Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 119. Malu 3



Setelah usai sarapan pagi Ryan mengajak Rita dan Aditya untuk berbicara. Mereka berbicara di ruang kerja Ryan.


"Apa yang kamu ingin bicarakan?" Aditya. 


Ryan menatap kedua orang tuanya dengan serius. 


"Ma, Pa, Ryan ingin Mama dan Papa melamar Dilla untuk Ryan," kara Ryan mantap. 


Rita dan Aditya terkejut mendengar permintaan Ryan. 


"Apa maksud dengan permintaan kamu ini Ryan?" tanya Aditya. 


"Ryan, Mama setuju jika kamu menikah dengan Dilla karena dia sudah sangat berjasa bagi keluarga kita. Dia juga gadis yang baik dan bisa merawat Rio dan Reza dengan baik. Tapi apakah kamu mencintai Dillla?" Rita kurang yakin jika Ryan sudah bisa melupakan Riana. 


Rita tidak mau jika nanti Dilla kecewa gara-gara Ryan tidak bisa mencintai Dilla. 


"Iya Ma, sekarang Ryan sudah sangat yakin jika Ryan mencintai Dilla. Selama ini Ryan hanya menyakinkan diri sendiri untuk tidak menerima kehadiran dan mencintai Dilla karena Ryan masih terbayang janji Ryan sama Riana. Semalam Riana hadir di dalam mimpi Ryan. Dia menyuruh Ryan untuk melanjutkan hidup Ryan karena janji yang kami buat sudah berakhir. Riana ingin Ryan dan anak-anak Ryan hidup berbahagia." 


Rita dan Aditya saling berpandangan. Mereka bersyukur jika Ryan mau menikah lagi dan sudah bisa melupakan Riana. 


"Jika itu yang ingin kamu minta, Papa tidak masalah. Kita juga sudah mengenal dan dekat sama Dilla. Dilla pasti menjadi Ibu sambung yang bisa menjaga Rio dan Reza yang baik." 


"Terima kasih Pa, Ma." 


"Sekarang kamu ingin kapan kita melamar Dilla?" tanya Aditya. 


"Ryan ingin besok kita melamar Dilla," jawab Ryan yakin. 


Aditya dan Rita kembali terkejut mendengar jawaban Ryan. 


"Kenapa kamu terburu-buru sekali Ryan?" tanya Aditya lagi. 


"Kemarin Ryan telah berjumpa sama Paman Dilla. Paman Dilla memberikan waktu satu minggu untuk memikirkan apa Ryan mau melamar Dilla atau tidak. Karena Ryan sudah mendapatkan jawaban dan sudah sangat yakin sekarang maka apa salahnya jika kita segera ke rumah Dilla."


Rita dan Aditya menganggukan kepala atas pernyataan Ryan. Mereka tidak masalah jika besok langsung melamar Dilla.


"Kalau begitu nanti Mama akan meminta Jelita untuk menemani Mama menyiapkan seserahan untuk melamar Dilla."


***


"Mbak Dilla, Budi dan Yudi pamit bermain keluar ya. Kami mau bermain di kampung sebelah," ujar Budi.


"Rio, Reza dan Rafa mana, apa mereka tidak ikut sama kalian?"


"Mereka tidur kembali Mbak. Mungkin mereka masih capek bermain kemarin." 


"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati di jalan. Mainnya jangan kelamaan." 


Setelah menutup pintu tanpa menguncinya, Dilla masuk ke dalam kamar, Dilla melihat Reza, Rio dan Rafa yang tidur sedang tertidur. Dilla membetulkan cara tidur mereka yang tidak tentu arah. Dilla memperhatikan mereka yang tertidur, lama kelamaan mata Dilla juga mengantuk. 


"Mungkin tidur sebentar tidak masalah," ujar Dilla pada diri sendiri. 


Dilla juga ikut berbaring di samping mereka bertiga.


Tok tok tok


Dilla membuka mata saat mendengar suara ketukan pintu, dia merasa terusik. Dilla melirik ke arah jam, ternyata dia tertidur hampir satu jam.


Tok tok tok


Suara ketukan kembali terdengar. 


"Itu pasti Budi dan Yudi yang pulang bermain. Kenapa mereka tidak masuk terus sih. Kenapa harus mengetuk pintu segala. Padahal pintunya tidak terkunci."


Tok tok tok


Dilla menuju ke pintu dengan baju yang acak-acakan, rambut yang berantakan, muka habis bangun dan di pinggir bibirnya juga masih ada bekas air liur.


 Dilla membuka pintunya dengan menguap sebesar-besarnya dan mengaruk kepala yang terasa gatal. 


"Kenapa kalian tidak buka pintu sendi…," ucapan Dilla terhenti.


