Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 104. Curhatan Dilla



Tok tok tok


Dilla segera membuka pintu saat pintunya ada yang mengetuk. Yudi dan Budi tidak terganggu sama sekali dengan suara ketukan pintu, mereka sudah larut dalam dunia fantasi.


"Ada apa Paman?" tanya Dilla.


Dilla yakin jika keluarga Danang sudah pulang, Dilla tidak lagi mendengar suara orang lain.


"Apa Paman bisa bicara berdua sama Dilla sebentar?" 


"Paman ini kenapa pakai tanya segala, jika mau tanya, tanya aja Paman," sahut Dilla sambil ketawa kecil.


"Kalau begitu ayo ikut Paman ke kebun, kita bicara di kebun saja," ajak Abdul.


"Baik Paman," sahut Dilla.


Dilla yakin jika Pamannya mau membicarakan hal yang penting. Jika tidak Pamannya tidak akan mengajak mereka berbicara di kebun yang sedikit jauh dari rumah. Pamannya pasti ingin pembicaraan hal penting antara dia dan Pamannya, pembicaraan yang tidak ingin didengarkan oleh siapapun kecuali mereka berdua. Dilla dengan patuh mengikuti langkah Pamannya.


***


"Kalian mau ke mana?" tanya Marni yang melihat Abdul dan Dilla menuju arah luar rumah.


"Ayah hanya ingin berbicara berdua dengan anak gadis Ayah, Bu," sahut Abdul.


"Ya sudah jika Ayah ingin berbicara berdua sama Dilla," ujar Marni tanpa curiga.


***


Mereka berjalan dengan pelan-pelan menuju ke kebun tanpa berbicara sedikit pun. Dilla hanya mengikuti langkah Pamannya dari belakang sambil melihat perubahan di kampungnya. Ternyata Paman Dilla tidak jadi mengajak Dilla ke kebun, tapi mengajak Dilla ke daerah persawahan yang hijau. Mereka duduk di sebuah tempat persinggahan yang ada di sawah. 


"Ayo duduk sini, kita bicara di sini saja, di sini anginnya lebih segar dan sejuk," ajak Abdul setelah dia duduk di sana.


Dilla segera duduk di samping Abdul. Tempat ini sungguh tempat yang bisa menyejukkan hati.


"Apa yang ingin Paman bicarakan sama Dilla, bahkan Paman sampai mengajak Dilla pergi sejauh ini," tanya Dilla penasaran.


Abdul menatap sepanjang mata memandang sebelum bertanya pada Dilla. Tapi semua ini untuk masa depan Dilla juga. Dia tidak ingin anak gadisnya ini tidak bahagia dikemudian hari.


"Dilla kamu tahu tidak jika seorang ayah lebih menyayangi anak perempuannya dibanding anak laki-laki. Sedangkan seorang ibu akan lebih menyayangi anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Sehingga sangat ayah akan lebih sensitif dengan perubahan suasana hati anak perempuannya?" tanya Abdul memulai percakapan.


Dilla mengernyitkan alisnya, dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan piamannya. 


"Maksud Paman apa berkata dan bertanya seperti itu sama Dilla?" tanya Dilla balik sambil melihat Abdul yang sudah menatap ke depan lagi.


"Dilla,Paman bisa merasakan jika Dilla menyembunyikan sesuatu dari Paman. Paman ini telah menganggap kamu sebagai anak kandung Paman sendiri walaupun kamu itu adalah anak dari kakaknya Bibi kamu."


Dilla terkejut dengan pernyataan Pamannya, Dilla tidak menyangka jika Pamannya bisa merasakan bagaimana dengan perasaan Dilla. 


"Sekarang ayo ceritakan sama Paman, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, kamu saat ada keluarga Danang kamu hanya diam saja tanpa apa ikut dalam pembicaraan. Seharusnya kamu yang menjadi topik pembicaraan ikut juga berbicara," ujar Abdul dengan melihat raut wajah Dilla.


