
Aula istana kota Eregion.
Walikota, Reinar, dan seluruh orang yang mengikuti Reinar sedang mengadakan rapat di aula istana kota Eregion.
“Kekaisaran Utara memiliki dua pelindung Kekaisaran yang sedikit lebih kuat dari Kaisar mereka, selain itu Kekaisaran Utara juga memiliki lebih dari dua juta prajurit yang rela mati demi Kekaisaran mereka.” Kata walikota menjelaskan informasi yang di dapatkan mata-mata yang dia kirim ke Ibukota Kekaisaran.
“Informasi itu belum nyata adanya. Bisa jadi mereka lebih kuat, atau bisa juga mereka lebih lemah dari informasi itu.” Ungkap Reinar.
“Yang Mulia, apa anda meragukan informasi yang di dapatkan orang-orang ku?.” Tanya walikota.
Reinar menggelengkan kepalanya. “Aku mempercayai orang-orang mu, tapi lebih baik kita mempersiapkan hal terburuk yang akan terjadi daripada berharap sepenuhnya pada sebuah informasi.” Kata Reinar tegas.
Belum juga rapat di aula istana kota Eregion membuahkan hasil, seorang assasin muncul dan segera berlutut di hadapan walikota. “Tuanku.” Kata assasin memanggil walikota.
“Apa ada sesuatu yang penting sampai kamu mengganggu rapat kami?.” Tanya walikota menatap tajam assasin di hadapannya.
Assasin itu tetap menunduk, tapi dia segera menjawab pertanyaan walikota. “Tuanku, hamba melihat pergerakan besar prajurit Kekaisaran Selatan yang di pimpin langsung oleh belasan Jenderal Kekaisaran Selatan. Dari jalur yang mereka lalui, hamba menyimpulkan mereka akan menuju ke Kekaisaran Utara.”
“Sialan....” Teriak walikota. “Dengan bergabungnya dua Kekaisaran itu, akan sangat sulit bagi kita mengalahkan mereka.” Imbuh walikota.
Semua orang di aula terdiam mendengar informasi yang di sampaikan oleh assasin mata-mata milik walikota. Jika orang-orang yang berdiri di sisi walikota cemas, beda dengan Reinar dan anggota kelompoknya. Terlihat mereka justru menunjukkan senyuman lebar saat mendengar informasi yang di sampaikan si assasin.
“Apa kamu yakin dengan tujuan mereka?.” Tanya Reinar santai.
“Tuan, saya sangat yakin akan itu, dan dengan jumlah prajurit yang di kirim Kaisar Selatan, kemungkinan kita menang hampir tidak ada.” Kata si assasin menjawab pertanyaan Reinar, dan terlihat dia cukup putus asa dengan apa yang akan menjadi lawannya.
“Kamu tenang saja, urusan bantuan yang di kirim Kekaisaran Selatan akan menjadi urusanku, dan percayalah, mereka tak akan pernah sampai ke tujuannya.” Kata Reinar begitu tenang.
Ketenangan dan sifat santai Reinar membuat orang-orang walikota sedikit merasa aneh. Mereka merasa jika sosok Reinar tak menganggap bahaya lawan yang akan dia hadapi.
“Dengan seorang diri kamu ingin menghadapi bala bantuan yang di kirim Kekaisaran Selatan. Anak muda, dalam mimpi pun kamu tidak akan bisa melakukan itu!.” Teriak salah satu bawahan walikota yang belum tahu identitas Reinar yang sesungguhnya.
Reinar tersenyum mendengar hinaan yang di tujukan padanya, tapi seketika orang yang menghina Reinar terdiam saat merasakan aura yang keluar dari tubuh Reinar.
BOOMMM...
Aura yang begitu kuat keluar dari tubuh Reinar dan membuat semua orang jatuh tersungkur kecuali orang-orang yang berada di sisi Reinar.
“Apa kau meragukan ku?.” Tanya Reinar dengan suara pelan, tapi dapat terdengar oleh semua orang.
Orang yang Reinar tanya tak bisa menjawab karena dia telah jatuh pingsan karena tak sanggup menahan tekanan aura yang Reinar keluarkan.
“Yang Mulia, maafkan bawahan hamba, dan hamba mohon Yang Mulia menarik kembali aura yang Yang Mulia keluarkan.” Ungkap walikota yang jatuh bersujud dengan kening menyentuh lantai aula istana.
Reinar lalu menarik auranya. “Siapa yang masih meragukanku, kalian bisa menantang ku bertarung, dan jika ada lebih dari satu orang yang meragukanku, kalian bisa bersama-sama menyerang ku.” Kata Reinar menatap bawahan walikota yang perlahan bangkit dan kembali duduk di kursi mereka.
