
Jangan lupa Like dan Kritikan beserta saran seperti biasanya ya.
Selamat membaca.
***
"Hamil itu maka artinya Rafa akan segera mempunyai seorang adik," jawab Rafa bangga.
Rafa dari dulu juga berharap jika dia mempunyai adik kandung seperti Reza mempunyai Rio. Bukannya Rafa tidak menyayangi Rio, tetapi Rafa juga ingin punya adik dari Daddy dan Mommy.
"Adik," kata Rio dengan suara kecil.
"Iya, apa Rio juga ingin punya adik?" tanya Ryan harap-harap cemas.
Rio terdiam sebentar.
"Liyo… Liyo ndak mau unya adik," jawab Rio sambil menggeleng lemah.
"Tapi kenapa Rio tidak mau punya adik?" tanya Ryan penasaran setelah melihat Rio jadi sendu.
"Liyo ndak mau unya adik," ulang Rio sekali lagi.
Setelah berkata seperti itu Rio meninggalkan ruang makan.
"Rio," panggil Dilla khawatir.
"Dilla, biarkan Rio sendiri dulu. Mungkin dia belum bisa menerimanya," cegah Rita kepada Dilla yang ingin mengejar Rio.
"Tapi Ma. Bagaimana jika Rio benar-benar tidak mau punya seorang adik. Ryan juga ingin punya anak dari Dilla," sahut Ryan tidak rela.
Satu sisi Dilla juga ingin punya anak dari Ryan dan dirinya. Tapi jika Rio menolaknya Dila jadi dilema sendiri.
"Mama juga tidak tau, tapi sepertinya kalian tunda dulu sampai Rio bisa menerima semua ini. Rio pasti bisa berubah pikiran nanti," ucap Rita.
Ryan ingin membantah perkataan Rita tapi Rita kembali melanjutkan perkataannya.
"Ryan, kamu juga harus bisa menjaga perasaan Rio. Rio masih kecil, dia mungkin belum mau ada saingan karena dia masih kecil. Takut sayang kalian akan terbagi. Kita tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Rio, sebaiknya kalian jika ingin punya anak membujuk Rio terlebih dahulu," saran Rita.
"Papa juga setuju dengan pendapat dari Mama. Takutnya jika kalian buru-buru punya anak lagi maka Rio nanti akan marah-marah. Kalian tau sendiri bagaimana jika Rio lagi marah," sambung Aditya.
Ryan terdiam mendengar perkataan Rita dan Aditya. Bener apa yang dikatakan oleh papa dan mamanya nanti dia bisa berbuat nekat.
***
Setelah selesai sarapan pagi mereka kembali melakukan aktifitas seperti biasa. Dilla dan Jelita pergi mengantar Reza dan Rafa tanpa Rio. Kali ini Rio tidak ikut karena tadi Rio sempat mendengar jika sang Omy mau ke rumah sakit. Jelita bilang mereka akan ke rumah sakit untuk mengecek apakah dia beneran hamil atau tidak.
Rio tidak mau ikut karena Rio tidak mau adik. Dilla sebenarnya tidak ingin pergi juga, tapi Jelita memaksanya pergi karena kata Jelita siapa tau Dilla juga hamil.
***
Mereka berdua tiba di rumah sakit. Jelita dengan semangat menyeret Dilla ke tempat pendaftaran. Dilla tadi berjalan dengan lesu, berlawanan dengan semangat yang dimiliki oleh Jelita.
"Untuk berapa orang Mbak?" tanya sang suster.
"Untuk dua orang Sus," jawab Jelita semangat.
"Mbak, apa tidak sebaiknya Mbak sendiri saja yang diperiksa," kata Dilla.
"Tidak Dilla. Kamu juga harus ikut diperiksa. Lagian sudah tanggung kamu sudah berada di sini. Kan sekalian saja," sahut Rita.
Dilla terdiam, Dilla kurang yakin untuk melakukan tes ini.
"Jadi untuk berapa orang Mbak?" tanya suster kembali.
"Untuk dua orang Sus," jawab Jelita lagi.
"Baik Mbak, silakan Mbak tunggu sebentar. Nanti Mbak dan Mbak akan dipanggil oleh Suster yang lain."
"Baik Sus, terima kasih."
Jelita mengajak Dilla mencari tempat duduk sambil menunggu.
