The World Emperor System

The World Emperor System
Rencana Adu Domba



Reinar menyembunyikan tubuh tak bernyawa orang-orang yang baru dia bunuh, lalu dia mulai menyusun rencana yang akan dia lakukan.


Setelah lama menyusun rencana, akhirnya Reinar selesai dengan rencana yang akan dia lakukan.


“Lilia, apa aku bisa membeli bawahan seorang kultivator dari toko sistem?...” Kata Reinar sambil membuat enam tubuh bayangan.


[Tuan bisa membeli bawahan kultivator di sistem. Tingkat bawahan terkuat berada satu tingkat dibawah kekuatan tuan, dan untuk saat ini tuan hanya bisa membeli sepuluh bawahan...]


“Apa kekuatan bawahan yang aku beli dapat meningkat?...” Tanya Reinar penasaran.


[Kekuatan mereka akan terus meningkat saat kekuatan tuan meningkat...]


Reinar mengangguk lalu tanpa basa-basi dia langsung membeli sepuluh kultivator tingkat Jenderal Dewa menengah dari toko sistem.


Sepuluh sosok muncul di depan Reinar dengan penampilan yang gagah dan juga tampan, tapi ketampanan mereka masih berada dua tingkat dibawah Reinar.


“Kami siap menjalankan perintah dari Yang Mulia...” Kata seluruh bawahan baru Reinar sambil berlutut.


Reinar tersenyum lalu berkata pada mereka. “Bangunlah, dan mulai sekarang kalian cukup memanggil aku tuan...”


“Baik tuan ku...”


Reinar lalu membagi mereka ber-sepuluh menjadi dua kelompok dengan jumlah yang sama banyaknya, lalu Reinar menyuruh mereka pergi mengikuti tubuh bayangannya yang telah merubah wujud mereka.


Tiga tubuh bayangan Reinar dan lima bawahannya pergi ke tempat berkumpulnya para anggota organisasi Lembah Kematian, untuk yang lainnya mereka akan pergi ke Sekte Lembah Tengkorak.


Tempat berkumpulnya organisasi Lembah Kematian dapat diketahui Reinar setelah menyerap ingatan dari kultivator anggota organisasi Lembah Kematian yang dia kalahkan.


Kini Reinar hanya ditemani lima tubuh tak bernyawa murid Sekte Lembah Tengkorak. “Mengubur kalian hanya akan membuatku rugi dalam waktu, lebih baik aku menyerap kekuatan kalian dan menyucikan aura buruk yang kalian miliki...”


Reinar menyerap kekuatan dari tubub murid Sekte Lembah Tengkorak, dan setelah kekuatan mereka kering, Reinar membakar habis aura menjijikkan yang akan berpindah mengikuti makhluk hidup yang menyentuhnya.


Di Sekte Lembah Tengkorak.


Ketiga tubub bayangan Reinar dan lima bawahannya sampai di halaman utama Sekte Lembah Tengkorak. Patriak Jun Quro menyambut kedatangan mereka setelah dia merasakan aura kuat mendekati Sektenya.


“Mereka semua sangat kuat...” Kata Patriak Jun Quro membatin lalu dia melihat tubuh lima murid elite Sekte Lembah Tengkorak yang tak lagi bernyawa tergeletak di halaman Sektenya.


“Wuusshh...” Patriak Jun Quro tiba-tiba mendekat untuk melihat keadaan kelima murid Sektenya.


“Kami menemukan mereka dalam keadaan sudah seperti itu tak jauh dari kota Tengkorak Hitam. Salah satu dari mereka ada yang masih hidup saat kami menemukannya, tetapi setelah menyebut nama Lembah Kematian, dia langsung mati...” Kata salah satu tubuh bayangan Reinar yang menyamar sebagai pria tua.


“Lembah Kematian, sepertinya mereka memang ingin dihancurkan!...” aura kuat Patriak Jun Quro keluar bersama kemarahan yang semakin berlipat setelah banyaknya masalah yang dia hadapi.


“Jangan gunakan amarahmu tapi gunakan kecerdasan mu!...” Kakek tua dan orang-orang yang bersamanya menghilang setelah mereka menyelesaikan tugasnya.


