The World Emperor System

The World Emperor System
Kebahagiaan Di Sekte Mawar Putih



Saat sore baru digantikan malam, Reinar bersama tiga wanita yang pergi bersamanya telah sampai di Sekte Mawar Putih dengan barang bawaan yang sengaja tak mereka simpan dalam cincin penyimpanan yang mereka miliki.


Beberapa murid Sekte yang tengah berjaga menyambut kedatangan mereka, dan secara bersamaan mereka memberi penghormatan kepada sosok Patriak dan Tetua Agung Sekte mereka.


Melewati murid penjaga, mereka langsung menuju kediaman terbesar yang ada di Sekte Mawar Putih. Saat mereka sampai, sudah ada sembilan wanita dengan perut membuncit yang menanti kedatangan mereka, dan tak lama seorang wanita dan pria tua ikut bergabung dengan mereka.


“Kakak-kakak sekalian, kami telah membelikan banyak makanan untuk kalian...” Kata Yang Yifei sambil menunjukkan banyak makanan untuk kesembilan saudarinya.


“Ibu mertua dan kakek mertua, kami juga membelikan banyak makanan untuk kalian...” Kini giliran Qinyu yang menunjukkan banyak makanan yang dia bawa.


Seluruh wajah orang terlihat bahagia melihat banyaknya makanan yang ada di hadapan mereka, dan tepat waktunya makan malam, mereka dengan penuh kebahagiaan menikmati acara makan malam dengan berbagai jenis makanan yang sudah tersaji di atas meja.


Selesai makan malam, Reinar memilih pergi meninggalkan kebersamaan para istrinya, sedangkan Ibu dan Kakeknya telah pergi untuk melanjutkan istirahat mereka.


Meninggalkan wilayah Sekte Mawar Putih, Reinar telah berada di tengah-tengah Kota Bulu Angsa dengan menyamarkan identitasnya, dan dia tak sendirian.


“Tuan, sepertinya sudah banyak prajurit Kekaisaran Dong Ma yang sudah menyusup ke Kota ini!...” Kata Lilia yang sudah menggunakan wujud manusianya.


“Kaisar Dong Tao, dia ternyata sangat menginginkan Yang Yifei. Selain menggunakan jiwa Iblis, dia juga ingin menggunakan kekuatan Kekaisarannya untuk menggertak Sekte milik istriku...” Ujar Reinar sambil melihat salah satu prajurit Kekaisaran yang tengah melakukan penyamaran sebagai penduduk Kota Bulu Angsa.


“Bukannya tuan bisa langsung menghancurkan Kekaisaran itu?... Lalu kenapa tuan tidak langsung melakukannya?...” Tanya Lilia sambil terus berjalan di samping Reinar.


Reinar tersenyum. “Terlalu mudah memberikan kehancuran tanpa terlebih dahulu memberikan siksaan kepadanya...” Kata Reinar, lalu dia menjentikkan jarinya dan bersamaan dengan itu puluhan prajurit Kekaisaran Dong Ma yang tengah menyamar tiba-tiba menghilang dari tempatnya.


Melihat Reinar yang bergerak menuju ke arah luar Kota Bulu Angsa, Lilia tanpa banyak bertanya terus bergerak mengikuti sang tuan.


“Apa yang akan tuan lakukan malam-malam seperti ini pergi keluar dari Kota Bulu Angsa?... Kalau tuan ingin jalan-jalan, bukannya lebih baik di lakukan saat ada penerangan dari sinar matahari!...” Kata Lilia sambil menatap Reinar yang ada di sampingnya.


“Lilia, aku ingin sedikit bermain-main dengan beberapa prajurit Kekaisaran Dong Ma yang tengah menyamar, dan malam ini adalah waktu yang tepat untuk memulai permainanku...” Balas Reinar terus bergerak menuju ke tempat dia memindahkan prajurit Kekaisaran Dong Ma yang sebelumnya telah menyamar sebagai penduduk Kota Bulu Angsa.


Mendengar itu Lilia hanya menganggukkan kepalanya sambil terus mengikuti kemana perginya Reinar.


“Kita sudah sampai!...” Ujar Reinar melihat belasan orng yang yang tengah dijaga oleh lima tubuh bayangan yang dia ciptakan.


“Aku sangat penasaran dengan permainan apa yang akan tuan lakukan dengan mereka...” Kata Lilia yang berdiri di samping Reinar, dan dia terus memperhatikan apa yang tengah dilakukan tuannya.


Reinar membuat sebuah formasi aray berukuran kecil, lalu dia memasukkan formasi aray yang dia buat kedalam tubuh salah satu prajurit Kekaisaran Dong Ma, dan dia terus melakukan itu pada belasan prajurit yang lainnya.


Senyum indah menghiasi wajah cantik Lilia saat dia tahu jenis aray yang dimasukkan oleh Reinar kedalam tubuh belasan prajurit Kekaisaran Dong Ma. “Aray peledak!... Tuan sepertinya memang ingin bermain-main...” Kata Lilia dalam hatinya.


Dalam waktu singkat Reinar telah membuat mesin pembunuh yang sangat mengerikan. Satu saja meledak, mereka dapat merusak area seluas lima puluh meter persegi. Tidak dapat terbayangkan berapa banyak orang yang mati saat ledakan itu terjadi di tengah kerumunan orang.


