Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 98. Pamit part 1



Keesokan harinya pada hari Sabtu, mereka sudah bersiap-siap pergi. Mereka menyiapkan segala keperluan tambahan karena mereka berencana menginap semalam di pantai.


Mereka pergi menggunakan dua buah mobil. Mobil pertama anggotanya Daffa, Jelita, Rita dan Aditya. Sedangkan sisanya di mobil yang kedua, Rafa ingin duduk satu mobil dengan Rio dan Reza, katanya mereka lagi membahas apa-apa saja yang akan mereka lakukan nanti. Mereka tiba di pantai sekitar jam 10 karena berangkat pagi buta. Rio, Reza dan Rafa dengan semangat mereka langsung berlari berhamburan keluar mobil.


"Yey pantai."


"Yei ail na banaak."


Teriak mereka bertiga.


"Rio, Rafa dan Reza hati-hati jangan sampai terjatuh," tata Dilla.


Mereka bertiga mengabaikan Dilla. Mereka saling kejar-kejaran.


Semua orang menyusul keluar, mereka memasukkan semua barang ke tempat penginapan yang telah mereka sewa. Mereka lebih menyewa villa di bandingkan hotel, karena mereka merasa lebih leluasa. Dilla segera menyimpan semua barang miliknya beserta punya Rio dan Reza.


"Omy Omy, ayo epat epat. Tita ain te antai ya," ajak Rio.


"Sabar sayang, Ini Mommy lagi membereskan semua barang kalian dulu. Setelah itu baru Mommy menyusul kalian, kalian bisa main terlebih dahulu, tapi harus ada yang mengawasi ya," ujar Dilla.


Reza, Rio dan Rafa dengan semangat menarik Dafa untuk menemani mereka main di pantai. Dafa hanya berpasrah diri saat ditarik dengan sepenuh tenaga sama Reza dan Rafa, serta dia didorong oleh Rio. Mereka lebih kuat karena semangat tinggi dibandingkan dengan dirinya sekarang.


"Sepertinya mereka sangat senang sekali. Bahkan mereka tidak sabar langsung bermain tanpa mengenal lelah," ucap Rita.


"Mereka pasti sudah lama ingin jalan-jalan kembali sehingga mereka sangat antusias seperti sekarang," sambung Aditya.


Ryan dan Jelita lebih memilih Istirahat di ruang tamu sedangkan Aditya dan Rita masuk ke kamar mereka dan menata barang mereka. Barang Ryan dan Jelita mereka letakkan dulu di kamar tanpa menyusunnya.


"Halo Mbak, kapan Mbak pulang?" tanya Budi, adik sepupu Dilla.


Saat ini Dilla sedang menerima telepon dari kampung halaman. Tadi Dilla baru saja selesai menata pakaian ke dalam lemari.


"Budi Mbak akan pulang sekitar dua minggu lagi. Mbak sudah kasih kabari ke Bibi dan Paman. Kenapa kamu telepon Mbak sekarang? apa ada terjadi sesuatu di kampung?" tanya Dilla balik.


Entah kenapa dia punya firasat buruk. Budi tidak mungkin menelponnya langsung jika tidak ada hal penting.


"Iya Mbak, sekarang Ibu lagi dirawat di rumah sakit, Budi harap kalau bisa Mbak Dilla segera pulang," ujar Budi dengan suara lirih.


Dilla yang mendengar Bibinya kecelakaan meneteskan air mata, bagaimanapun Bibi telah dia anggap sebagai Ibu nya sendiri.


"Ya ampun Budi, kenapa Bibi bisa mengalami kecelakaan? apa yang sebenarnya terjadi sama Bibi? kapan Bibi mengalami kecelakaan?" tanya Dilla berturut-turut.


"Kemarin saat Ibu pulang dari pasar, Ibu tidak sengaja ditabrak oleh sepeda motor. Jadi Ibu masih dirawat di rumah sakit sampai saat ini. Ibu masih belum bangun Mbak. Apakah Mbak bisa pulang? Budi sangat takut saat ini Mbak."


Dila jadi gelisah, satu sisi dia ingin mengetes Ryan untuk sekali lagi. Tapi karena kondisi Bibinya yang sedang di rumah sakit, Dilla sedikit Dilema. Tanpa berpikir panjang lagi Dilla segera mengambil keputusan. Dia memutuskan lebih memilih pulang kampung melihat kondisi Bibi yang sedang sakit  daripada mengharapkan sesuatu yang belum pasti. Dilla tidak mau sesuatu hal buruk terjadi sama Bibinya.