Patriak Jun Quro tidak mempermasalahkan mereka yang tak menghormatinya. Dia tahu seberapa kuat orang-orang yang baru menemuinya.


“Setidaknya kekuatan mereka hanya satu atau dua tingkat dibawah Yang Mulia Dewa Maha Agung...” Batin Patriak Jun Quro yang sebenarnya penasaran dengan asal orang-orang yang baru menemuinya.


Patriak Jun Quro menggelengkan kepalanya dan melihat kembali murid Sektenya yang tak lagi bernyawa. “Organisasi Lembah Kematian, aku akan memusnahkan kalian sampai ke akar-akarnya!...”


Dengan mengerahkan kekuatan penuhnya Patriak Jun Quro berencana menyerang dan memusnahkan keberadaan Organisasi Lembah Kematian yang sudah lama sering mengganggu ketenangan Sektenya.


Di tempat berkumpulnya anggota Organisasi Lembah Kematian.


“Sekte Lembah Tengkorak sial*n, membunuh anggota ku artinya mereka ingin berperang dengan Organisasi Lembah Kematian. Jika itu yang mereka inginkan, aku akan memberikan medan persng yang mengerikan untuk mereka...” Teriak Fu Hong, ketua tertinggi Organisasi Lembah Kematian.


Ketiga tubuh bayangan dan lima bawahan Reinar yang dikirim ke tempat organisasi Lembah Kematian juga telah menyelesaikan tugasnya, dan mereka kini telah kembali ke tempat Reinar.


“Menurut perkiraan ku butuh dua hari untuk mereka melakukan persiapan sebelum perang...” Kata Reinar setelah menyambut kedatangan bawahannya.


“Hahaha... Setidaknya akan ada pertunjukan yang menarik sebelum menikmati acara pernikahan mereka...” Tawa Reinar terdengar saat dia membayangkan lautan darah yang akan memberi dia banyak manfaat.


“Mungkin aku bisa menerobos ke tingkat Raja Dewa saat pecah peperangan antara Organisasi Lembah Kematian dan Sekte Lembah Tengkorak, dan setelah itu aku akan mengumpulkan sisa warisan Kaisar Naga...” Kata Reinar membatin.


Di kota Tengkorak Hitam.


Mengisi waktu luangnya, Reinar dan sepuluh bawahannya yang terus menjelajahi kota sambil mencari sumber dari aura aneh yang menyelimuti kota Tengkorak Hitam.


“Delapan ahli tingkat Dewa Langit menengah, sungguh penjagaan yang ketat...” Kata Reinar membatin lalu bergerak mendekati rumah yang menjadi pusat dari aura menjijikkan yang dia rasakan.


“Rumah itu sepertinya menyimpan sesuatu yang sangat buruk...” Batin Reinar sambil terus bergerak.


Reinar muncul di depan delapan penjaga dan langsung melumpuhkan tujuh dari mereka hanya dalam satu kali gerakan. Kini tersisa satu penjaga yang begitu ketakutan melihat keberadaan Reinar.


“Si...siapa kamu?... Kenapa tiba-tiba kamu menyerang teman-teman ku?...” Tanya satu-satunya penjaga yang masih sadar dan sama sekali belum mendapatkan serangan dari Reinar.


Tak ingin berbasa-basi, Reinar melumpuhkan satu-satunya penjaga yang tersisa lalu dia membuka pintu dan menyuruh delapan bawahannya menggantikan tugas dari penjaga yang telah dia lumpuhkan.


Sementara delapan bawahannya berjaga di luar, Reinar dan dua bawahannya memeriksa keadaan rumah sambil mencari benda yang menjadi sumber aura menjijikkan yang menyelimuti kota Tengkorak Hitam.


“Kristal hitam yang sungguh sangat menjijikkan!.. Lilia, apa kamu tahu sesuatu tentang kristal ini?...”


Reinar masih terdiam di tempatnya menunggu jawaban dari Lilia.


