The World Emperor System

The World Emperor System
Melakukan Serangan Gerilya



Istana Kekaisaran Tang.


Suasana hati Kaisar Tang Hui dalam keadaan yang sangat tidak baik. Setelah kehilangan Putra Mahkota Kekaisarannya, tak lama dia harus seluruh Selir Kekaisaran dalam satu malam.


Kini suasana hati Kaisar Tang Hui semakin buruk setelah dia tak lagi mendapatkan kabar dari pasukan Sekte Kura-kura Hitam yang harusnya telah sampai ke wilayah ibukota Kekaisaran Tang.


Kaisar Tang Hui hanya bisa berdiri di benteng istana Kekaisaran sambil berharap pasukan bantuan yang berasal dari Sekte Kura-kura Hitam segera datang ke Istananya. Sedangkan di sisi lain kota saat ini beberapa Jenderal masih melakukan pencarian pada pelaku pembunuhan Selir Kekaisaran.


Lama menunggu Kaisar Tang Hui terlihat semakin gusar. Rasa putus asa mulai merasuki diri Kaisar Tang Hui, dan dia mulai merasa menyesal setelah mengatakan tantangan perang terbuka dengan Kekaisaran Ling. Kekaisaran Tang pada dasarnya bukan lawan sepadan untuk menyaingi kekuatan Kekaisaran Ling, tetapi setelah mendapat bantuan dari dua Sekte besar aliran hitam yang berdiri di wilayah Kekaisarannya, Kaisar Tang Hui dengan begitu percaya berani menantang Kekaisaran Ling.


Saat ini Kaisar Tang Hui merasa seperti melihat bayangan runtuhnya Kekaisaran yang telah dibangun dengan keringat dan darah para leluhurnya. Di tengah reruntuhan dia bisa melihat dirinya yang tertunduk penuh penyesalan.


Bayangan itu terus muncul walau Kaisar Tang Hui telah berkali-kali memukul wajahnya. Bayangan itu baru memudar dan sepenuhnya menghilang saat matahari mulai terbenam ke peraduannya. Kaisar Tang Hui tak tahu akan arti dari bayangan yang baru dia lihat, tapi sejak bayangan itu muncul, firasat buruk terus menghantui Kaisar Tang Hui.


“Yang Mulia, para Jenderal yang mencari pelaku pembunuhan para selir telah kembali, tapi dari puluhan Jenderal yang kita kerahkan, tak satupun dari mereka berhasil menangkap si pelaku...” Salah satu Menteri Kekaisaran Tang melaporkan apa yang disampaikan para Jenderal padanya.


“Tanpa adanya petunjuk memang mustahil menemukan siapa pelakunya. Lebih baik hentikan pencarian, dan suruh mereka mempersiapkan diri untuk turun ke medan perang...” Kata Kaisar Tang Hui dengan wajah yang terlihat begitu lesu.


“Baik Yang Mulia, hamba akan mengatakan pada mereka sesuai dengan Perintah Yang Mulia...” Kata Menteri Kekaisaran Tang lalu dia membungkukkan tubuhnya sebelum pergi meninggalkan Kaisar Tang Hui.


Melihat Menteri Kekaisarannya yang telah pergi menjauh, Kaisar Tang Hui berjalan menuju taman yang ada di belakang kediamannya untuk menenangkan hati dan pikirannya.


Di taman belakang kediamannya, Kaisar Tang Hui merasakan hembusan angin malam yang menenangkan. Tetapi bukan ketenangan yang Kaisar Tang Hui rasakan, dia justru dibuat waspada setelah munculnya pria bertopeng yang berdiri beberapa langkah darinya.


“Kedatanganku hanya ingin menyampaikan satu hal padamu. Kekaisaran Ling menerima tantangan perang terbuka yang kamu ajukan, dan Kekaisaran Ling menjanjikan kehancuran total pada Kekaisaran mu...” Kata sosok pria bertopeng lalu dia menghilang dari tempatnya semula berdiri.


Kaisar Tang Hui langsung jatuh dengan tubuh lemas setelah mendengar apa yang dikatakan pria bertopeng misterius yang baru mengunjunginya.


“Keputusan yang telah aku ambil sepertinya menjadi awal kehancuran dari Kekaisaran Tang...” Kaisar Tang Hui bergumam sambil melihat ke awan hitam yang menyelimuti luasnya langit ibukota Kekaisaran Tang.


***


Di tenda tempat bermalam pasukan Sekte Racun Hati.


