
Kamar Reinar.
“Hehehe, tak ada salahnya jika aku mengejutkan mereka.” Kata Reinar tersenyum jail membayangkan apa yang akan dia lakukan.
Dengan skill teleportasi Reinar menghilang dari kamarnya dan muncul di belakang tiga assasin yang masih mengawasi kamar yang dia sewa. Reinar tersenyum melihat tiga assasin sama sekali tidak menyadari keberadaannya.
“Entah kenapa aku merasa jumlah penghuni kamar itu berkurang.” Kata salah satu assasin.
“Apa ada salah satu dari mereka yang pergi meninggalkan ruangan?. Tapi kapan dia melakukannya.” Gumam lirih assasin lainnya.
Plak...
Tiba-tiba mereka bertiga merasa ada yang baru memukul bahu mereka dari belakang. Mereka saling melirik dan seketika menjadi waspada dengan keberadaan sosok yang ada di belakangnya.
“Kalian dari tadi mengawasi kamar ku, kini giliran aku mendekati kalian, kenapa kalian justru bersikap waspada?.” Tanya Reinar santai.
Tiga assasin menoleh secara bersamaan dan seketika mata mereka melotot melihat sosok yang ada di belakang mereka. “Kau, sejak kapan kau ada di sini?.” Tanya salah satu assasin yang merasakan bahaya dari sosok Reinar yang terus menunjukkan senyum manisnya.
BOOMMM...
BOOMMM...
Dua orang assasin meledak dan langsung berubah menjadi butiran debu halus saat Reinar membakar mereka dengan elemen api miliknya.
“Aku ingin sedikit informasi darimu.” Kata Reinar memegang kepala assasin yang ada di depannya, dan dengan skill pemindai ingatan, dia dapat melihat semua ingatan yang di miliki si assasin.
Tak lama Reinar tersenyum setelah mendapatkan semua informasi yang dia inginkan, dan setelahnya dia membunuh assasin yang ada di tangannya layaknya dua assasin yang lain.
“Kaisar yang terlihat setia, ternyata dia sering bermain wanita, bahkan tak jarang dia menculik gadis-gadis di desa, bahkan dia tega mengambil wanita yang sudah bersuami, dan dia menyuruh lima assasin untuk menculik empat wanitaku serta membunuhku. Sifat licik dan busuknya membuatku ingin segera mencabik-cabik tubuhnya, dan menjadikannya santapan para naga ku.” Kata Reinar dengan seringaian kejamnya.
Swusshh...
Reinar kembali muncul di dalam kamarnya dan dia melihat dua orang assasin yang habis di permak oleh para wanitanya dengan sangat baik.
“Kalian cepat bereskan mereka sebelum kita jalan-jalan menikmati keindahan kota Eregion.” Kata Reinar yang sedikit merasa iba dengan nasib dua assasin yang biarpun dibiarkan hidup, mereka hanya akan menjadi seorang pria yang tak berguna.
“Aku harus melindungi masa depanku dari mereka.” Batin Reinar memegangi area selangkangannya dan dengan langkah cepat dia pergi menuju kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, Reinar langsung disambut keempat wanitanya, tapi dia tak lagi melihat dua assasin yang tadi berada di kamarnya.
“Mungkin mereka sudah menjadi makanan binatang jalanan.” Batin Reinar.
Reinar tersenyum melihat empat wanita yang begitu cantik dan tubuh mereka terlihat semakin menggoda. “Pantas saja Kaisar tol*l itu menginginkan mereka, biarpun dia belum melihat siapa wanita yang dia inginkan.” Kata Reinar membatin.
Saat Reinar belum siap, tiba-tiba Rhea datang dan memeluk lengan Reinar, dan tentunya lengan Reinar kini terhimpit diantara gundukan daging besar dan kenyal yang menghiasi dada Rhea.
“Suamiku, apa yang sekarang akan kita lakukan?.” Tanya Rhea yang semakin erat memeluk lengan Reinar.
Reinar merasa seperti tersengat listrik saat benda empuk dan kenyal milik Rhea menekan dan menghimpit lengannya. Reinar ingin menarik lengannya, tapi Rhea justru semakin erat memeluk lengan Reinar.
“Nikmati saja suamiku, kedepannya akan lebih banyak yang melakukan itu padamu.” Bisik Freya yang muncul di belakang Reinar.
