
Para bandit penjaga sebenarnya cukup kuat untuk ukuran penjaga, dan lagi jumlah mereka juga cukup banyak. Tetapi dihadapan Lilia yang tingkat kekuatannya bahkan tidak bisa dilihat oleh Reinar, mereka terlihat layaknya sekumpulan makhluk lemah yang lebih lemah dari seekor semut.
Setelah beberapa waktu berlalu, kini ada sekitar lima ratusan bandit penjaga yang muncul dari segala arah, dan terlihat kalau mereka sedang menjaga apa yang berada di dalam gua.
Para bandit penjaga yang lebih dulu datang, mereka semua sempat mendengar perkataan Reinar dan Lilia yang merendahkan mereka. Para bandit penjaga marah atas kata-kata mereka berdua, karena itu mereka bertekad akan mencabik-cabik tubuh Reinar, dan mereka akan menikmati tubuh Lilia sampai wanita itu mati mengenaskan.
“Berani menghina kami, tak ada kata yang tepat untuk kalian selai MATI!...” Teriak pemimpin bandit penjaga lalu dia mengerahkan anak buahnya untuk menyerang Reinar dan Lilia.
Aura berwarna merah kehitaman yang sangat pekat menyelimuti tubuh para bandit. Reinar dan Lilia yang melihat itu ingin segera menghabisi mereka. Aura yang mereka keluarkan sama dengan aura yang dimiliki oleh Iblis ataupun Ras Malaikat Jatuh. Memiliki aura layaknya seperti mereka, bisa dipastikan mereka memiliki hubungan dengan salah satu Ras terkutuk, dan itu artinya mereka harus dimusnahkan.
Dengan teliti Reinar memperhatikan para bandit penjaga yang melesat ke arahnya. “Kekuatan mereka meningkat sampai ke tahap awal tingkat Kaisar Dewa, selain itu kekuatan tulang dan fisik mereka juga mengalami peningkatan. Peningkatan mereka bisa dikatakan luar biasa, tetapi mereka tetap terlihat lemah...” Kata Reinar sambil melihat Lilia yang sudah mengalahkan ratusan bandit penjaga hanya dengan kekuatan fisiknya.
Reinar yang berada di belakang Lilia hanya mengurus para bandit penjaga yang masih hidup setelah dipukuli Lilia. Dengan mudah Reinar membunuh para bandit penjaga yang dilewatinya karena mereka semua sudah dalam keadaan terluka parah.
Pemimpin bandit penjaga hanya bisa menggertakkan giginya melihat anak buahnya satu persatu mati di tangan dua orang yang sebelumnya telah meremehkan dirinya. Melihat situasi yang semakin tidak menguntungkan, dia segera berlari masuk kedalam gua untuk meminta bantuan.
“Menarik, kalian berdua berhasil membunuh orang-orang terlemah yang kami miliki, tetapi nasib baik kalian hanya sampai di sini!... Kami kelompok bandit Serigala Taring Hitam akan menunjukkan seberapa kejam kelompok kami dengan membunuh kalian dan seluruh orang yang berhubungan dengan kalian...” Ujar Lubo, pemimpin kelompok bandit Taring Serigala Hitam.
Mendengar itu Reinar dan Lilia hanya tersenyum kecil sambil melihat jumlah musuh yang kini hanya tersisa puluhan orang dengan empat orang merupakan ahli di tingkat Kaisar Dewa tahap puncak, termasuk Lubo yang merupakan pemimpin mereka.
Reinar sebenarnya cukup geram dengan ancaman mereka, karena itulah dia akan mengahancurkan mereka bahkan sampai ke jiwanya. “Aku tidak selemah yang kalian pikirkan. Ingin membunuh ku?... Sejak kapan makhluk rendahan seperti kalian mempunyai kekuatan untuk membunuh utusan Dewa Kematian?...”
Tanpa menunggu jawaban dari Lubo, Reinar dan Lilia langsung menerjang ke arah mereka, dan secara bersamaan melepaskan serangan yang dengan cepat memangkas jumlah mereka. Kini yang tersisa dari bandit Serigala Taring Hitam hanyalah Lubo dan tiga orang wakilnya.