Abdul bisa melihat dan membaca ada gelagat aneh dari Dilla.


"Memangnya apa yang harus Dilla katakan Paman. Bukankah semua ini sudah direncanakan. Apalagi Abang Danang orangnya baik, jadi kenapa harus Dilla tolak lamaran dari Abang Danang dan keluarga Bang Danang," ucap Dilla.


Dilla sebisa mungkin berbicara dengan santai, dia tidak mau Abdul akan curiga lagi pada dia.


"Kamu bisa membohongi orang lain Dilla, tapi tidak dengan Paman. Sekarang kamu tatap mata Paman dan berkata sekali lagi. Apakah selama ini kamu tidak percaya dengan Paman. Apa karena Paman ini bukan ayah kandung kamu makanya kamu tidak mau bercerita sama Paman," ujar Abdul.


Abdul merasa sedikit sedih dengan Dilla yang tidak mau jujur.


"Paman Jangan berbicara seperti itu, bagi Dilla Paman adalah Ayah bagi Dilla dan Bibi merupakan Ibu bagi Dilla," sahut Dilla cepat-cepat.


"Jika memang kamu menganggap Paman ini adalah Ayah kamu, sekarang ayo kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, pasti terjadi sesuatu saat kamu kerja di kota," kata Abdul yang sudah berpikiran negatif.


Dilla meremas kedua tangannya, dia tidak yakin untuk menceritakannya kepada Pamannya. 


"Jika kamu tidak mau menceritakannya, maka Paman akan langsung berbicara kepada keluarga Danang. Paman akan menyuruh mereka untuk menunda pernikahan kalian," ucap Abdul sambil berdiri kembali. 


Dilla segera mencegah Pamannya, dia tidak mau Pamannya m mengatakan hal itu kepada keluarga Danang. Keluarga Danang sudah sangat berjasa bagi keluarga mereka. Dilla tidak tega jika menyakiti keluarga Danang. 


"Paman jangan," cegah Dilla.


Abdul melihat Dilla yang mulai goyah.


 


"Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?" tuntut Abdul lagi. 


Abdul kembali duduk setelah melihat raut wajah Dilla yang nampak sedih.


"Dilla tidak tahu mau menceritakan dari mana Paman," ujar Dilla. 


"Baiklah jika kamu tidak tahu mau bercerita darimana. Sekarang biarkan Paman yang bertanya."


Dilla hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Apakah kamu mencintai Danang?" tanya Abdul serius. 


Dilla terkejut dan reflek menatap mata Pamannya.


Abdul bisa melihat petunjuk dari mata Dilla. Dilla segera mengalihkan pandangannya.


"Jika kamu tidak mencintai Danang kenapa kamu menerima pinangan keluarga Danang. Memang keluarga Danang sangat berjasa bagi kita, tapi Paman tidak ingin kamu menikah tanpa mencintai calon suami kamu Dilla. Paman ingin jika kamu tidak suka bilang tidak suka, jangan pasrah sama keadaan. Ini hidupmu Nak, kamu nanti yang akan menjalaninya nanti." 


Abdul mengjela nafas keras, dari dulu Dilla selalu memprioritaskan keluarga. Dilla akan selalu mengalah sama Budi dan Yudi. Abdul belum pernah melihat Dilla meminta sesuatu yang dia sukai. Abdul akui jika fisik Dilla jauh lebih kuat daripada hatinya.


"Maafkan Dilla Paman, Dilla sebenarnya hanya menganggap Abang Danang sebagai Abang Dilla tidak lebih. Memang benar bila Dilla menerima semua ini karena keluarga Abang Danang yang sangat berjasa bagi keluarga kita. Tapi Dilla tidak masalah jika menikah dengan Bang Danang," kata Dilla. 


"Kamu berkata tidak masalah menikah dengan Nak Danang, tapi tangan kamu dari tadi tidak bisa diam. Jika kamu gugup dan berbohong kamu pasti memainkan tangan kamu seperti sekarang."


