
Jangan lupa berikan like (👍) sebelum membaca, dan tinggalkan komentar setelah membaca 😊😊😊
***
Pagi hari di istana Kekaisaran Tang.
Suasana istana yang biasanya tenang seketika menjadi heboh setelah prajurit yang akan menggantikan prajurit jaga malam menemukan seluruh Selir Kekaisaran mati dengan cara yang mengenaskan, dan kehebohan semakin menjadi saat prajurit pengganti menemukan beberapa Selir mati bersama prajurit penjaga dalam keadaan tanpa busana.
Banyak prajurit penjaga yang merasa jijik melihat hubungan gelap beberapa Selir dengan prajurit penjaga, tapi mereka tetap melakukan pembersihan pada mayat mereka.
“Ini sangat memalukan?...” Kaisar Tang Hui berteriak saat melihat Selir Agung kesayangannya mati bersama dua prajurit penjaga yang dalam keadaan tubuh saling menyatu.
Semua orang di istana merasa iba melihat keadaan Kaisar mereka, tapi mereka tak bisa melakukan apa-apa karena semua telah terjadi. Para Selir Kekaisaran telah mati, dan sebagian mata dalam keadaan yang menjijikkan, termasuk Selir Agung, satu-satunya Selir yang sering bermalam dengan Kaisar Tang Hui.
Acara pemakaman di lakukan pada hari itu juga, dan Kaisar Tang menetapkan hari itu sebagai hari berkabung dan dia memerintahkan ribuan prajurit dan beberapa Jenderal untuk menyisir Ibukota Kekaisaran guna menemukan sang pelaku.
Tapi apa yang dilakukan Kaisar Tang Hui sudah terlambat karena sang pelaku yang dia cari telah menghilang setelah pencipta mereka melenyapkan keberadaan mereka.
Aula Istana Kekaisaran Tang setelah acara pemakaman para Selir Kekaisaran.
“Siapa sebenarnya yang melakukan semua ini?... Kekaisaran Ling, apa mungkin mereka pelakunya?...” Kaisar Tang Hui berteriak melampiaskan amarahnya.
Kekaisaran nya kecolongan, dan dia harus kehilangan seluruh Selirnya. Biarpun jarang menemui para Selirnya, setidaknya mereka semua adalah istri dan bagian dari Istananya. Kini dia harus menanggung kemarahan para bangsawan yang putrinya menjadi korban dalam pembantaian yang telah terjadi di kediaman para Selir Kekaisaran Tang.
“Aku ingin pelakunya segera ditangkap!... Kalian para Jenderal, pergi dan cari pelaku hidup atau mati!...” Perintah Kaisar Tang Hui pada para Jenderal yang ada di aula pertemuan Istana Kekaisaran Tang.
Mendengar perintah dari sang Kaisar, para Jenderal segera pamit untuk melaksanakan perintah sang Kaisar. Mereka menyebar ke setiap sudut Ibukota, dan ada beberapa Jenderal yang pergi ke kota disekitar Ibukota untuk mencari keberadaan sang pelaku.
Para Jenderal hanya mencari, tapi sebenarnya mereka tak tahu orang seperti apa yang harus mereka cari. Tanpa berbekal ciri-ciri si pelaku, mereka bagaikan mencari jarum kecil di dalam tumpukan jerami yang menggunung.
“Ini, sangat mustahil untuk menemukan si pelaku...” Salah satu Jenderal Kekaisaran Tang berkata sambil melihat ratusan prajuritnya yang terlihat mulai putus asa setelah tidak menemukan apa yang mereka cari.
***
Di tempat lainnya beberapa waktu sebelum kehebohan di Istana Kekaisaran Tang terjadi...
“Mereka datang tepat waktu...” Reinar tersenyum lebar melihat pasukan Sekte Kura-kura Hitam yang mulai mendekati area yang telah dia pasangi ratusan bom.
Sebelum pasukan Sekte Kura-kura Hitam mendekat, Ling Feng dan tiga orang lainnya yang telah selesai beristirahat mendatangi Reinar dan berdiri di cabang-cabang pohon yang ada di sekitar Reinar.
Sambil berdiri, mereka berempat juga melihat pasukan Sekte Kura-kura Hitam yang berjalan semakin mendekat.
