
Jangan lupa like dan tinggalkan komentar ya. Like dan komentar kalian sungguh berarti buat saya. Terima kasih banyak.
Selamat membaca.
***
Setelah puas berjalan-jalan, mereka akhirnya pulang kembali ke rumah. Di depan rumah Dilla bisa mengenali mobil milik Daniel. Mereka semua turun dari mobil dan mulai memasuki rumah.
'Apakah tuan Daniel sudah selesai sama keluarganya? Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar,' doa Dilla.
***
"Mama," teriak Lala dari kejauhan begitu melihat Bella ada di ruangan tamu.
Lala segera mendekat ke arah Bella. Kemudian Lala memeluk Bella dengan erat. Lala sudah kangen sama Bella. Bella juga membalas memeluk Lala.
"Lala anak Mama. Apa kamu jadi anak nakal di sini hem?" tanya Bella mencium muka Lala beberapa kali.
"Lala ndak natal Ma. Lala anak bayik. Iya tan Mais Liyo?" tanya Lala meminta dukungan Rio.
Rio tidak menjawabnya. Rio memilih diam saja.
"Mas?" tanya Bella tidak mengerti.
"Itu Mbak, Rio tidak mau Lala memanggil Rio dengan sebutan abang. Rio hanya ingin mau dipanggil abang oleh adiknya nanti. Oleh karena itu Lala memanggil Rio dengan sebutan mas," kata Dilla menjelaskan.
"Oh begitu," sahut Bella.
"Lala selama di sini tidak nakal Mbak. Lala anak yang patuh," ujar Dilla menyahut pertanyaan Lala tadi.
"Mama senang anak Mama tidak nakal," kata Bella mengusap pipi Lala.
"Ciapa ulu, Lala ditu," jawab Lala bangga.
Bella terkekeh sama jawaban Lala. Bella bisa melihat anaknya yang dipenuhi aura positif. Bella yakin jika anaknya sangat senang ada bersama Dilla. Bella sangat berterima kasih sama Dilla dan lainnya.
"Mas sudah pulang?" tanya Dilla menghampiri Ryan.
"Iya sayang. Mas pulang tadi rencananya juga mau menyusul ke rumah sakit. Tapi kata bi Imah kalian sudah pergi dari tadi. Ketika Mas mau pergi lagi ke kantor, Daniel sampai di sini. Jadi mas tidak jadi berangkat ke kantor dulu. Mas mau makan siang di rumah saja," kata Ryan sambil membantu Dilla duduk.
"Kalau begitu Mbak Bella sama Tuan Daniel makan di sini ya," ajak Dilla.
"Tidak apa-apa Dilla. Kami bisa makan di luar saja. Tidak enak mengganggu acara makan kalian lagi. Kami bahkan sudah sangat merepotkan kalian dengan menitipkan Sam dan Lala," sahut Bella sungkan.
"Tidak apa-apa kok Mbak. Dilla senang ada Lala di sini," ujar Dilla.
"Iya, kalian makan di sini saja. Tante tidak mau ada penolakan," sambung Rita tegas.
"Baik Tante," sahut Danie dan Bella tidak enak.
"Jadi bagaimana urusan kalian sama orang tua Daniel?" tanya Ryan.
"Hubungan kami tidak direstui oleh Mama aku Ryan," jawab Daniel.
"Terus bagaimana hubungan kamu dan Bella selanjutnya?"
"Kami akan tetap menikah walaupun tanpa restu orang tua," ucap Daniel yakin.
"Tapi, apa tidak apa-apa itu Daniel?" tanya Dilla kasihan.
"Tidak apa-apa Dilla. udah cukup selama ini Daniel mengikuti semua permintaan Mama saya. Kali ini saya ingin memilih jalan hidup sendiri," sahut Daniel sedikit berat. Masih ada rasa yang mengganjal di hati Danie.
"Jadi anak laki-laki memang harus bisa memimpin jalan sendiri. Jangan mau terlalu diarahkan semuanya orang tua. Nanti bagaimana kamu bisa menjadi kepala pemimpin di dalam keluarga kamu sendiri," kata Aditya menyetujui tindakan Daniel.
"Iya Om."
"Jadi kapan kalian berencana menikah Daniel," tanya Ryan langsung ke intinya.
Dilla reflek mencubit Ryan sedikit. Dilla tidak enak sama Daniel dan Bella. Mereka baru saja mulai minta restu orang tua. Belum lagi masalah lain nanti.
