
Setelah kepergian mereka berempat ke atas, kini tinggallah lima orang dewasa lain dengan perasaan yang tidak karuan.
"Hari ini Rafa sangat aneh, tidak biasanya dia begitu sama orang yang baru dia kenal," jelas Dafa.
"Reza juga, biasa dia panggil Dilla mbak Dilla bukan mommy. Apa ada terjadi sesuatu sama Reza," sambung Rita.
"Iya, hanya Rio yang selalu memanggil Dilla dengan sebutan mommy," sambung Aditya.
"Apanya yang aneh, mereka masih kecil, mereka pasti membutuhkan sosok seorang ibu. Kalian berdua ini sampai kapan mau menduda. Ryan Kakek tau kalau Ryan masih mengingat almarhumah Riana, tetapi pikirkan juga perkembangan anak kamu. Anak-anak itu butuh kasih sayang kedua orang tuanya. Selama ini kamu tidak pernah mau merawat mereka sejak insiden itu, mau sampai kapan kamu menyiksa diri sendiri dan anak-anak kamu. Kamu harus ingat, ada dua anak yang membutuhkanmu, mereka juga membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Kamu sekarang fokus dulu sama terapi kamu, setelah itu baru kamu cari sosok ibu baru yang cocok buat kamu dan anak-anak," jelas Akram panjang lebar.
Ryan merenungi apa yang dikatakan Akram. Memang benar anak-anaknya butuh kasih sayang kedua orang tuanya. Dia saja yang ayahnya kurang perhatian kepada anaknya, ditambah mereka yang telah kehilangan seorang ibu pasti membutuhkan kasih sayang yang ekstra.
Ryan tidak boleh egois, Ryan harus segera sembuh, supaya anaknya bisa mengandalkannya.
"Iya Kek, Ryan akan berusaha lebih giat lagi terapinya. Ryan tidak mau nanti anak-anak Ryan kesepian."
"Bagus kalau itu pilihanmu," puji Akram.
Rita dan Aditya senang mendengar jawaban anaknya. Jika begini kesembuhan Ryan semakin besar.
"Dan kamu Dafa, kamu juga harus segera mencari ibu baru untuk Rafa dan lupakan mantan istri kamu itu," kini Akram mengalihkan ke Dafa.
"Tapi Kek, Dafa tidak ingin menikah lagi untuk sekarang," bantah Dafa.
"Kamu bilang tidak ingin menikah dulu, tapi kamu lihat anakmu itu, dia memanggil orang yang baru ditemuinya dengan sebutan mommy. Pokoknya, Kakek tidak mau tau, kalian harus segera menikah lagi, terserah siapa wanita itu, asal dia bisa menerima kalian dan anak kalian nanti. Ingat kalian menikah bukan untukĀ kalian saja tapi untuk anak kalian juga. Wanita yang akan menjadi istri kalian kelak harus bisa menerima dan diterima oleh cicit Kakek. Kakek tidak akan menjodohkan kalian lagi, seperti Kakek yang gagal menjodohkan Dafa dulu," Akram benar menyesal telah menjodohkan cucunya dengan wanita seperti jelmaan ular. Wanita yang tega menelantarkan anaknya demi karir.
Setelah berkata begitu Akram langsung ke kamarnya. Kamar yang disiapkan khusus jika Akram menginap di rumah anaknya.
"Kalian dengar kata kakek kalian tadi, lebih baik kalian turuti saja kemauan kakek kalian. Ini juga baik untuk kalian sama anak-anak kalian," ujar Aditya.
"Iya, kalian pikirlah dulu ini baik-baik, karena semua ini kalian yang akan menjalaninya nanti," Rita bangkit dari sofa.
"Kami mau ke kamar juga dan masalah pekerjaan kita lanjut bahas nanti malam saja. Dafa juga beristirahat sebentar sebelum makan siang bersama," tambah Rita.
Rita dan Aditya juga meninggalkan ruang tamu, mereka pergi ke kamarnya. Kini di ruang tamu tinggal Ryan dan Dafa.
"Ryan apa aku ajak ajak saja Dilla menikah dengan aku. Lagian Rafa nya juga sudah akrab sama Dilla jadi aku tidak capek lagi cari mommy baru buat Rafa," canda Dafa.