Dilla melihat ternyata bukan Yudi dan Budi yang ada di depan pintu rumah. Yang ada di depan pintu rumah adalah Ryan, Aditya, Rita, Jelita dan Dafa. Jelita kaget dengan kedatangan mereka berlima. Dilla segera mengusap air liur yang ada di pipi dan merapikan rambutnya secepat kilat menggunakan tangan. Dilla merasa malu dengan keadaannya saat ini.


Mereka berlima tertawa kecil melihat penampilan dan reaksi Dilla.


"Bukannya Tuan bilang seminggu lagi baru akan kembali, ini baru dua hari?" tanya Dilla.


Dilla sangat terkejut dengan perkataan Rita. Sungguh Dilla tidak menyangka saat ada yang melamar dia, dia dalam kondisi yang sangat mengenaskan dengan rambut yang acak-acakan dan muka yang masih ada air liur. Dilla rasanya ingin bersembunyi di lubang tikus.


"Kyaaa," teriak Dilla keras sambil berlari dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah.


Mereka berlima kaget dengan teriakan Dilla. 


"Apa yang kamu tunggu, sana kau kejar Dilla," suruh Aditya. 


Ryan segera mengajar Dilla, dia sudah lama tidak berlarian.


 Rio, Reza dan Rafa terbangun karena suara teriakan Dilla yang menggema. Mereka bertiga keluar dari kamarcdan melihat yang lainnya. 


"Lho kok ada Nenek, Kakek dan lainnya di sini?" tanya Reza. 


"Mommy juga ikut," sambung Rafa.


"Omy mana?" tanya Rio sambil mengucek mata. 


Rita hanya tersenyum mendengar pernyataan mereka.


"Mommy dan Daddy ke sini bukan jemput Rafa kan?, Rafa tidak mau pulang jika Rio dan Reza tidak ikut pulang," Klkata Rafa.


"Liyo ndak mau puyang. Liyo mau cama Omy di cini."


"Reza juga tidak mau pulang kalau Mommy tidak ikut pulang."


"Jadi jika Mommy pulang ke rumah kita baru kalian mau pulang?" tanya Rita.


"Hem hem," cuman mereka kompak.


Mereka kembali tertawa melihat tingkah lucu trio R.


"Permisi, ada apa ya bertamu ke rumah kami?" tanya Abdul.


"Perkenalkan saya Aditya dan ini istri saya Rita, Rafa dan juga jelita," ucap Aditya.


"Ayah ini bagaimana sih, ada tamu tidak disuruh masuk dulu. Ayo semuanya masuk," ajak Marni.


Marni menyuruh mereka untuk segera masuk ke dalam rumah. Mereka berempat masuk ke dalam rumah setelah dipersilahkan. 


"Jadi apa maksud kedatangan Bapak dan Ibu kemari?" tanya Abdul.


Abdul yakin jika yang datang ke sini adalah orang kaya dilihat dari mobilnya. Abdul tidak tahu maksud kedatangan mereka kemari. Abdul melihat ke arah Dafa. Dafa hanya membalas dengan senyuman kecil. 


'Apa lelaki ini juga ingin melamar Dilla? jika dilihat-lihat mereka seperti mebawa seserahan buat lamaran,' batin Abdul. 


"Maksud kedatangan kami ke sini adalah kami ingin melamar Dilla untuk anak kami," ucap Aditya.


'Tuh kan bener, susah kalau punya anak gadis seperti Dilla, selalu banyak yang lamar.' 


"Tapi maaf Pak, Dilla sudah mempunyai pasangan, seminggu lagi dia akan datang kesini," jawab Abdul sambil melirik Dafa.


Mereka berempat ketawa kecil.


"Maaf Pak, maksud kami, kami melamar Dilla bukan untuk Dafa ini, tapi untuk Ryan. Sedangkan ini adalah sepupu Ryan dan yang di samping ini adalah istrinya Dafa, Jelita."


"Bukankah saya memberikan waktu pada Ryan untuk memikirkannya selama seminggu?" tanya Abdul. 


"Iya, Bapak memang memberikan waktu kepada anak saya selama seminggu, tapi dia dalam waktu dua hari sudah bisa menentukan pilihannya." 


Abdul menganggukkan kepalanya.


"Jadi bagaimana? apakah Bapak menerima pinangan keluarga kami?" 


"Kalau masalah itu kita tanyakan langsung kepada Dilla. Tapi tumben dia hari ini tidak ada di rumah."


"Tadi Dilla lari dari rumah karena melihat kamis datang ke sini. Mungkin dia terkejut saat dia dilamar dengan keadaan baru bangun tidur dan acak-acakan," kata Rita. 


Marni dan Abdul malu dengan apa yang dikatakan Rita. Sebelumnya Dilla tidak pernah seperti itu.


Bersambung....


Apa yang akan kalian lakukan jika berada diposisi Dilla?


Jangan lupa like, vote dan krisan supaya saya semakin bersemangat.