The World Emperor System

The World Emperor System
Persahabatan Dua Ratu



Reinar kemudian beranjak menghampiri Ibu dan Kakeknya mengatakan jika dia harus kembali ke kota Touloun, karena ada yang harus dia selesaikan.


“Putraku, apa kamu tidak ingin tinggal lebih lama di tempat ini?. Ibunda mu ini masih sangat merindukan mu.” Tanya Permaisuri Allea yang tak bisa menyembunyikan kerinduannya pada putra satu-satunya.


“Aku hanya ingin menjemput rekan-rekan ku, setelah itu aku pasti akan kembali ke tempat ini.” Jawab Reinar sambil tersenyum. “Lebih baik Ibunda dan Kakek menyuruh prajurit untuk membereskan kekacauan di tempat ini.” Lanjut Reinar.


Mendengar jawaban Reinar, Permaisuri Allea tersenyum lebar, dan dia segera menyuruh prajurit untuk membereskan kekacauan di aula istana. Untuk dua orang yang terlihat begitu menyedihkan, mereka segera diseret menuju kediaman paling ujung di istana Kekaisaran Arkana, dan mereka akan berada di kediaman itu untuk selama-lamanya.


“Sepertinya yang tua ini harus kembali naik tahta sampai Kekaisaran ini kembali menemukan Kaisar yang baru.” Kata Kakek Reinar melirik kearah cucunya.


Reinar tahu jika Kakeknya berharap dia mau menggantikannya untuk menjadi Kaisar di Kekaisaran Arkana, tapi Reinar tentu tidak bisa karena dia ingin mendirikan Kekaisarannya sendiri.


Sebenarnya Reinar bisa menjadikan Kekaisaran Arkana sebagai salah satu kota di Kekaisarannya, dan mengajak Kakek serta Ibunya tinggal di istana kota Sky Dragon yang jauh lebih megah dari istana Kekaisaran Arkana. Namun untuk melakukan itu dia harus mendapatkan persetujuan dari seluruh penduduk di Kekaisaran Arkana, dan paling penting adalah persetujuan dari sang Kakek selaku Kaisar Kekaisaran Arkana.


Karena itu, Reinar ingin membawa seluruh rekannya yang ada di kota Touloun ke Ibukota Kekaisaran Arkana untuk mendiskusikan apa yang akan dia lakukan pada Kekaisaran Arkana.


“Kakek tidak perlu menatapku dengan tatapan aneh seperti itu. Aku tahu apa yang Kakek inginkan, dan aku akan mencari jalan terbaik untuk masalah itu.” Kata Reinar sambil tersenyum.


Kakek Reinar yang penasaran mendengar perkataan Reinar tentang jalan terbaik untuk masalah Kaisar baru di Kekaisarannya, dengan cepat dia berjalan mendekati Reinar dan berdiri tepat di depannya.


“Nak, apa kamu yakin bisa menemukan jalan keluar itu?. Aku tahu kamu tidak menginginkan jabatan Kaisar di Kekaisaran ini, tapi cuma kamu satu-satunya yang pantas menduduki jabatan itu. Kalaupun ada jalan keluar, seperti apa jalan keluar yang akan kamu ambil?.” Tanya Kakek Reinar penasaran.


“Saat ini aku belum bisa menjawab apa yang Kakek tanyakan, tapi setelah aku bertemu dengan semua rekanku dan berdiskusi dengan mereka, aku pasti akan menjawab pertanyaan Kakek.” Jawab Reinar.


“Kakek merasa sebenarnya kamu sudah tahu apa yang seharusnya kamu lakukan, tapi kamu masih belum yakin akan itu. Mungkin kamu ingin berdiskusi dengan rekan-rekan mu untuk meyakinkan apa yang sudah kamu pikirkan.” Kata Kakek Reinar. “Apapun nanti keputusanmu dan jalan keluar seperti apa yang aksn kamu ambil, yakin lah Kakek akan menyetujuinya.” Lanjut Kakek Reinar.


“Apa Kakek yakin akan menyetujuinya, walaupun akhirnya akan merugikan Kekaisaran ini?.” Tanya Kakek Reinar begitu penasaran.


“Memang apa yang membuat Kekaisaran ini selain orang-orang yang sudah kamu singkirkan?.”


Reinar tersenyum. “Jika aku ingin Kekaisaran ini berubah menjadi sebuah kota besar dan tunduk pada Kekaisaran ku, apa Kakek masih akan tetap menyetujuinya?.”


Reinar berpikir Kakeknya akan langsung menolak, atau bahkan marah, tapi semua yang di pikirkan tak sesuai dengan kenyataan yang ada.


Bukannya marah, Kakek Reinar justru tersenyum lega mendengar yang di tanyakan Reinar padanya. “Tanpa adanya penerus Kekaisaran ini pasti akan hancur. Merubah Ibukota Kekaisaran menjadi kota besar tentu tak akan terlalu sulit, apalagi jika kota itu nantinya berada di bawah perlindungan seorang Kaisar yang mampu melindungi seluruh penduduknya.” Ujar Kakek Reinar menjawab pertanyaan cucunya.


“Hah....” Reinar bernafas lega karena dia tak mengalami kesulitan membujuk Kakeknya.


