
Kota Sky Dragon
Tiga hari telah berlalu setelah penamaan kota, dan pengungsi dari Kekaisaran Caracal telah resmi menjadi penduduk baru kota Sky Dragon.
Biarpun mereka berasal dari ras manusia setengah iblis, mereka terlihat layaknya manusia pada umumnya, yang membedakan mereka dengan manusia ialah warna pupil mata mereka yang berwarna merah.
Reinar berpikir akan memanggil Lyon dan menjadikannya pemimpin ras manusia setengah iblis yang ada di kota Sky Dragon. Tapi karena Lyon sedang menaikkan level bersama Argust dan yang lainnya, dia menunda rencananya untuk sementara waktu.
Istana kota Sky Dragon
“Tuan, ada pergerakan besar prajurit Kekaisaran Arkana tengah menuju kota Touloun.” Kata Rhea.
Reinar bingung mendengar apa yang Rhea katakan. “Bagaimana kamu bisa tahu ada prajurit Kekaisaran bergerak menuju kota Touloun?.” Tanyanya penasaran.
Rhea tersenyum dan menjawab. “Tuan, aku sudah memasang beberapa kristal perekam jarak jauh di hutan sekitaran kota Touloun. Kristal-kristal itu dapat mengirimkan gambaran kejadian secara langsung, dan hanya aku yang bisa melihatnya.” Rhea membanggakan dirinya.
“Bukannya itu mirip kamera CCTV?.” Batin Reinar. “Siapa yang memimpin pergerakan prajurit Kekaisaran Arkana?.” Tanya Reinar dengan ekspresi serius.
“Ada seorang Jenderal yang memimpin mereka, tapi Putra Mahkota Kekaisaran Arkana sendiri yang menjadi pemimpin utama mereka.” Jawab Rhea sambil memejamkan mata.
“Menarik.” Kata Reinar dan sejenak terdiam. “Aku akan melihat, apa yang akan dia lakukan di kotaku.” Lanjut Reinar menunjukkan seringaian kejamnya.
Reinar melirik Rhea. “Rhea, kamu ikut denganku ke kota Touloun. Kita hanya pergi beberapa waktu dan tidak lama, jadi tidak perlu memberitahu Freya dan Helena yang sedang mengawasi perbatasan Kekaisaran Caracal.” Kata Reinar yang tentu langsung disambut senyum bahagia Rhea karena dia akan pergi berduaan dengan Reinar.
***
Kota Touloun.
Benteng kota dijaga dengan ketat oleh lima ribu prajurit keamanan kota yang langsung dipimpin oleh Karel, selaku orang terkuat dari tiga bangsawan yang mendiami kota Touloun.
Serena dan Scarla juga ada diatas benteng bersama dengan 20 orang yang mereka bawa dari kota Babylon, terlihat senyum sinis menghiasi bibir Serena dan Scarla saat mereka melihat seribu prajurit Kekaisaran yang berdiri di luar benteng kota Touloun.
“Mereka terlalu meremehkan kita?.” Ungkap Serena.
“Kau dan aku cukup untuk mengalahkan mereka.” Kata Scarla.
“Apa kalian melupakan kami berdua.” Kata Takai dan Matoi yang tiba-tiba muncul di samping Serena dan Scarla.
Kedua wanita itu tersenyum melihat dua pria yang cukup akrab dengan mereka saat di kota Babylon. “Kalau kalian ikutan, mereka akan habis lebih cepat.” Kata Scarla yang sangat tahu kekuatan si kembar yang ada di dekatnya.
Takai dan Matoi menggelengkan kepala. “Justru kalianlah yang lebih mengerikan dari kami.” Ujar Takai.
“Aku bahkan belum pernah menyiksa sampai memotong-motong mereka sampai menjadi potongan yang sangat kecil.” Matoi bergidik ngeri saat mengingat kelakuan Serena dan Scarla pada musuh-musuh mereka.
“Ternyata kalian berempat sudah sedekat itu.” Kata seseorang yang muncul dari kekosongan.
Melihat siapa yang datang, Serena, Scarla, Takai, serta Matoi, mereka segera menundukkan kepalanya, begitu juga dengan yang lainnya saat melihat siapa yang datang.
Reinar yang baru datang bersama dengan Rhea, dia tersenyum dan menyuruh semuanya kembali bersiaga seperti semula.