"Sakit sayang," ucap Ryan mengelus cubitan sayang dari Dilla.
"Mas kalau mau bertanya jangan seperti itu," bisik Dilla pelan.
"Sayang, buat apa Mas muter-muter bertanya jika inti pertanyaan sudah jelas," sahut Ryan tidak peka.
"Tidak apa-apa Dilla. Kami rencananya akan segera mengurus pernikahan kami," sahut Daniel.
"Mas," tegur Dilla.
"Iya sayang. Mas salah," jawab Ryan yang seakan dapat kode mau dicubit lagi.
"Tentu saja kami akan mengundang kalian semuanya. Kalian bisa mewakili menjadi keluarga saya," ucap Daniel bersemangat.
Mereka kembali berbincang-bincang seputar pernikahan yang akan dilaksanakan oleh Daniel dan Bella. Kemudian Dila tiba-tiba teringat akan Sam, Reza dan Rafa. Dilla tidak melihat mereka sama sekali. Padahal mereka sudah pulang jam segitu.
"Mas, di mana Reza, Rafa dan Sam?" tanya Dilla penasaran.
"Mereka ada di ruang bermain. Tadi setelah pulang sekolah mereka langsung ke sana," jawab Ryan.
"Senang melihat hubungan mereka bertambah akrab," ucap Dilla bersyukur.
"Iya Dilla. Padahal dulunya mereka kalau bertemu tidak akur," sahut Jelita.
"Namanya juga anak-anak Mbak. Hari ini bertengkar, besok bisa jadi baikan."
"Sudah sudah. Kita sudahi obrolannya. Sekarang saatnya kita makan saja. Ini sudah masuk waktunya makan siang," kata Rita.
"Ayo kita makan nak Daniel dan nak Bella," ajak Aditya.
"Baik Om," sahut Daniel dan Bella.
Sebelum makan mereka memanggil dulu Sam, Reza dan Rafa agar ikut makan bersama. Mereka bertiga dengan tidak rela untuk mengakhiri permainan mereka. Karena tidak mau dimarahi akhirnya mereka menurut.
***
"Terima kasih buat makan siangnya Tante Om. Dan terima kasih juga telah menjaga Sam dan Lala," ujar Daniel mewakili.
"Iya sama-sama."
"Sekarang kami ingin pamit pulang dulu ya."
"Daddy, apa kita pulangnya tidak bisa nanti sore saja. Sam masih mau bermain sama Dafa dan Reza," pinta Sam yang sudah sangat betah.
"Sam kita harus pulang sayang. Daddy dan Mama ada sesuatu yang mau urus," jawab Daniel.
"Tapi Daddy…."
"Sam masih bisa bermain sama Reza dan Rafa lagi. Kalian kan bisa bertemu di sekolah. Jika Sam mau bermain lagi di sini, Sam bisa kembali bermain lain waktu," ujar Dilla menasehati.
"Baiklah," jawab Sam lesu.
Padahal Sam sudah sangat cocok bermain sama Reza dan Rafa. Bermain sama Reza dan Rafa sangat menyenangkan dibandingkan bermain sendiri menurut Sam. Mereka bisa saling tukar mainan dan melakukan sesuatu bersama.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya Om, Tante, Dilla, Ryan dan Jelita," kata Bella meraih tangan Lala.
"Kalian hati-hati di jalan ya," sahut Rita.
"Ma tita mau te mana?" tanya Lala yang belum paham.
"Kita mau pulang sayang," jawab Bella.
"Uyang?" tanya Lala lagi.
"Iya sayang. Kita akan pulang ke rumah Daddy dan abang Sam," sahut Daniel.
"Lala ndak mau uyang Addy, Ma," ujar Lala tidak terima.
Lala tidak rela berpisah sama Rio. Lala masih ingin bermain bersama Rio. Jika pulang Lala yakin tidak ada kawan bermain lagi. Main bersama Sam kurang menyenangkan bagi Lala.
Apakah mereka bisa membujuk Lala pulang?
Apa Lala akan pulang atau tetap bersama Rio?
Tulis jawaban di kolom komentar ya.
Bersambung....
Rekomendasi novel buat kalian dari author lainnya yang juga tidak kalah seru. Novelnya sangat keren dan bagus sambil kalian menunggu up saya selanjutnya.