang dokter Kekaisaran. Luka luar Putra Mahkota sudah di tangani dan di sembuhkan, tapi untuk luka dalam dan luka patah tulang, dokter Kekaisaran mengatakan butuh beberapa hari untuk membuatnya pulih seperti sedia kala.
“Yang Mulia, sebenarnya yang melakukan itu pada Putra Mahkota adalah Pangeran Reinar.” Jawab Jenderal Kekaisaran yang membawa Putra Mahkota kembali ke Kekaisaran Arkana.
Kaisar Denis tersentak kaget mendengar jawaban Jenderalnya. “Jangan membohongi ku!. Anak itu sudah mati, mana mungkin dia bisa melukai Putra Mahkota, dan kalaupun masih hidup, dia tetap lah seorang sampah yang membuat malu Kekaisaran ku.” Kata Kaisar Denis.
“Yang Mulia, hamba tidak berani berbohong. Apa yang hamba katakan adalah kenyataan. Bahkan Putra Mahkota juga mengetahuinya, dan Yang Mulia bisa menanyakan langsung pada Putra Mahkota saat dia sudah siuman.” Balas si Jenderal sambil menjelaskan.
Kaisar terdiam dengan pikirannya yang menerawang kemana-mana. Putranya yang dia kira telah mati ternyata masih hidup, dan lagi dia mampu menyiksa putra tercintanya sampai membuatnya sulit untuk di kenali. Bukannya dengan dia berhasil mengalahkan Putra Mahkota artinya dia jauh lebih kuat dari Putra Mahkota.
Kaisar tersenyum dengan pikiran liciknya. “Kau Jenderal tak berguna, bawa kembali Pangeran Reinar ke Kekaisaran. Apapun yang terjadi, bawa dia ke hadapanku, dan kalau perlu, kamu bisa membawa seratus ribu prajurit Kekaisaran untuk memaksanya kembali.” Kata Kaisar Denis tegas. “Hancurkan sekalian kota yang dia tinggali.” Lanjut Kaisar Denis sebelum pergi meninggalkan ruang perawatan Putra Mahkota.
“Maaf Yang Mulia, aku bukan lagi Jenderal Kekaisaran Arkana, karena aku telah melepas jabatan itu.” Kata si Jenderal yang kemudian pergi.
Bukan hanya pergi dari ruangan tempat Putra Mahkota dirawat, pria dengan tubuh tinggi besar yang sudah melepas jabatannya itu, di hari yang sama dia pergi meninggalkan Kekaisaran Arkana, dan kembali menaiki kereta kuda pemberian Reinar menuju kota Touloun.
“Kaisar bodoh itu akan hancur oleh putranya sendiri.” Kata seorang pria yang sedang mengendarai kereta kuda, dan mungkin si pria sudah di cap sebagai penghianat Kekaisaran Arkana.
***
***Bersambung....***
Maaf jika kurang enak di baca, lagi agak Bad Mood gara-gara NT nurunin level nih novel, padahal udah lumayan ramai 😩😩....