Ryan langsung mempelototin Dafa.
"Jangan melotot begitu, nanti keluar bola matanya. Tadi aku hanya bercanda aja, tidak mungkin aku menikung saudara sendiri."
Ryan mendengus kasar.
"Menikung apanya, aku sama Dilla tidak ada hubungan yang serius. Aku hanya tidak ingin kamu membuat anak-anakku menangis dengan membawa Dilla pergi dari rumah ini," ujar Ryan.
"Kalau ada hubungan yang serius juga tidak apa-apa," tambah Dafa.
"Dasar kamu ini."
"Ya sudahlah ya, aku ke kamar dulu, mau istirahat sebentar. Capek sekali baru sampai ke sini."
***
"Kalian mandi dulu ya, Reza dan Rafa bisa mandi sendirikan. Mbak Dilla mau mandiin Rio ya, Rio kan masih kecil," ujar Dilla.
"OMYYY...."
"MOMMYYY...."
"MOMMYYY...."
"Eeeh apa," kaget Dilla, mereka bertiga berteriak barengan.
"Mommy Mom bukan Mbak," ujar Reza.
"Emmm iya, maksud Mommy kalian mandi sendiri ya. Mommy akan mandiin Rio" ujar Dilla canggung.
'Alamak, kenapa sekarang Dilla jadi Ibu tiga anak, nikah aja belum, apalagi kawin,' batin Dilla.
"Kan kalian sudah besar," ada keringat yang muncul di dahi Dilla.
'Kenapa pada kompak gini ya, cepat kali akurnya.'
"Ayo kita mandi," ujar Reza
Reza langsung menarik tangan Dilla ke kamar mandi yang diikuti Rio dan Rafa di belakang.
"Kalian lepas baju ya dan letakkan baju di keranjang kamar mandi itu," tunjuk Dilla.
Dilla segera membantu Rio melepaskan baju, Rio belum pandai buka baju sendiri. Reza dan Rafa segera melepaskan bajunya dan meletakkan di keranjang.
"Mommy mandikan Rafa dulu ya," kata Rafa
"Reza dulu dong Mommy."
"Omy Liyo lu yaaa."
"Tidak Rafa dulu, kan Rafa yang duluan minta."
"Reza dulu dong, kan Reza yang lebih cepat buka bajunya."
"Liyo ulu Liyo ulu," Rio juga tidak mau mengalah.
"Rio, Abang dulu ya, kan Abang lebih besar."
"Kan lebih besar Rafa, berati Rafa dulu dong."
"Liyo ulu, Omy Liyo ulu ya?"
"Reza dulu."
"Rafa dulu."
Mereka bertiga masih berebutan untuk dimandikan yang pertama kali. Dilla pusing sendiri melihat mereka yang berdebat.
"Udah jangan bertengkar lagi, jadi siapa yang mau mandi dulu."
"Liyo ulu."
"Reza dulu."
"Rafa dulu."
Jawab mereka barengan.
"Ya udah kalian mandi secara bersamaan saja. Barengan nanti Mommy mandikan," akhirnya Dilla mengambil keputusan.
"Uhhh," protes mereka memanyukan bibir kompak.
'Mereka kompak sekali, kayak anak bebek, hihihi.'
"Kalian pilih mandi barengan atau mandi sendiri."
"Barengan aja." jawab Reza dan Rafa.
Dilla segera memandikan mereka, Dilla menyiram atau membasahkan tubuh mereka bertiga dulu baru setelah itu Dilla menyuruh mereka masuk ke bathub yang sudah berisi sabun berbusa.
Mereka bertiga asik bermain busa sama bebek karet. Sedangkan Dilla menggosok tubuh mereka satu persatu.
Selesai mandi Dilla mengantikan baju mereka, yang pada ujung-ujungnya mereka berebutan dipakaikan baju duluan. Akhirnya Dilla menyuruh Reza dan Rafa memakai bajunya sendiri, karena Dilla harus memakai baju Rio. Rio kalau pakai baju sendiri suka kebalik.
"Nah kalian sudah siap mandi dan pakai baju. Sekarang kalian jadi rapi dan makin tampan saja," puji Dilla.
"Ayo kita turun lagi buat makan siang," ajak Dilla.
Bersambung....