Tak seperti di awal sebelum merasakan aura Reinar, orang-orang yang semula ragu akan kekuatan Reinar sekarang mereka semua terdiam karena takut kembali menyinggung orang yang jauh lebih kuat dari mereka, bahkan walikota yang mereka hormati sejak awal sudah tunduk di hadapan Reinar.
“Siapa sebenarnya pemuda ini?. Aku merasa kekuatannya jauh di atas dua Kaisar penguasa.” Batin assasin yang selalu memata-matai dua Kekaisaran yang menjadi target balas dendam tuannya.
***
Perkemahan prajurit Kekaisaran Selatan.
Lima belas Jenderal Kekaisaran Selatan yang dikirim untuk membantu Kekaisaran Utara sedang mengadakan rapat di tenda khusus yang di siapkan untuk menggelar rapat para Jenderal dan wakilnya.
“Hanya menghadapi Kekaisaran manusia Kaisar Utara yang terkenal kuat sampai meminta bantuan kepada Kekaisaran kita, aku jadi penasaran dengan kekuatan Kekaisaran manusia setelah sebuah Kekaisaran baru berdiri dan menjadi pemimpin dari seluruh Kekaisaran manusia.” Kata sosok Jenderal terkuat dari lima belas Jenderal yang ada.
“Bukan hanya kau saudara ku, tapi kami juga penasaran akan kekuatan mereka.” Kata pria elf yang merupakan seorang Jenderal yang ahli dalam strategi.
“Sekuat apapun mereka, tetap kita yang akan menang. Mereka hanya kuat, tapi kita sangatlah kuat.” Kata elf wanita tersenyum meremehkan.
Wanita elf itu adalah satu-satunya Jenderal elf wanita di Kekaisaran Selatan, dan dia terkenal akan kesombongannya.
“Hanya melihat jumlah kita, orang itu pasti akan lari terbirit-birit.”
Tawa keras terdengar dari tenda khusus yang digunakan rapat para Jenderal. Dapat di dengar kata-kata mereka yang terus menerus merendahkan lawan yang akan mereka hadapi, bahkan mereka menganggap Kaisar Utara telah melemah dan takut dengan kekuatan ras manusia.
***
Perbatasan Kekaisaran Utara dan Kekaisaran Selatan.
Reinar dan Freya duduk di atas benteng perbatasan yang telah mereka rebut dari prajurit Kekaisaran Utara yang menjaga benteng perbatasan. Dari ribuan prajurit dan lima Jenderal penjaga, tak satupun dari mereka yang selamat dari pembantaian yang di lakukan Reinar dan Freya.
“Dua hari lagi mereka akan sampai di tempat ini, tapi aku sudah tak sabar menanti kedatangan mereka.” Ungkap Freya yang memeluk erat lengan Reinar.
Reinar melihat Freya yang begitu manja saat bersamanya, sifat Freya yang manja sangat jauh berbeda jika di bandingkan dengan dia uang tengah berhadapan dengan para musuh. Sifat manjanya akan menghilang dan di ganti sifat kejam saat dia berhadapan dengan musuhnya.
“Sambil menunggu mereka datang, bagaimana kalau kita menikmati waktu berdua yang ada, dan mungkin kita bisa lebih mengenal lebih jauh satu sama lain.” Kata Reinar yang sedikit melunak pada para wanitanya.
Freya tersenyum dan semakin erat memeluk lengan Reinar. “Suamiku, apa kau tidak ingin bermain denganku.” Kata Freya sambil mencubit hidung Reinar.
“Auhhh...” Reinar memegang hidungnya. “Aku tidak ingin bermain untuk sekarang, tapi aku akan memainkan milikmu saat kita sudah resmi sebagai suami istri.” Ungkap Reinar, dan dengan berani dia mencium kening Freya.
“Aku akan menanti hari itu.” Balas Freya malu-malu.
Tak tahan dengan tingkah Freya yang menggemaskan, Reinar dengan cepat menarik Freya dan mendekapnya dalam pelukan yang begitu erat.
“Aku pasti akan menjaga kalian, dan membuat kalian semua bahagia berada di sisiku.” Kata Reinar yang masih memeluk Freya, dan tanpa sungkan lagi-lagi Reinar mencium kening Freya.
Reinar benar-benar tidak tahu jika apa yang di lakukan nya membuat wajah Freya memerah, tapi dia sangat menikmati apa yang Reinar lakukan padanya.
***
***Bersambung...***