The World Emperor System

The World Emperor System
Kematian Kaisar Kekaisaran Bintang



Balasan Reinar akan pertanyaannya, membuat Kaisar Xiao Luo berdecak kesal. Bukan hanya jawaban yang terdengar sangat meremehkannya, tetapi jawaban itu juga menunjukkan seberapa sombong lawan yang tengah dia hadapi.


Siapa ahli di Dunia Immortal yang tak tahu akan sifat sombongnya?.... Dirinya adalah sosok paling sombong di Dunia Immortal, namun itu sebelum dia bertemu dengan sosok Reinar. Di depan sosok yang jauh lebih pantas menyombongkan dirinya dibandingkan dengannya, Xiao Luo benar-benar tak bisa menunjukkan bukti dari kesombongannya.


Setiap dia melakukan sesuatu untuk menyombongkan dirinya, lawannya selalu bisa melakukan apa yang jauh lebih baik dari apa yang dia lakukan.


Xiao Luo benar-benar tidak percaya akan keberadaan sosok yang jauh lebih sombong dari dirinya. Bukan hanya jauh lebih sombong, tetapi sosok itu juga memiliki kekuatan yang tak dapat dibandingkan dengan kekuatannya.


Xiao Luo saat ini dapat dikatakan sebagai Kaisar terkuat diantara empat Kaisar yang berdiri di Dunia Immortal. Tetapi gelar Kaisar terkuatnya tak berlaku dihadapkan sosok pria yang usianya bahkan belum genap tiga puluh tahu. Usia yang bahkan jauh lebih muda dari usia para putranya.


°°°


“Berani membunuhku, kau sama saja menantang seluruh kekuatan yang ada di Benua Timur. Bagaimanapun juga, aku adalah sosok penguasa Benua Timur, dan yakinlah kalau mereka akan membalaskan kematianku!....” Kata Xiao Luo mengancam Reinar.


Reinar tersenyum sinis menanggapi ancaman Xiao Luo. “Apa yang harus aku takut kan dari sekumpulan orang-orang yang jauh lebih lemah darimu?.... Sekalipun puluhan juta kultivator ataupun seluruh penyihir di Benua Timur mendatangi ku untuk membalaskan kematianmu, aku tak akan gentar menghadapi mereka, dan dengan senang hati aku akan mempertemukan mereka denganmu di alam kematian....” Balasnya.


Xiao Luo sejenak terdiam setelah dia mendengar balasan Reinar yang tak sedikit pun menunjukkan ketakutan walau dia sudah memberinya sebuah ancama kepadanya.


Xiao Luo saat ini benar-benar dalam keadaan terdesak yang sangat tidak menguntungkan dirinya. Para prajuritnya satu persatu bertumbangan, dan dari melihat para prajurit yang dibawanya mulai bertumbangan, Xiao Luo menyimpulkan kalau nasibnya tak akan jauh berbeda dengan para prajuritnya.


Dia memiliki keyakinan kalau lawannya tak akan melepaskannya untuk pergipergi setelah apa yang dia lakukan, dan lagi sebelumnya kedua putranya telah sukses menyinggung pria yang kini menjadi lawannya.


“Cih, tak ada jalan lain!.... Kalau tempat ini akan menjadi tempat kematianku, aku akan membawamu mati bersamaku!....” Kata Xiao Luo dengan suara lantangnya.


Xiao Luo telah memutuskan akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk melawan Reinar. Kalau seluruh kekuatannya belum mampu membuat dirinya menang, dia akan menggunakan teknik terakhir miliknya walau dia harus mengorbankan kehidupannya sendiri.


Reinar dengan senang hati melayani Xiao Luo yang pada akhirnya memutuskan untuk bertarung dengannya.


“Dengan kekuatan selemah ini kau ingin membawa ku mati bersama mu?.... Lagi-lagi kau hanya bisa berkata namun tak bisa mewujudkannya....” Ujar Reinar.


Xiao Luo tak mempedulikan apa yang dikatakan oleh Reinar. Saat ini dia hanya ingin terus menyerang dan menyerang.


Para istri Reinar hanya menggelengkan kepalanya saat melihat pertarungan Reinar dengan Xiao Luo dari kristal perekam yang terus merekam jalannya pertempuran. “Apa menurut kalian suami kita akan terus bermain-main dengan orang itu?....” Tanya Helena yang biasanya lebih banyak diam.


Para saudarinya dengan cepat kembali menggelengkan kepalanya. “Suami kita tak akan berlama-lama bermain dengan orang selemah itu. Aku yakin tak lama lagi dia akan melenyapkan keberadaan orang itu dari dunia ini....” Ujar Bella membalas pertanyaan Helena.


Saat para wanita itu sedang asik membicarakan jalannya pertempuran, untuk kesekian kalinya mereka dapat melihat Xiao Luo yang menjadi bulan-bulanan serangan balasan yang dilakukan oleh Reinar.


