The World Emperor System

The World Emperor System
Hukuman Mati



Jangan lupa berikan like sebagai penyemangat author serta komentar untuk saling berinteraksi 😊😊😊...


Selamat membaca...


***


Reinar tidak terlalu suka dengan beberapa pria yang terus memperhatikan kedua istrinya, dan hanya dengan melambaikan tangannya Reinar membuat dinding pelindung yang membuat orang luar tak bisa melihat ketempat dia dan kedua istrinya.


Para pria yang memiliki teknik mata khusus, mereka mencoba menembus dinding pelindung yang di buat Reinar, tetapi sekuat apapun usaha yang mereka lakukan, mereka tak pernah bisa menembus dinding yang di ciptakan Reinar.


Semua pria sangat marah saat mereka tak lagi bisa melihat keindahan dari dua wanita yang telah mencuri perhatian mereka. Beberapa pria itu mencoba menyerang untuk menghancurkan dinding pelindung yang menghalangi pandangan mata mereka.


BOOMMM...


Bukannya hancur, seluruh pria yang menyerang dinding buatan Reinar justru terpental dan sedikit mengalami luka dalam. Dengan kekuatan di tingkat Dewa Rendah menengah, mereka hanya mencari kematian jika memaksa untuk menghancurkan dinding buatan Reinar yang merupakan dinding pelindung di tingkat Jenderal Dewa awal.


“Apa mereka terlalu bosan hidup sehingga menyerang dinding pelindung buatan ku?...” Kata Reinar saat melihat kebodohan beberapa pria yang mencoba menghancurkan dinding pelindung buatannya.


“Dinding pelindung yang sangat kuat, bahkan kekuatan puncak ku tak dapat menggoresnya. Sepertinya aku harus meminta Ayahanda untuk menghancurkan dinding itu, kalau perlu aku akan meminta pada Ayahanda untuk membuat dekrit Kekaisaran, dan membuat dua wanita tadi menjadi milikku...” Kata pria yang baru mencoba menghancurkan dinding pelindung yang dibuat Reinar.


Pria itu adalah Putra Mahkota Kekaisaran Wek, Wei Ghuo. Ketampanan nomor satu di Kekaisaran Wei yang terkenal suka mencicipi kesucian para wanita lalu setelah bosan dia akan mencampakkan wanita itu. Dengan nama besar Kaisar Wei, Putra Mahkota Wei Ghuo sering mengambil wanita cantik yang sudah bersuami untuk menghangatkan ranjangnya.


Reinar sudah tahu semua identitas pria yang mencoba menghancurkan dinding pelindung buatannya berkat bantuan Lilia, dan dia benar-benar kesal setelah tahu riwayat kehidupan para pria itu.


Tak lama Reinar menghilangkan dinding pelindung buatannya setelah dia tak melihat keberadaan para pria yang tadi sempat membuatnya kesal. “Shania, Ling Yue, apa kalian tidak ingin menemaniku minum teh?...” Kata Reinar.


“Tentu kami ingin menemani suami minum teh...” Kata Ling Yue sambil berjalan ke tempat Reinar dengan Shania yang berjalan di sampingnya.


Baru juga Reinar ingin menikmati teh racikan Ling Yue, dia mendengar ada seseorang yang meminta izin untuk memasuki kamarnya. Argust yang tengah berjaga segera melihat siapa orang yang berani mengganggu waktu minum teh tuannya.


“Tuan, di depan ada utusan dari Kaisar Wei Liang...” Kata Argust yang baru menemui orang yang telah mengganggu waktu minum teh tuannya.


“Utusan Kaisar Wei Liang?... Ada urusan apa Kaisar itu denganku sampai dia mengirim utusan untuk menemui ku?...” Kata Reinar lalu dia dengan malas bangkit berdiri dan berjalan menemui utusan Kaisar Wei Liang.