Tapi Reinar dan yang lainnya sedikit kecewa karena mereka tak melihat keberadaan pemimpin dari pasukan Sekte Kura-kura Hitam di barisan depan.
“Sepertinya pemimpin mereka ada di baris belakang!...” Kata Ling Feng yang tak melepaskan tatapan matanya pada pasukan Sekte Kura-kura Hitam.
“Lebih baik kita bersiap, karena kemungkinan yang tersisa dari mereka adalah orang-orang kuat Sekte Kura-kura Hitam yang memilih berjalan di baris belakang...” Kata Reinar dengan penuh ketenangan.
Ling Feng mengangguk dan ketiga orang lainnya juga melakukan hal yang sama. Melihat kelompok kecilnya sudah siap, Reinar juga mempersiapkan dirinya untuk pertempuran yang akan segera terjadi.
Di kejauhan Reinar sudah melihat barisan terdepan pasukan Sekte Kura-kura Hitam telah memasuki wilayah yang telah di pasang bom, dan hanya menunggu hitung detik bom-bom itu akan meledak.
“Bersiaplah, pertunjukkan pembuka akan segera di mulai!...” Reinar terlihat begitu bersemangat, dan tanpa di ketahui anggota kelompoknya, Reinar telah membuat sepuluh bola api seukuran kereta kuda di atas pasukan Sekte Kura-kura Hitam.
“Setengah dari kalian akan mati oleh bom yang sudah aku persiapkan bersama kelompok kecilku, dan mungkin banyak dari kalian yang juga akan mati dengan kejutan lainnya yang sudah aku persiapkan khusus untuk kalian...” Reinar membatin dan tak lama suara rentetan ledakan mulai terdengar bersama dengan terdengar suara jeritan menyayat hati dari pasukan Sekte Kura-kura Hitam.
Reinar tersenyum melihat keberhasilan rencananya. Sementara itu Ling Feng, Argust, Ling Zhe dan Alice, mereka telah bersiap untuk melakukan pembantaian pada sisa pasukan Sekte Kura-kura Hitam.
Reinar menggelengkan kepalanya dan menunjuk ke arah langit yang berada di atas pasukan Sekte Kura-kura Hitam yang sebagian terdiam di tempatnya. “Aku masih punya itu...” Kata Reinar sambil menggerakkan jarinya kearah bawah.
Bersamaan dengan gerakan jari tangan Reinar, seluruh bola api seukuran kereta kuda jatuh secara bersamaan dan menghancurkan garis tengah dan sebagian sebagian kecil garis belakang pasukan Sekte Kura-kura Hitam.
BOOMMM... BOOMMM... BOOMMM... Suara ledakan yang lebih keras dari ledakan bom terdengar saat bola-bola api ciptaan Reinar mulai menghantam tanah dan bersamaan dengan itu puluhan ribu pasukan Sekte Kura-kura Hitam harus meregang nyawa setelah terbakar bola-bola api ciptaan Reinar.
Dari dua serangan bertubi-tubi di terima pasukan Sekte Kura-kura Hitam, dalam dua serangan itu mereka setidaknya telah kehilangan 80% kekuatan yang mereka bawa. 10 tetua sekte yang memimpin pasukan Sekte Kura-kura Hitam segera pergi ke garis depan untuk melihat apa yang sudah terjadi.
“Sialan, ada yang menjebak kita...” Teriak tetua pertama yang menjadi salah satu pemimpin pasukan Sekte Kura-kura Hitam yang dikirim untuk membantu Kekaisaran Tang berperang melawan Kekaisaran Ling.
Tetua pertama dan tetua yang lainnya melihat sisa pasukan mereka yang tak lebih dari lima puluh ribu, artinya mereka telah kehilangan sebagian besar pasukan Sekte Kura-kura Hitam yang mereka bawa.
“Ini buruk, Patriak pasti akan memarahi kita...” Kata tetua kedua.
Wusshh... Wusshh... Wusshh... Lima sosok muncul diantara mereka, dan para tetua tahu jika lima sosok yang muncul bukanlah lawan yang dapat mereka remehkan.
“Bagaimana Patriak Sekte kalian akan marah kalau diantara kalian tak ada yang kembali dengan selamat untuk bertemu dengan Patriak Sekte kalian?...” Sosok pemuda yang terlihat paling muda dari yang lainnya berkata pada mereka sambil mengeluarkan aura yang membuat merinding tubuh para tetua Sekte Kura-kura Hitam.
