Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 180. Ketemu



"Apa yang Rio lakukan?" tanya Dilla yang melihat Rio sedang mengeledah tas punggung kecil dia.


"Ini Omy, Liyo cedang cali aphe unya Omy," jawab Rio masih mencari. 


"HP?" tanya Dilla tidak paham. 


"Iya Omy, aphe unya Omy," sahut Rio dengan mengeluarkan HP yang sudah dia temukan.


Dilla segera meraih HP miliknya. Dila tidak menyangka jika Rio membawa HP dia. Jika dari awal Dilla tahu, Dilla sudah menelepon Ryan.


"Kenapa Rio tidak bilang sama Mama jika Rio ada bawa HP punya Mama?" tanya Dilla.


"Tenapa Omy ndak anya cama Liyo. Talau Omy anya pahti Liyo ilang Omy," sahut Rio polos.


"Mama kan tidak tahu jika Rio membawa HP punya Mama. Jika Mama tahu pasti akan Mama minta," ujar Rio.


"Itu tan aphe unya Omy. Tenapa alus minta?" tanya Rio.


Dilla menyerah. Sekarang bukan saatnya meluruskan pembicaraan sama Rio. Dilla mencoba menghidupkan HP tersebut. Setelah berusaha tetapi HP masih sajatidak menyala.


"Kenapa  dengan HP ini? Kenapa tidak menyala?" guman Dilla.


"Aphe unya Omy, mati Omy," sahut Rio. 


"Iya sayang. Omy tahu, HP Omy mati tapi apa rusak ya?" 


"Omy, aphe nya mati," lapor Rio lagi.


"Maksud Rio habis baterai ya?" tanya Rio.


"Iya Omy," Rio membenarkan perkataan Dilla. 


"Aduh bagaimana ini. Jika ada baterai bisa menelepon mas Ryan."


Lala dari tadi melihat interaksi antara Dilla dan Rio. Lala segera beranjak dari ayunan dan mendekati Dilla, begitu pula dengan Sam mengikuti langkah Lala. 


"Ante mau cas aphe ya?" tanya Lala. 


"Iya sayang. Tetapi jika masuk nanti ketemu sama mama Bella. Mama Bella kan sedang bicara sama om Daniel. Tidak enak jika diganggu," sahut Dilla.


"Bial Lala cas Ante," kata Lala.


Lala mengambil HP Dilla. Lala membawa masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Rio dan Sam mengikuti Lala masuk. Dilla mengikuti dari belakang. Dilla tidak mau terjadi sesuatu sama mereka. 


Lala yang sudah sering bermain dengan HP milik Bella sudah tahu cara cas HP. Lala meraih charge dan memasukkan ke lobang cas. Kemudian Lala menaruh di atas meja.


Rio mendekati Lala dan meraih HP tersebut. Rio mencoba menyalakan HP.


"Kalian jangan main di sini. Kita main di luar saja. Nanti mengganggu om sama tante yang lagi bicara. Ayo kita keluar," ajak Dilla.


Mereka meninggalkan HP dengan keadaan hp yang telah hidup. 


***


Pada kediaman Suherman yang sedang mengkhawatirkan keberadaan Rio dan Dilla yang masih menghilang. Rita yang terlalu banyak pikiran membuat dia jatuh sakit. Mereka sudah mencoba menyenangkan Rita tetapi Rita masih saja berpikiran. 


Drttt… drttt… drttt….


Suara HP miliki Ryan berbunyi. Ryan mengeluarkan HP dan melihat siapa yang menelepon dia.


"Siapa Ryan?" tanya Rita dengan lemah. 


"Ini dari kantor polisi Ma," sahut Ryan.


"Ayo Ryan. Cepat diangkat. Siapa tahu mereka ada kabar terbaru dari Dilla dan Rio," suruh Rita.


"Iya Ma." 


Ryan menekan tombol hijau dan meletakkan HP di telinga kanannya.


"Halo Pak," jawab Ryan.


"Siang Pak Ryan. Kami mau mengabari kalau barusan kami mendapatkan koordinat titik GPS HP milik istri Bapak," beritahu polisi.


"Yang benar Pak?" tanya Ryan senang.


"Iya Pak. Titik koordinat berada di daerah perkampungan." 


"Apa Bapak yakin?"


"Iya Pak. Sebaiknya kita segera berangkat ke sana. Kita harus mengecek segera sebelum titik koordinat berubah."


"Baik Pak. Bapak tunggu saya dulu. Kami akan segera berangkat ke sana.'


"Baik Pak, kami akan menunggu Bapak."


Ryan menutup telepon.


"Apa yang terjadi Ryan. Apa Polisi mengabari hal baik," tebak aditya.


