
Peperangan telah berakhir dengan musnahnya Ratu Wei Luan beserta seluruh prajuritnya, dan kemenangan berada di pihak Kerajaan Yang dibawah kepemimpinan Reinar. Tentu kabar kemenangan Kerajaan Yang akan membuat gempar Dunia Immortal, karena mereka berhasil memenangkan peperangan dengan Kekaisaran Dewa Langit yang merupakan Kekaisaran terkuat dan terbesar di Dunia Immortal.
“Apa kita benar-benar telah memenangkan perang ini?... Ratu Wei Luan yang terkenal akan kekuatannya bahkan dapat dikalahkan oleh Yang Mulia Raja!...”
“Kita sudah memenangkan peperangan, dan itu adalah sebuah kebenaran. Kalau kalian masih tidak percaya, cepat buka lebar-lebar kedua mata kalian, dan lihat apa yang ada di luar benteng yang kita jaga!...”
“Peperangan besar benar-benar telah berakhir, Ratu Wei Luan bersama jutaan prajuritnya telah ditaklukkan oleh Yang Mulia Raja beserta prajurit khusus yang dibawanya. Kita sungguh orang-orang yang beruntung di Dunia ini karena memiliki seorang pemimpin yang sangat kuat...”
“Awalnya aku cukup ragu dengan kekuatan Yang Mulia Raja, tetapi setelah apa yang aku lihat, aku tak lagi meragukan kekuatannya. Kekuatan Yang Mulia Raja memang sangat luar biasa...”
“Di masa depan, mungkin Kerajaan Yang bisa menjadi Kekaisaran terkuat dan terbesar di seluruh daratan Benua Selatan...”
“Jangankan menjadi Kekaisaran terkuat di seluruh daratan Benua Selatan, bukan sesuatu yang mustahil kalau tempat kita berpijak ini akan menjadi tempat berdirinya Kekaisaran Penguasa dunia ini...”
Prajurit penjaga benteng perbatasan yang tersisa terus membicarakan kemenangan yang baru di raih oleh Kerajaan tempat mereka mengabdi. Kini mereka dapat bernafas lega karena telah terhindar dari kematian yang tadi sudah terlihat di depan kedua mata mereka.
Reinar yang sudah berdiri di atas dinding benteng perbatasan tersenyum saat melihat wajah-wajah bahagia prajurit Kerajaannya. Dengan suara lantangnya Reinar memerintahkan kepada seluruh prajuritnya untuk beristirahat. Sedangkan untuk membereskan mayat-mayat prajurit musuh, dia memerintahkan tiga dua ribu prajurit yang tak ikut dalam peperangan untuk membakar di tempat seluruh mayat prajurit musuh beserta pemimpinnya.
Saat sebagian besar prajuritnya beristirahat, dia menyuruh prajurit utamanya kembali masuk kedalam kalung dimensinya. Dia membuat portal untuk para prajurit itu, jadi prajurit penjaga benteng mengira kalau prajurit-prajurit itu di teleportasi Reinar menuju markas mereka. “Besok kalian akan digantikan oleh prajurit baru yang saat ini dalam perjalanan menuju benteng ini. Selain itu kalian juga akan mendapatkan waktu libur selama satu minggu beserta bonus dari pihak istana. Untuk rekan-rekan kalian yang gugur, aku akan memberikan santunan yang layak untuk keluarga mereka...”
Belasan ribu prajurit penjaga benteng berbahagia mendengar apa yang di katakan Raja mereka, dan mereka sangat beruntung karena memiliki Raja yang begitu bertanggungjawab terhadap pengikutnya walau pengikutnya telah gugur dalam peperangan.
Dengan gerakan yang sangat kompak, kesebelas ribu prajurit penjaga benteng yang tengah beristirahat bangkit lalu mereka memberikan penghormatan kepada Reinar. Reinar yang melihat penghormatan mereka, dia hanya menggerakkan tangannya sambil tersenyum sebagai tanda dia telah menerima penghormatan yang mereka berikan kepadanya. “Lanjutkan istirahat kalian sambil menunggu makanan yang tengah dipersiapkan untuk kalian semua...” Kata Reinar lalu dia pergi meninggalkan benteng perbatasan Kerajaannya, untuk melihat hasil pekerjaan dari ratusan ribu prajuritnya.
Melihat keberadaan tuannya, salah satu bawahannya melayang perlahan mendekat ke arahnya. “Tuan, seluruh mayat prajurit musuh telah di kami bakar dan sepenuhnya tubuh mereka telah berubah menjadi abu. Saat ini ada puluhan ribu prajurit yang bergerak menuju perkemahan besar musuh untuk mencari sisa-sisa prajurit yang masih bertahan di tempat itu...” Kata salah satu bawahan Reinar melaporkan hasil pekerjaannya.