“Oh, ternyata di sini mereka mendirikan tenda...” Gumam Reinar yang muncul di salah satu dahan pohon tak terlalu jauh dari tenda yang di dirikan pasukan Sekte Racun Hati.


Reinar menciptakan 20 tubuh bayangan, tapi sebelumnya dia lebih dulu menarik tubuh bayangannya yang berada di Istana Kekaisaran Tang. “Serang dan bersihkan!... Lakukan itu terus menerus sampai matahari terbit...”


Seluruh tubuh bayangan Reinar mengangguk lalu mereka menghilang dari tempatnya. “Kekuatan mereka menurun ke tingkat Dewa Rendah awal setelah aku meningkatkan jumlah mereka, tapi itu lebih dari cukup untuk mengurangi jumlah pasukan Sekte Racun Hati...”


Wusshh... Reinar pergi meninggalkan perkemahan pasukan Sekte Racun Hati, dan dia muncul di sebuah rumah yang merupakan artefak tingkat Dewa Bumi yang baru dia beli dari toko sistem.


Sampai di dekat rumah, Ling Feng dan Argust yang tengah berjaga langsung menyambut kedatangan Reinar, sedangkan untuk para wanita, mereka sedang menyiapkan makanan untuk makan malam semua orang.


“10 kilometer dari tempat ini ada perkemahan besar pasukan Sekte Racun Hati. Mereka membangun perkemahan dan bermalam di tempat itu. Jumlah mereka mereka lebih banyak dari pasukan Sekte Kura-kura Hitam, dan aku merasa ada dua orang yang kekuatannya telah mencapai puncak dari tingkat Dewa Rendah...” Kata Reinar menjelaskan semua yang dia ketahui.


Mendengar penjelasan dari Reinar, Ling Feng dan Argust tersenyum. Dari penjelasan Reinar, mereka yakin bisa membunuh lebih banyak musuh dari yang sebelumnya.


“Hehehe... Apa kita akan langsung menyergap mereka?... Atau kita akan memasang jebakan seperti sebelumnya?...” Tanya Ling Feng dengan menunjukkan seringaian kejamnya.


“Kita tidak akan melakukan keduanya. Kita hanya akan melihat dan mengamati pergerakan mereka. Setidaknya dalam dua malam pasukan itu akan hancur dengan sendirinya...” Kata Reinar lalu dia pergi memasuki rumahnya.


“Apa adik ipar barusan mengatakan kalau kita hanya akan melihat dan mengamati?..." Tanya Ling Feng pada Argust.


“Tuan memang mengatakan itu, tapi aku yakin tuan telah melakukan sesuatu, dan seperti yang di katakan oleh tuan, kita hanya akan melihat dan mengamati...” Kata Argust menjawab pertanyaan Ling Feng lalu dia pergi mengikuti Reinar yang telah masuk kedalam rumah.


Mereka muncul di sebuah tenda, dan dalam waktu singkat puluhan orang di dalam tenda mati dan mayat mereka langsung berubah menjadi abu. Selesai membunuh, dua puluh tubuh bayangan Reinar segera menghilangkan dari tenda yang tak lagi berpenghuni, dan tak lama mereka muncul di tenda lainnya dan melakukan hal yang sama.


Dalam waktu satu malam ratusan tenda telah mereka masuki dan setidaknya pasukan Sekte Racun Hati telah kehilangan puluhan ribu anggota pasukannya. Saat matahari mulai terbit, dua puluh tubuh bayangan Reinar menghilang dengan sendirinya karena tugas mereka telah selesai.


“Mental pasukan Sekte Racun Hati akan mulai goyah setelah mereka kehilangan cukup banyak anggota...” Gumam Reinar setelah dia merasakan tubuh bayangannya telah menghilang.


Di perkemahan besar pasukan Sekte Racun Hati.


Beberapa orang yang berkeliling di area perkemahan menemukan ratusan tenda yang tak lagi ada penghuninya. Mereka yang tahu jika setidaknya ada puluhan orang di tiap tenda, mereka merasa ada sesuatu yang telah terjadi, dan mereka segera melaporkan temuan mereka pada tetua Sekte yang menjadi pemimpin pasukan Sekte Racun Hati.


“Ratusan tenda kosong dan puluhan ribu prajurit menghilang?...” Tetua pertama Sekte Racun Hati tak percaya dengan hasil temuan beberapa prajurit yang merupakan murid dari Sekte Racun Hati.


Tetua pertama lalu pergi ke salah satu tenda kosong untuk memastikan sebenarnya apa yang telah terjadi pada prajurit yang tinggal di dalam tenda.


