Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab. 128 Cari kesempatan



"Reza," ucap Dilla.


"Tunggu kenapa kalian semua bisa disini?" tanya Dilla pada Jelita, Dafa, Rafa dan juga Reza.


"Reza pengen ikut sama Mama dan Papa juga," jawab Reza.


"Karena Rio ada bersama kalian jadi Reza juga minta ikut," sambung Jelita.


"Iya, Rio bisa ikut sama Papa ada Mama. masak hanya Rio saja yang boleh ikut, Reza kan juga mau," tambah Reza.


"Kami kan tidak mungkin membiarkan Reza pergi sendiri jadi kami mau mengantarkan Reza sekalian barang kalian yang tertinggal," kata Jelita sambil menunjukkan koper pakaian milik Dilla dan lainnya.


"Siapa Dilla?" tanya Ryan dari dalam karena Dilla lama membukakan pintu.


Dilla bergeser dari pintu dan membuka pintu lebar agar Ryan bisa melihat siapa tamu yang datang.


"Kenapa kalian bisa ikut ke mari?" tanya Ryan.


Jelita dan Dafa mereka berdua masuk ke dalam kamar hotel Ryan dan Dilla tanpa permisi. Rafa dan juga Reza juga berlari masuk.


"Rio," panggil Reza dan Rafa.


"Bang Eja dan Bang Lapa," panggil Rio.


Mereka bertiga langsung berpelukan dan sibuk dengan dunia mereka bertiga. 


"Kami ke sini mau mengantar baju punya kalian bertiga. Reza juga minta ikut karena Rio bersama kalian," ulang Dafa menjelaskan.


"Kalau begitu kenapa kalian bertiga juga ada disini?" tanya Ryan menaikkan alisnya.


"Tidak mungkin kita membiarkan Reza pergi sendiri. Lagian aku juga lagi tidak banyak pekerjaan di kantor, makanya aku memutuskan untuk ikut liburan bersama Jelita dan Rafa. Kami kan sudah jarang liburan juga, kami juga butuh refeshing," ujar Dafa panjang lebar.


Ryan mendengus kesal mendengar jawaban Dafa. Sekarang acara bulan madu dia bersama Dilla benar-benar hancur. 


'Ini bukan lagi acara bulan madu. Tapi mendadak liburan keluarga,' batin Ryan berteriak.


"Ya sudah ya, kami sekarang mau ke kamar kami sendiri," pamit Dafa. 


"Jangan bilang kalian juga menyewa di hotel ini juga?" tanya Ryan mencium bau mencurigakan. 


Jelita dan Dafa tersenyum mendengar perkataan Ryan. Dafa mengeluarkan kunci kamar milik dia sebagai jawaban pertanyaan Ryan. Nomor kamar itu adalah nomor kamar yang berada pas di depan kamar milik mereka berdua. 


"Kebetulan tadi kamar di depan kamar kalian ada yang kosong. Jadi kami memesan kamar yang itu saja supaya kita tidak terjauh kalau saling berkunjung," ujar Dafa.


Dilla menepuk tangan Ryan yang sudah emosi. Ryan ingin sekali menyebutkan nama hewan di kebun binatang.


"Sudahlah Mas, semuanya sudah terlanjur. Kita nikmati apa yang ada saja," hibur Dilla.


"Rafa mau ikut Mommy dan Daddy atau masih mau di sini?" tanya Dafa pada Rafa yang masih bermain sama Reza dan Rio.


"Rafa mau di sini aja Daddy," sahut Rafa.


"Ryan, titip Rafa sebentar ya, kami mau meletakkan barang bawaan dulu," kata Dafa.


Dafa dan Jelita keluar dari kamar Ryan dan Dilla menuju ke kamar sendiri.


***


Setelah merapikan semua barang, mereka semua memutuskan untuk sarapan pagi di hotel tersebut. Mereka telah memesan makanan. 


"Ma, nanti kita jalan-jalan ya," pinta Reza di sela makan.


"Iya Omy, Liyo mau alan-alan uga," sambung Rio.


"Rafa ikut ya."