Reinar menganggukkan kepalanya puas dengan hasil kerja mereka, dan untuk puluhan ribu prajurit miliknya yang pergi menuju tempat perkemahan musuh, Reinar berharap mereka kembali dengan membawa kabar baik.
“Lanjutkan pembersihan di tempat ini!... Kalau sudah selesai, kamu dan yang lainnya dapat beristirahat di ruang dimensi yang ada di kalungku...” Ujar Reinar sebelum dia pergi ke tempat pertarungannya dengan Ratu Wei Luan guna mencari cincin penyimpanan milik sang Ratu.
°°°
Dua hari berlalu dengan cepat, kabar kematian Ratu Wei Luan beserta seluruh prajuritnya yang menyerang sebuah kerajaan kecil di Benua Selatan telah tersebar ke seluruh daratan yang ada di Dunia Immortal. Banyak yang tidak mempercayai kabar itu, tetapi tak sedikit yang mempercayai kebenaran dari kabar yang mereka dengar.
Banyak utusan dari Kekaisaran dan Kerajaan dari Benua lain yang mencoba mengecek kebenaran itu. Namun kebanyakan dari mereka tidak dapat mengungkap kebenaran yang mereka cari karena mereka selalu gagal saat mencoba memasuki wilayah Kerajaan Yang. Untuk mencari tahu kebenaran kabar itu langsung ke Kekaisaran Dewa Langit, mereka belum memiliki keberanian lebih untuk melakukan itu.
Sementara itu di istana Kekaisaran Dewa Langit, Pangeran Wei Jian, dan Putri Wei Luaning, mereka berdua terlihat kewalahan menutupi kabar kematian Ratu Wei Luan beserta jutaan prajurit yang ikut bersamanya. “Adik, apa menurutmu di situasi ini kita lebih baik meminta bantuan kakek?... ibunda Ratu telah tiada, aku tidak yakin kita bisa menjaga keutuhan Kekaisaran ini...”
“Kakek saat ini telah melakukan kultivasi tertutup, tetapi aku yakin kakek mau membantu kita setelah tiadanya Ibunda Ratu yang memimpin Kekaisaran ini. Kakak tau sendiri bukan betapa buruknya hubungan Kakek dan Ibunda?...” Ujar Wei Luaning saat mengingat betapa buruknya hubungan antara Kakek dan Ibundanya.
Saat mereka berdua tengah membicarakan tentang kakek mereka, suara derap langkah membuat mereka mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk aula istana yang saat ini hanya ditempati oleh mereka berdua. “Suasana istana ini jauh lebih baik tanpa kehadiran wanita iblis itu. Beruntung kalian tetap baik-baik saja selama wanita yang telah merenggut posisi ibu kalian itu berkuasa di Kekaisaran ini...”
“Kakek, bukannya kakek masih dalam kultivasi tertutup dan baru akan menyelesaikan kultivasi tertutup dua tahun lagi?... Bagaimana bisa sekarang kakek berada di tempat ini?... Lalu bagaimana dengan kultivasi kakek?...” Tanya Wei Luaning yang selalu cerewet saat berhadapan dengan kakeknya.
“Cucuku yang cantik, apa kamu tidak suka dengan keberadaan kakek?.., atau jangan-jangan kamu lebih menyukai keberadaan waniya iblis itu setelah sekian lama tinggal di istana yang sama dengannya?...” Kata Wei Kong dengan ekspresi cemberut yang sangat tindak cocok dengan wajah keriputnya.
Bibir Wei Jian, dan bibir Wei Luaning berkedut saat melihat ekspresi menjijikkan yang ditunjukkan olek kakek mereka. “Ayolah Kek, wajah itu sangat tidak cocok untuk ditunjukkan kepada kami, dan siapa juga yang menyukai keberadaan wanita itu?... Dilihat dari sudut manapun, tentu kami berdua lebih memilih kakek untuk membimbing kami menjadi penguasa di Kekaisaran ini...” Kata Wei Luaning membalas perkataan kakeknya.
Wei Kong tersenyum mendengar balasan cucunya. “Kalian tenang saja, dengan adanya kakek serta nenek di sisi kalian, tak akan ada kekuatan di Dunia ini yang berani berbuat macam-macam dengan Kekaisaran ini, tetapi kita harus mewaspadai kekuatan Kerajaan Yang. Raja mereka dapat mengalahkan kekuatan wanita iblis itu, yang artinya dia jauh lebih kuat daripada kakek dan nenek kalian...”
