
Kediaman Walikota kota Border.
“Siapa yang berani membuat babak belur putraku?.” Teriak walikota kota Border melihat kondisi mengenaskan putranya yang kehilangan seluruh gigi dan mengalami kerusakan wajah yang cukup parah.
Putra walikota belum juga sadarkan diri biarpun sudah mendapatkan perawatan maksimal.
“Tuan, ada wanita yang memukul tuan muda setelah tuan muda meminta wanita itu untuk melayani keinginan tuan muda.” Kata salah satu pengawal putra walikota.
Mendengar itu walikota tahu jika putranya adalah orang yang salah, tapi egonya berkata lain. Dia ingin menuntut pertanggung jawaban dari wanita yang berani melukai putranya, kalau perlu dia akan menyuruh puluhan prajurit kota untuk menggilir wanita itu sampai mati.
Tiba-tiba walikota tersenyum. “Aku akan menangkap wanita itu dan bila dia benar-benar cantik, aku akan menikmati dia sampai puas, dan setelahnya wanita itu akan menjadi milik kalian.” Kata walikota dengan menunjukkan senyum liciknya.
***
Penginapan Snow Flower.
Reinar, Freya dan Rhea masih berada di kamar mereka menikmati waktu santai setelah tiga hari melakukan perjalanan melewati lebatnya hutan.
“Apa tadi tuan tidak merasa jika ada seorang wanita yang terus mencuri pandang kearah tuan?.” Tanya Freya yang menyandarkan kepalanya ke bahu Reinar.
“Bukan hanya merasa, aku bahkan sangat tahu kalau wanita itu terus menerus memandang kearah ku.” Kata Reinar sambil mengelus rambut lembut Freya.
Rhea yang sedang berbaring dengan menjadikan paha Reinar sebagai bantal, tiba-tiba dia terbangun dan menatap Reinar dan Freya bergantian.
Rhea tersenyum dan kembali berbaring dan meletakkan kepalanya diatas paha Reinar. “Wanita itu berada di sebelah kamar kita, dan pria yang bersamanya sepertinya bukan kekasihnya. Aki merasa mereka masih ada hubungan darah.” Ungkap Rhea dengan mata terpejam.
Reinar dan Freya tersenyum melihat Rhea yang begitu imut saat memejamkan mata, bahkan mereka ingin sekali mencubit pipi gembul Rhea yang begitu menggoda.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan?.” Tanya Reinar yang membuat Freya bersemangat saat mendengarnya, bahkan Rhea segera bangkit dan berdiri dengan begitu bersemangat.
“Aku ingin melihat alun-alun kota.” Kata Freya.
“Aku penasaran, apa di kota ini ada taman kota seperti di kota Sky Dragon.” Kata Rhea.
“Baiklah, kita berangka....”
BOOMMM...
Belum sempat Reinar menyelesaikan kata-katanya, mereka bertiga mendengar ledakan dari kamar yang ada di sebelah, dan suara ledakan itu sempat membuat lantai penginapan bergetar.
“Sepertinya ada sekumpulan serangga yang ingin mengganggu ketenangan di tempat ini.” Kata Reinar sambil berjalan keluar dari kamarnya dengan dua wanita mengekor di belakangnya.
Di luar kamar Reinar bisa melihat seorang wanita yang tadi dia lihat di restoran tengah berhadapan dengan seorang pria tua yang menatap si wanita dengan tatapan yang begitu menjijikkan.
“Pria tua, kau ingin mati dengan cara seperti apa?. Mati secara cepat, atau mati penuh siksaan?.” Kata si wanita menatap jijik pria tua di depannya yang wajahnya seketika menggelap mendengar apa yang dikatakan si wanita.
Reinar dan dua wanitanya hanya melihat dari tempatnya, karena mereka merasa tidak perlu ikut campur dalam masalah yang tengah terjadi di depan mereka.
“Kamu memang wanita cantik, tapi karena kesombongan mu, kamu akan segera mati.” Kata pria tua yang tak lain adalah walikota kota Border yang mencoba menyerang wanita di depannya.
