
Main Kebo
Dilla membawa Rio, Reza, Rafa, Yudi dan Budi ke persawahan. Rio, Reza dan Rafa meminta pergi ke sawah. Mereka ingin melihat membajak sawah. Mereka juga ingin melihat kebo yang pernah dibilang oleh Dilla.
"Kalian hati-hati jalannya.Jangan sampai kepeleset," ujar Dilla kepada Reza dan Rafa.
"Baik Mommy," sahut Reza dan Rafa yang berada di belakang Dilla.
Yudi dan Budi yang sudah biasa mereka berjalan dibelakang. Sedangkan Rio berada dalam gendongan Dilla.
"Pagi Dilla," sapa warga.
"Pagi Bu," sahut Dilla.
"Mereka siapa Dilla?" tanya mereka penasaran.
"Mereka anak asuh Dilla di kota Bu. Mereka katanya ingin pergi ke sawah. Mereka belum pernah ke sawah," balas Dilla.
"Bibi, Bibi ndak ada keljaan ya. Itu dicabut telus tanam agi?" tanya Rio.
"Hahaha… anak asuh kamu lucu Dikla."
"Tenapa teltawa?" tanya Rio polos.
"Itu namanya bibit. Jadi saat dalam bentuk benih mereka ditabur di satu tempat itu. Kalau sudah sepanjang ini baru ditanam kembali secara terpisah. Agar menjadi padi yang subur."
"Apa boleh Reza coba tanam?" tawar Reza penasaran.
"Kalian tidak boleh masuk ke sawah. Nanti kalian jadi kotor," ucap Dilla.
"Biarkan saja mereka mencoba Dilla. Namanya juga anak-anak. Mereka pasti penasaran. Ini bagus untung mengembangkan pengetahuan mereka," ujar salah satu warga.
"Mommy please," minta Reza dan Rafa.
"Ya sudah, kalian hati-hati," kata Dilla pasrah.
"Omy, Liyo uga mau. Liyo mau tulun," pinta Rio melihat Reza dan Rafa mulai mencoba menanam padi.
Dilla mau tidak mau menurunkan Rio. Rio sudah memberontak turun. Rio pasti iri melihat abangnya. Rio tidak akan tinggal diam melihat abangnya yang sudah mulai mencoba menanam padi dengan seru.
"Mbak, kami pamit main sama yang lain ya," pamit Yudi.
"Iya, kalian hati-hati ya," jawab Dilla.
Budi dan Yudi sudah biasa melihat orang bertanam. Jadi bagi mereka itu tidak seru lagi.
Mereka bertiga sudah mulai bertanam padi mengikuti arahan dari warga kampung. Dilla memperhatikan mereka bertiga. Mereka dengan serius mengikuti instruksi.
"Hiak jalan-jalan," teriak seorang bapak-bapak sedang memukul kerbau untuk membajak sawah.
Warga kampung masih menggunakan cara tradisional untuk mengolah pesawahan. Walaupun sudah ada mesin canggih, mereka tetap memilih membajak dengan kerbau.
"Omy, tenapa paman itu ahat. Paman itu mutul-mutul ebo?" tanya Rio yang sudah tahu mana kerbau, sapi dan kambing.
"Memang begitu caranya kalau menyuruh kebo untuk membajak sawah," jawab Dilla.
Rio mengangguk kepala. Reza dan Rafa yang melihat orang membajak sawah menaiki kayu tempat menggemburkan tanah, mereka segera mendekat.
(Kurang lebih seperti ini ya)
"Paman paman, kenapa paman baik ke atas kayu itu?" tanya mereka penasaran.
Rio yang melihat Reza dan Rafa mendekati kerbau, dia juga mendekati mereka.
"Ini paman naik agar kayunya masuk ke dalam tanah. Biar tanahnya cepat gembur."
"Paman, apa kami juga boleh naik," minta mereka berdua penuh harap.
Dilla yang merasakan perasaan tidak enak mendekat ke mereka.
"Kalian tidak boleh naik. Nanti kalian bisa tambah kotor. Baju kalian sudah kotor," kata Dilla.
Rio tidak mendengar perkataan Dilla. Rio segera mendekat ke arah paman itu. Tanpa aba-aba Rio sudah naik sendiri.
"Paman, ayo alan," perintah Rio.
"Rio, apa yang Rio dilakukan. Sini turun," perintah Dilla.
"Ndak mau. Ayo alan ebo," perintah Rio pada kerbau.
"Hore," tanpa jawaban Dilla mereka berseru senang.
Reza dan Rafa segera berdiri di samping kiri dan kanan Rio. Mereka bertiga sudah naik ke atas kayu.