Begitu selesai memasang aray ke belasan prajurit Kekaisaran Dong Ma, Reinar memerintahkan tubuh bayangannya untuk membawa mereka semua langsung menuju wilayah Istana Kekaisaran Dong Ma.


“Malam yang sangat tepat untuk memulai sebuah permainan...” Kata Reinar saat melihat kepergian belasan prajurit Kekaisaran Dong Ma yang akan menjadi tanda dimulainya permainan yang sudah dia persiapkan.


Sambil menunggu kabar baik dari Kekaisaran Dong Ma, Reinar mengajak Lilia untuk kembali ke Kota Bulu Angsa, tetapi Lilia memilih masuk kembali ke dalam tubuh Reinar karena dia merasa ada seseorang yang mendekat ke arahnya.


Belum juga Reinar beranjak pergi, Qinyu sudah muncul dan langsung memeluk lengan Reinar. Melihat itu, Reinar hanya tersenyum dan membiarkan istri manjanya melakukan apa yang ingin dia lakukan.


“Suamiku, kenapa kamu pergi tanpa meminta izin dariku?...” Tanya Qinyu yang akan merasa ada yang kurang setiap berjauhan dari Reinar.


Mendengar itu Reinar tersenyum. “Aku hanya ingin sejenak menghirup udara malam, dan tadi aku melihat mu sedang asik dengan yang lainnya, jadi aku tidak ingin mengganggu mu...” Kata Reinar yang belum ingin mengungkap adanya prajurit Kekaisaran Dong Ma yang tengah melakukan penyamaran.


“Sekalipun aku sedang menikmati waktu bersama mereka, tetapi aku tetap merasa ada yang aneh saat jauh dengan suamiku...” Kata Qinyu dengan nada suara manjanya.


Reinar mengusap dengan lembut kepala Qinyu. “Kalau begitu, lebih baik sekarang kita kembali!... Aku tidak ingin ada yang khawatir karena tiba-tiba kita menghilang...” Ujar Reinar dengan senyum lembut yang menghiasi wajahnya.


Qinyu mengangguk dan tersenyum, lalu dalam satu kedipan mata dia telah berada di depan kediaman terbesar yang ada di Sekte Mawar Putih. Dengan teknik teleportasi miliknya, Reinar dapat mempersingkat waktu saat dia ingin pergi atau kembali ke suatu tempat.


Karena telah berada di depan kediamannya, Qinyu langsung menarik Reinar untuk segera masuk ke dalam dan menemui yang lainnya.


Melihat Yang Yifei yang menyambut kedatangannya, dia langsung memeluk dan mencium keningnya. Barulah setelah itu dia pergi menemui kesembilan istrinya yang tengah mengandung.


“Freya, Shania, Rhea, kenapa kalian belum juga istirahat seperti yang lainnya?...” Kata Reinar yang menatap ketiga istrinya itu dengan tatapan penuh kasih sayang.


Ketiganya tersenyum saat melihat keberadaan suami mereka. “Apa suamiku tidak ingin membuat kedua saudari kita memiliki perut yang sama dengan kita?...” Tanya Rhea.


“Aku sedang berusaha, tapi usaha itu akan jauh lebih susah saat aku harus berhadapan dengan Qinyu. Kalian tahu sendiri bukan bagaimana sifat wanita itu?...” Balas Reinar dengan ekspresi pura-pura cemberutnya.


Melihat ekspresi wajah Reinar, membuat ketiganya ingin tertawa, tetapi mereka mencoba menahannya. “Kalau itu kami juga tahu, dan kami hanya bisa memberikan dukungan dari belakang...” Ujar Shania sambil terus menahan tawanya.


Reinar menggelengkan kepalanya melihat tingkah ketiga istrinya yang terlihat semakin cantik saat tengah mengandung calon anak mereka, tetapi tak lama kemudian Reinar harus meninggalkan mereka karena ketiganya ingin istirahat.


Yang Yifei dan Qinyu menyambut Reinar yang baru keluar dari kamar khusus untuk kesembilan istrinya yang tengah mengandung. Sebenarnya Reinar tidak ingin tidur terpisah-pisah dengan para istrinya, tetapi dia harus menuruti keinginan kesembilan istrinya yang menginginkan dia untuk menghabiskan malam dengan kedua saudari kecil mereka.


Bahkan mereka bersembilan akan sangat marah kalau dirinya tidak mengikuti apa yang mereka inginkan, dan pada akhirnya dia juga yang harus mengalah dengan keinginan para istrinya yang tengah mengandung calon anak mereka.


Karena akan menghabiskan malam dengan Yang Yifei dan Qinyu, Reinar membawa mereka ke kamar ujung yang cukup berjauhan dengan kamar utama di kediaman yang kini telah beralih nama menjadi kediamannya.


Bukan maksudnya ingin menjaga jarak dengan para istrinya yang tengah mengandung, dia memilih tidur di kamar yang ada di ujung, itu karena dia tidak ingin mengganggu tidur kesembilan istrinya dengan suara-suara yang akan keluar dari kamar yang dia tempati.


Setelah berada di dalam kamar, Reinar mulai memburu kehangatan malam bersama kedua istrinya, dan dia tidak memasang aray kedap suara karena itu juga salah satu permintaan kesembilan istrinya.


°°°


Jangan lupa like dan komentarnya setelah selesai membaca, terimakasih...


Maag agak kemalaman up ke duanya, soalnya hari ini baru bisa ngetik mulai jam 3 sore.