The World Emperor System

The World Emperor System
Menyingkirkan Pengganggu



Reinar dan Qinyu yang keluar dari penginapan Bunga Persik cukup menarik perhatian banyak orang yang ada di luar penginapan, termasuk Walikota Huang Kiang yang tertarik dengan sosok Reinar dan Qinyu yang senantiasa menggunakan cadar. Ketampanan dan kharisma yang dimiliki Reinar membuat Huang Kiang ingin menjodohkannya dengan putri tertuanya, namun sebelum itu dia ingin memisahkannya dengan Qinyu, wanita yang diinginkan putranya.


Qinyu yang berada di samping Reinar merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang yang tertuju padanya. “Suamiku, aku ingin sekali mencongkel mata orang-orang yang memandangku!... Pandangan yang mereka tujukan padaku sangat menjijikkan, mereka seolah tengah memandang apa yang tak seharusnya mereka pandang...” Kata Qinyu.


Reinar melihat orang-orang yang tengah memandang ke arah Qinyu, dan tak lama orang-orang itu terjatuh dengan posisi berlutut setelah merasakan tekanan berat dari aura yang dikeluarkan oleh Reinar.


“Berhenti memandang istriku kalau kalian masih mencintai nyawa yang melekat pada tubuh kalian!...” Kata Reinar tegas.


Reinar menarik tubuh Qinyu dan membawanya ke dalam pelukannya. Ketika Reinar memeluk Qinyu, banyak pasang mata memandang iri dan benci kepada Reinar, tetapi ada juga sekelompok wanita yang marah pada Qinyu yang terlihat begitu lemah.


Tak ada suara yang terdengar karena Reinar belum menarik aura yang dia keluarkan, bahkan Huang Kiang masih juga terdiam sambil memperhatikan Reinar dan Qinyu.


Mereka berdua terlihat begitu serasi, tetapi Huang Kiang tetap pada pendiriannya, yaitu dia ingin memisahkan mereka lalu menjadikan mereka calon suami dan istri dari kedua anaknya.


Reinar menarik auranya saat tak lagi ada orang yang memandang kearah Qinyu, sehingga semua orang yang semula jatuh berlutut, kini mereka mulai bisa bangkit kembali tetapi tak ada satupun orang yang masih mempunyai keberanian untuk memandang ke arah Qinyu. Mereka tahu sekuat apa pemilik aura yang baru menekan mereka, melawan orang itu tak ada bedanya dengan menghampiri sosok Dewa Kematian.


Tak lama berdiri Reinar ingin mengajak Qinyu kembali kedalam penginapan, karena baginya tidak ada hal penting yang bisa menahannya untuk menikmati waktu santai bersama Qinyu.


Ketika keduanya berbalik arah dan ingin melangkahkan kaki, tiba-tiba sosok Huang Kiang dan para pengawalnya muncul di depan mereka berdua, dan menghalangi arah yang akan mereka tuju.


“Kenapa kalian begitu terburu-buru?... Apa di cuaca secerah ini kalian akan menghabiskan waktu berduaan di dalam kamar?... Dan lagi ini masih siang, bukannya akan sangat memalukan jika kalian bercinta di saat banyak orang yang bisa mendengar suara gaduh kalian?...” Kata Huang Kiang.


Reinar tak ingin menanggapi ocehannya Huang Kiang, begitu juga dengan Qinyu yang justru terlihat acuh pada sekumpulan orang yang ada di depannya.


Tetapi orang lain yang mendengar perkataan Huang Kiang merasa kalau Reinar dan Qinyu adalah pasangan yang tidak mengerti sopan santun. Biarpun mereka merupakan sepasang suami istri, bercinta di kamar penginapan di waktu siang hari bukanlah perbuatan yang dapat dibenarkan, kecuali mereka melakukan itu di rumah mereka sendiri.


Reinar yang mendengar suara bisik-bisik orang yang tak terlalu jauh darinya, dia hanya diam dan tak sedikitpun menganggap keberadaan mereka. Dia merasa hanya akan membuang waktu berharganya kalau dia harus menjelaskan kebenaran pada mereka, dan karena itu Reinar memilih diam.