“Mereka bukan menghilang, tapi ada yang membunuh mereka dan mayat mereka telah berubah menjadi abu...” Tetua pertama memegang abu yang dia temukan berada di beberapa titik di dalam tenda yang ditemukan kosong tak berpenghuni.


“Apa?... Siapa yang telah melakukan itu pada murid-murid ku?...” Tanya tetua kedua yang tiba-tiba muncul di samping tetua pertama.


Tetua pertama hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan dari tetua kedua. Selain abu yang dia temukan, tetua pertama tak menemukan petunjuk lainnya yang bisa mengarahkan pada pelaku yang telah melakukan penyerangan pada tenda pasukan Sekte Racun Hati.


“Ini sangat sulit, aku bahkan tak menemukan apapun yang bisa kita gunakan sebagai petunjuk, dan lihat tenda ini!... Sedikitpun aku tidak melihat bekas pertarungan di tenda ini, yang artinya musuh datang secara tiba-tiba dalan membunuh mereka dengan begitu cepat...” Kata tetua pertama yang terkenal lebih pintar dibandingkan dengan tetua yang lainnya.


Mendengar perkataan tetua pertama, wajah tetua kedua terlihat serius, dan dengan sorot mata tajam dia mengamati area tenda yang benar-benar rapi. Seperti kata tetua pertama, tetua kedua juga tak melihat adanya bekas pertarungan di dalam tenda.


“Tetua pertama, apa mungkin yang menyerang mereka bukan manusia?...” Kata tetua kedua teringat akan penghuni hutan tempat mereka mendirikan tenda.


Tetua pertama juga tahu akan desas-desus makhluk dunia lain yang menghuni hutan tempat pasukan Sekte Racun Hati mendirikan tenda, dan Patriak Sekte Racun Hati juga telah mengingatkan untuk tidak mendirikan tenda di area hutan. Tetapi karena kemalaman, tetua pertama dan tetua lainnya sepakat untuk mendirikan tenda di area hutan.


Melihat keanehan di dalam tenda, tubuh tetua pertama dan tetua kedua tiba-tiba merinding saat memikirkan penghuni lain di hutan yang saat ini mereka tempati.


“Segera bongkar tenda, dan secepatnya kita meninggalkan tempat ini!...” Tetua pertama memberi perintah, dan prajurit yang mendengarnya segera pergi untuk menyampaikan perintah dari tetua pertama pada seluruh prajurit yang ada di perkemahan.


“Lebih baik aku mati melawan musuh daripada mati ditangan makhluk dari dunia lain. Konon katanya mereka merupakan jiwa-jiwa abadi yang selalu memakan jiwa makhluk hidup untuk meningkatkan kekuatan mereka...” Kata tetua pertama sambil menatap tetua kedua.


Tetua pertama dan tetua pertama mengangguk lalu secara bersamaan mereka pergi meninggalkan tenda kosong, dan mereka segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju Ibukota Kekaisaran Tang.


Setelah tenda-tenda di bongkar dan hanya menyisakan ratusan tenda kosong tanpa penghuni, pasukan Sekte Racun Hati mulai melanjutkan perjalanan dengan rasa was-was dengan area hutan yang mereka lewati.


“Lihat, mereka semua terlihat seperti orang bod*h...” Kata Reinar sambil menunjuk pasukan Sekte Racun Hati yang terlihat ketakutan saat melihat wilayah hutan di sekitar jalan yang mereka lewati.


“Tuan, apa tuan telah melakukan sesuatu pada mereka?...” Tanya Argust yang penasaran akan lenyebab tingkah aneh pasukan Sekte Racun Hati.


Reinar tertawa lirih mendengar pertanyaan Argust yang ditujukan padanya. “Aku semalam hanya menakut-nakuti mereka, tapi aku tak menyangka mereka benar-benar ketakutan...” Kata Reinar menjawab pertanyaan Argust.


Argust dan yang lainnya saling melihat, dan mereka memiliki satu pemikiran yang sama. “Apanya yang menakut-nakuti, pasti telah jatuh banyak korban di pasukan Sekte Racun Hati..." Pikir empat orang yang berada di sekitar Reinar.


“Kalau kalian ingin melihat apa yang aku lakukan pada mereka, lebih baik kalian nanti malam ikut denganku...” Kata Reinar lalu dia bergerak mengikuti pergerakan pasukan Sekte Racun Hati di jarak yang tak akan bisa di ketahui oleh ahli pelacak yang dimiliki pasukan Sekte Racun Hati.


***


Bersambung...