Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 7. Masa Lalu



"Oleh karena itu, maka saya ingin kamu yang menggantikan kerjaan Sinta sebagai babysitter Reza dan Rio. Bagaimana menurutmu?" tanya Rita.


Dilla tidak ingin menjawab, dia masih ingin mendengar apa yang ingin Rita katakan. Bagi Dilla tidak masalah dia dikasih kerja apa, asal dia masih tetap dipekerjakan dan digaji. Apalagi Dilla yang pada dasarnya suka sekali sama anak kecil.


"Kamu tenang aja, bagian bersih-bersih saya akan mencarikan orang yang baru, dari tempat penyediaan pembantu profesional kemarin. Sekalian saya juga ingin mencarikan perawat baru bagi anak saya, Ryan," tambah Rita.


Ryan adalah anak semata wayang Rita dan suaminya. Ryan berusia 31 Tahun.


Rita berhenti bicara sebentar, dia menenguk teh yang telah tersedia di meja depannya. Sedangkan Dilla masih menyimak pembicaraan majikannya.


"Dilla saya boleh cerita sesuatu sama kamu?" tanya Rita.


Dilla yang tidak tau harus menjawab apa, jadi dia hanya menganggukkan kepala.


"Apa kamu pernah melihat anak saya, Ryan?" tanya Rita lagi.


"Tidak Nyonya," jawab Dilla sopan.


Dilla yang memang sudah sebulan lebih bekerja di sana memang belum pernah sekalipun dia melihat anak majikannya. Kalau sama suami Nyonya Rita pernah beberapa kali bertemu, suami Nyonya Rita orangnya super sibuk, jarang sekali di rumah. Kalau tiba di rumah pun hanya sebentar saja. Sifatnya menurut Dilla sangat mirip dengan Tuan Muda Reza.


'Apa Tuan pergi keluar kota ya. Tapi kok lama sekali tidak balik-balik, tidak pernah pulang. Kasian Tuan Muda ditinggal lama,' batin Dilla.


Rita melihat sekilas kearah Dilla, kemudian melihat ke arah luar rumah dari kaca jendela dan melanjutkan pembicaraannya yang sempat terhenti.


"Sebenarnya anak saya ada di rumah ini, mungkin kamu tidak pernah melihat Ryan anak saya. Dia sudah dua tahun di dalam kamar terus, sangat jarang untuk keluar dari kamarnya. Karena semenjak kecelakaan itu, dia menjadi lumpuh dan tidak bisa berjalan sampai sekarang," cerita Rita.


Dengan raut sedih Rita tetap menceritakan keadaan anaknya.


"Kamu tau, lebih dari 2 tahun lalu, anak saya Ryan dan menantu saya Riana mengalami kecelakaan?" tanya Rita.


"Iya Nyonya."


"Kamu pasti belum dengar cerita lengkapnya kan?" Rita menunggu respon dari Dilla.


Dilla hanya menggelengkan kepala, karena dia hanya mendengar cerita sekilas dari bi Imah. Itupun karena bi Imah yang bercerita tanpa sadar.


"Pasti kamu tau dari Bi Imah ya," kekeh Rita.


Dilla menganggukkan kepalanya lagi membenarkan perkataan Rita.


"Sudahlah, mari kita lanjutkan ceritanya."


"Saat itu umur Reza baru sekitar empat tahun, dia tidak ikut Mama dan Papanya. Karena pada saat itu kebetulan saya dan suami saya mengajak Reza pergi keluar kota. Ryan dan Riana pergi ke sebuah pesta pembukaan salah satu kantor cabang yang baru, saat itu pun Riana sedang hamil 8 bulan. Pada perjalanan pulang cuaca sedang tidak dalam keadaan bagus, saat itu sedang ada badai petir dan angin yang kencang. Sehingga mobil yang mereka naiki hilang kendali dan terjadilah kecelakaan itu."


Rita berhenti sejenak, baru kemudian melanjutkan ceritanya.