“Apa kalian ada waktu?... Akan sangat tidak berguna kalau waktu yang kalian miliki hanya habis di dalam kamar. Ikutlah denganku, dan aku akan menunjukkan seberapa berharganya waktu di dunia ini!...” Kata Huang Kiang mencoba menarik perhatian Reinar dan Qinyu.


Reinar tentu tidak tertarik dengan apa yang dikatakan Huang Kiang, bahkan sejak awal dia ingin memukul wajah jelek Huang Kiang yang mengotori penglihatan kedua matanya.


Ketika Reinar hanya diam dan kembali ingin pergi menghindar, lagi-lagi Huang Kiang dan para pengawalnya muncul lalu kembali menghalanginya. Reinar hanya melirik Huang Kiang sambil menunggu penjelasan dari apa yang baru dia lakukan.


Qinyu yang ada di pelukan Reinar hanya diam sambil memejamkan mata. Bau tubuh dan kehangatan yang diberikan oleh Reinar membuat Qinyu benar-benar mengabaikan keberadaan Huang Kiang dan para pengawalnya.


“Aku mendatangi kalian karena ingin menyampaikan keinginan putraku. Kamu cukup memberikan wanita yang ada di pelukanmu pada putraku, dan sebagai gantinya aku akan memberikan putriku sebagai pengganti wanita itu...”


Qinyu yang mendengar apa yang dikatakan Huang Kiang segera membuka matanya lebar-lebar lalu dia menatap tajam kearah Huang Kiang. Dengan cepat Qinyu membuat pedang dari elemen petir nya dan melemparkannya kearah Huang Kiang.


Menyadari datangnya bahaya, Huang Kiang segera menghindar tetapi sayang pengawal yang tepat berdiri di belakangnya terlambat untuk menghindar, dan akhirnya dia lah yang jatuh dengan tubuh tak bernyawa setelah pedang yang terbuat dari elemen petir milik Qinyu menembus kepalanya.


Huang Kiang sangat marah dengan Qinyu yang tiba-tiba menyerangnya. “Apa kau ingin membunuhku?... Dasar wanita jal*ng, apa kau tidak tahu siapa aku ini?... Bagaimana bisa putraku menginginkan wanita jal*ng sepertimu!...” Kata Huang Kiang sambil mengeluarkan pedangnya lalu dia mencoba menyerang Qinyu.


BOOMMM...


Tubuh Huang Kiang terpental beberapa langkah kebelakang, di saat Reinar menggunakan 1% kekuatannya untuk memukul tubuh Huang Kiang yang mencoba untuk melukai Qinyu.


Reinar melihat Huang Kiang yang memegangi dadanya. “Ingin melukai istriku, kamu harus menanggung hukuman dariku, dan hukuman itu adalah kematianmu...” Kata Reinar lalu dia menghilang dari tempatnya.


Muncul di dekat Huang Kiang, Reinar langsung memberikan pukulan telak ke arah kepala Huang Kiang. Pukulan itu membuat Huang Kiang terpelanting jatuh ke samping dengan kepala terlebih dahulu menghantam tanah.


Beberapa pengawal mencoba membantu Huang Kiang dengan bergerak secara bersamaan menyerang kearah Reinar. Namun bukannya menolong, mereka justru dibuat tak sadarkan diri saat Reinar menyerang di titik-titik vital yang mereka miliki. Belasan pengawal jatuh tak sadarkan diri dan hanya menyisakan Huang Kiang yang telah kembali bangkit.


“Selain menjadi Walikota di kota ini, aku juga bagian dari Sekte Gagak Perak yang ada di kota Naga. Berani melukai ku, kau hanya akan menjadi musuh dari Sekte terkuat di Benua Selatan!...”


“Orang lemah hanya berani mengancam, tetapi aku bukan orang lemah yang senantiasa bisa kamu ancam dengan kekuatan Sekte selemah Sekte Gagak Perak....” Kata Reinar dengan santainya.


“Aku adalah Putra Tetua Agung di Sekte Gagak Perak, dan seharusnya kalian merasa beruntung karena aku menawarkan kedua anakku pada kalian. Tetapi semua tak lagi berlaku, dan setelah menghina Sekte Gagak Perak, jangan harap kedepannya kalian bisa hidup dengan tenang!...” Balas Huang Kiang sambil mencari celah untuk melarikan diri.


