
Jangan lupa biasakan like sebelum baca, dan tinggalkan komentar setelah selesai membaca.
satu saja like dan komentar kalian, itu adalah penyemangat tambahan untuk author.
Perhatian part khusus 18+/21+
***
***
Reinar mengumpulkan seluruh penghuni istana Kekaisaran Naga setelah pertemuan haru di halaman dalam, istana Kekaisaran.
Tujuan Reinar mengumpulkan mereka semua adalah untuk mengetahui apa saja masalah yang terjadi di Benua Nebula selama kepergiannya. Dia juga ingin tahu alasan dilakukannya pertemuan antar Kerajaan dan Kekaisaran, dan kenapa juga pertemuan itu harus dilakukan di pulau dewa.
Beberapa waktu kemudian semua orang telah berkumpul di aula pertemuan, dan sebagai seorang Kaisar, Reinar telah duduk di singgasananya dengan aura kepemimpinan yang membuat orang-orang ingin menunduk hanya dengan merasakan auranya.
Para istri Reinar juga telah duduk berjajar rapi di kursi mereka, dan Ling Zhe satu-satunya orang yang kagum akan betapa rukunnya semua istri Reinar. “Kecantikan dan keindahan yang sempurna. Kakak ipar memang jeli dalam memilih.” Batin Ling Zhe, tapi tak lama tubuhnya bergetar saat melihat pria tampan yang duduk bersebelahan dengannya. “Dia sangat tampan.” Lanjut Ling Zhe membatin.
Pria yang di tatap Ling Zhe tak lain adalah Argust, dan sebenarnya dia sadar jika dirinya tengah diperhatikan oleh wanita cantik yang duduk berseberangan dengannya. “Kenapa adik ipar tuan terus melihat kearah ku?.” Batin Argust bertanya-tanya, tapi dia kembali fokus pada pertemuan saat mendengar deheman Reinar.
Setelah melihat semua orang diam dan telah duduk tenang di tempatnya masing-masing, Reinar mulai menanyakan apa yang ingin dia ketahui, dan tak ketinggalan dia juga menanyakan tentang keamanan Kekaisarannya pada Argust yang bertugas memimpin pasukan keamanan kota.
Semua orang bergantian menjawab pertanyaan Reinar.
Selama kepergian Reinar tak terjadi masalah serius di Benua Nebula, tapi tiga minggu yang lalu secara tiba-tiba Kerajaan Dewa mengirimkan surat kepada seluruh Kekaisaran, dan surat itu adalah sebuah undangan untuk pertemuan dan penjamuan yang diadakan di Kerajaan Dewa.
Saat hari pertemuan tiba, seluruh Kekaisaran datang ke Kerajaan Dewa dan semua dimanjakan dengan penjamuan mewah di pulau yang berada di tengah-tengah lautan. Selama pertemuan dan penjamuan tidak ada hal aneh yang terjadi, tapi hal aneh itu baru muncul saat hari kepulangan seluruh perwakilan.
Kekaisaran yang lain dengan aman pergi meninggalkan pulau dewa, namun saat giliran perwakilan Kekaisaran Naga ingin pergi, tiba-tiba Kakek Reinar terjatuh dan tubuhnya membiru karena sebuah racun yang diberikan Raja Malmoe secara diam-diam.
Yang selanjutnya terjadi, Reinar sudah mengetahuinya. “Raja itu benar-benar licik, segala cara dia gunakan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.” Kata Allea yang emosi mengingat Ayah dan dua menantunya yang menjadi korban kelicikan Raja Malmoe.
Setelah mendengar jawaban dari semua orang, Reinar menyuruh mereka kembali ke tempatnya masing-masing, lalu dia segera mengajak kedelapan istrinya menuju kamar untuk melepaskan rindu setengah beberapa minggu tidak bertemu, tapi sebelumnya Reinar menyuruh Argust menemani Ling Zhe jalan-jalan melihat keindahan kota Sky Dragon, dan membiarkan Ling Feng beristirahat dengan tenang di kamarnya.
“Mereka cukup serasi.” Batin Reinar melihat Argust dan Freya Ling Zhe jalan berdampingan.
“Suamiku, sampai besok kamu dilarang pergi meninggalkan kamar!. Selain itu, ehm kamu dilarang memakai apapun untuk menghangatkan tubuhmu, dan percayalah kami bisa menjadi selimut hidup untukmu.” Kata Luna lalu memeluk manja lengan tangan kanan Reinar.
[Tuan, aku akan menonaktifkan diriku untuk dua hari ini.]
Suara Lilia terdengar, dan tak lama Reinar mendengar bunyi bip yang menandakan jika Lilia menonaktifkan dirinya.
“Apapun yang kalian inginkan, pasti aku lakukan.” Kata Reinar menikmati tingkah manja seluruh istrinya.
Sesaat berjalan, akhirnya Reinar dan kedelapan istrinya telah memasuki kamar yang selalu terasa nyaman saat mereka berada di dalamnya.
Tanpa membuang-buang waktu, semua istri Reinar dengan cepat melucuti seluruh pakaian yang mereka pakai, dan tanpa malu mereka menunjukkan milik mereka pada sang suami yang seluruh anggota tubuhnya sudah menegang.
Bella lebih dulu maju dan membenamkan wajah Reinar ke bukit kembarnya, dan dari arah kanan dan kiri ada Shania serta Rhea yang melucuti pakaian Reinar. Freya yang berada di belakang Reinar, dia mulai meraba-raba leher Reinar dan sesekali menjilatinya.