"Paman, ayo alan," perintah Rio lagi.
Dilla menghela nafas dengan kelakuan trio R. Dilla berdiri dekat dengan mereka bertiga. Jika terjadi apa-apa, Dilla bisa menolong mereka. Dilla tidak tega melarang mereka yang begitu bahagia. Dilla jadi teringat masa kecilnya yang juga suka bermain seperti mereka lakukan sekarang.
Warga mulai memukul kerbau. Kerbau mulai berjalan.
"Ayo paman, lebih cepat lagi," suruh Rafa.
"Ini sudah cepat. Kebo kalau jalan memang pelan."
Rio cemberut. Kurang seru bagi Rio jika lambat. Tapi itu tidak lama. Rio kembali semangat saat kerbau mulai memutar arah.
"Ayo jalan-jalan," perintah Reza dan Rafa.
Mereka bertiga kegirangan. Rio yang tangannya masih berlumpur dia kehilangan keseimbangan. Tangan Rio yang licin lepas dari tempat pegangan. Rio terjatuh duduk di sawah. Sekarang tubuh Rio sudah kotor hampir seluruh tubuh.
"Rio tidak apa-apa sayang?" tanya Dilla khawatir karena Rio jatuh terdiam.
"Haha… ndak apa Omy. Main ebo telnyata celu," ucap Rio.
Rio bangkit dan naik kembali. Kerbau mulai jalan kembali. Karena tubuh Rio yang berlumpur, Rio semakin susah memegang tempat pegangan. Akhirnya Rio memeluk Reza. Reza yang berat sama Rio juga hilang keseimbangan. Reza mencoba meraih Rafa agar dia tidak terjatuh. Tetapi mereka bertiga malah terjatuh. Mereka tertawa kegirangan saat terjatuh. Mereka tidak merasakan sakit sama sekali.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya warga cemas.
"Kami tidak apa-apa. Seru sekali Paman," jawab Reza.
"Sekarang tubuh kalian bertiga kotor. Ayo pulang," ajak Dilla.
"Kami tidak mau pulang. Kami masih mau main. Kami kapan bisa main begini lagi. Kalau di kota kita tidak bisa bermain. Jadi kami tidak kita pulang," tolak Rafa.
"Tidak, kalian harus pulang," kata Dilla tidak terima bantahan.
"Bayik Omy. Ayo puyang," jawab Rio.
"Nah, Rio saja mau pulang. Ayo pulang."
Dilla berjalan di depan. Tanpa Dilla sadari, Rio memberikan senyuman usil kepada Reza dan Rafa. Reza dan Dafa yang tahu senyuman Rio segera bangkit. Mereka sudah tahu maksud dari Rio. Tanpa aba-aba mereka menerjang Dilla. Sehingga Dilla juga terjatuh ke sawah. Badan Dilla juga kotor semua.
Para warga tertawa melihat kejadian itu. Mereka sudah sering melihat anak-anak bermain dengan lumpur sawah. Tapi baru kali ini mereka melihat anak kota main di sawah dengan mengerjai Dilla.
"Reza! Rafa! Rio!" panggil Dilla dengan nada ditekan.
"Wah ternyata Mommy juga kotor," kata Rafa berpura-pura polos.
"Kalian…."
"Sudah Dilla, biarkan saja mereka. Ini pengalaman pertama mereka. Apa kalian ingin naik kerbau?" tawar Paman itu.
"Apa boleh?" tanya Reza balik.
"Boleh, sebentar Paman melepaskan dulu pengaitnya. Ayo, siapa yang mau naik dulu?"
"Reza!"
"Rafa!"
"Liyo!'
Jawab mereka bertiga serentak.
"Kalian bertiga ingin naik semua? Sebentar biar Paman panggilkan kerbau satunya lagi. Biar kerbaunya tidak terlalu capek."
Warga itu memanggil warga yang lain yang juga sedang membajak sawah. Sekarang sudah ada dua kerbau di sana.
"Siapa yang mau naik sama Paman?"
Mereka kembali rebutan ingin naik. Akhirnya Rio dan Reza naik ke kerbau pertama. Sedangkan Rafa di kerbau satu lagi. Mereka bertiga di atas kerbau berteriak kegirangan.
"Dilla, kamu seperti ini mengingatkan kami saat kamu masih kecil. Kamu sama persis seperti mereka. Bahkan kamu lebih bar-bar."
"Sekarang Dilla sudah besar. Dilla sudah bukan anak-anak lagi," ucap Dilla.
"Iya, kamu bukan lagi anak-anak. Tapi kamu sudah menjadi ibu anak-anak," goda warga.
Bersambung....