Kelima sosok itu adalah Reinar beserta anggota kelompoknya, dan setelah Reinar selesai berkata, empat orang di belakang Reinar langsung memisahkan diri dan menyerang sisa pasukan Sekte Kura-kura Hitam.
“Biarkan mereka bersenang-senang, dan kalian akan menjadi lawan ku...” Reinar membuat sepuluh tubuh bayangan, lalu dia melompat mundur mencari tempat yang nyaman untuk menikmati pertunjukkan yang tersaji di depan matanya.
Kesepuluh bayangan Reinar yang kekuatannya berada di tingkat Dewa Rendah menengah mulai menyerang kesepuluh tetua Sekte Kura-kura Hitam yang kekuatannya berada di tingkat Dewa Rendah awal.
Di tempat lain peperangan lainnya juga mulai terjadi. Ling Feng, Argust, Ling Zhe dan Alice, mereka berempat mulai menyerang pasukan Sekte Kura-kura Hitam yang telah kehilangan semangat bertarung. Hilangnya semangat bertarung pasukan Sekte Kura-kura Hitam, membuat mereka berempat tak kesulitan membantai sisa-sisa pasukan Sekte Kura-kura Hitam.
Sementara mereka berempat melakukan pembantaian, tubuh bayangan Reinar mulai bermain dengan para tetua Sekte Kura-kura Hitam yang sebenarnya bukan lawan sebanding untuk mereka.
Dengan perbedaan satu tingkat kekuatan, kesepuluh tetua Sekte Kura-kura hitam hanya menjadi samsak hidup bagi tubuh bayangan Reinar.
“Apa hanya ini kemampuan tetua Sekte Kura-kura Hitam?... Kalian terlalu lemah...” Kata salah satu tubuh bayangan Reinar yang menjadi lawan tetua pertama Sekte Kura-kura Hitam.
“Siapa sebentar kalian?... Kenapa tiba-tiba kalian menyerang kami?...” Tanya tetua pertama pada tubuh bayangan Reinar yang menjadi lawannya.
Tubuh bayangan Reinar tersenyum. “Bukannya kalian ingin menyerang Kekaisaran Ling?... Sudah sewajarnya aku memusnahkan kalian, karena kalian adalah orang-orang yang berencana menyerang Kekaisaran Pamanku...”
“Kau dari Kekaisaran Ling?..." Tetua pertama tidak percaya jika ada orang-orang Kekaisaran Ling yang sudah masuk cukup jauh kedalam wilayah Kekaisaran Tang.
“Ehmm aku sebenarnya bukan dari Kekaisaran Ling, tapi istriku lah yang berasal dari Kekaisaran Ling. Tapi tetap saja aku memiliki kewajiban untuk melindungi Kekaisaran tanah kelahirannya istriku...” Kata Reinar sambil mencengkram erat leher tetua pertama yang sudah babak belur setelah berkali-kali menerima pukulan dari tubuh bayangan Reinar yang menjadi lawannya.
“Sekte Kura-kura Hitam sepertinya telah melakukan sebuah kesalahan saat memutuskan membantu Kekaisaran Tang...” Kata terakhir tetua pertama sebelum tubuh bayangan Reinar meninju dadanya dan membuat jantung tetua pertama meledak.
Pandangan tetua pertama mulai kabur, dan sesaat kemudian pandangan matanya menggelap bersamaan dengan kematian yang mendatanginya.
“Tunggulah, ada saatnya dimana Sekte kalian akan hancur...” Kata Reinar yang melihat pertarungan telah mencapai puncaknya.
Dari lima puluhan ribu sisa pasukan Sekte Kura-kura Hitam, hanya sisa empat orang yang kini menjadi boneka mainan empat orang anggota kelompok Reinar. Untuk para tetua sekte, satu persatu dari mereka telah mati di tangan tubuh bayangan Reinar setelah sedikit memberi perlawanan yang tak ada artinya.
“Sekte Racun Hati, sekarang giliran kalian...” Reinar tersenyum dan kembali dia menikmati ke empat orang anggota kelompoknya yang begitu kejam mempermainkan kematian lawan mereka.
***
Bersambung...