
Untuk malam harinya Ryan membawa Dilla untuk makan malam pada sebuah restoran yang telah Ryan booking sebelumnya. Ryan sengaja memesan ruang yang privasi agar tidak diganggu oleh orang lain. Sebelum mereka ke sana Ryan dan Dilla sudah berganti pakaian dengan menggunakan jas dan gaun agar makan malam mereka terlihat lebih romantis.
Ketika memasuki restoran Dilla dan Ryan berjalan bergandengan tangan dan dituntun oleh salah satu pelayan yang ada di sana untuk ke tempat yang telah dipesankan oleh Ryan.
"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya," pelayan tersebut mempersilahkan Ryan dan Dilla untuk Duduk.
Ryan menarikkan kursi untuk Dilla dan mempersilahkan Dilla duduk terlebih dahulu.
"Ayo duduk sayang," ujar Ryan.
Dilla tersenyum membalas sikap Ryan yang lembut. Setelah Dilla duduk sepenuhnya, barulah Ryan duduk pada tempatnya. Beberapa menit kemudian makanan sudah ditata sedemikian rupa.
"Apa ini semua Mas yang siapkan?" tanya Dilla terharu.
Dilla sangat tersentuh dengan kejutan yang diberikan oleh Ryan. Ryan menggenggam tangan Dilla yang ada di atas meja.
"Iya, ini semua aku siapkan untuk kita berdua. Bagaimana apakah kamu suka dengan kejutan yang Mas berikan?" tanya Ryan.
"Iya Mas, Dilla sangat suka. Tempatnya sangat indah," kata Dilla setelah tadi dia melihat pemandangan di luar yang begitu indah dengan sinar cahaya matahari tenggelam yang mulai hilang.
"Ayo silahkan nikmati makan malamnya Dilla," ajak Ryan.
Dilla menganggukkan kepalanya dan mulai memotong potongan pertama steak miliknya. Saat Dilla ingin memasukkan makanannya ke dalam mulut tapi Ryan sudah duluan mengarahkan tangannya yang berisi potongan steak kepada Dilla.
Dilla melihat raut wajah tersenyum Ryan sambil mau menyuapinya. Dilla juga membalas senyuman Ryan sebelum Dilla memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya. Kemudian Dilla juga mengambil potongan pertamanya dan menyuapkan kepada Ryan.
Mereka terus menikmati makan malam sambil berbicara ringan sampai makan malam selesai. Mereka sesekali juga saling suap-suapan.
"Mas, Dilla mau pamit ke kamar mandi sebentar ya," ujar Dilla.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ryan khawatir.
"Tidak apa-apa kok Mas. Dilla hanya ingin buang air kecil saja," ucap Dilla.
"Apa perlu Mas temani."
"Tidak perlu Mas. Kan dekat tempatnya."
"Baiklah. Kamu hati-hati ya."
"Iya Mas."
Dilla segera bangun dari tempat duduknya dan pergi ke kamar mandi. Dilla sudah dari tadi kebelet pipis, namun tidak enak merusak momen romantis mereka berdua. Setelah selesai dari kamar mandi, Dilla berpapasan sama Jesika yang sedang berpelukan dengan lelaki lain. Dilla yang tidak mau mencari masalah mengalihkan pandangan agar tidak dilihat sama Jesika.
"Tunggu," panggil Jesika.
Dilla menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Jesika.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Jesika.
'Apakah Mbak ini mungkin sudah lupa sama aku ya. Lebih baik aku juga pura-pura tidak mengenalnya daripada nanti bertambah masalah.'
"Maaf Mbak, sepertinya Mbak salah orang," sahut Dilla.
"Oh ya sudah. Ayo kita pergi sayang," ucap Jesika.
"Kamu kenal sama dia?"
"Sepertinya aku salah orang. Ayo kita pergi," sahut Jesika.
"Bukankah itu istrinya Tuan Daniel ya? Kenapa dia sama laki-laki lain. Sudahlah, itu bukan urusan aku. Lebih baik aku tidak ikut campur rumah tangga orang lain. Apalagi kami tidak dekat," ujar Dilla pada diri sendiri.
Setelah itu Dilla kembali lagi ke tempat Ryan berada.
"Kenapa lama ke kamar mandi? apakah ada masalah?" tanya Ryan.
"Ah itu Mas, tadi Dila sempat bertemu dengan istrinya Tuan Daniel," jawab Dilla.
"Istrinya Daniel? jadi Daniel ada di sini juga?" tanya Ryan.
"Itu masalahnya Mas, tadi Dilla lihat dia sama lelaki lain. Mereka saling bergandengan tangan."
"Kok bisa, apa Jesika selingkuh lagi?"
"Maksudnya istri Tuan Daniel sering selingkuh?"
"Iya, Jesikaa istrinya Daniel sering selingkuh. Sudah berapa kali dia ketahuan selingkuh, kemudian dia selalu merasa jika Daniel lah yang sering selingkuh."
"Kasihan sama Tuan Daniel. Sepertinya Tuan Daniel orang yang baik," ujar Dilla prihatin.