Melihat kemunculan Reinar dan dua wanita bercadar yang berjalan di belakangnya, prajurit Kekaisaran yang merupakan utusan langsung dari Kaisar Wei Liang segera membaca gulungan kertas yang ada di tangannya.


“Karena telah berani melukai Putra Mahkota Wei Ghuo, tuan Reinar dan kedua istrinya harap menghadap Kaisar Wei Liang untuk menentukan hukuman yang akan di terima...” Prajurit Kekaisaran utusan Kaisar Wei Liang selesai membaca gulungan kertas di tangannya, dan bersamaan dengan itu muncul delapan prajurit bertopeng yang memaksa Reinar dan kedua istrinya untuk mengikuti mereka.


Reinar hanya tersenyum sinis dan mengikuti arus permainan yang sepertinya sudah di atur oleh dua orang penguasa Kekaisaran Wei.


Orang-orang tidak ada yang tahu apa yang tengah terjadi pada Reinar karena tempat mereka yang saling berjauhan, dan saat ini hanya ada Argust dan Alice yang menemani Reinar beserta kedua istrinya.


Tidak beberapa lama Reinar dan yang lainnya telah tiba di aula Istana Kekaisaran Wei. Di dalam aula Reinar bisa melihat Kaisar Wei Liang yang duduk di singgasananya, serta ada Putra Mahkota Wei Ghuo yang tak berkedip memandang kedua istri Reinar.


Selain mereka berdua, Reinar dapat melihat keberadaan pria tua yang bersembunyi di balik bayang-bayang sang Kaisar Wei Liang.


Pria tua yang bersembunyi di balik bayang-bayang Kaisar Wei Liang merasakan adanya ancaman saat dia merasa ada seseorang yang telah mengetahui kekuatannya. “Sial, ini sangat buruk!... Merasakan sedikit auranya saja sudah membuat separuh tubuh ku mati rasa...”


“Ayahanda, pria itulah yang telah melukai beberapa tuan muda di kediaman ku, bahkan tanpa rasa takut dia juga berani melukai ku yang seorang Putra Mahkota Kekaisaran Wei. Ayahanda, aku mohon beri dia hukuman setimpal atas perbuatannya!...” Kata Putra Mahkota Wei Ghuo melaporkan apa yang sudah terjadi di kediamannya.


“Yang Mulia Kaisar, tolong jelaskan apa maksud tuduhan yang Yang Mulia berikan kepada saha?... Saya tamu di Kekaisaran ini, dan saya sejak tadi cuma duduk di kamar yang saya tempati. Lalu anda menyuruh seorang utusan untuk membawa saya ke tempat ini, dan tiba-tiba Yang Mulia Kaisar memberi saya hukuman mati. Apa Yang Mulia sedang menggunakan kekuasaan yang anda miliki untuk berbuat semena-mena pada tamu yang berkunjung ke Kekaisaran anda?...” Kata Reinar dengan begitu santai.


“Ayahanda, dia benar-benar telah membuat aku dan beberapa tuan muda lainnya terluka, bahkan sampai ada yang mengalami luka yang sangat parah...” Kata Putra Mahkota Wei Ghuo.


“Prajurit, seret pemuda itu ke lapangan dan langsung eksekusi tanpa penghormatan!...” Teriak Kaisar Wei Liang meneriaki prajurit bayangan miliknya.


Reinar menggelengkan kepalanya dan dia mulai membocorkan aura seorang Jenderal Dewa yang dia miliki. “Apa Yang Mulia Kaisar ingin Kekaisaran ini ber nasib sama seperti Kekaisaran Qing dan Kekaisaran Tang?... Kalau itu keinginan Yang Mulia dengan senang hati Kekaisaran Ling akan mengabulkannya...”


BOOMMM...


Aura yang keluar dari tubuh Reinar menyebar dan membuat semua orang di aula Istana Kekaisaran Wei tak ada yang bisa menggerakkan tubuhnya, bahkan mereka semua sudah berlutut dengan kepala menyentuh lantai aula istana.


