The World Emperor System

The World Emperor System
Peperangan Di Benteng Perbatasan [I]



Suara ledakan dapat terdengar bersamaan dengan tanah yang bergetar. Puluhan ribu prajurit yang di latih langsung oleh Reinar selama beberapa bulan, saat ini mereka tengah mempertahankan benteng perbatasan dari gempuran ratusan ribu prajurit garis depan yang dimiliki oleh Kekaisaran Dewa Langit.


Sekalipun kalah dalam jumlah, prajurit penjaga benteng perbatasan Kerajaan Yang tak kalah dalam hal kekuatan dan semangat. Walau harus terluka parah, tak ada satupun dari mereka yang melarikan diri dari tempat yang harus mereka jaga. Ribuan dari mereka telah gugur, tetapi mereka telah berhasil membuat musuh kehilangan puluhan ribu prajuritnya.


Karena sebuah perintah. Prajurit Kekaisaran Dewa Langit yang berada di garis depan, mereka terus melakukan serangan walau mereka sudah dilanda ketakutan akan kekuatan prajurit musuh yang jauh lebih kuat dari kekuatan yang mereka miliki.


Tak ada juga dari mereka yang berani bergerak mundur, karena sekali mereka mundur, mereka akan di cap sebagai seorang pengkhianat, dan mereka akan di hukum mati langsung di tempat. Sekalipun mereka harus menerjang maju dan mati di tangan musuh, bagi mereka itu lebih baik daripada mati karena di cap sebagai seorang pengkhianat.


Kedua kubu masih terus bertarung walau korban jiwa yang terus berjatuhan di setiap detik jalannya perang. Rasa lelah ataupun sakit tak sedikitpun mereka rasakan. Saat ini yang ada di pikiran mereka semua hanyalah bertarung, membunuh, dan memenangkan peperangan.


°°°


Sementara itu tak jauh dari benteng perbatasan milik kerajaan Yang, Reinar dan satu juta prajuritnya telah datang dengan teknik teleportasi yang mereka miliki.


Perjalanan dari istana Kerajaan Yang menuju benteng yang ada di perbatasan seharusnya memakan waktu lebih dari dua hari, tetapi dengan adanya teknik teleportasi, Reinar dan prajuritnya hanya membutuhkan waktu kurang dari lima detik untuk sampai di tempat terdekat dari benteng perbatasan Kerjaannya.


Reinar tidak akan langsung menunjukkan kekuatan penuhnya kepada musuh, tetapi dia akan mengirim mereka dalam beberapa gelombang, dan untuk gelombang pertama, dia telah mengirim salah satu bawahannya dengan seratus ribu prajurit yang dia pimpin untuk membantu mempertahankan benteng perbatasan milik Kerajaan Yang.


Setelah kepergian salah satu bawahannya bersama seratus ribu prajurit yang dia pimpin, Reinar menyiapkan riga bawahannya bersama prajurit yang mereka pimpin untuk melakukan serangan kejutan kepada prajurit belakang musuh yang berada jauh di belakang prajurit garis depan.


“Pihak musuh setidaknya memiliki lima juta prajurit, dan ada ribuan ahli kuat yang memimpin mereka. Dengan banyaknya jumlah musuh, ini semakin baik untuk melatih seluruh prajurit ku...” Gumam Reinar lirih lalu dia mengajak sisa prajuritnya mencari tempat yang tepat untuk menyaksikan peperangan yang terjadi di benteng perbatasan Kerajaan Yang.


°°°


Benteng perbatasan milik Kerajaan Yang telah menjadi lautan darah dengan mayat-mayat yang bergelimpangan di berbagai sudut benteng. Bala bantuan prajurit Kekaisaran Dewa Langit terus berdatangan, dan memaksa belasan ribu prajurit Kerajaan Yang bertahan di bagian terdalam benteng yang masih belum tertembus prajurit musuh.


“Kalau keadaan terus seperti ini, kita tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi, dan kemungkinan besar benteng ini akan jatuh ketangan musuh...” Kata pemimpin prajurit penjaga benteng perbatasan Kerajaan Yang.


