The World Emperor System

The World Emperor System
Ujian Jiwa Pagoda Sembilan Lantai



Suasana di lantai ketiga sangat jauh berbeda dengan suasana di tiga lantai sebelumnya. Aura yang kuat dapat dirasakan oleh Reinar dan Qinyu sejak pertama kali menginjakkan kakinya di lantai keempat pagoda sembilan lantai.


Selain aura kuat yang membuat mereka tertekan. Sepuluh langkah setelah melewati pintu masuk lantai keempat, keduanya merasakan sebuah kekuatan jiwa yang menyerang langsung ke jiwa mereka.


Reinar dan Qinyu menghentikan langkah kakinya saat keraguan mulai mempengaruhi pikiran mereka. Keraguan muncul setelah keduanya mendapat serangan yang tertuju pada jiwa mereka, dan saat inilah ujian jiwa harus mereka lalui untuk bisa melanjutkan langkah ke lantai selanjutnya.


Suara-suara aneh terus menggema di telinga keduanya mencoba mempengaruhi keyakinan yang mereka miliki. Tetapi suara itu hanya memiliki sedikit pengaruh, dan nyatanya mereka berdua masih terus melanjutkan langkah kakinya.


“Kau hanya akan menjadi pria gagal, kau akan kehilangan segalanya, dan kau tak akan mampu untuk mencegah itu semua!...” Bunyi suara di telinga Reinar, lalu bersamaan dengan itu tiba-tiba kesadaran Reinar seperti tersedot ke tempat yang lainnya, dan dia tak melihat keberadaan Qinyu di tempat yang baru dia pijak.


Reinar kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dia saat ini berada di tempat asing yang dipenuhi api dan bangunan yang hampir hancur keseluruhannya. Namun saat melihat sebuah lambang yang ada di balik reruntuhan bangunan, Reinar dengan rasa khawatirnya berlari menuju ke suatu tempat.


Saat sampai di tempat yang dia tuju, matanya seketika melebar sempurna saat dia melihat belasan mayat yang tergeletak dengan berbagai senjata tajam yang menancap di tubuh mereka.


“Se... Sebenarnya apa yang sudah terjadi?... Kenapa semua bisa jadi seperti ini?...” Teriak Reinar saat melihat belasan mayat yang ternyata merupakan mayat dari seluruh keluarganya, termasuk para istrinya.


Tak lama dia mengingat kondisi para istrinya, dan apa yang dia lihat seketika membangkitkan kemarahannya. Dia melihat seluruh perut istrinya terbelah, dan dia juga melihat beberapa sosok kecil yang telah hancur setelah terinjak oleh sesuatu yang sangat keras.


Di saat Reinar hampir kehilangan kendali akan kemarahannya, dia mendengar sebuah suara yang terus-menerus memanggil namanya. “Tuan!... Tuan!... Jangan kalah, itu hanya ilusi yang tengah menguji kekuatan jiwa...” Suara itu tidak asing, dan akhirnya Reinar tahu siapa pemilik suara itu.


Reinar memejamkan mata dan mencoba mencari keberadaan Lilia yang berada di dalam tubuhnya, tepatnya sistemnya itu telah menyatu dengan jiwanya.


Saat Reinar memejamkan mata dan mencari keberadaan Lilia di dalam jiwanya, sebuah cahaya terang keemasan berbentuk wujud manusia muncul di depannya, dan setelah cahaya itu menghilang barulah dia dapat melihat sosok Lilia yang kini tengah tersenyum kepadanya.


Lilia terus tersenyum dan kemudian dia memeluk erat tubuh Reinar. “Yakinlah kalau tuan dapat melindungi semuanya, dan aku akan selalu berada di sisi tuan untuk membantu mewujudkan semua itu...”


Reinar merasa tenang saat berada di dalam pelukan Lilia. “Terimakasih...” Kata lirih Reinar sambil memejamkan matanya, dan kemudian dia mulai membalas pelukan Lilia.


“Tuan adalah sosok yang kuat, dan aku yakin tuan dapat mewujudkan semua keinginan tuan...” Kata Lilia yang begitu menikmati saat berpelukan dengan Reinar, seolah dia sudah lama menginginkan apa yang saat ini tengah dia lakukan.