[Kristal itu di sebut Kristal kematian karena telah sangat banyak menyimpan aura kematian. Tuan bisa menyerap aura kematian dari kristal itu untuk meningkatkan kekuatan tuan, tetapi tuan harus lebih dulu memurnikan kristal itu agar aura kematian yang tuan serap bukan aura menjijikkan seperti yang saat ini tuan lihat. Setelah di murni-kan tuan bisa menyerap aura kematian yang murni, dan aura itu biasanya hanya dimiliki oleh Dewa Kematian...]


“Informasi yang sangat berguna. Lilia, kamu memang selalu bisa diandalkan...” Kata Reinar memuji Lilia.


[Tentu saja, bagaimanapun juga aku lebih pintar dari tuan...]


Bibir Reinar berkedut mendengar betapa sombongnya Lilia, dia merasa menyesal karena baru saja memujinya.


Mengabaikan Lilia, Reinar segera mengambil kristal kematian yang ada di depannya dan dia langsung menyimpan kristal itu di cincin penyimpanan miliknya.


“Lebih baik kita segera pergi dari tempat ini sebelum masalah datang...”


Aura menjijikkan yang menyelimuti kota Tengkorak Hitam telah menghilang bersama kristal kematian yang dimasukkan Reinar ke cincin penyimpanan semesta yang dia beli dari toko sistem.


Menghilangnya aura itu tentu akan memancing datangnya pemilik kristal kematian, dan untuk menghindari keributan dengan orang itu, Reinar dan seluruh bawahannya pergi meninggalkan kota Tengkorak Hitam tanpa meninggalkan jejak aura.


Aura gelap yang begitu kental meluap dari dalam kediaman khusus yang berada di belakang kediaman Patriak Jun Quro.


Seorang ahli di tingkat Raja Dewa puncak mengeluarkan aura kekuatannya, sesaat setelah dia merasakan ada seseorang yang telah membawa pergi kristal kematian miliknya.


Kristal itu setidaknya sudah menyimpan aura kematian dan ketakutan milyaran makhluk hidup selama milyaran tahun, dan itu adalah harta berharga milik miliknya.


Dengan harta itu setidaknya dia ingin mendapatkan kekuatan besar yang akan membuatnya menyamai kekuatan tuannya.


“Orang bod*h mana yang mencuri kristal kematian milikku?...” Kata sosok dengan bola mata berwarna hitam dan dua tanduk runcing berada di kepalanya.


“Swuusshhh...” Sosok itu menghilang dan muncul di rumah yang berada di pusat kota Tengkorak Hitam.


Sampai di rumah yang dia gunakan untuk meletakkan kristal kematian miliknya, dia tidak menemukan apa yang dia cari. Di rumah itu dia hanya menemukan keberadaan delapan penjaga yang tak sadarkan diri.


“Orang itu bahkan tidak meninggalkan sedikitpun aura yang bisa aku gunakan sebagai petunjuk keberadaan. Sial, aku benar-benar sial...”


“BOOMM...” Ledakan besar terjadi saat puluhan rumah di pusat di kota hancur.


“Siapapun dirimu, aku pasti akan menemukan mu sekalipun kamu bersembunyi di lubang semut!...” Teriaknya marah lalu dia menghilang dari reruntuhan rumah yang baru dia hancurkan.


Di tempat yang cukup jauh dari kota, Reinar terus memurnikan kristal kematian yang baru dia dapatkan tanpa peduli dengan apa yang terjadi di kota Tengkorak Hitam.


Berkat bantuan api penyucian tingkat tertinggi yang di miliki Reinar, proses penyucian berlangsung cukup cepat dan tepat saat matahari tenggelam Reinar telah selesai memurnikan kristal kematian.


“Aura kematian yang begitu mengerikan, tapi aura ini begitu murni, dan tidak terlihat menjijikkan seperti sebelumnya...” Gumam Reinar.


“Sebelum perang mereka dimulai, aku akan menyerap aura kematian yang ada di kristal ini dan aku ingin melihat, seberapa besar peningkatan kekuatanku setelah menyerapnya...” Kata Reinar membatin.


***


Jangan lupa berikan like sebagai penyemangat author serta komentar untuk saling berinteraksi 😊😊😊...


***


Bersambung...