Di tempat pertempuran, sejenak Reinar melihat keberadaan bola kristal yang melayang di atas wilayah Istana Kerajaannya, lalu dia tersenyumtersenyum. “Karena aku tidak ingin membuat para wanita ku terlalu bosan melihat pertempuran kita, bagaimana kalau kita segera mengakhiri pertempuran ini?....”


Reinar melambaikan tangannya, dan saat itu juga muncul sebuah pedang yang langsung dia genggam dengan tangan kanannya. “Semoga di kehidupan yang selanjutnya kau bisa menjadi sosok yang jauh lebih baik dari sosokmu yang sekarang!....”


Sosok Reinar yang tiba-tiba menghilang, muncul dari kekosongan dan kini dia berada di dekat Xiao Luo dengan ujung pedang miliknya yang terdapat bercak noda darah yang masih belum mengering.


“Kau tidak akan mati dengan cepat, tetapi izinkan aku membuat karya seni terindah dengan menggunakan tubuh mu....” Kata Reinar dan bersamaan dengan itu, Xiao Luo dapat merasakan rasa perih di tangan kirinya.


Tak ingin beteriak yang hanya akan membuat malu dirinya, Xiao Luo hanya dapat merintih sambil menegangkan lengan tangannya yang terus mengeluarkan darah segar dari bekas luka yang terlihat begitu rapi.


“Ka.. Kau adalah sosok iblis pendosa yang suka mempermainkan kehidupan manusia!....” Kata Xiao Luo yang mencoba menghentikan pendarahan di lengan tangan kirinya.


“Bagaimana pria setampan diriku kamu katakan sebagai sosok iblis, sedangkan penampilanmu lah yang sudah sama persis dengan penampilan sosok seorang iblis?....”


Tak menunggu balasan Xiao Luo, Reinar kembali mengayunkan pedang di tangannya untuk membuat sebuah karya seni dengan menggunakan tubuh Xiao Luo sebagai obyek karya seninya.


AAARGH....


Tak lagi dapat menahan rasa sakit untuk kedua kalinya, Xiao Luo berteriak keras saat Reinar berhasil memotong lengan tangan kanannya.


Prajurit penjaga Istana Kerajaan yang melihat bagaimana Raja mereka menyiksa musuhnya, mereka semua hanya bisa menatap ngeri dengan apa yang tengah dilakukan oleh Raja mereka, namun bagi mereka itu adalah sebuah kewajaran yang biasa dilakukan kepada musuh yang kalah dalam perang.


Tak berhenti setelah memotong kedua lengan Xiao Luo, Reinar kembali menggunakan pedang di tangannya untuk memotong kedua kaki milik Xiao Luo.


Tubuh Xiao Luo yang telah kehilangan sepasang tangan dan kaki terjatuh dengan darah yang menggenangi tempatnya terjatuh.


Reinar tersenyum melihat wajah pucat Xiao Luo yang tentunya telah kehilangan sebagian besar darah yang ada di tubuhnya. “Tubuhmu memang tubuh manusia, namun darah hitam darah berwarna hitam yang mengalir di tubuh mu, itu menunjukkan kalau kau bukanlah makhluk yang pantas untuk hidup di dunia ini....”


Dengan sebuah ayunan pedang yang sangat cepat, Reinar memenggal kepala Xiao Luo dan memberikan kematian padanya, dan dengan sebuah lambaian tangan, seketika sebuah api muncul dan perlahan membakar tubuh Xiao Luo.


Api itu bukan hanya muncul dan membakar tubuh Xiao Luo, tetapi api itu juga muncul di seluruh tubuh Jenderal dan prajurit Kekaisaran Bintang, lalu secara perlahan api itu mulai membakar tubuh mereka semua dan merubahnya menjadi abu.


Begitu seluruh mayat telah berubah menjadi abu, Reinar memerintahkan seluruh prajurit Kerajaannya untuk membersihkan sisa-sia pertempuran. Sedangkan untuk para bawahan dan prajurit khusus miliknya, mereka semua telah kembali ke kalung dimensi miliknya.


Kematian Xiao Luo menandakan akan datangnya era baru di Benua Timur, dan mungkin akan terjadi peristiwa balas dendam seperti apa yang sempat dikatakan oleh Xiao Luo.


“Kalau mereka benar-benar datang untuk membalas dendamdendam, dengan senang hati aku akan menyambut kedatangan mereka, dan mungkin aku akan membuat mereka segera bertemu dengan Xiao Luo di alam sana....”


Reinar menjanjikan sebuah kehancuran total untuk Benua Timur kalau para ahli di Benua itu menuntut balas kepadanya akan kematian Xiao Luo.


°°°


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya setelah selesai membaca, terimakasih....