"Iya Pa. Polisi baru saja mendapat koordinat HP milik Dilla. Semoga saja kita bisa menemukan Rio. Dan semoga Dilla juga bersama Rio," sahut Ryan.


Rita, Aditya, Jelita dan Dafa menghela nafas lega. Setidaknya ada sedikit petunjuk tentang keberadaan Rio.


"Ryan, Mama ikut ya. Mama khawatir dengan Rio," pinta Rita.


"Mama lebih baik di rumah saja. Mama sedang tidak enak badan. Biar Ryan dan Dafa yang pergi Ma," kata Aditya.


"Iya Ma. Mama berdoa saja di rumah."


"Baik Ryan. Ryan bawa pulang cucu dan menantu Mama ya Ryan.'


"Iya Ma. Ayo Dafa kita berangkat," ajak Ryan.


"Kalian berdua hati-hati."


Ryan dan Dafa segera berangkat ke kantor polisi. Mereka menaiki satu mobil berdua.


***


Mobil yang dikendarai oleh Rian sudah mulai memasuki perkampungan. Mereka terus mengikuti mobil polisi yang berada di depan sebagai penunjuk arah. Sesekali Ryan menyalip mobil polisi. Di dalam mobil Ryan harap-harap cemas.


"Ryan, kamu yang tenang bawa mobilnya. Tidak perlu mengebut. Kita tidak tahu dimana mereka," tegur Ryan. 


"Iya Dafa. Aku mencoba tidak mengebut," sahut Ryan dan menurunkan kecepatan mobil.


"Apa mau aku yang bawa mobil saja?" tawar Dafa.


"Tidak perlu Dafa. Biar aku saja," tolak Ryan. 


***


Mobil polisi dan Ryan mulai memasuki pekarangan rumah milik Bella. Ryan bisa melihat Rio yang sedang bermain di halaman rumah bersama Sam dan Lala. Mereka sedang bermain kejar-kejaran. Lebih tepatnya Sam yang mengejar Lala dan Rio yang menonton mereka. Rio tidak mau ikut bermain.


Ryan juga melihat Daniel yang ada di sana. Ryan emosi melihat Daniel.  Ryan yakin jika Daniel yang menculik Rio dan Dilla. Padahal Daniel sudah tau jika Ryan mencari Rio.


Ryan dengan cepat keluar dan membanting pintu mobil. Tanpa berkata apapun Ryan segera melayangkan tinju ke muka Daniel.


Daniel yang dari tadi berada di depan rumah kaget melihat kedatangan Ryan dan juga polisi. Daniel tidak menyangka jika Ryan bisa menemukan mereka. Daniel yang tidak siap menerima pukulan dari Ryan terjatuh.


"Daddy!" teriak Sam yang melihat Daniel dipukul.


"Papa!" panggil Rio kaget.


Bella yang melihat Ryan memukul Daniel juga kaget. 


"Tuan, apa yang Tuan lakukan," ujar Bella.


Bella mendekati mereka. Bella ingin menyingkirkan Ryan yang menarik Daniel kembali. Ryan menepis Bella sehingga Bella mundur beberapa langkah.


Para polisi dan Dafa mencoba memisahkan Ryan dan Daniel. Tapi dengan kasar Ryan mendorong mereka dan menghajar Daniel lagi. Daniel yang tidak terima juga ikut membalas tinju Ryan.


"Apa yang kamu lakukan pada anak dan istri aku hah!" teriak Ryan dan meninju Daniel.


"Mas Ryan!" teriak Dilla yang keluar dari rumah.


Ryan mengabaikan Dilla dan terus menghajar Daniel. Bagi Ryan yang penting sekarang adalah memberikan pelajaran buat Daniel.


"Kenapa kalian diam saja. Kenapa tidak memisahkan mereka," suruh Dila.


"Bukannya kami tidak mau memisahkan mereka, tapi Ryan dalam keadaan emosi tinggi. Ryan saat ini sedang lepas kendali. Kami kesulitan memisahkan mereka" terang Dafa.


"Dasar laki-laki pengecut," hina Dilla yang geram.


Jika Dilla tidak dalam kondisi hamil, maka dilla dengan mudah bisa memisahkan mereka. Dilla tidak mau terjadi apa-apa sama kandungan. 


Akhirnya Dilla masuk lagi ke dalam rumah dan mengambil satu baskom air. Dengan susah payah Dilla mengangkut air itu. Tanpa berkata lagi Dilla menyiram mereka hingga basah kuyup.


Byurrr….


Mereka kaget dengan apa yang dilakukan oleh Dilla, termasuk Ryan dan Daniel. Perbuatan Dilla berhasil membuat mereka berhenti berkelahi.


"Say.... "


"Apa?" sahut Dilla judes.


Bersambung….


Rekomendasi novel keren karya teman saya sambil menunggu up selanjutnya.