
"Dilla bisa Bibi minta tolong sama kamu?" tanya bi Imah.
"Mau minta tolong apa Bi," jawab Dilla.
"Tolong kamu jemput Tuan Muda Reza di sekolah sebentar boleh. Soalnya pak Jaka lagi tidak enak badan. Nanti kamu perginya bisa naik taksi aja. Kasihan Tuan Muda Reza tidak ada yang jemput. Sedangkan Bibi harus memasak dulu, karena sudah jam segini," terang bi Imah.
"Boleh boleh aja sih Bi. Tapi kalau Mbak Mina sendiri ke mana ya Bi?" tanya Dilla balik.
"Si Mina tadi udah Bi Imah suruh beli obat di apotik untuk pak Jaka. Kamu mau kan jemput Tuan Muda Reza?" tanya bi Imah memastikan lagi.
"Baik Bi, nanti biar Dilla saja yang jemput Reza," jawab Dilla.
"Terima kasih ya Dilla. Bibi mau ke belakang dulu, mau siap siap buat masak," ujar bi Imah.
"Iya Bi sama-sama," jawab Dilla lagi.
Bi Imah setelah berbicara langsung balik ke belakang mulai bersiap-siap untuk masak makan siang.
"Rio ayo kita jemput bang Reza di sekolahnya ya?" tanya Dilla ke Rio yang berada di gendongannya.
"Holeee... te ce olah ce olah," ujar Rio senang.
"Iya kita ke sekolah bang Reza, Rio senang tidak?" tanya Dilla.
"Liyo ceneng Omy, te ce olah," jawab Rio.
Dilla dan Rio segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, sebentar lagi waktu pulangnya Reza.
***
"Jangan dekat-dekat dan bermain sama Reza. Dia anak yang tidak punya ibu," kata salah satu kawan Reza, Hengki.
"Hengki kenapa tidak boleh main sama anak yang tidak punya ibu?" tanya kawan yang lainnya, Yoga.
"Kata ibu Hengki jangan mau main sama anak yang tidak punya ibu. Ibunya saja tidak mau sama dia, jadi kita tidak usah main sama dia. Dia pasti anak nakal, makanya ibu dia tidak suka sama dia," Hengki menjelaskan apa yang ibunya katakan.
Reza yang mendengar kata Hengki jadi sedih, dia memang tidak punya ibu. Sejak dia punya adik, dia kehilangan sosok ibu. Tapi Reza tidak pernah menyalahkan adiknya, adiknya tidak bersalah. Mungkin seperti yang neneknya bilang, bahwa Tuhan lebih sayang ibunya dan memangil ibu Reza lebih cepat.
"Tapi tata ibu Dita, tita ndak boyeh piyih-piyih belteman. Tecuali dia butan olang baik," kata Dika membela Reza.
Hengki yang mendengar Dika membela Reza dia tidak suka. Ibunya selalu benar, tidak pernah berbohong padanya, itulah menurut Hengki.
"Pokoknya jangan mau main sama Reza, kalau Dika mau main sama Reza main aja. Kami tidak mau, jangan mengajak kami, karena dia tidak punya ibu," ngotot Hengki.
"Reza punya ibu kok," jawab Reza lirih dengan matanya sudah berkaca-kaca.
"Bohong, buktinya Reza tidak pernah dijemput sama ibu kamu. Selalu sopir yang jemput Reza," bantah Hengki.
"Iya, Reza yang jemput selalu supirnya, bukan ibu atau ayahnya. Pasti karena Reza tidak punya ibu makanya ayah Reza tidak suka sama Reza juga," sambung Dimas.
"REZA TIDAK BOHONG.REZA PUNYA IBU!" teriak Reza kini air matanya sudah ada dipinggir peluput mata, air mata yang siap untuk tumpah.
Untung hari itu sudah mulai sepi, banyak anak-anak yang sudah dijemput sama orang tuanya. Sehingga tidak menimbulkan kegaduhan karena perdebatan ini.
"BANG EJAAA...," teriak Rio yang melihat abangnya dari kejauhan.
