
Saat kembali ke rumah, Rio nampak sekali berbeda saat dia pergi tadi pagi. Sekarang Rio sudah ceria seperti semula. Rita dan Aditya senang melihat perubahan seperti sekarang. Saat Aditya dan Jelita bertanya kenapa Rio bisa senang seperti itu, Dilla menjawab mungkin karena Rio bosan di rumah.
Seperti biasanya setelah selesai makan malam, mereka kembali duduk di ruang keluarga untuk menikmati momen kebersamaan. Ryan, Dafa dan Aditya sedang membahas tentang masalah perusahaan. Lisa dan Rita membahas tentang fashion yang baru saja keluar. Rafa dan Reza sedang bermain mainan baru. Sedangkan Rio duduk di pangkuan Dilla sambil memainkan rambut Dilla.
"Omy," panggil Rio.
"Iya sayang," jawab Dilla.
"Omy, tapan Liyo unya adik?" tanya Rio masih memainkan rambut Dilla.
Semua yang ada di sana seketika menoleh ke arah Rio saat mendengar pertanyaan Rio. Dilla juga ikut terkejut mendengar pertanyaan Rio. Mereka tidak tahu kenapa Rio bisa berubah pikiran secepat itu. Padahal tadi pagi Rio menolak membahas soal adik. Tapi belum mencapai dua puluh empat jam, Rio sudah berubah pikiran.
"Apa Rio sudah mau mempunyai adik?" tanya Rita penasaran.
Ryan segera bangun dari tempat duduk yang di dekat Dafa, kemudian berpindah duduk di samping Dilla dan Rio.
"Apa Rio mau punya adik?" tanya Ryan sekali lagi dengan harap-harap cemas.
Rio menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Iya Pa, Liyo mau unya adik," jawab Rio yakin.
Mendengar jawaban Rio, wajah Ryan seketika berseri-seri. Yang lainnya juga ikut bersyukur jika Rio sudah mau berubah pikiran.
"Tapi kenapa Rio berubah pikiran?" tanya Dilla penasaran.
Ryan segera seketika melihat langsung ke arah Dilla saat Dilla bertanya seperti itu. Tapi Ryan juga penasaran kenapa Rio bisa berubah pikiran dengan cepat.
"Omy, adi Liyo liyat adik tecil, cetil cetali. Angan na uga tecil dan yembyut. Dan dia milip cama Mama na. Adi Liyo uga mau unya adik yang milip cama Omy," jawab Rio.
Dilla, Ryan dan lainnya heran mendengar jawaban Rio. Rio ingin punya adik supaya mirip sama Dilla.
"Jadi Rio mau punya adik yang mirip sama Mama?" tanya Dilla tidak yakin.
"Memangnya kenapa adik Rio harus mirip sama Mama. Nanti bisa saja jika adik Rio mirip sama Papa?" tanya Ryan selanjutnya.
"Iya Omy, talau adik Liyo milip Cama Omy, adik Liyo anti na lutu dan celu cepelti Omy," sahut Rio.
'Jadi selama ini Rio menganggap aku lucu ya. Tapi lucu dari mana?' batin Dilla bertanya.
"Tan Liyo cayang cama Omy. Talau adik Liyo milip cama Omy anti Liyo atan tambah cayang cama adik Liyo," ucap Rio.
"Jadi kalau misalnya adik Rio tidak mirip sama Mama, maka Rio tidak mau begitu?" tanya Dilla lagi.
Rio memajukan bibirnya mendengar pertanyaan Dilla. Rio sangat ingin adik versi Dilla.
"Api Liyo mau unya adik yang milip cama Omy," kata Rio masih cemberut.
Ryan yang tadinya sudah senang mendengar permintaan Rio mau punya adik sangat senang. Tetapi kesenangannya langsung terbanting saat Rio ingin adik yang mirip sama Dilla. Bagaimana nanti jika anaknya dan Dilla tidak mirip sama Dilla, takutnya masalahnya semakin repot.
"Jadi seandainya nanti Rio punya adik dan adiknya tidak mirip dengan Omy, apa Rio tidak mau menyayangi Adik Rio?" tanya Dilla sekali lagi.
"Apa artinya Rio tidak sayang lagi sama Mama ya. Karena itu kan anak Mama juga," sambung Dilla berpura-pura sedih.
Dilla tahu jika Rio pasti akan menyukai sesuatu yang terkait dengannya. Sekarang Dilla harus bisa membuat Rio bisa menyukai hal lain-lain, tidak menyangkut dirinya selalu.
"Rio, jika Rio nanti punya adik maka Rio juga harus menyayangi adik itu. Karena itu juga adiknya Rio, jika Rio tidak menyayangi adik Rio nanti adiknya bisa nangis loh," kata Jelita mencoba menghibur Rio.