Belum sempat walikota menyerang, tiba-tiba mereka yang ada di tempat itu berpindah tempat ke hutan yang ada di luar kota Border termasuk si wanita dan kakaknya.
Semua orang merasa bingung, tapi sebuah suara mengejutkan mereka semua.
“Bertarung lah sesuka hati ditempat ini, daripada kalian bertarung di penginapan sempit yang akan merugikan banyak orang.” Kata Reinar yang tengah duduk santai di atas batang pohon tumbang bersama dua wanitanya.
Walikota merinding dan gemetar ketakutan merasakan aura Reinar yang sedikit bocor. Dia tahu, pemuda di depannya sangat kuat, bahkan dia tak tahu siapa yang mampu mengalahkannya.
“Apa semua ini ulah mu?.” Tanya si wanita pada Reinar.
Reinar mengangguk. “Aku akan memindahkan kalian kembali setelah kalian selesai bertarung, dan percayalah aku tidak akan ikut campur pertarungan kalian.” Kata Reinar dengan santainya.
Si wanita tersenyum melihat Reinar yang duduk santai di tengah pertarungan yang akan terjadi. “Maka dari itu, aku tak akan sungkan lagi.”
BOOMMM...
Si wanita mengeluarkan aura terkuatnya, dan itu cukup membuat walikota dan prajurit yang dia bawa jatuh tersungkur tak kuasa menahan tekanan aura si wanita, bahkan kakak si wanita sedikit menjauh untuk mengurangi dampak tekanan aura yang di keluarkan adiknya.
Berbeda dengan orang-orang yang merasa tertekan oleh tekanan aura si wanita misterius, Reinar dan dua wanita yang bersamanya justru tersenyum lebar merasakan aura yang dikeluarkan si wanita.
“Seperti dugaan ku, mereka bertiga sangat kuat, mungkin satu dari mereka sudah bisa mengalahkan ku.” Batin si wanita dan dia mulai bergerak untuk membunuh seluruh prajurit yang dibawa walikota untuk menangkapnya.
Walikota yang melihat prajuritnya mati dengan begitu mudah, dia hanya bisa menatap mereka dan menunggu kematian menghampirinya.
“Kalau kau membunuhku, kota Border tak akan memiliki pemimpin dan pasti akan terjadi sesuatu yang buruk di kota karena tak adanya seorang pemimpin yang melindungi kota.” Teriak walikota dengan sisa tenaga yang dia miliki.
Si wanita tersenyum sinis mendengar apa yang dikatakan walikota. “Aku tidak peduli dengan kotamu.” Kata si wanita yang tak sedikitpun memberi ampun pada si walikota.
“Entah kenapa dia sangat mirip dengan Freya.” Batin Reinar melirik Freya di sampingnya.
Melihat pertarungan berakhir, Reinar menepati janjinya dan dia membawa semua orang kembali ke kota Border, tapi bukannya kembali ke penginapan, Reinar justru membawa semua orang ke kediaman Walikota, dan munculnya mereka mengejutkan seluruh orang yang ada di kediaman Walikota.
“Baru juga aku ingin membunuh pria tua itu karena terang-terangan memeras penduduk kota dengan kenaikan pajak yang begitu tinggi, tapi dia sudah lebih dulu mati.” Kata wanita cantik yang sepertinya baru sampai di kediaman Walikota.
Reinar tersenyum hangat melihat wanita yang berjalan kearahnya dan langsung menggelayut manja di lengannya.
Semua orang tercengang melihat kejadian di depan mata mereka. Seorang Ratu yang tak pernah tersentuh oleh seorang pria, kini justru terlihat bertingkah manja pada seorang pemuda.
“Ingat, tuan bukan hanya milikmu saudari Ratu Vexia.” Kata Freya yang segera menarik Vexia untuk berdiri sejajar dengan dirinya dan Rhea.
Vexia hanya tersenyum dan dengan begitu santai dia berdiri di samping Freya.
Mata wanita yang baru membunuh walikota kota Border terbelalak melihat tiga wanita di belakang Reinar.