“Berisik!...” Teriak Reinar dan kembali dia muncul di dekat Huang Kiang dengan pedang yang dia genggam erat dengan tangan kanannya.


Reinar segera mengayunkan pedang di tangannya ke arah leher Huang Kiang, dan tak lama kemudian semua orang segera lari ketakutan saat mereka melihat tubuh Huang Kiang terjatuh dengan kepala terpisah dari tubuhnya.


Tak ada niat penghormatan ataupun ingin menyerahkan tubuh Huang Kiang pada pihak keluarga. Reinar justru membakar tubub Huang Kiang yang tak lagi bernyawa di hadapan banyak orang yang ketakutan dengan apa yang tengah dilakukan Reinar.


Reinar mengajak Qinyu meninggalkan halaman penginapan Bunga Persik saat tubuh Huang Kiang telah sepenuhnya berubah menjadi abu.


°°°


Setelah memikirkan berbagai cara untuk menuntut balas akan kematian Ayahnya, akhirnya Huang Chen menemukan satu cara yaitu dengan meminta bantuan pada Kakeknya.


Begitu memutuskan meminta bantuan pada Kakeknya, Huang Chen meminta beberapa prajurit di kediamannya untuk menjemput jenazah Ayahnya. Tetapi dia kembali menerima kabar buruk saat tahu kalau tubuh Ayahnya telah berubah menjadi abu dan menghilang saat angin meniupnya.


Huang Chen menggertak-kan giginya. “Mereka benar-benar tidak bisa di maafkan. Selain membunuh, mereka juga tidak memberi sedikitpun penghormatan pada Ayahku. Aku tidak akan tahu seperti apa nasib mereka setelah Kakek bergerak untuk mencari keberadaan mereka, dan menuntut balas akan kematian Ayah. Tetapi sebelum Kakek membunuh mereka, aku lebih dulu akan menikmati tubuh wanita itu di depan suaminya. Mungkin aku akan menyuruh seluruh prajurit menikmati tubuh wanita itu sampai dia mati!...” Kata Huang Chen yang ingin segera membuat perhitungan dengan orang yang telah membunuh Ayahnya.


Huang Chen lalu meminta beberapa prajurit untuk menyiapkan kereta kuda untuknya. Dia secepatnya mengunjungi Kakeknya, dan semakin cepat dia berangkat, semakin cepat juga dia bertemu dengan sang Kakek.


°°°


Di pinggiran sungai yang mengalir menuju Kota Sungai Bambu, Reinar dan Qinyu tengah menikmati makan siang mereka dengan menu ikan bakar yang Reinar ambil dari sungai dan langsung dia bakar, tentunya setelah dibersihkan.


“Aku merasa kedepannya akan banyak orang yang mendatangi kita dengan niat buruk. Jika hanya orang-orang di tingkat Kaisar Dewa atau yang satu tingkat di atasnya, mereka bukanlah ancaman bagi kita, tetapi kalau kekuatan mereka jauh lebih kuat daripada kita, itu akan sangat merepotkan. Sebelum mereka berdatangan kita harus menjadi lebih kuat, dengan lebih kuat, mereka tak akan lagi menjadi ancaman bagi kita...”


Mendengar penuturan Reinar, Qinyu menunjukkan senyum lembutnya dan dia merasa kalau Reinar adalah orang yang benar-benar ditakdirkan untuk menjadi pemilik dirinya, dan dia selalu ingin berada di dekat Reinar yang selalu membuatnya merasa nyaman.


Biarpun harus menunggu ribuan tahun untuk menemukan orang yang pantas untuk menjadi pemiliknya, Qinyu sama sekali tidak merasa kecewa dengan orang yang telah dia pilih. Kesetiaan Qinyu adalah mutlak, dia bahkan rela memberikan nyawanya kalau Reinar memintanya.


Menghabiskan makan siang dengan cepat, Reinar mengajak Qinyu menuju hutan yang berada di luar wilayah Kota Sungai Bambu. Baru juga menyeberangi sungai dan menginjakkan kaki di tepian hutan yang ada di pinggiran sungai, dari kejauhan Reinar dapat mendengarkan suara pertarungan, dan dengan cara mengendap-endap dia mengajak Qinyu pergi ke tempat itu.


