Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 34. UGD



"MOMMYYY...."


Teriakan Rafa dan Reza mengalihkan perhatian Ryan ke tempat Dilla tadi berada. Ryan mencari keberadaan Dilla tapi tak ada. Reza dan Rafa kini tambah menangis keras dengan Rio dalam dekapan mereka.


"Pa hiks... Mommy hiks... Pa," Reza meminta tolong ke Ryan.


Ryan menyadari bahwa Dilla masih di kolam dan dari reaksi anak-anak pasti terjadi hal buruk pada Dilla.


Ryan terus berusaha bergerak tapi kaki tidak bisa diajak kompromi. Ryan tetap berusaha berdiri.


"MOMMY hiks hiks...."


"Omyyy...," dengan suara lemah Rio memanggil Dilla.


Walaupun lemah Rio tau apa yang terjadi. Rio juga ikut menangis tanpa mengeluarkan suara.


"Pa, Mommy Pa hiks hiks...."


Ryan merasa dirinya tidak berguna, dengan berlahan Ryan berdiri tapi baru dua langkah, langkah dia kembali rubuh dan jatuh.


"MOMMYYY...."


Di dalam air Dilla begitu tenang tak bergerak, Dilla sudah terletak di dasar kolam.


***


Dafa, Aditya dan Rita baru saja sampai di rumah. Mereka tengah membicarakan tentang rapat tadi yang sedang berlangsung. Saat berada di ruang keluarga mereka mendengar teriakan Rafa dan Reza.


"MOMMYYY...."


"Pa ada apa di sana. Kenapa Rafa dan Reza berteriak memanggil Dilla begitu keras," panik Rita.


"Papa juga tidak tau Ma. Ayo kita susul, dari suara mereka, mereka berada di kolam renang," ujar Aditya.


Dengan terburu-buru mereka bertiga langsung lari ke arah suara Rafa dan Reza. Saat tiba di kolam mereka bertiga kaget melihat apa yang sedang terjadi.


Byurrr....


Terdengar suara seseorang masuk ke dalam kolam renang. Orang itu berenang secepat kilat menuju ke arah Dilla. Dia mengangkat tubuh Dilla yang sudah tak berdaya dari dasar kolam menuju permukaan kolam.


"Ya ampun Rafa, Reza apa yang terjadi sayang," kaget Rita.


Mereka melihat Reza dan Rafa yang menangis keras dengan Rio yang tergeletak di gendongan mereka dengan keadaan yang begitu mengkhawatirkan, membuat mereka bertambah panik.


"Hah... hah... hah...."


"Ya ampun Dilla, Dafa ayo bantu Ryan menaikan Dilla ke atas. Pa cepat panggil ambulan," suruh Rita kepada sang suami.


"Iya Ma," dengan panik Aditya segera menelpon ambulan.


Dafa membantu menaikan tubuh Dilla dan segera melakukan pertolongan pertama dengan menekan dada Dilla. Sedangkan Rita membantu Ryan naik.


Dafa terus menekan dada Dilla.


"MOMMYYY hiks... hiks...."


"Udah ya sayang jangan nangis lagi," Rita mencoba menenangkan cucu-cucunya dan segera mengendong tubuh Rio yang lemas.


"Dafa hah... hah... bagaimana dengan Dilla hah... hah...," diantara capek Ryan menanyakan keadaan Dilla.


"Nafas Dilla sangat lemah," ujar Dafa.


Dafa terus mencoba menekan dada Dilla. Ryan juga ikut membantu. Setelah sekian lama baru Dilla terbatuk-batuk mengeluarkan air.


"Syukurlah dia sudah mengeluarkan air. Tapi nadinya makin melemah," ucap Dafa.


"Ma mobil ambulan akan segera tiba," beritahu Aditya.


"Dafa ayo cepat bawa Dilla," kata Ryan.


Tanpa berkata lagi Dafa mengendong Dilla menuju ambulan.


"Ryan kaki kamu," diantara panik Rita baru menyadari kalau Ryan sudah bisa berjalan.


"Ma nanti Ryan jelaskan. Sekarang Ryan harus membawa Dilla dan Rio ke rumah sakit dulu. Mama di sini saja jagain Reza dan Rafa," tanpa menunggu jawaban Rita, Ryan langsung pergi dengan membawa Rio.


"Nenek kami mau ikut hiks... hiks..."


"Kalian di sini aja dulu ya sama Nenek."


"Tidak Nek, kami mau ikut juga hiks... hiks...," disela tangis mereka tetap mau minta ikut.


"Ya sudah nanti kita susul mereka ya, sekarang kita siapkan barang-barang dulu baru ke rumah sakit ya," ujar Rita.


"Baik Nek," sahut mereka.