Seluruh prajurit yang dia pimpin tahu akan itu, tetapi mereka telah bertekad untuk mempertahankan apa yang harus mereka jaga sekalipun harus dibayar dengan nyawa. “Ketua, kita tahu kalau kemenangan itu akan sangat sulit kita raih di situasi seperti ini, tetapi ketua dapat yakin kepada kita, kita masih punya semangat dan nyawa di tubuh kita, dan dengan keberadaan dua hal itu, aku yakin kita semua masih dapat menjaga serta mempertahankan benteng ini!...” Ujar salah satu prajurit dengan suara lantang, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membakar semangat prajurit lainnya.


Pemimpin prajurit menunjukkan senyum lebarnya. Andai saja prajurit yang dia pimpin adalah prajurit yang belum di latih langsung oleh sosok yang hari ini di nobatkan sebagai Raja di Kerajaan tempatnya mengabdikan diri, dia yakin kalau seluruh prajirit yang dia pimpin akan lebih memilih melarikan diri ataupun menyerah daripada harus bertaruh sampai mati.


Lalu pemimpin prajurit berkata. “Mari kita tunjukkan pada Yang Mulia Raja kalau Yang Mulia tidak melakukan hal yang sia-sia saat memberikan pelatihan langsung kepada kita!...” Gemuruh suara belasan ribu prajurit yang kembali bersemangat dapat terdengar di telinga prajurit musuh yang berasa di luar bagian benteng terdalam.


“Sial, entah kenapa aku merasa merinding dan takut di waktu yang bersamaan saat mendengar suara mereka...” Gumam lirih salah satu prajurit Kekaisaran Dewa Langit yang mencoba menerobos masuk kedalam bagian terdalam benteng perbatasan Kerajaan Yang.


Ratusan ribu prajurit Kekaisaran Dewa Langit mencoba menerobos masuk ke bagian terdalam benteng, dan memusnahkan seluruh musuh mereka. Namun usaha mereka sejenak terhenti saat mereka semua melihat langit mulai gelap padahal hari belum melewati waktu siang, dan tak ada tanda-tanda akan turunnya hujan.


“Kegelapan ini bukan sesuatu yang baik!... Firasat ku mengatakan kalau kita lebih baik meninggalkan tempat ini!...” Kata salah satu prajurit yang tengah melihat suatu fenomena alam yang baru pertama kali dia lihat.


Prajurit yang lain juga merasakan firasat yang sama, tetapi di saat mereka ingin bergerak mundur, tak ada satupun dari mereka yang dapat menggerakkan kakinya, seolah kaki mereka terpaku pada tanah yang mereka pijak. “Sial!... Ini sepertinya akan mengakhiri impian ku untuk merebut istri muda Ayah ku..” Seorang prajurit yang masih begitu muda mengutuk nasib sial yang tengah dia alami.


“Apa sebenarnya yang terjadi?... Bagaimana bisa ada awan petir yang tiba-tiba muncul dan mengeluarkan kilatan cahaya petir yang sangat kuat dan mengerikan?... Tetapi aku aku melihat ada keanehan dari prajurit kita!... Lihat, satupun dari mereka tak ada yang bergerak untuk menghindari kilatan cahaya petir yang mengarah ke arah mereka...” Ujar salah seorang Jenderal yang memimpin satu juta prajurit garis depan Kekaisaran Dewa Langit.


Awan petir yang tiba-tiba muncul bukanlah awan petir biasa. Awan petir itu adalah teknik hujan petir yang merupakan teknik salah satu bawahan Reinar, dan untuk prajurit Kekaisaran Dewa Langit yang tidak dapat bergerak, itu semua karena mereka terkunci oleh aura kuat seratus ribu prajurit yang dipimpin oleh bawahan Reinar.


Karena adanya perbedaan tingkat kekuatan yang cukup jauh, membuat ratusan ribu prajurit Kekaisaran Dewa Langit tak dapat melawan aura yang menekan mereka.


Jenderal prajurit garis depan Kekaisaran Dewa Langit mengerutkan keningnya saat melihat sosok yang muncul di langit setelah hilangnya awan petir yang sempat membuat gelap wilayah di sekitar benteng perbatasan Kerajaan Yang. “Hahaha... Akhirnya ada juga orang yang akan membuatku terhibur. Aku sudah terlalu lama tidak bertarung, semoga saja mereka bisa membuatku bertarung dengan mengerahkan segenap kekuatan yang aku miliki...” Kata sang Jenderal dengan sorot mata tajam menatap salah satu bawahan Reinar.