Reinar hanya mengangguk dan setelahnya mereka pergi keluar kamar. Di luar kamar Marco sudah menunggu mereka, dan bersama-sama mereka berjalan menuruni tangga untuk mencapai lantai dasar penginapan.
Begitu sampai di lantai dasar, Reinar dan yang lainnya lalu menuju pintu keluar penginapan. Tak ada yang menghambat perjalanan mereka sampai akhirnya mereka keluar dari penginapan.
Baru beberapa langkah keluar, ada seorang wanita elf muncul dan langsung menarik telinga Marco.
“Dasar pria sialan, beraninya kamu pergi meninggalkan aku!.” Teriak wanita elf yang membuat banya orang melihat kearahnya.
Marco hanya bisa meringis menahan sakit saat wanita di depannya terus menarik telinganya. “Nina, aku bisa menjelaskan semuanya!.” Kata Marco.
Nina, si wanita elf melepaskan telinga Marco. “Mungkin kamu dan Bella membenciku karena penghianatan yang dilakukan orangtua ku, tapi percayalah, aku tidak berada di pihak mereka, dan sebab itu aku pergi ke kota ini karena aku tahu walikota di kota ini masih setia pada Kaisar terdahulu yang tak lain adalah orangtua mu.” Ungkap Nina dengan suara lirih, dan hanya terdengar oleh Marco, Reinar, dan empat wanita yang ada di sisi Reinar.
Marco melirik Reinar. “Adik ipar, apa kamu bisa membawa kita semua ke tempat yang sepi?.” Tanya Marco yang segera di iyakan oleh Reinar.
Tak butuh waktu lama mereka semua telah berpindah ke hutan yang ada di luar kota Eregion, termasuk dua pengawal Nina yang semula mengawasi dari kejauhan.
“Kalian tidak perlu terkejut, karena aku bisa merasakan keberadaan kalian di manapun kalian bersembunyi.” Kata Reinar menatap dua pengawal yang sempat kebingungan. “Lanjutkan apa yang ingin kalian bahas.” Imbuh Reinar yang kemudian pergi bersama empat wanitanya.
“Pemuda yang sangat mengerikan, bahkan dua pengawal ku yang selalu bersembunyi dengan baik, dapat dia temukan dalam waktu singkat.” Batin Nina menatap Reinar dan empat wanitanya yang berjalan menjauh.
“Apa sekarang kau tertarik dengan adik iparku?.” Tanya Marco.
“Huh....” Marco menghela nafas. “Aku pergi bukan karena membencimu, tapi aku pergi karena tidak ingin melibatkan dirimu dalam rencana balas dendam ku. Bagaimanapun juga, orang yang menjadi tujuan balas dendam ku salah satunya adalah orangtua mu.” Kata Marco memberi penjelasan.
“Mereka bukan orangtua kandungku.” Balas Nina yang mengejutkan Marco.
“Apa maksud mu dengan mengatakan mereka bukan orangtua kandung mu?.” Tanya Marco heran sekaligus penasaran.
“Mereka membunuh orangtua kandungku dan mengangkat ku menjadi anak. Aku selama ini tahu akan hal itu, tapi aku masih menunggu waktu yang tepat untuk membalas kematian mereka.” Jawab Nina yang membuat Marco semakin geram dengan Kaisar Kekaisaran Utara yang selama ini menggunakan topeng kebaikan untuk menutupi kebusukan nya.
“Cih, Kaisar sialan itu harus segera mati!.” Kata Marco mulai emosi.
“Aku ingin segera membalas dendam, tapi kekuatan kita tak akan mampu mengalahkannya, dan lagi Kaisar Selatan pasti datang untuk membantunya.” Ungkap Nina lalu dia meraih tangan Marco dan menggenggamnya.
Marco tersenyum. “Dengan bantuan Kaisar dari Kekaisaran Naga, aku yakin bisa menaklukkan mereka berdua.” Kata Marco.
“Kaisar Kekaisaran Naga?. Bukannya dia Kaisar menjijikkan yang memaksa tujuh wanita untuk menjadi istrinya?.” Tanya Nina yang sudah mendengar kabar tentang keburukan Kaisar Kekaisaran Naga.