"Sayang, kita tidak bisa menilai orang dari covernya saja. Kamu memang mungkin belum pernah tahu sifat Daniel yang sesungguhnya. Aku tahu bagaimana sifat asli dia. Dia itu memang memang baik tetapi kadang dia juga bisa menjadi musuh dalam selimut. Kamu tidak diapa-apakan sama si Jesika."
"Tidak apa-apa kok Mas."
"Tidak apa-apa kok Mas. Untung saja Jesika itu lupa sama Dilla. Jadi saat Mbak Jesika tanya sama Dilla apa kita pernah bertemu, Dilla jawab saja kalau kalau Mbak Jesika itu salah mengenal orang."
"Syukur deh kalau kamu tidak diapain sama dia. Lebih baik kamu jangan pernah mendekati Jesika dan juga Daniel," Ryan memperingati Dilla.
"Iya Mas," sahut Dilla.
"Ya sudah, lebih baik kita pulang saja. Sekarang waktunya sudah semakin malam," ajak Ryan.
Dilla kembali menggandeng tangan Ryan sepanjang dalam perjalanan pulang.
***
"Sebaiknya kita mandi dulu karena sudah gerah dari tadi siang pergi keluar," ujar Ryan.
"Apa Mas mau mandi duluan. Biar Dilla siapkan airnya dulu?" tanya Dilla.
"Bagaimana jika kita mandi bersama. Biar cepat selesai," ajak Ryan.
"Ma… ma… mandi bersama," ujar Dilla gagap.
Dilla yang membayangkannya saja sudah membuat wajahnya memerah. Dilla menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran yang bukan-bukan. Ryan mendekati Dilla yang telah memegang handuk.
"Tidak masalahkan jika kita mandi bersama. Apalagi kita sudah menjadi suami istri," ujar Ryan sambil mengusap pipi Dilla.
Dilla menatap mata Ryan malu-malu.
"Itu… biar Dilla siapkan airnya terlebih dahulu," jawab Dilla.
Dilla segera ke kamar mandi dan menyiapkan air. Ryan tersenyum melihat sikap Dilla yang malu-malu kucing.
Setelah airnya penuh, Dilla ingin memanggil Ryan. Tetapi saat Dilla berbalik, Ryan sudah masuk terlebih dahulu hanya dengan berbekalkan handuk dipinggangnya.
Dilla menatap tubuh Ryan yang toples dengan badan yang berbentuk. Dilla menutup mukanya dan melirik malu ke arah Ryan.
"Emm Mas sudah ada di sini. Baru saja Dilla mau memanggil Mas," ujar Dilla sambil melihat ke arah kain asal jangan ke arah Ryan.
"Mas sudah gerah, jadi buka duluan. Kamu tidak ganti baju?" tanya Ryan balik.
"Sebentar Mas, Dilla mau lepas baju dulu," sahut Dilla.
Dilla segera buru-buru keluar dari sana tanpa menunggu jawaban dari Ryan.
"Ya ampun hatiku dag dig dug dengan keras. Semoga aja Mas Ryan tidak dengar. Bagaimana ini, aku sangat malu sekarang. Tapi sekarang Mas Ryan adalah suami aku. Aku harus bisa melayaninya dengan baik," kata Dila sambil menepuk-nepuk kedua pipinya yang terasa panas dan mendidih.
Dengan pelan Dilla membuka semua bajunya dan menggantikan dengan sehelai handuk. Setelahnya Dilla masuk lagi ke dalam kamar mandi dengan pelan-pelan dan mengintip.
Bersambung...
Assalamu'alaikum semuanya.
Terima kasih bagi yang sudah dukung novel saya. Saya berencana mau membuat giveaway lomba vote terbanyak. Kalian bisa mengumpulkan poin dan koin dan vote periode tanggal 17-30 Agustus. Karena Setiap periode akan di bagi dua gelombang dan di hitung mulai hari senin, maka kedua gelombang nanti akan di jumlahkan. Pada malam minggu pukul 22.58 tanggal 23 dan 30 Agustus akan saya ss dan saya jumlahkan. Kalian juga bisa ss bukti vote sebagai bukti jika saya ada keliru dalam menjumlahkan.
Hadiah berupa uang tunai atau boleh juga dalam bentuk pulsa.
Pemenang 1 akan mendapatkan 50k
Pemenang 2 akan mendapatkan 30k
Pemenang 3 akan mendapatkan 20k
Pemenang 4 & 5 akan mendapatkan 10k
Jika jumlah vote bisa masuk peringkat 20 besar maka hadiahnya akan berubah menjadi...
Pemenang 1 akan mendapatkan 100k
Pemenang 2 akan mendapatkan 75k
Pemenang 3 akan mendapatkan 50k
Pemenang 4 -10 akan mendapatkan 10k
Note: Saya juga akan ikut Vote, apabila saya masuk ke kategori pemenang maka saya akan didiskualifikasi dan hadiah akan d berikan ke No pemenang selanjutnya. Untuk bertanya silahkan ke GC ya.
Nanti akan saya kabari lagi saat sudah mendekati vote ya.
Semoga kalian mau ikut event kecil-kecilan ini. Terima kasih.
Baca juga Novel seru berikut ya