
"Pa masuk ke situ yuk Pa," ajak Rafa ke rumah hantu.
"Tapi di sana ada hantu, memangnya Rafa tidak takut," kata Ryan.
"Tidak dong Pa, Rafa kan anak pemberani, tidak takut sama hantu," kata Rafa dengan sangat yakin.
"Reza juga mau Pa, Reza juga bukan penakut," sahut Reza.
"Tapi permainan itu tidak bagus buat kalian, kalian main di tempat lain aja ya," saran Dilla.
"Mommy plisss...," minta keduanya.
Dilla tak tega melihat Meraka yang meminta, tapi itu tidak baik bagi mereka.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, biar papa tanya dulu sma penjaganya apa kalian boleh ikut main," ujar Ryan.
Ryan segera mendekati para penjaga yang diikuti sama yang lainnya.
"Permisi Pak, apa anak anak bisa masuk main rumah hantu?" tanya Ryan.
"Anak anak boleh masuk asal mereka tidak takut, tapi kami tidak menyarankan mereka untuk masuk, takutnya menjadi kenangan buruk bagi anak anak," ujar Petugas tersebut.
"Horeee... Pa ayo kita masuk," ajak Rafa dan Reza bersemangat.
"Rio di sini aj...."
"Ayo Omy, Liyo atan mutul cemua moltel, hiak hiak," ujar Rio sambil memotong angin dengan pedang mainannya.
Rio memotong ucapan Dilla. Rio sekarang seolah sedang bertarung sama monster.
"Maaf Pak, sebaiknya anak anda yang kecil tidak di ajak saja karena..."
"Ayo Omy, epat macuk," Rio segera menarik Dilla.
Saran Bapak Penjaga terpotong karena Rio sudah terlanjur menarik Dilla masuk. Padahal Dilla tidak mau masuk ke sana karena dia sendiri takut sama hantu.
"Rio tunggu," panggil Ryan.
"Bagaimana ini Pak mereka telah masuk."
"Bapak jaga saja anaknya, pokoknya kami sudah mengingatkan, tiketnya 5 untuk lima orang."
Ryan segera menyerahkan tiket dan menyusul yang lain yang sudah masuk.
Dilla yang melihat Ryan segera memegang lengannya. Dilla sudah mulai gemeratan. Ryan yang melihat Dilla memegang lengannya hanya diam. Di paling depan ada Rio yang berjalan sambil mengayunkan pedangnya.
Rio saat ini sangat serius, dia melihat ke kiri dan ke kanan saat mendengar suara aneh. Di belakang Rio ada Reza dan Rafa. Reza dan Rafa saat mulai masuk tidak takut, tapi lama kelamaan mereka merasa takut.
Beberapa kali mereka terkejut dengan barang barang yang terjatuh. Reza dan Rafa mulai bergandengan tangan. Tiba tiba Rafa dan Reza merasa ada yang memegang kaki mereka, mereka melirik kebawah dengan takut takut. Mereka melihat sebuah tangan yang memegang tangan mereka.
"HUWAAA...," teriak mereka berdua.
Mereka langsung berlari ke arah jalan keluar melewati Rio. Rio hanya melihat para Abangnya lari ketakutan. Ryan segera menyusul mereka setelah melepaskan pegangan tangan Dilla. Dilla sebenarnya tidak mau lepas karena sangat takut, tapi karena juga khawatir dengan Reza dan Rafa, Dilla melepaskannya.
"Omy, tenapa cana Bang Eja cama Bang Lapa?" tanya Rio tidak mengerti.
"Abang Rafa sama Abang Reza tadi lari karena takut, apa Rio tidak takut, Mommy sudah merinding ini," ujar Dilla.
"Omy angan tatut, ada Liyo, atan Liyo hiak... biak moltelnya," ujar Rio bangga.
Dilla yang melihat betapa beraninya Rio, membuat Dilla sedikit berani. Dilla mencoba mendekati Rio, tapi Dilla merasa seperti ada yang memegang pundak Dilla.
Dengan takut takut Dilla menoleh ke belakang. Yang Dilla lihat adalah wajah dengan penuk luka dan darah serta rambut yang berantakan.
"KYAAA...," teriak Dilla dengan sangat keras.
Dilla dengan reflek menampar hantu jadi jadian itu dengan sangat keras. Dilla akhirnya terjatuh karena sangking terkejutnya. Hantu jadi jadian itu juga terjatuh karena kesandung.
Rio yang menyangka hantu itu menyerang Mommy segera menindih hantu itu yang sedang terlungkup. Rio segera menyerangnya pakai pedang.
"Lacatan celangan Liyo, ni ni ni, belaninya moltel jeyek meyelang Omy," kata Rio marah.