"Iya Budi, Mbak akan segera pulang. Mbak akan segera pamit pada majikan Mbak dulu setelah itu baru Mbak akan pulang." Putus Dila akhirnya. 


"Iya Mbak, kami akan menunggu kedatangan Mbak pulang."


Dila menutup teleponnya dengan air mata yang turun. Dia sangat khawatir dengan keadaan Bibinya. 


Ryan yang tidak sengaja lewat mendengar percakapan Dilla ditelepon. Ryan kaget mendengar Dilla akan pulang, sehingga dia tidak sengaja membuat suara keributan karena dia menendang tempat sampah di samping pintu.


Dilla segera menghapuskan air matanya saat mendengar suara gaduh. Dilla tidak mau membuat yang lain khawatir. Dilla melihat Tuannya ada di depan pintu. 


"Tuan," ujar Dilla lirih.


"Apa benar kamu akan segera pulang?" tanya Ryan.


"Maaf Tuan," sahut Dilla.


"Tadi aku tidak sengaja mendengar bahwa Bibi kamu yang ada di kampung mengalami kecelakaan dan masih dirawat di rumah sakit," ujar Ryan.


"Iya Tuan, Dilla harus segera pulang untuk melihat keadaan Bibi Dilla. Dilla sangat khawatir dengan keadaan Bibi," sahut Dilla.


Ryan berjalan ke arah kursi, dia memilih duduk di kursi dahulu sebelum melanjutkan percakapan mereka.


"Jadi berapa lama kamu akan pulang ke kampung? kamu akan balik lagi ke sini kan?" tanya Ryan.


Ryan ingin tau kapan Dilla akan balik lagi. Ryan tidak mungkin menghalangi Dilla pergi saat keluarganya ada yang mengalami musibah. 


"Maaf Tuan,jika Dilla balik ke kampung maka Dilla tidak akan balik lagi ke sini karena...."


Dilla menghentikan apa yang ingin dia ucapkan, dia tidak yakin akan menceritakan perihal lamaran seseorang kepada dirinya. Dia merasa tidak pantas menceritakan hal itu kepada Tuannya.


Ryan yang mendengar perkataan Dilla terkejut. Jika Dilla pergi bagaimana dengan Rio dan Reza. Apalagi ini sangat mendadak.


"Karena apa?" tanya Ryan.


"Karena ada seseorang yang melamar Dilla. Jadi kemungkinan bila Dilla untuk kembali tidak ada, mungkin Dilla akan segera dinikahkan sama yang melamar Dilla," jawab Dilla.


Dilla akhirnya harus berkata jujur karena Tuannya bertanya langsung.


Dilla memainkan tangannya karena dia merasa gugup. Dilla juga ingin tahu bagaimana respon Ryan terhadap pinangan dia.


Ryan yang mendengar perkataan Dilla mencengkram sisi tempat yang dia duduki, dia tidak menyangka bahwa Dilla akan segera menikah. Emosinya terasa naik, ada bagian dalam dirinya tidak rela Dilla menikah sama orang lain.


"Jadi kamu akan segera menikah? Apa kamu mencintai dia?" tanya Ryan.


Dilla menatap Ryan, Ryan berdehem sebentar.


"Tadi kan kamu bilang mau dinikahkan bukan menikah," Ryan menjelaskan maksud perkataannya.


"Kenapa kamu diam, kadi benar kalau kamu tidak mencintai orang yang akan menikah dengan kamu," sambung Ryan.


Dilla menunduk diam.


"Seharusnya kamu tidak menikah jika tidak mencintainya, pernikahan itu suatu yang sakral, lebih baik kamu jangan menikah dengan dia. Kamu harus menikah dengan laki-laki lain, laki-laki yang kamu cintai," saran Ryan.


Ryan merasa sedikit lega saat tau Dilla tidak menyukai laki-laki yang melamar Dilla. 


Dilla menatap lurus Ryan. 


"Bagaimana saya bisa menikah dengan orang yang saya cintai Tuan, jika dia masih mencintai orang lain. Bukankah lebih baik jika Dilla menerima orang yang mencintai Dilla daripada Dilla mencintai dalam ketidakpastian," tantang Dilla.


Bersambung.