Untuk empat wanita lainnya, mereka asik bermain sendiri sambil menunggu giliran mereka memuaskan sang suami.
Tak lama setelah pemanasan, suara rintihan dan erangan penuh kenikmatan mulai terdengar dari kamar Reinar. Para penjaga dan pelayan yang tahu akan apa yang tengah terjadi, mereka sedikit menjauhi kamar Reinar tapi mereka semakin memperketat pengamanan.
Malam hari di kamar Reinar.
Reinar membuka matanya saat merasakan seseorang menaiki tubuhnya, dan memasukkan benda miliknya ke tempat yang paling dia sukai.
“Suamiku, apa kamu menyukai milikku?.” Tanya Freya dengan wajah memerah menahan kenikmatan yang tengah dia rasakan.
“Dasar istri nakal!. Semua orang sedang tidur kamu justru mengejar kenikmatan. Apa yang tadi masih kurang?.” Tanya balik Reinar.
Freya menganggukkan kepalanya. “Aku tidak akan pernah puas!. Setiap melakukannya, aku terus ingin melakukannya. Milik suamiku selalu membuatku ingin menaklukkannya.”
“Kamu terlihat semakin liar saat hamil, apa itu tidak berpengaruh pada kandungan mu yang masih terbilang muda?.”
Freya tersenyum lalu menggerakkan liar tubuhnya dan membuat Reinar ingin berteriak karena merasakan ngilu pada miliknya. “Uhh, kamu memang istri liar ku.” Kata Reinar kemudian meremas dua benda lembut dan kenyal yang bergoyang-goyang dengan indah di depan matanya.
“Malam ini sampai pagi akan menjadi milik kita.” Kata Freya tak kenal lelah.
Helena yang tertidur bangun saat merasakan tempat tidurnya bergerak-gerak, tapi saat melihat apa yang tengah terjadi di dekatnya, dia hanya tersenyum dan kembali menurup matanya. “Dasar ras dewa tak kenal lelah.” Batin Helena.
***
Benua Zhongjian.
Istana Kekaisaran Wei.
Kabar kekalahan Kekaisaran Han dari Kekaisaran Ling telah terdengar sampai ke telinga Kaisar Wei Liang hanya dalam waktu tak lebih dari satu hari.
“Jenderal Wei Lao, apa menurutmu selama ini kita telah dibodohi oleh Kekaisaran Ling yang berpura-pura lemah, atau kekalahan ini murni karena kesalahan Kekaisaran Han?.” Tanya Wei Liang pada Jenderal tertinggi di Kekaisarannya.
“Yang Mulia, kita tidak melihat pertempuran itu secara langsung. Kabar yang saat ini kita dengar hanyalah kabar yang tersebar di khalayak umum dan tentunya belum teruji akan kebenarannya, jadi kesimpulan hamba, lebih baik kita memastikan terlebih dahulu kabar itu dengan mengirim orang-orang kita untuk mencari informasi di Kekaisaran Han dan Ling.” Ungkap Wei Lao menjawab pertanyaan Wei Liang.
“Lalu, bagaimana dengan kabar kehancuran Sekte Gagak Merah?. Apa kau sudah memastikan kebenaran kabar itu?.”
“Yang mulia, hamba sudah mengirimkan orang untuk memastikan kebenaran kabar hancurnya Sekte Gagak Merah, dan kabar itu ternyata benar adanya. Sekte Gagak Merah benar-benar hancur dan tak ada yang tersisa di tempat yang dulunya berdiri bangunan Sekte Gagak Merah.” Jawab Wei Lao.
“Jenderal Wei Lao, apa ada hubungannya hancurnya Sekte Gagak Merah dengan Kekaisaran Ling?. Sedangkan kita tahu jika Han Liong adalah saudara sumpah dari Zhang Fujian, dan itu juga yang selama ini membuat ku waspada akan kekuatan Kekaisaran Han.”
“Soal itu hamba belum bisa memastikannya, tapi orang yang hamba suruh mengatakan jika Sekte Gagak Merah hancur oleh serangan binatang buas tingkat Abadi Bumi dan Abadi Langit. Kesimpulan itu mereka ambil setelah merasakan jejak aura di reruntuhan bangunan Sekte Gagak Merah.”
“Binatang buas tingkat Abadi Bumi dan Abadi Langit?. Sepertinya Sekte Gagak Merah telah menyinggung orang yang salah. Dengan mendengarnya saja semua orang juga pasti tahu jika ada yang menyuruh atau mengendalikan binatang-binatang itu.”
Jenderal Wei Lao menganggukkan kepalanya. “Bisa mengendalikan binatang buas sebanyak itu, tentunya dia bukan orang sembarangan, dan masalahnya ham a tidak mengetahui siapa orang itu, dan tentu hamba tidak ingin Kekaisaran ini berurusan dengannya.”
Wei Liang menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
“Jenderal Wei Lao, lakukan yang terbaik untuk Kekaisaran kita, dan ingat, jangan pernah memandang rendah orang dari penampilannya!.” Kata Wei Liang lalu dia menyuruh Wei Lao untuk kembali melakukan tugas-tugasnya.
Setelah kepergian Wei Lao, Wei Liang memejamkan matanya dan gambaran wanita cantik muncul di kegelapan saat matanya tertutup. “Sekte itu telah membawa keburukan padamu dan sekarang aku tidak tau di mana keberadaan mu!.” Batin Wei Liang teringat gadis kecil yang dulu sangat dekat dengannya.
***
Bersambung.