Dengan kemarahan yang telah menguasai diri Lubo dan tiga wakilnya, mereka mengeluarkan aura kuat berwarna merah kehitaman dari tubuh mereka, dan bersamaan dengan itu muncul sepasang sayap berwarna hitam di punggung mereka.
Sepasang sayap berwarna hitam yang mereka keluarkan telah mengungkap jati diri mereka, dan kini Reinar tahu Ras mana yang memiliki hubungan khusus dengan mereka. “Ras Malaikat jatuh?... Sepertinya mereka sudah sejak lama mengincar apa yang ada di dalam Kota Bulu Angsa...” Gumam Reinar sambil melihat Lubo dan tiga wakilnya yang saat ini kekuatan setara dengan ahli di tingkat Dewa Penguasa tahap awal.
Tanah bergetar saat Lubo dan ketiga wakilnya berlari ke arah Reinar yang hanya berdua dengan Lilia, tanaman-tanaman banyak yang langsung layu dan mati saat terkena efek aura yang dikeluarkan Lubo dan ketiga wakilnya.
Sementara itu di sisi Reinar dan Lilia, mereka bersikap biasa-biasa saja, dan keduanya hanya menatap Lubo dan ketiga wakilnya dengan tatapan jijik karena aura yang keluar dari tubuh mereka berempat. Keduanya sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk maju menyambut serangan mereka, mereka hanya menanti dan akan melenyapkan hama yang mendekat dalam satu kali serangan.
Melihat keempatnya sudah berada dalam jangkauan serangan, Renar dan Lilia dengan brutal melepaskan serangan ke arah mereka.
BOOMMM... BOOMMM...
BOOMMM... BOOMMM...
Tinju serta tendangan yang dilepaskan Reinar dan Lilia membuat keempatnya terpental puluhan meter kearah belakang dengan luka yang membuat mereka tak bisa menggerakkan tubuhnya, bahkan satu dari wakil Lubo mati setelah kepalanya meledak saat menerima tendangan Lilia.
Lubo memuntahkan cukup banyak darah saat melihat Reinar dan Lilia yang tengah berjalan mendekat ke arahnya. “Ka... Kalian?... Siapa sebenarnya kalian?... Hutan ini sudah lama menjadi wilayah kekuasaan kami, tetapi kami hanyalah bidak. Ka.. kalian pasti akan mati setelah tuan kami datang!...” Ujar Lubo yang hanya butuh satu pukulan ringan untuk membuatnya menjadi seonggok mayat tak berguna.
Reinar dan Lilia tersenyum, lalu Reinar berjongkok di samping Lubo. “Karena sebentar lagi kamu akan musnah dari dunia ini, aku akan menjawab pertanyaan mu. Sejak awal aku sudah mengatakan kalau kami adalah utusan Dewa Kematian, bahkan sosok yang kau panggil tuan akan bernasib sama denganmu kalau dia menunjukkan wujudnya...” Kata Reinar, dan tak lama setelah itu, tubuh Lubo dan ketiga wakilnya seketika terbakar oleh api berwarna hitam yang dapat memusnahkan tubuh dan jiwa mereka.
Begitu selesai menyimpan harta jarahan, Reinar kembali mengajak Lilia pergi mengelilingi hutan karena dia merasakan adanya pergerakan kecil di sekitaran huta di sebelah utara Kota Bulu Angsa yang sedikit memancing kecurigaannya.
°°°
Di hutan bagian utara yang berbatasan langsung dengan Kota Bulu Angsa, lima puluh orang mata-mata yang dikirim oleh Huang Dan tengah berkumpul untuk mematangkan rencana yang sebelumnya telah mereka susun sebelum keberangkatan mereka.
Dengan penuh konsentrasi, mereka mendengar arahan dari satu orang yang ditunjuk oleh Huang Dan sebagai pemimpin mereka selama menjalankan tugas memata-matai Kota Bulu Angsa, dan Sekte Mawar Putih yang merupakan pelindung Kota Bulu Angsa.