Karena jarak yang tidak terlalu jauh, Reinar dan Qinyu dengan cepat menemukan apa yang tengah mereka cari. Dari apa yang mereka lihat, mereka menyimpulkan jika pertarungan itu melibatkan dua kubu yang memang ditakdirkan akan terus saling bertarung sampai kapanpun.


Dua wanita dari Ras Malaikat bertarung dengan enam orang yang berasal dari Ras Iblis. Kedua wanita dari Ras Malaikat hanya bisa terus bertahan dari gempuran enam pria Ras Iblis yang terlihat sedang bermain-main dengan mereka berdua.


“Menyerahlah, dan kita tidak akan melukai kalian!... Jangankan melukai, kami bahkan akan mengajak kalian bersenang-senang...”


“Dasar Iblis menjijikkan, setelah mengambil harta kami, ternyata kalian juga memiliki niat buruk pada kami. Asal kalian tahu, kami lebih baik mati daripada harus melayani nafsu bejat kalian!...”


“Apa kalian pikir kami ini bodoh?... Tentu kami punya banyak cara supaya kalian tetap hidup, dan tentunya kalian dengan senang hati akan melayani kami. Mungkin kalian justru akan terus memintanya...” Seorang pria dari ras iblis melemparkan serbuk berwarna merah muda ke wajah dua wanita Ras Malaikat.


Tidak bisa menghindarinya, mereka berdua menghirup serbuk yang dilempar ke arah mereka. “Celaka, serbuk ini, serbuk pelumpuh!...” Teriak salah satu wanita.


“Kalian kurang tepat, itu bukan serbuk pelumpuh, tapi itu serbuk yang akan membuat kita bisa bersenang-senang dengan tubuh kalian....”


Enam pria tertawa bersama di saat dua wanita wajahnya mulai memucat secara bersamaan dengan tubuh mereka yang mulai terasa berkeringat, dan mereka merasa basah di area sensitif yang dimiliki para wanita.


Kedua wanita itu ingin membuka pakaian mereka untuk mengusir rasa panas, tetapi sebuah suara membuat mereka mengurungkan niatnya. “Jangan mengikuti keinginan tubuh kalian, lawan keinginan itu selama aku menghabisi mereka!...”


Reinar tiba-tiba muncul dari kekosongan dan langsung menyerang enam pria dari Ras Iblis yang tidak siap menerima serangan darinya.


Dalam hitungan detik dua tubuh iblis pria telah bermandikan darah dan tak lagi bernyawa. Sementara itu, empat iblis lainnya sudah mengalami luka yang cukup parah, bahkan dua diantaranya sudah dalam keadaan kritis.


Kedua wanita yang berasal dari Ras Malaikat tidak bisa untuk tidak merasa senang saat melihat para iblis yang mengganggu mereka satu persatu mulai bertumbangan, tetapi tubuh mereka terasa semakin sulit untuk dikendalikan saat melihat ketampanan Reinar, bahkan milik mereka yang masih suci sudah semakin gatal dan dibanjiri cairan yang sangat disukai para pria.


Tak sampai satu menit Reinar telah menghabisi seluruh iblis yang menjadi lawannya, tetapi setelah membakar tubuh para iblis yang menjadi lawannya, Reinar justru melihat makhluk yang sangat mengerikan saat melihat dua sosok yang tengah menunjukkan tubub polosnya.


“Jangan melihat!...” Teriak Qinyu sambil menutup kedua mata Reinar.


Reinar memang tidak melihat, tetapi juniornya sudah kokoh berdiri setelah melihat keindahan yang sulit untuk dilupakan.


“Milikku jauh lebih baik dari apa yang mereka miliki!...” Kata Qinyu tegas, lalu dia membuat pingsan dua wanita dari Ras Malaikat yang sudah melepas seluruh pakaiannya.


Setelah membuat keduanya pingsan, dan membuat pelindung untuk melindungi mereka. Qinyu menarik lengan Reinar dan mengajaknya ke tempat yang sedikit tersembunyi.


“Saat ini kau hanya milikku!...” Kata Qinyu lalu dengan penuh gairah dia langsung menerkam Reinar.


°°°


Jangan lupa like dan komentarnya 😊😊


UP ke 2