***


"Dafa kamu sama Papa pergi dengan mobil saja ya, biar aku yang jaga Dilla. Sekalian kita juga harus membawa Rio ke rumah sakit," kata Ryan.


"Baiklah, hati-hati ya. Kami akan menyusul dari belakang," jawab Ryan.


Dafa bisa melihat kondisi Rio yang juga melemah. Dafa dan Aditya masuk ke mobil mengikuti mobil ambulan yang ada di depan.


***


Saat tiba di rumah sakit Dilla langsung digotong ke ruang UGD, begitu pula dengan Rio.


"Ryan bagaimana Dilla sama Rio?" tanya Aditya.


"Mereka masih di dalam Pa," Ryan mengusap kedua telapak tangan di wajahnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi sih, Ryan?" tanya Dafa.


"Ceritanya panjang nanti aku jelaskan. Sekarang kita fokus dulu dengan keadaan Dilla dan Rio," ujar Ryan cemas dengan keadaan anaknya dan Dilla.


"Terus bagaimana dengan kakimu?" tanya Dafa lagi.


"Kaki?" tanya Ryan tidak paham.


"Apa kamu belum sadar, kalau kamu sudah bisa berjalan," ujar Dafa.


Ryan saking panik tidak ingat dengan keadaan tubuh sendiri. Ryan bahkan tidak menyadari kalau dia sudah bisa berjalan.


"Ah itu...."


Ryan ingin menjawab tapi pintu masuk UGD sudah di buka.


"Dok bagaimana keadaan mereka?" tanya mereka bertiga barengan.


"Kalau boleh tau siapa Ayah dan suaminya ya?" tanya dokter balik ingin mengetahui keluarga dekat pasien.


"Saya Papanya," jawab Ryan cepat.


"Saya Kakeknya," jawab Aditya.


"Saya Pamannya," sahur Dafa juga.


Mereka jawab berbarengan..


'Sungguh keluarga yang kompak,' batin sang dokter.


"Baiklah kalau begitu, keadaan anak anda baik baik saja, walaupun masih lemas semuanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar sang dokter.


Mereka menghela nafas barengan.


"Tapi beda halnya dengan istri anda," tambah dokter.


"Dok dia buka sua...," Dafa ingin menjawab bahwa Dilla bukan istri Ryan tapi sudah dipotong sana Aditya.


"Bagaimana dengan keadaan Dilla?" tanya Aditya.


'Jadi namanya Dilla.'


"Keadaan Nona Dilla kurang baik, seperti sebelum dia tenggelam dia terjatuh terlebih dahulu. Dahi, lengan dan lutut dia terluka dan lukanya masih basah," terang sang dokter.


"Iya Dok, sebelum Dilla menolong Rio, Dilla tersandung dulu sehingga dia jatuh dan terluka," sahut Ryan.


"Sebenarnya apa yang terjadi sih, Ryan?" Aditya ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Tadi Rio, Reza dan Rafa sedang berenang, tapi karena Rio belum bisa berenang Dilla mengajarkan Rio dulu. Karena sudah lama mereka berada di kolam Dilla bilang sudah cukup untuk berenang. Dilla menyuruh mereka agar jangan mendekati kolam renang karena Dilla mau mengambil handuk yang tertinggal di dalam. Reza dan Rafa ingin menghampiri Ryan tapi beda dengan Rio. Rio dengan sengaja mencebur diri sendiri ke kolam karena penasaran. Alhasil karena Rio belum bisa berenang Rio tenggelam."


Ryan berhenti sejenak.


"Ryan ingin menolong Rio, karena keadaan Ryan, Ryan tidak bisa berdiri, Ryan tidak bisa menolong Rio. Kemudian Dilla datang dengan terburu-buru sehingga dia jatuh tersungkur dan kemudian langsung menolong Rio. Tapi sepertinya Dilla pingsan setelah menolong Rio. Setelah itu kalian datang saat Ryan sedang menolong Dilla,"  Ryan mengakhiri ceritanya.


Walaupun ada yang tidak nyambung, dokter bisa menarik kesimpulan tentang pasiennya.


"Jadi karena Dilla terjatuh maka ada sedikit masalah di kepala dia. Semoga aja Dilla bisa segera sadar. Kami akan segera membawa Dilla dan Rio ke ruang rawat inap. Kalian bisa segera mengurus administrasinya terlebih dahulu," ucap sang dokter.


"Dok tolong tempati mereka berdua di satu ruangan yang terbaik," ujar Aditya.


"Baik, kalau gitu saya permisi dulu," pamit dokter.


"Terima kasih Dokter," ujar Ryan.


"Sama-sama."


Dokter meninggalkan mereka, Dafa langsung pergi mengurus adminstrasi tanpa disuruh. Aditya dan Ryan menunggu proses pemindahan Rio dan Dilla.


Bersambung....