“Dia, jangan-jangan dia adalah Kaisar yang baru saja melamar tujuh wanita untuk menjadi istrinya.” Batin wanita yang masih setia menatap Reinar. “Melihat mereka bertiga yang begitu bahagia di dekat pemuda itu, sepertinya berita yang beredar sangatlah tidak benar.” Kata si wanita begitu lirih.
Semua orang masih terdiam, bahkan mereka tidak mempedulikan walikota yang telah mati. Mereka lebih tertarik melihat kejadian langka yang terjadi di depan mereka.
Mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing, tanpa berani mengeluarkan suara sedikitpun.
“Apa kamu tidak ingin memilih walikota baru untuk memimpin kota ini?.” Tanya Reinar pada Vexia.
“Aku sudah menyiapkan pengganti yang lebih baik darinya, dan aku juga sudah membereskan seluruh anggota keluarga pria tua menjijikkan itu.” Balas Vexia sambil melirik sosok wanita yang tak asing baginya.
“Putri Bella!.” Vexia memanggil wanita yang masih setia menatap Reinar.
Si wanita yang merasa terpanggil tersentak dan melihat kearah Vexia yang baru memanggilnya. “Kau selalu bisa membongkar penyamaran ku, Ratu Vexia sahabat lamaku.” Kata Bella sambil membuka tudung kepalanya dan memperlihatkan rambutnya yang berwarna pirang dengan sepasang telinga runcing.
Vexia tersenyum melihat teman lamanya yang sudah begitu lama tidak pernah dia ketahui keberadaannya.
“Kau putri Arabella, putri satu-satunya Kaisar elf terdahulu!.” Kata Reinar tiba-tiba, dan itu cukup membuat Bella kembali terkejut.
Bukan hanya Bella, Vexia juga terkejut mendengar identitas asli temannya.
“Kau... Bagaimana kau tahu identitas asliku?. Sedangkan selama ini hanya Ayah dan kakakku yang tahu akan identitas ku yang sebenarnya.” Kata Bella.
“Aku pernah bertemu denganmu, biarpun itu hanya di alam mimpi.” Balas Reinar.
“Degh....” Dada Bella berdegup kencang mendengar balasan Reinar, dan tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya, dan detik berikutnya Bella melesat kearah Reinar dan menariknya pergi menjauh.
“Putri Bella, apa yang kamu lakukan?.”
“Bau ini, kau benar-benar dirinya, dan aku merindukan mengusik mimpimu!.”
“Jadi wanita itu di mimpiku itu benar-benar dirimu?.”
Bella mengangguk. “Ya itu aku, aku memiliki skill memasuki mimpi seseorang, dan aku sangat bahagia bisa memasuki mimpimu.” Tiba-tiba wajah Bella memerah mengingat kejadian yang pernah dia lakukan dengan Reinar di alam mimpi.
“Karena kita telah bertemu kembali, sekarang aku akan menagih pertanggungjawaban atas apa yang sering kamu lakukan padaku di alam mimpi.”
Reinar tertunduk mengingat kejadian yang dulu dia lakukan saat bersama Bella di alam mimpi. “Apa mimpi itu nyata?.”
Bella mengangguk. “Kau bisa membuktikannya jika tidak percaya.” Kata Bella yang memeluk mesra lengan Reinar, dan menekan erat lengan Reinar di dada besarnya.
“Putri Bella, apa kau melupakan keberadaan ku?.” Tanya Vexia yang tiba-tiba muncul.
“Tuan, kami juga ingin melakukannya.” Kata Freya dan Rhea bersamaan.
Reinar yang tak tahu harus berkata apa, dia hanya bisa mengikuti keinginan empat wanita yang mengelilinginya.
Dari kejauhan seorang pria tua tersenyum melihat kesulitan yang akan segera menimpa Reinar.
“Berjuanglah putraku, setidaknya aku ingin lima puluh cucu darimu.” Kata pria tua yang masih tersenyum lembut menatap Reinar dan empat wanita yang bersamanya.
***
***Bersambung...***
>> Jangan lupa kasih like dan komentarnya walau hanya satu kata 😊😊..
>> Rate ⭐ lima, dan jangan ketinggalan untuk kasih kado serta vote seikhlasnya 😊😊..
>> Terimakasih...