"Apa nanti Rio tega jika melihat adik Rio menangis?" tanya Rita.
Rio kembali membayangkan Vicky dan Dicky yang sedang bermain. Tadi saat bermain Rio melihat Vicky yang sedang menangis dan Dicky yang menenangkan Vicky.
"Ya sudah kalau begitu Rio tidak mau jika adik Rio tidak mirip Mama. Biar Rio tidak usah punya adik saja," kata Dafa menakuti Rio.
"Loh Addy culang, ndak bica ditu. Liyo tetap mau unya adik," tolak Rio.
"Kan Rio maunya adik yang mirip sama Mama. Mama Dilla kan tidak bisa memastikan jika adik Rio bisa mirip sama Mama atau tidak. Jadi nanti jika tidak mirip sama Mama kan Rio tidak akan menyayanginya. Lebih baik Rio tidak punya adik saja," kata Dafa santai.
Rio memajukan bibirnya lagi.
"Rio kita harus bersyukur jika kita punya adik walaupun tidak mirip sama Mama. Nanti jika Rio nakal Rio tidak ada si adik loh," kata Rafa semakin menakutin Rio.
"Iya, kalau Rio tetap menolak adik yang tidak sama dengan Mama, maka bisa-bisa kita tidak punya adik," tambah Reza.
Rio menggelengkan kepalanya dengan keras. Rio tidak mau jika dia tidak mempunyai adik.
"Ndak Omy, Liyo atan cuta adik Liyo. Liyo mau unya adik walau ndak milip cama Omy. Liyo halus unya adik," kata Rio yakin.
Senyuman Ryan kembali merekah mendengar jawaban Rio.
"Nah kan begitu lebih baik," sahut Dafa.
"Jadi Omy, dimana cala buwat adik?" tanya Rio polos.
Usapan Dilla pada rambut Rio terhenti karena mendengar pertanyaan Rio.
"Ah… itu…," kata Dilla tidak tau harus menjawab bagaimana.
"Apa Bang Eja dan juga Bang Lapa tau?" tanya Rio pada Reza dan Rafa.
"Abang Reza juga tidak tahu," jawab Reza.
"Kalau kata Daddy, jika mau adik harus dibuat dulu sama Daddy dan Mommy," jawab Rafa polos.
Seketika orang dewasa itu menatap ke arah Dafa dengan tatapan tajam, setajam pisau. Dafa segera mengangkat tangan dan menggelengkan kepalanya seolah-olah bukan dia yang mengatakannya.
"Tidak bukan aku," bela Dafa karena dia merasa terancam.
Dafa bisa mendengar alarm bahaya.
"Daddy jangan bohong loh. Daddy sendiri yang bilang sama Rafa," ucap Rafa.
Dafa rasanya ingin menutup mulut Rafa yang yang terlalu jujur. Tapi Rafa duduk sangat jauh dari posisi Dafa. Sekarang dia akan jadi samsak kesalahan.
"Adi Omy, dimana cala buwat adik Liyo," ulang Rio bertanya
"Rio, jika Rio ingin mempunyai adik maka Rio harus duduk tenang. Biar Mama dan Papa yang mengurusnya," kata Jelita memilihkan kata kata yang cocok.
Jelita tidak mau kepintaran mereka semakin membuat mereka penasaran.
"Rio mau itut," kata Rio cemberut.
"Rio dulu kan pernah lihat Mama membuat kue. Apakah Rio tau bagaimana nasip kue itu? tanya Jelita.
Dulu Jelita sempat melihat saat Rio mengganggu Dilla yang sedang membuat biskuit.
"Tuwe na abis Liyo matan," kata Rio sambil tersenyum karena Rio masih ingat kejadian itu.
"Nah begitu juga kalau Rio ikut sama Papa dan Mama. Nanti adiknya bisa tidak jadi," kata Jelita menjelaskan.
Wajah Rio tiba-tiba berubah menjadi terkejut tanpa bisa ditutupi. Mereka penasaran kenapa Rio bisa terkejut seperti itu
"Adi talau Rio itut, apa Liyo atan matan cemua adik Liyo," ujar Rio sambil memegang kedua pipinya tidak percaya.
Semua orang di situ tertawa mendengar pernyataan Rio, termasuk Reza dan Rafa walaupun mereka tidak tahu sepenuhnya paham.
"Maksudnya Mommy bukan begitu," sanggah Jelita sambil menahan tawa.
"Adi Liyo boyeh liyat cala buwat adik? Ciapa tau Liyo uga bica buwat adik" kata Rio yakin.
Tawa mereka seketika berhenti. Sekarang giliran mereka yang menatap Rio terkejut dan horor. Masak anak umur tiga tahun lebih sudah mau membuat adik.
Bersambung....