“Apa tujuan mereka?.” Tanya Reinar yang di tujukan pada siapapun yang ingin menjawabnya.
“Mereka menginginkan kota ini, dan kita semua dia minta tunduk pada Kekaisaran Arkana.” Kata Serena mewakili menjawab pertanyaan Reinar.
Bibir Reinar berkedut dan setelahnya dia tertawa begitu mendengar jawaban Serena. “Dengan beberapa ekor semut mereka ingin mengambil kotaku. Mereka sepertinya menabuh genderang perang dengan orang yang salah.” sinis matanya menatap kearah putra mahkota yang terlihat masih memamerkan wajah sombongnya.
Reinar juga melihat tiga orang yang pernah mereka tolong. “Seperti yang aku harapkan dari mereka. Melepaskan tiga ekor kecil, dan kini mereka datang kembali dengan membawa ikan yang lebih besar.” Kata Reinar dengan seringaian liciknya.
Banyak prajurit kota Touloun di atas benteng yang menahan tawa saat mendengar apa yang dikatakan Putra Mahkota, tapi tak sedikit prajurit yang tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata arogan Putra Mahkota Kekaisaran Arkana.
Wajah Putra Mahkota menggelap mendengar tawa prajurit kota Touloun. “Kalian semua, serang dan hancurkan kota itu. Mereka cuma unggul dalam jumlah, tapi kekuatan mereka jauh di bawah kekuatan kita.”
Seribu prajurit bergerak maju dibawah kepemimpinan seorang Jenderal. Sedangkan Putra Mahkota, dia berdiri di barisan paling belakang bersama tidak orang yang akan menjaga keselamatannya.
Jenderal merasakan keanehan saat prajurit yang berdiri di benteng kota Touloun tidak menyerang prajuritnya yang bergerak mendekati benteng kota. Merasakan keanehan, sang Jenderal menghentikan pergerakan prajuritnya dan melihat sekitarnya, termasuk melihat bagian belakang.
Alangkah terkejutnya sang Jenderal saat dia melihat ribuan prajurit susah mengepung dirinya dari segala arah. “Ini jebakan.” Teriak sang Jenderal.
“Kau sudah terlambat menyadarinya.” Kata Reinar dengan keras dan dapat di dengar ribuan orang di sekitarnya.
BOOMMM...
BOOMMM...
BOOMMM...
Ledakan berbagai jenis skill yang di lontarkan prajurit di bawah kepemimpinan Reinar, berhasil menumbangkan lebih dari separuh prajurit Kekaisaran.
“Sialan, mereka benar-benar menjebak kita.” Kata Putra Mahkota yang tubuhnya mulai bergetar karena ketakutan.
Dihadapan Putra Mahkota tiba-tiba muncul sosok dengan sorot mata yang cukup familiar bagi Putra Mahkota.
“Hahaha.... Lama tidak bertemu Putra Mahkota.” Kata sosok yang berada di hadapan Putra Mahkota
Wushh...
Wushh...
Ribuan prajurit di atas benteng mulai menembakkan anak panah mereka, dan menyebabkan ratusan prajurit Kekaisaran mati dengan raga yang langsung hangus terbakar menjadi butiran debu.
Dalam waktu singkat hampir seluruh prajurit Kekaisaran telah di musnahkan. Sedangkan sisanya adalah para pemimpin prajurit yang sangat terlatih.
Melihat prajurit yang dia bawa mulai habis dan di kalahkan, Putra Mahkota mencoba kabur dengan pergi menyelinap dan berniat untuk kabur.
“Mau kabur kemana kamu....’ Teriak Reinar sambil menyerang Putra Mahkota setelah dia sudah terlebih dahulu menyingkirkan tiga orang yang menjaga keberadaan sang Putra Mahkota.
BOOMMM...
Ledakan keras yang membuat bumi bergetar terjadi saat Reinar memukul Putra Mahkota Kekaisaran Arkana.
Wushh.... Boommm....
Tubuh Putra Mahkota terlempar jauh dan menghantam pepohonan sampai membuat beberapa pohon tumbang.
“Ka kamu, apa kamu tidak tahu jika aku adalah Putra Mahkota Kekaisaran Arkana?. Jika kamu melukaiku, ayahku akan membunuh mu beserta seluruh keluargamu.”
“Aku akan menunggu kedatangan Ayahmu, dan akan aku persilahkan dia membunuh keluargaku, itupun jika dia mampu.”
***
***Bersambung...***