Bawahan Reinar menatap ke arah Jenderal yang suaranya terdengar sampai ke telinganya. “Hanya seekor semut, beraninya merendahkan kekuatan yang aku miliki!... Kau, keluarkan seluruh kekuatan mu, dan akan aku tunjukkan kepada seluruh prajurit mu seberapa jauh perbedaan kekuatan kita!...” Balas bawahan Reinar dalam balutan wujud pria bertopeng hitam.


Sang Jenderal geram begitu mendengar balasan dari sosok pria bertopeng hitam yang perlahan melayang ke arahnya. “Kau cukup bermulut besar, tapi sayangnya bagiku kau tak jauh lebih kuat dari seekor semut, dan biarkan semut yang perkasa ini menunjukkan kekuatannya pada makhluk lemah sepertimu...” Sang Jenderal menarik keluar pedangnya, dan dia langsung mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang sosok bertopeng hitam yang hanya berjarak puluhan meter darinya.


Sosok pria bertopeng hitam hanya tersenyum di balik topengnya saat melihat pergerakan sang Jenderal yang terlihat begitu lambat. “Bahkan seekor siput jauh lebih cepat dari pergerakannya...” Pria bertopeng hitam hanya menggunakan telapak tangan kosong untuk menghalau serangan yang mengarah kepadanya.


“Aku akan memotong-motong tubuh mu!...” Sang Jenderal mengayunkan pedang di tangannya ke arah leher pria bertopeng hitam.


Benturan kekuatan terjadi antara sosok pria bertopeng hitam dengan salah satu Jenderal Kekaisaran Dewa Langit. Perbedaan kekuatan yang cukup jauh membuat pedang sang Jenderal langsung patah dan hancur saat menghantam telapak tangan sosok pria bertopeng yang dilapisi oleh lapisan energi Qi.


Mata sang Jenderal terbuka dengan sempurna saat melihat kearah gagang pedangnya yang masih berada di genggaman tangannya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau pedangnya akan langsung patah dan hancur saat menghantam telapak tangan musuhnya.


Dia terkejut dengan kekuatan musuhnya, tetapi belum juga hilang rasa terkejutnya, dia dapat merasakan adanya niat membunuh yang sangat kuat keluar dari tubuh musuhnya. Tubuhnya tiba-tiba bergetar saat musuhnya juga mengeluarkan aura kekuatan yang jauh lebih kuat darinya.


Seluruh prajurit Kekaisaran Dewa Langit terdiam saat melihat salah satu Jenderal mereka di buat tak berdaya di hadapan kekuatan musuh. Jenderal lainnya yang juga menjadi pemimpin prajurit garis depan, mereka bergerak untuk membantu salah satu rekan mereka, tetapi itu adalah keputusan yang salah, karena saat ini mereka juga merasakan apa yang tengah di rasakan oleh salah satu rekan mereka. “Sial, sekuat apa seberapa orang ini?... Bagaimana mungkin aura kekuatan kita tak bisa mengalahkan aura kekuatannya?...”


Sosok pria bertopeng hitam kembali tersenyum di balik topengnya saat dia mendengar perkataan dari salah satu Jenderal Kekaisaran Dewa Langit. “Sekalipun bekerja sama, kalian masihlah terlihat seperti seekor semut di depan mataku. Jangankan dengan gabungan kekuatan kalian, sekalipun seluruh kekuatan Kekaisaran kalian digabungkan, itu juga masih belum cukup untuk mengalahkan kekuatanku!...”


BOOMM...


Sosok bertopeng mengeluarkan aura puncak kekuatannya, dan satu persatu para Jenderal mulai roboh karena tidak mampu bertahan dari aura yang dikeluarkannya.


Darah segar mengalir keluar dari mulut, hidung, mata, serta dari telinga para Jenderal yang hampir kehilangan kesadarannya. Mereka masih mencoba bertahan hidup, tetapi itu tidak berlangsung lama, karena tak lama kemudian tubuh mereka tiba-tiba meledak menjadi jutaan serpihan kecil.


Dia tak membiarkan ada yang selamat dari seluruh Jenderal yang memimpin prajurit baris depan Kekaisaran Dewa Langit, dan setelah membunuh para Jenderal musuh, sosok pria bertopeng memerintahkan seratus ribu prajuritnya untuk menyerang sisa prajurit garis depan musuh, dan peperangan di sekitaran benteng perbatasan Kerajaan Yang kembali berlanjut.


°°°


Jangan lupa like dan komentarnya setelah selesai membaca, terimakasih...