Permaisuri Allea hanya tersenyum melihat putra dan Ayahanda yang sedang berdiskusi. Baginya, sebuah kebersamaan keluarga seperti inilah yang sangat dia nantikan dalam beber bulan ini.


“Suamiku lihatlah, anak kita sudah tumbuh besar dan gagah. Aku tahu kamu mengawasi kami, tapi kapan kau akan menemuinya?. Tugas yang kau berikan pada putramu sangatlah berat, aku merasa dia masih butuh bimbingan jika kau kelak menginginkan dia menjadi penerus mu.” Kata lirih Permaisuri Allea mengingat kebersamaannya bersama pria yang telah merenggut hatinya.


Melihat Ibunya melamun, Reinar berjalan mendekatinya dengab sang Kakek yang mengikuti tepat di belakang Reinar. “Apa yang sedang Ibunda pikirkan sampai membuat kehadiranku tidak Ibunda perhatikan?.”


“Ibunda hanya sedang bahagia melihat keluarga kecil kita sudah berkumpul, dan entah kenapa aku menginginkan hadirnya seorang cucu di tengah-tengah kita.”


“Haaaa....” Mulut Reinar ternganga mendengar jawaban Ibundanya.


“Apa aku salah bicara?.” Tanya Permaisuri Allea melihat ekspresi aneh wajah Reinar.


Reinar menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang salah dengan apa yang Ibunda katakan, tapi aku belum siap untuk itu.” Balas Reinar yang disambut gelak tawa Ibu dan Kakeknya.


“Apa yang Ibunda katakan?. Lihat mereka semua mendengar dan ikut menertawakan ku.” Kata Reinar dengan nada kesal.


Melihat lima petinggi Kekaisaran yang selalu membela putranya tertawa canggung, Permaisuri Allea hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Mereka juga berhak tertawa, karena selama ini mereka selalu di tekan oleh orang-orang yang mendukung kebijakan Kaisar dan Putra Mahkota.” Kata Permaisuri Allea.


“Untuk kali ini kalian boleh tertawa, tapi lain kali kalian tidak boleh menertawakan ku lagi.” Kata Reinar.


“Baik Pangeran....” Balas kelima petinggi Kekaisaran bersamaan.


Merasa urusannya di Kekaisaran Arkana telah selesai, tanpa menunda lebih lama lagi, Reinar segera pamit meninggalkan Kekaisaran Arkana untuk kembali ke kota Touloun.


Ibunda Permaisuri Allea dan Kakek Reinar, mereka melepas kepergian Reinar dengan senyum yang mengembang di bibir setelah Reinar mengatakan akan kembali secepatnya.


***


Kekaisaran Demones.


Aula istana Kekaisaran Demones.


“Yang mulia, sampai kapan yang mulia akan hidup dalam kesendirian?. Bukannya yang mulia harus segera melahirkan seorang penerus.” Tanya pelayan setia Ratu Vexia.


Ratu Vexia tahu jika dirinya harus segera memiliki pasangan, tapi dia belum menemukan pasangan yang cocok selama ini, kecuali seorang pemuda yang akhir-akhir ini selalu mengganggu pikirannya setelah pertemuan singkat yang mereka lakukan.


Saat Ratu Vexia termenung memikirkan sosok pemuda yang sulit untuk di lupakan, sebuah cahaya kekuningan muncul di dekatnya dan tak lama keluarlah sosok wanita cantik setelah cahaya kekuningan menghilang.


“Apa yang membuat mu melamun sampai mengabaikan kedatangan sahabatmu ini?.” Tanya wanita cantik yang kini duduk di sebelah Ratu Vexia.


Ratu Vexia menoleh dan tersenyum saat melihat wanita yang kecantikannya tak kalah darinya. “Luna, apa kau pernah jatuh cinta?.” Tanya Ratu Vexia pada Luna, wanita yang tengah duduk di sampingnya.


“Aku belum pernah merasakan jatuh cinta, tapi aku sudah menemukan seorang pria yang di takdir kan akan menjadi pendamping hidup ku.” Kata Luna menjawab pertanyaan Ratu Vexia. “Jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta!.” Ujar Luna tiba-tiba.


Mata Ratu Vexia melotot mendengar kalimat yang baru keluar dari mulut Luna. “Aku tidak tahu seperti apa rasanya jatuh cinta, tapi aku sulit melupakan seorang pria yang beberapa minggu yang lalu bertemu denganku.” Balas Ratu Vexia.


Luna tersenyum mendengar balasan Ratu Vexia. “Aku jadi penasaran, pria seperti apa yang membuatmu sulit untuk melupakannya.”


“Aku juga penasaran pria seperti apa yang di takdir kan akan menjadi pendamping hidup mu.” Kata Ratu Vexia.


Kedua wanita itu saling menatap dan kemudian tertawa bersama.


“Bagaimana kalau kamu ikut aku menemui pria ku?. Setelah itu baru aku ikut denganmu menemui pria mu!.” Ungkap Luna.


Ratu Vexia mengangguk. “Setuju....” Kata Ratu Vexia, dan kembali mereka tertawa bersama.


***


***Bersambung...***


Jangan lupa kasih like dan komentarnya walau hanya satu kata 😊😊😊😊👍....