“Yang Mulia, lebih baik anda jangan menyinggung pemuda itu dan Kekaisaran Ling. Aku yang merupakan ahli di tingkat Dewa Langit menengah bahkan tak mampu bertahan dari aura yang dia keluarkan...” Kata pria tua yang bersembunyi di balik bayang-bayang Kaisar Wei Liang.


Melihat semua orang sudah berada di ambang batasnya, Reinar menarik kembali auranya dan membiarkan semua orang terbebas dari tekanan auranya. “Ini peringatan pertama dan terakhir. Jangan mengusik ketenangan ku, dan jaga matamu saat melihat kedua wanitaku...” Reinar menatap tajam kearah Kaisar Wei Liang dan Putra Mahkota Wei Ghuo, lalu hanya dalam satu kedipan mata Reinar dan empat orang yang bersamanya telah menghilang dari aulai Istana Kekaisaran Wei.


Putra Mahkota Wei Ghuo menggertak-kan giginya setelah rencana yang dia susun gagal, bahkan dia balik di ancam oleh orang yang ingin dia singkirkan dengan memanfaatkan kedudukan Ayahandanya.


“Teknik teleportasi, teknik tingkat Kaisar Dewa yang konon katanya hanya di miliki Dewa Penguasa. Yang Mulia, seperti yang tadi aku katakan, jangan sesekali menyinggung pemuda itu ataupun Kekaisaran Ling, mereka sangat berbahaya...”


Kaisar Wei Liang menganggukkan kepalanya perlahan saat mendengar apa yang dikatakan pria tua yang bersembunyi di balik bayang-bayang nya.


“Putraku Wei Ghuo, lebih baik kamu melupakan kedua wanita itu!... Maafkan Ayahanda yang kali ini tidak bisa membantumu, kekuatan pemuda itu terlalu menyeramkan untuk kita lawan, dan lgi ada Kekaisaran Ling yang bersamanya...” Kata Kaisar Wei Liang lalu pergi meninggalkan putranya yang masih terduduk di singgasana kecil miliknya.


“Aku tidak akan mundur, kedua wanita itu harus menjadi milikku, dan untuk pria itu, aku bersumpah akan membunuhnya dengan tanganku sendiri...” Putra Mahkota Wei Ghuo bergumam sambil memikirkan berbagai cara licik untuk menyingkirkan Reinar.


***


Reinar dan empat orang yang bersamanya muncul di depan kamar yang mereka tempati.


“Argust, Alice, kalian istirahatlah!... Kalian bisa menggunakan kedua kamar yang mengapit kamarku untuk beristirahat...” Kata Reinar sambil membawa kedua istrinya masuk kedalam kamar.


Setelah memasang pelindung yang membuat kamarnya kedap suara, Reinar dan kedua istrinya segera membuat berantakan ranjang yang ada di kamar mereka.


Walau hanya menghadapi dua istri, Reinar tetap saja kewalahan. Shania dan Ling Yue yang tengah hamil, mereka justru semakin liar saat bermain di atas ranjang dengan Reinar.


Sementara itu di kediaman yang berada di seberang kamar Reinar, Putra Mahkota Wei Ghuo terlihat semakin marah saat melihat siluet bayangan dari kamar yang ditempati Reinar.


“Bersenang-senanglah sebelum kematianmu, dan yakinlah aku akan membuat istrimu menggeliat puas di atas ranjang ku...” Putra Mahkota Wei Ghuo tertawa seperti orang gila setelah menemukan satu cara yang bisa mengakhiri hidup Reinar tanpa harus terjadi pertumpahan darah.


“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, tapi kamu sendiri yang akan menanggungnya...” Kata sosok pria bertopeng yang tengah mengawasi gerak-gerik Putra Mahkota Wei Ghuo.


***


Bersambung...