“Ta.. tapi, aku masih sangatlah lemah, bahkan aku masih jauh kuat dari sosok orang-orang kuat yang ada di Dunia Immortal...” Reinar masih ragu akan kekuatannya, dia benar-benar masih merasa lemah, dan dia belum yakin kalau kekuatannya akan membuatnya mampu melindungi semua yang ingin dia lindungi.


“Tuan adalah pemilik potensi tak terbatas. Yakinlah, hanya butuh keyakinan dan sedikit waktu untuk bisa mewujudkan semua keinginan yang tuan miliki...” Kata Lilia pada Reinar bersamaan dengan dia yang melepaskan pelukannya dengan Reinar.


“Kalau saja semua makhluk di seluruh alam semesta mengetahui jalannya takdir yang tuan miliki, aku yakin mereka semua akan iri dan akan berebut untuk bertukar takdir hidup dengan tuan...” Ujar Lilia, lalu wujud dia menghilang berubah menjadi butiran cahaya.


Reinar terdiam sesaat saat mendengar takdir kehidupan yang baru dikatakan Lilia kepadanya. Tapi tak lama dia kembali mendengar suara yang terus menerus memanggil namanya, namun kali ini bukan suara Lilia.


Reinar tersenyum setelah yakin kalau suara yang memanggilnya adalah suara seluruh orang yang ingin dia jaga, dan yang paling jelas dia dengar adalah suara Qinyu.


Tubun Reinar terasa hangat saat mendengar suara Qinyu, dan itu membuatnya sangat nyaman sampai kedua matanya pun terpejam untuk beberapa saat.


Saat dia tengah memejamkan matanya, dia merasa ada energi yang sangat nyaman terus masuk kedalam tubuhnya, dan setelah energi itu berhenti memasuki tubuhnya, perlahan dia membuka matanya.


Senyum indah Qinyu adalah hal pertama yang Reinar lihat setelah dia kembali membuka matanya, dan kini dapat melihat sekelilingnya yang merupakan lantai keempat pagoda sembilan lantai.


“Selamat datang kembali...” Kata Qinyu yang langsung mencium mesra bibir Reinar, bahkan dengan manjanya dia menggigit bibir Reinar yang terasa manis di mulutnya.


Mendengar pertanyaan itu Qinyu menganggukkan kepalanya, dan langsung memeluk lengan Reinar yang kini sudah berdiri di sampingnya. “Ujian sudah selesai, dan lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan...” Kata Qinyu.


Reinar sebenarnya ingin mengetahui ujian yang dialami Qinyu, tetapi setelah mendapatkan sedikit bocoran dari Lilia, dia mengurungkan niatnya untuk bertanya dan dia lebih berfokus untuk melanjutkan perjalanan menuju lantai kelima pagoda sembilan lantai.


“Kenapa juga dia harus diberikan ujian bagaimana cara menaklukkan suami di atas ranjang?... Tanpa di uji sekalipun, dia sudah terlalu pintar saat melakukan...” Kata Reinar di dalam hati dan itu membuat Lilia tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya.


°°°


Di Sekte Mawar Putih, Yang Yifei dan dua puluh tetua Sektenya telah selesai menyusun acara perekrutan murid baru, dan rencananya acara itu akan dilakukan saat Reinar dan Qinyu telah keluar dari pagoda sembilan lantai.


Kini Yang Yifei dan para tetua Sekte nya beralih membahas berbagai permasalahan yang dihadapi Sekte Mawar Putih, termasuk dua masalah yang bisa saja membawa Sekte kedalam jurang kehancuran.


Yang Zi yang telah diangkat menjadi salah satu tetua, dengan sedikit ragu dia menyampaikan pendapatnya untuk menghadapi permasalahan yang tengah dihadapi oleh Sekte Mawar Putih. “Patriak, bagaimana kalau kita menjalin kerjasama dengan Ras Malaikat yang selama ini bermusuhan dengan Sekte Gagak Perak maupun dengan Ras Malaikat Jatuh?...”