Keduanya menganggukkan kepalanya mengerti. “Kakek, apa perlu kita mendatangi Kerajaan Yang dan memperbaiki hubungan yang telah dibuat buruk oleh keberadaan waniya itu?... Awalnya Kekaisaran ini tidak memiliki masalah dengan Kerajaan Yang, tetapi wanita itu sepertinya memiliki tujuannya sendiri, dan karena itulah dia menyerang Kerajaan Yang...” Kata Wei Jian.
“Biar kakek sendiri yang datang ke Kerajaan itu dan meminta maaf kepada mereka tentang apa yang sudah dilakukan wanita itu. Kemungkinan kakek juga akan membawa harta berharga sebagai ganti rugi atas kerugian yang mereka alami...” Wei Kong telah memikirkan berbagai cara untuk memperbaiki hubungan antara Kerajaan Dewa Langit dengan Kerajaan Yang. Baginya, hubungan baik dengan Kerajaan Yang dapat menyelamatkan Kekaisaran yang kini akan dipimpin oleh cucunya.
Wei Jian dan Wei Luaning setuju dengan keinginan kakeknya, tetapi Wei Luaning memutuskan untuk pergi mendampingi kakeknya, dan untuk urusan Kekaisaran akan diambil alih oleh Wei Jian yang akan dibantu oleh Livia, istri dari Wei Kong yang tidak lain adalah nenek dari Wei Jian dan Wei Luaning.
“Dari informasi yang Kakek dengar, Raja Kerajaan Yang masih sangat muda dan tampan. Apa cucuku yang cantik ini tidak tertarik dengannya?... Cucuku, kamu sudah memiliki usia yang matang, dan sudah sewajarnya kamu memiliki pendamping hidup...” Kata Wei Kong.
“Kakek apa ingin cucu mu ini menjadi istri ke dua belas Raja itu?... Sekalipun dia tampan, kuat, dan baik, aku tetap saja tidak ingin menikah dengan seorang pria yang sudah memiliki banyak istri. Setidaknya aku ingin menikah dengan pria yang setiap malam mau memelukku...” Balas Wei Luaning sambil berlari keluar meninggalkan aula istana Kekaisaran Dewa Langit.
“Beruntungnya Raja itu memiliki sebelas istri. Aku saja yang sudah setua ini tapi cuma memiliki seorang istri yang tak lagi hangat saat di atas ranjang...” Kata Wei Kong dalam hati sambil menghela nafas panjang.
°°°
Istana Kerajaan Yang.
Reinar tersenyum melihat kesembilan anaknya sudah tidur dengan nyenyak, tetapi senyumnya seketika luntur saat dia melihat kesembilan istrinya yang sudah menanti dirinya di atas ranjang lebarnya. Yang Yifei dan Qinyu memilih tidur di tempat lain karena saat ini mereka tengah menjalani masa-masa hamil muda, dan anehnya mereka sangat tidak menyukai bau tubuh Reinar. “Tubuh mereka terlihat lebih menggoda saat menyusui, tetapi entah kenapa aku merasa kalau malam ini aku akan menjadi bulan-bulanan mereka...” Kata Reinar dalam hati.
Dia melihat kearah benda milik kesembilan istrinya yang bergoyang-goyang seperti jelly. Besar padat dan menggoda, benda itu sangat membuatnya terhipnotis dan kedua tangannya segera ingin menyentuh benda-benda itu secara bergantian.
Urusan Kerajaan yang menumpuk seketika hilang saat kesembilan istrinya mulai melucuti satu demi satu kain yang menutupi tubuh mereka. Pikiran Reinar yang jenuh dengan urusan Kerajaan seketika kembali bersemangat saat tangan-tangan lembut istrinya mulai menggerayangi tubuhnya.
Nafas Reinar semakin tidak teratur dan tubuhnya semakin menegang saat sentuhan hangat tangan para istrinya mulai menyentuh benda tumpul berotot miliknya. Rasa hangat juga dia rasakan di belakang punggungnya saat sepasang benda kenyal menekan-nekan punggungnya.
Reinar saat ini hanya bisa memejamkan mata dan membiarkan para istrinya memuaskan dirinya. “Bagaimana jika jumlah mereka lebih dari ini?... Mungkin sehari semalam aku tidak akan bisa menggerakkan tubuhku setelah bertarung dengan mereka...” Kata Reinar dalam hati saat dia telah terbaring di atas tempat tidur sambil menikmati kehangatan malam bersama para istrinya.
°°°
Jangan lupa like dan komentarnya setelah selesai membaca, terimakasih...