"Sekarang katakan sama Paman, apakah kamu sedang menyukai laki-laki lain?" tanya Abdul lagi.


Dilla mengusap lengannya, percuma jika dia berbohong lagi, Pamannya pasti akan tau juga. Dilla dengan ragu menganggukkan kepalanya.


"Jika kamu memang benar mencintai laki-laki lain, maka Paman akan menolak lamaran Danang. Karena tidak mungkin kalian menikah tanpa saling mencintai," ucap Abdul.


"Kami tidak akan pernah bisa bersama Paman. Oleh karena itu Dilla menerima pinangan Bang Danang," ujar Dilla.


"Kenapa kamu berkata begitu, siapa lelaki itu? biar Paman yang akan mengurusnya. Kamu ini adalah gadis paling hebat dimuka bumi ini, mereka akan rugi jika menolak kamu," bela Abdul.


Dilla hanya terdiam.


"Apa laki-laki itu yang berasal dari kota?" 


Dilla menganggukkan kepalanya.


"Apakah Dia berasal dari keluarga kaya?"


Dilla kembali menganggukkan kepalanya.


"Sekarang Paman tahu kenapa kamu memutuskan untuk menerima pinangan Danang. Kita memang tidak seharusnya mencintai orang yang tidak sederajat dengan kita. Derajat mereka lebih tinggi dari kita. Jika dia orang kaya Paman juga tidak bisa membantu."


Abdul merasa menjadi seorang ayah yang tidak bisa membahagiakan anak perempuan semata wayang.


"Sekarang apakah kamu mau menceritakan semuanya sama paman? Paman juga ingin tahu apa kegiatan kamu selama di kota." 


Dilla menatap Pamannya sejenak sebelum bercerita. Dilla menceritakan semua hal yang terjadi pada dirinya selama di kota. Dia juga menceritakan tentang Rio, Rafa, Reza dan keluarga Suherman lainnya. Dilla juga tidak ketinggalan menceritakan tentang Ryan dan juga perasaannya. 


Abdul bisa melihat berbagai ekspresi dari wajah drilla. Dilla akan tersenyum saat menyebutkan anak asuhnya. Dan berekspresi sedih saat bercerita tentang orang yang bernama Ryan.


"Jadi begitulah ceritanya Paman. Dilla juga tidak mungkin untuk meneruskan cinta Dilla ini. Dilla harus menguburkan cinta ini sedalam mungkin. Dilla ingin memulainya kembali Paman."


"Iya Paman tau, sangat sulit kita mencintai seseorang yang telah mencintai orang lain. Apalagi orang itu telah meninggal, pasti cintanya akan dibawa pergi juga. Jika Paman yang menjadi si Ryan itu, Paman juga tidak bisa menerima kehadiran orang lain. Paman juga sangat mencintai Bibi kamu. Jadi sekarang semua keputusannya ada ditangan kamu. Apakah kamu ingin melanjutkan pernikahan ini atau tidak semua terserah kepada kamu. Paman tidak akan memaksa karena semua ini kamu yang akan menjalaninya," ujar Abdul. 


"Tidak apa-apa Paman, Dilla akan menerima lamaran Bang Danang. Dilla akan mencoba menjadi istri yang baik," jawab Dilla. 


Abdul hanya bisa menepuk bahu Dila untuk memberikan semangat kepada Dilla. Abdul memeluk dengan pelukan hangat seorang ayah, dia tau betapa sakitnya hati Dilla saat ini. Tapi dia juga tidak bisa mendukung hubungan anaknya dengan orang kota, karena dia tidak mau anaknya ini lebih terluka parah lagi. 


Setidaknya jika sama Danang, Danang pasti akan membahagiakan Dilla. Abdul telah mengenal Danang dan seluruh keluarganya. Danang adalah pemuda yang baik dan bertanggung jawab.


Bersambung....