"Pada saat kecelakaan saya beserta suami saya dan Reza baru sampai di rumah. Kami mendapat telepon dari pihak polisi dan rumah sakit. Reza saya titipkan sama Bi Imah dulu karena sudah tertidur dan tidak mungkin saya mengajak Reza melihat orang tuanya mengalami kecelakaan. Setelah saya dan suami saya sampai di rumah sakit, Riana sudah tidak bisa di selamatkan lagi, sedangkan anak saya koma. Untungnya Rio masih bisa diselamatkan dengan cara cesar. Karena Rio lahir secara prematur dia sempat dirawat di rumah sakit selama sebulan. Setelah Dokter mengecek keadaan Rio yang mulai membaik, baru Rio diperbolehkan untuk dibawa pulang kerumah."


Rita membayangkan lagi kejadian dua tahun silam yang merubah keluarganya.


"Keadaan Ryan anak saya koma 2 bulan. Saat Ryan koma yang menjaga Rio adalah saya, suami saya,Reza dan pembantu yang lain. Kalau keluarga Riana dia hanya memiliki seorang adik yang kuliah di luar negeri. Kami memberitahukannya, tapi karena mendadak pemberitahuannya dia tidak sempat pulang saat itu juga. Dua minggu kemudian, Lisa adik Riana tiba di rumah dan sebulan kemudian dia harus balik lagi ke luar negeri karena harus lanjut kuliah."


Rita berhenti bicara lagi, Rita menghela nafas yang tertahan di dalam rongga hati dan melanjutkan ceritanya kembali.


"Setelah Ryan sadar dia begitu histeris dan menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan dia tidak sempat melihat istrinya dikebumikan untuk terakhir kalinya. Dokter juga mengatakan akibat kecelakaan anak saya menjadi lumpuh untuk sementara. Sebenarnya Ryan masih bisa berjalan normal lagi, tapi dia tidak mau ikut terapi. Ryan masih menyalahkan dirinya sendiri atas kehilangan istri yang sangat ia cintai. Berbagai cara saya dan suami saya lakukan, tetapi Ryan tetap tidak mau terapi sampai sekarang. Ryan hanya duduk diatas kursi roda di kamarnya dan sekali-kali hanya keluar di daerah balkon kamarnya. Bahkan Ryan tidak mau menemui Rio sampai sekarang karena masih merasa bersalah," Rita mengakhiri ceritanya.


Rita menyelesaikan ceritanya dengan raut wajah yang terluka. Sedangkan Dilla tidak tau harus menanggapi seperti apa. Dilla bahkan tidak menduga kalau majikannya akan menceritakan kehidupan pribadi secara detail pada Dilla.


"Kamu tidak usah memberikan respon apapun. Saya hanya perlu teman cerita saja," ucap Rita lagi saat melihat raut wajah kebingungan Dilla.


Rita meletakkan kembali gelas teh yang dia minum.


"Tapi kenapa Nyonya bercerita kepada saya. Padahal saya orang baru di sini Nyonya," Dilla sungguh bingung.


"Saya bercerita sama kamu, karena saya percaya sama kamu. Saya percaya kamu anak yang baik," Rita berkata sambil tersenyum.


"Terima kasih Nyonya," Dilla juga ikut tersenyum karena Majikannya mempercayainya.


"Jadi inti dari saya bercerita ini adalah saya ingin kamu membantu saya."


"Saya Nyonya? tapi apa yang dapat saya bantu Nyonya. Saya hanyalah gadis yang datang dari kampung."


Rita ketawa kecil mendengar jawaban Dilla yang ragu-ragu.


"Kamu memang seorang gadis yang datang dari kampung. Tapi kamu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki sama gadis di kota. Kamu memiliki perasaan yang tulus, saya melihat sendiri tadi siang saat kamu menimang dan memberi makan Rio. Bahkan dari yang saya lihat kamu seperti menganggap Rio anak sendiri," canda Rita.


"Karena pada dasarnya saya memang menyukai anak kecil Nyonya dan saya juga memiliki dua orang adik di kampung, mungkin sudah kebiasaan saya Nyonya," ucap Dilla.


Rita yang mendengar pengakuan Dilla tersenyum lembut, sekarang dia makin yakin Dilla dapat membantu Rita agar keluarganya menjadi hangat kembali seperti dulu, saat Riana masih ada.


Bersambung....