Sedangkan Reza tidak ada yang dekat dengan nya. Papanya yang lumpuh mengabaikannya, kakek dan neneknya yang juga sibuk, sehingga Reza pasti sangat kesepian. Padahal biasanya anak-anak sangat suka bermanja-manja, tapi Reza diusia memasuki tujuh tahun sudah mandiri dan bersikap dewasa.
"Hai sayang, kenapa menangis," kata Dilla sambil berjongkok dan mengusap air mata Reza yang mulai jatuh.
"Omy Bang Eja napa angis?" tanya Rio.
Rio juga hampir menangis melihat abangnya yang menangis.
"Mommy...?" tanya kawan Reza tadi.
"Leja apa ini Ibu... oh madsud Dita, apa ini Mommynya Leja?" tanya Dika dengan bahasa yang cadel.
Kawan yang lain juga penasaran dengan sosok yang berada di dekat Reza.
"Ini Omy Liyo dan Bang Eja," jawab Rio.
Rio segera memeluk leher Dilla yang memang lagi berjongkok.
"Tante apa benar, Tante ini adalah Ibu eh... maksudnya Mommynya Reza?" tanya Hengki lagi kepada Dilla.
Dilla dapat melihat Reza kini memegang lengan bajunya dengan erat dengan kepala yang menunduk. Kemudian Dilla melihat kawan Reza tadi yang menunggu jawabannya.
"Iya ini anaknya Tante," jawab Dilla.
'Pasti kalau Dilla bilang bukan, Reza akan dijauhi dan bertambah sedih Biarlah mereka (kawan Reza) menganggap saya Ibunya Reza. Mungkin setelah ini mereka akan berteman dan bermain bersama lagi.'
Reza yang mendengar jawaban Dilla kaget, Reza kemudian melihat wajah Dilla yang tersenyum padanya. Reza langsung memeluk Dilla erat-erat dengan Rio yang masih memeluk Dilla.
"Mommy Mommy Mommy," ujar Reza berulang ulang sambil menangis.
Dilla hanya mengusap bahu Reza, Rio yang melihat abangnya menangis juga ikutan menangis.
'Lah kenapa Rio juga menangis,' kini Dilla harus menenangkan mereka berdua.
"Tante kenapa mereka menangis?" tanya Hengki.
Hengki yang melihat tangisan Rio dan Reza kini matanya sudah berkaca-kaca, begitu juga dengan Dika, Yoga dan Dimas.
"Mereka tidak apa-apa kok. Rio hanya menangis melihat abangnya yang menangis. Sedangkan Reza menangis karena kalian tidak mau berteman dengan Reza dan bilang Reza tidak punya ibu, kan Reza jadi sedih," terang Dilla sambil mengelus bahu Reza dan Rio.
"Kami mau kok berteman sama Reza. Kan Reza sudah punya ibu," kata Yoga, yang disetujui oleh Hengki dan Dimas.
"Dengar ya, kita dalam berteman tidak boleh pilih pilih, kecuali dia bukan teman yang baik. Jika kawan kita tidak memiliki sesuatu, maka kita harus berbagi. Sesama teman harus saling berbagi dan menolong. Jadi kawan kita tidak memiliki ibu, kita tidak boleh mengejeknya atau menjauhinya, dia sudah kesepian tanpa ibunya. Ditambah lagi kalian menjauhinya, jadi dia makin sedih," ujar Dilla dengan lembut.
"Maaf Tante," kata mereka serentak.
Kini mereka berempat juga ikutan menangis. Suasana yang tadi sepi kini jadi heboh dengan tangisan enam bocah. Dilla jadi panik sendiri, bagaimana dia harus mendiamkan keenam bocah yang lagi menangis secara sendiri.
Tidak berapa lama jemput Hengki, Yoga, Dika dan Dimas sampai. Mereka masih menangis berjamaah. Dilla segera menjelaskan apa yang terjadi agar para wali murid tidak salah paham pada Dilla.
'Semoga besok mereka bisa jadi teman yang akrab.'
Bersambung....