"Aduh, ampun sakit, sudah sudah, sakit ni," hantu jadi jadian itu mengaduh kesakitan.
Rio memukulnya dengan marah. Sedangkan hantu itu merintih kesakitan, jika dia mencoba bangun maka Rio akan loncat loncat dari atas tubuhnya.
"Lacatan, celangan Liyo, hiak hiak," ujar Rio lagi.
"Ampun dek, udah cukup."
Merasa anak yang ada di atasnya tidak mengindahkannya permintaannya. Dia mencoba minta tolong pada Dilla.
"Mbak tolongin aku," pinta hantu jadi jadian itu sudah kesakitan.
"Kyaaa... Pergi pergi," teriak Dilla.
Dilla malah menendang wajah hantu itu yang mencoba meraih kakinya. Dilla semakin bergeser kearah pojokan. Jangankan untuk membantu, Dilla yang melihat wajah hantu itu saja sudah sangat ketakutan.
Hantu itu segera memanggil bantuan untuk menolongnya melalui panggilan.
"Pak tolong aku, huwaaa, sudah jangan loncat loncat lagi," belum selesai meminta tolong tapi Rio sudah menyerangnya lagi.
Para petugas lainnya yang mendengar panggilan minta tolong serta teriakan segera masuk.
Mereka langsung menarik Rio dari atas hantu jadi jadian itu.
"Epaskan Liyo, Liyo mau celang moltel ahat," protes Rio.
"Dek sabar dek," kata Petugas lainnya.
"Eh ada Pak Polici, Pak Liyo belhacil ankap olang ahat," lapor Rio dengan hormat.
Kebetulan ada seseorang memakai kostum polisi.
"Adik sudah hebat bisa bisa menangkap penjahatnya sekarang biar Pak Polisi saja ya yang mengurusnya," kata Polisi gadungan tersebut.
"Ciap Pak polici," hormat Rio lagi.
"Cekalang mana hadiah buat Liyo," pinta Rio.
Rio segera menadahkan tangan minta hadiah. Polisi itu segera merongoh jaketnya, di dalam jaket kebetulan ada coklat.
"Ini ya hadiahnya," Polisi gadungan itu menyerahkan coklat ke Rio.
"Maacih," ucap Rio senang.
Rio segera menghampiri Dilla yang masih duduk.
"Omy lihat deh, Liyo apat hadiah dali Pak Polisi," lapor Rio.
Dilla segera mengusap kepala Rio.
"Anak Mommy pinter dan berani," ujar Dil la.
Dilla segera bangkit, kakinya masih lemas.
"Mbak baik baik saja?" tanya Petugas itu.
"Baik Pak," jawab Dilla.
"Kalau gitu mari Mbak kita keluar," ajak Petugas.
Dilla segera menarik tangan Rio. Dilla tidak tidak mau berlama lama di sini lagi.
Petugas itu segera membantu pemeran hantu itu untuk keluar. Hantu itu sudah bonyok di pukul Rio sama Dilla.
***
Ryan melihat Reza dan Rafa yang sudah ada di depan pintu keluar. Reza dan Rafa sedang mengatur nafas mereka.
"Katanya tidak takut, tapi kenapa lari sambil berteriak teriak," sindir Ryan.
"Papa tadi di dalam tu sereeem... sekali," ujar Reza.
"Iya pa, apalagi tadi ada tangan yang pegang kaki kami, ihhh... merinding," sambung Rafa.
"Kalian ini, akibat kalian lari sekarang Mommy dan Rio masih ada di dalam sana," kata Ryan.
"KYAAA...."
Mereka mendengar suara teriakan Dilla yang sangat kencang.
"Pa itu suara teriakan Mommy," ujar Reza.
Ryan ingin masuk kembali tapi di cegat sama Petugas penjaga pintu keluarga. Katanya tidak boleh masuk lewat jalan keluar. Ryan sempat marah marah takut terjadi sesuatu sama Dilla dan Rio.
"Bapak tenang aja, nanti akan ada petugas kami yang jaga dan mencari," ujar Petugas itu menenangkan.
Berapa waktu Dilla datang dengan Rio di dalam gendongannya.
"Kalian tidak apa apa?" tanya Ryan khawatir.
"Kami tidak apa apa, tapi...."
"Mereka baik baik saja, malah yang menyamar jadi hantu yang terluka," potong Petugas.
"Kami permisi ya, mau merawat dia duku," setelah berujar begitu mereka segera pergi.
Dila segera menceritakan apa yang terjadi di dalam. Mereka semua memuji Rio yang pemberani, bisa menjaga Mommy dengan baik.
Bersambung....