Kerutan terlihat di kening Yang Yifei saat dia mendengar pendapat yang disampaikan Yang Zi. Bukannya dia tidak setuju, tetapi pendapat itu benar-benar akan sulit di wujudkan, karena bagaimanapun juga Ras Malaikat sangatlah sombong, dan sekalipun mereka belum pernah membantu ras lain walau mereka mampu melakukannya.


Tetapi dia tetap memberi jawaban akan pendapat dari Yang Zi. “Kita bisa melakukan itu, tapi apa kalian yakin mereka akan mau bekerjasama dengan kita?... Sekalipun mereka menyetujui bekerjasama dengan kita, pastinya mereka akan meminta imbalan yang tidak masuk akal, dan ujung-ujungnya kita juga yang akan dirugikan...”


“Patriak, bukannya lebih baik kita mencobanya lebih dulu?... Bukannya untuk persyaratan yang akan mereka minta, itu bisa saja kita pikirkan setelah kita bertemu dengan mereka!...”


Yang Yifei menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu persiapkan diri kalian!... Dua hari lagi pergilah ke kediaman pemimpin tertinggi Ras Malaikat!... Selama dua hari ini aku akan mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk aku tulis di surat yang akan kalian berikan pada penguasa di sana...” Kata Yang Yifei yang pada akhirnya menyuruh Yang Zi dan Yang Mi untuk pergi ke kediaman penguasa Ras Malaikat.


Sebenarnya masih banyak yang ingin di bahas Yang Yifei, tetapi dia akan melanjutkan pembahasan itu setelah mendapat balasan dari penguasa Ras Malaikat, dan setelah semua urusan pertemuan hari ini selesai, dia memerintahkan semua orang untuk kembali bertugas sementara dia akan kembali mengawasi ujian yang tengah berlangsung di pagoda sembilan lantai.


Sementara itu di Sekte Gagak Perak, Patriak Sekte dan Tetua Agung Sekte Gagak Perak tengah membahas tentang bagaimana cara mereka membalas Sekte Mawar Putih yang sudah berani membunuh Tetua pertama dan Tetua kedua Sekte mereka.


Bai Zhong sebagai Patriak Sekte sebenarnya ingin langsung menyerang dan meratakan Sekte Mawar Putih, dan bersamaan dengan itu dia akan membawa Yang Yifei kembali bersamanya ke Sekte Gagak Perak. “Aku tahu sekuat apa Yang Yifei karena dulu aku pernah bertarung dengannya. Dengan kekuatan kita saat ini lebih dari cukup untuk mengalahkannya, tetapi kenapa kamu melarang ku menyerang Sekte nya?...” Tanya Bai Zhong penasaran.


Huang Dan tersenyum mendengarnya. “Patriak, aku merasa ada kekuatan lain yang melindungi mereka, dan karena kekuatan itulah mereka berani menyalakan api peperangan dengan Sekte kita. Selama kita belum mengetahui seberapa kuat kekuatan yang melindungi mereka, lebih baik kita menunda penyerangan itu!... Menyerang musuh tanpa mengetahui kekuatan mereka, itu sama saja dengan bunuh diri...” Kata Huang Dan menjawab pertanyaan Bai Zhong.


“Tetua Agung, apa kamu tidak punya sedikit pun informasi tentang kekuatan yang menurutmu menjadi pelindung dari Sekte Mawar Putih?...” Kata Bai Zhong yang tidak tahu apa-apa tentang kekuatan asing yang menjadi pelindung dari Sekte Mawar Putih.


Huang Dan menggelengkan kepalanya. “Saat ini aku belum mengetahuinya, terapi Patriak tenang saja, orang-orang kepercayaan ku tengah melakukan penyelidikan, dan beberapa hari kedelapan mungkin kita akan mendapatkan hasil dari penyelidikan mereka!...”


“Baiklah, aku tunggu kabar baik dari mu!...” Kata Bai Zhong lalu dia menghilang dari tempatnya.


Huang Dan tersenyum sinis melihat kepergian Bai Zhong. “Kalau saja aku tidak membutuhkan kekuatannya, sejak dulu aku sudah membunuhnya...”


°°°


Jangan lupa like dan komentarnya...


Like dan komentar itu gratis, tapi bikin author senang saat mendapatkan keduanya...