Marco menyentuh rambut kepala Nina. “Awalnya aku mempercayai kabar itu, tapi setelah aku melihat Kaisar itu secara langsung, aku segera membuang jauh-jauh kabar itu karena yang aku lihat justru sebaliknya. Dari apa yang aku lihat, bagiku justru Kaisar itulah yang dengan terpaksa harus menerima para wanita yang ingin menjadi istrinya.” Ungkap Marco.
Tiba-tiba Marco merasa ada benda tajam yang menempel di lehernya sesaat setelah dia selesai berkata.
“Kemarin kamu cuma di pukuli oleh Bella, mungkin hari ini aku akan memenggal mu karena kata-kata palsu yang kamu susun dengan sangat indah.” Kata Freya dengan bilah pedang tajam sudah menempel di leher Marco.
“Gluk....” Susah payah Marco menelan air liurnya. “Aku lupa jika telinga mereka berempat sangat sensitif.” Batin Marco.
Nina ingin mencegah Freya, tapi Vexia menghentikan langkah Nina. “Biarkan si mulut besar itu menerima hukumannya.” Kata Vexia sambil tersenyum. “Mari ikut denganku karena ada yang ingin berbicara denganmu.” Imbuh Vexia dan mengajak Nina pergi.
“Waahhhh.... Nona Freya yang cantik, aku tadi hanya bercanda, jangan memberiku hukuman yang begitu kejam.” Kata Marco memelas.
Freya tersenyum sinis menatap Marco. “Kalau begitu, terima hukuman kecil dari ku.”
BOOMMMM....
Wajah Marco menghantam pohon setelah Freya dengan keras menendang pantatnya. “Lain kali aku akan lebih berhati-hati dengan mulutku.” Kata Marco lirih sebelum dia pingsan.
***
Di sisi lain hutan.
Reinar tersenyum melihat Vexia yang datang bersama Nina.
Bella dan Rhea, mereka tak ada di sisi Reinar karena mereka tengah berburu binatang di hutan untuk diolah menjadi menu makan siang mereka.
“Apa putri Nina masih penasaran degan kebenaran tentang kabar Kaisar Kekaisaran Naga?.” Tanya Reinar dengan santai.
“Tuan muda, aku sudah mendengar dari Marco, tapi aku merasa itu juga bukan kabar yang bisa dipercaya.” Kata Nina menerangkan.
“Tidak ada yang terpaksa dalam acara pertunangn itu. Kaisar Kekaisaran Naga menerima dengan senang hari seluruh wanitanya, dan para wanita dengan senang hati menerima Kaisar Kekaisaran Naga menjadi calon suami mereka.” Kata Reinar sambil menatap Vexia yang tersenyum kearahnya.
Dari semua berita yang Nina dengar, entah kenapa dia langsung menerima apa yang baru dia dengar dari mulut Reinar.
“Soal rencana balas dendam yang akan kamu dan Marco lakukan, aku pasti akan membantu kalian.” Kata Reinar.
Nina terkejut mendengar apa yang dikatakan Reinar, tapi dia tak melihat kebohongan dari kata-kata Reinar saat melihat bola matanya.
“Itu, ehm kalian sebenarnya siapa?.” Tanya Nina yang penasaran dengan identitas dua orang yang ada di dekatnya.
“Perkenalkan, aku Vexia Alfonsius, Ratu Kekaisaran Demones.” Kata Vexia memperkenalkan diri.
“Kau sudah mendengar kabar tentang ku, tapi ini adalah pertemuan pertama kita. Aku Reinar Alfonsius, Kaisar Kekaisaran Naga.” Ungkap Reinar.
Nina sejenak terdiam setelah mengetahui identitas dua orang yang kini ada di depannya, dan tak lama dia berlutut di depan Reinar dan Vexia.
“Putri kecil ini memberi hormat pada Yang Mulia Kaisar, dan Yang Mulia Ratu.” Kata Nina memberi penghormatan.
Reinar memegang bahu Nina dan membantunya berdiri. “Kau adalah tunangan kakak iparku, dan tak lama lagi mungkin kamu akan resmi menjadi kakak iparku. Karena itu tak seharusnya kamu berlutut di hadapan kami.”
Nina tersenyum malu dan mengangguk saat mendengar apa yang Reinar katakan. “Mulai sekarang aku tak akan mempercayai sebuah kabar sebelum aku membuktikan kebenarannya.” Batin Nina.
***
***Bersambung...***