“Jumlah kita cukup banyak, tetapi itu sepadan dengan Resiko yang akan kita hadapi. Dengan adanya dua sosok Dewa Surgawi di dalam Sekte Mawar Putih, hanya kematian yang akan kita terima kalau sampai mereka berhasil mengungkap identitas kita...”
“Lalu apa yang akan kita lakukan kalau mereka mengetahui identitas kita?...”
“Sebisa mungkin gunakan seluruh kekuatan kalian untuk melarikan diri, tetapi kalo itu tidak bisa kalian lakukan, lebih baik mati membawa nama baik Sekte kita...”
“Kalau kalian ingin melarikan diri saat ketahuan, kenapa kalian tidak segera melakukannya?...” Kata Reinar yang melayang di atas mereka bersama Lilia yang tengah menahan tawa melihat wajah terkejut orang-orang yang ada di bawahnya.
Lima puluh orang mata-mata yang dikirim Huang Dan merasakan sesuatu yang buruk kalau mereka tidak segera pergi melarikan diri, tetapi di saat yang bersamaan, mereka merasa tidak bisa lari dari dua orang yang saat ini hanya mengawasi keberadaan mereka dari kejauhan.
Lili mendekat ke arah Reinar lalu menyenggol bahunya. “Tuan, apa aku boleh membunuh mereka semua?... Para bandit tadi belum cukup untuk mengendorkan otot-otot tubuh ku...”
Reinar tersenyum mendengarnya, lalu dia berkata. “Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, tapi ingat sisakan pemimpin mereka untukku!...”
“Baik tuan, aku akan melakukannya..."
Lilia menghilang dari tempatnya dan dia muncul di belakang orang yang sudah menjadi targetnya. Dengan hanya menggunakan kekuatan fisik, lagi-lagi Lilia dapat menumbangkan musuhnya dengan sangat mudah. Reinar yang melihat kekuatan Lilia ingin sekali menanyakan tingkat kekuatannya, tetapi dia tidak akan menanyakan itu karena semua makhluk pastinya punya rahasia, dan mungkin karena itulah Lilia menyembunyikan kekuatannya.
Pemimpin kelompok mata-mata Huang Dan merasakan bahaya semakin mendekat ke arahnya saat dia melihat satu persatu teman-temannya mulai bertumbangan, dan kini hanya menyisakan dia dan lima orang yang berdiri membentuk sebuah lingkaran kecil. “Membunuh kami sama halnya dengan kalian menantang Sekte Gagak Perak. Patriak dan Tetua Agung Sekte pasti akan turun tangan langsung untuk membunuh kalian berdua setelah kematian kami!...”
Reinar menyeringai mendengar apa yang di katakan pemimpin kelompok mata-mata Huang Dan. “Aku tidak yakin mereka akan peduli dengan sekumpulan orang lemah seperti kalian, bahkan mereka belum juga membalas setelah kami membunuh tetua pertama dan tetua kedua Sekte kalian. Ya... Sekalipun mereka datang, aku juga sudah siap untuk mengirim mereka kembali ke Sekte kalian tetapi hanya berupa nama...”
Selesai berkata Reinar menghilang dari tempatnya, dan kurang dari satu detik dia sudah muncul di dekat orang yang barusan berbicara dengannya. Dengan energi Qi yang memadat di tangannya, Reinar langsung melakukan serangan telak, dan detik itu juga dia dengan mudah berhasil memusnahkan musuhnya.
Di saat bersamaan Lilia juga telah meniadakan ancaman dari seluruh orang yang dikirim Huang Dan, dan karena sudah merasa cukup bersenang-senang, Lilia kembali merubah wujudnya menjadi butiran cahaya lalu masuk kedalam tubuh Reinar.
Reinar yang juga sudah tidak lagi merasakan ancaman dari wilayah di sekitar Kota Bulu Angsa, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke wilayah Sekte Mawar Putih.
°°°
Jangan lupa like dan komentarnya...