"Sudah, kamu ikut saja. Aku jadi ada temannya."
Mereka berdua memasuki ruang dokter kandungannya setelah dipersilahkan masuk.
"Kami berdua Dokter," jawab Jelita.
"Kalau begitu silahkan ikut saya ke ruang sebelah," ajak dokter.
Setelah melakukan tes USG, mereka menunggu sebentar untuk menunggu hasil tesnya keluar.
"Jadi bagaimana Dok?" tanya Jelita dengan semangat dan tidak sabaran.
Sedangkan Dilla hanya diam. Dilla juga harap-harap cemas sama hasil tes nya.
"Selamat kepada Ibu Jelita. Dari hasil tes Ibu Jelita tadi, Ibu positif hamil," ujar Dokter.
Jelita segera berteriak kesenangan saat tahu dirinya memang beneran hamil.
"Terus bagaimana dengan Dilla," tanya Jelita setelah bersorak senang.
Ini adalah pertanyaan yang sulit bagi dokter kandungan. Saat hasil tes tida sesuai dengan keinginan pasien.
"Maaf Ibu Dilla, hanya Ibu Jelita yang positif hamil. Sedangkan Ibu hasilnya negatif," ucap dokter tidak enak.
"Mungkin Ibu Dilla bisa lebih berusaha lagi. Apalagi Ibu Dilla masih sangat muda," kata dokter lagi menangkan Dilla.
"Iya Dokter, terima kasih," sahut Dilla dengan suara kecil.
Walaupun Dilla tidak mengharap hasilnya positif, tapi entah kenapa ada rasa kecewa yang muncul di ulu hatinya. Seakan Dilla kehilangan jackpot besar yang ada di depan matanya.
Jelita segera merangkul Dilla kedalam pelukannya untuk menguatkan Dilla.
"Kamu yang sabar ya. Mungkin ini belum saatnya buat kamu. Apalagi kalian juga baru nikah, masih ada waktu yang panjang bagi kamu," ujar Jelita.
"Iya tidak apa Mbak. Dilla tidak apa-apa kok, mungkin jika Dilla positif pun maka Rio juga belum bisa menerima semua ini. Ini adalah jawaban terbaik," sahut Dilla mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Jelita tahu jika Dilla pasti juga mengharapkan hasilnya positif, tapi mau bagaimana lagi jika hasilnya sudah keluar.
"Jadi Dokter, bagaimana keadaan kandungan saya?" tanya Jelita setelah melihat Dilla yang sudah sedikit tentang.
"Kandungan Ibu baik-baik saja dan termasuk kuat. Tapi Ibu tetap juga harus menjaga waktu istirahat yang cukup dan tidak boleh terlalu lelah. Ibu juga harus menjaga pola makan beserta pantangan dalam makan. Ibu tidak boleh minum minuman bersoda, makanan yang terlalu asam dan juga yang pedas," ujar sang dokter.
Jelita mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan oleh dokter. Setelah mereka selesai dari sana mereka kembali lagi ke rumah.
***
Rio duduk sendiri di depan tv yang sedang menyala dengan tangan yang menekan tombol yang ada di remote. Rita yang melihatnya menghampiri Rio.
"Ada apa Rio," tanya Rita setelah duduk di samping Rio.
"Ndak ada apa-apa Nek," jawab Rio dengan masih menekan tombol remote.
"Tapi kenapa Rio ganti-ganti chanelnya dari tadi?" tanya Rita lagi.
Rio terdiam.
"Kenapa Rio tidak ingin miliki adik?"
Rita juga penasaran kenapa Rio tidak mau punya adik. Rio tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya.
"Bukankah jika Rio punya adik maka Rio akan ada teman bermain lagi," kata Rita.
Rio yang tidak mau mendengar atau ditanyakan tentang adik lagi, Rio memilih pergi.
"Rio mau kemana?" tanya Rita saat Rio bangkit.
"Liyo mau tidur Nek. Liyo apek," jawab Rio bagaikan habis kerja lembur.
Rita tidak menahan kepergian Rio karena Rio memang butuh waktu sendiri. Rita percaya jika Rio pasti akan cepat berubah pikiran.
Bersambung….
Rekomendasi novel sahabat saya yang bagus sambil menunggu up saya selanjutnya ya....