"Rafa mau ikut sama Mommy dan Daddy?" pancing Dafa.


"Rafa mau main bersama Rio dan Reza aja Daddy," jawab Rafa.


"Rio dan Reza apa mau ikut bermain bersama Mommy dan Daddy. Nanti kita bisa bermain bersama," ujar Dafa sambil tersenyum ramah.


Ryan tersenyum dengan pertanyaan Dafa.


'Syukur deh kalau Dafa mau membantu kami supaya aku bisa berduaan sama Dilla,' batin Ryan senang. 


"Reza juga mau main sama Papa dan Mama," sambung Reza.


Dafa tersenyum lebar mendengar jawaban mereka bertiga. Ryan yang melihat senyuman Dafa yang aneh menurutnya berpikir yang tidak-tidak. 


'Kenapa dia tersenyum begitu. Pasti ada sesuatu yang dia rencanakan,' duga Ryan.


"Ryan," panggil Dafa lemah lembut. 


Ryan nampak cuek bebek mendengar panggilan Dafa yang membuat bulu dia merinding. Ryan meneruskan sarapan paginya.Padahal dia masih berfokus pada Dafa yang memanggilnya. 


"Berhubung Dafa, Rio dan Reza tidak mau pisah sama kalian, maka aku titipkan Rafa ya," pinta Dafa.


Ryan meletakkan kembali sendok makannya.


"Apa maksud kamu Dafa?" tanya Ryan semakin curiga.


Dafa segera merangkul bahu jelita dengan mesra.


"Berhubung kalian dan mereka tidak mau berpisah sama kalian dan kalian juga batal honey moon maka biarkan kami yang menikmati honey moonnya yang kedua kali ya," pinta Dafa menaik turunkan alisnya.


"Apa kamu bilang? coba ulang sekali lagi," suruh Ryan menahan rasa kesal.


'Enak saja si Dafa, kami yang merencanakan honey moon tapi malah mereka yang mau menikmatinya. Pokoknya aku tidak terima.'


"Mas," tegur Dilla yang melihat Ryan seakan mau mengamuk.


"Kamu benar-benar memanfaatkan situasi ya," kata Ryan menekankan perkataannya sebagai bentuk protes. 


"Kapan lagi aku bisa menikmati liburan seperti kali ini. Mumpung Rafa mau menenpel sama anak kalian. Siapa tau Rafa juga akan punya adik seperti Reza," kata Dafa menaik turunkan alisnya lagi.


"Tidak pokoknya aku tidak…."


"Tidak apa Pa, apa kita tidak jadi jalan-jalan?" tanya Reza memotong pembicaraan Ryan.


"Papa dah anji cama tita mau alan-alan. Papa angan boong ya," sambung Rio.


"Papa harus tepati janji dong. Masak orang dewasa bohong sama anak kecil, malu dong," tambah Rafa memanasi Ryan.


"Omy Omy," panggil Rio.


"Jita Papa boong, Omy angan detat-detat cama Papa ya. Nanti Papa main cendili aja. Tita main cama-cama aja, Papa ndah ucah itut. Papa anak natal," lapor Rio.


Dilla, Dafa dan Jelita menahan tawa mendengar ocehan Rio. Rio ada-ada saja pemikirannya.


"Iya Rio, jangan mau main sama pembohong," ejek Dafa.


Ryan menarik dan mengeluarkan nafas dengan kasar. Entah kapan dia bisa benar dihadapan Rio.


"Iya iya, Papa mengaku salah. Sehabis makan kita pergi jalan-jalan," ujar Ryan pada akhirnya.


"Terima kasih ya," kata Dafa menepuk bahu Ryan.


"Tidak usah sok baik jika ada maunya," sahut Ryan sambil menyingkirkan tangan Dafa dari bahunya.


Ryan masih saja tidak ikhlas jika Dafa bisa berduaan sama Jelita sedangkan dia harus menjaga anak-anak. Satu sisi Ryan cemburu sama Dafa dan anak-anak. Dafa bisa bermesraan dengan istrinya dan anak-anak suka bermanja sama Dilla.


'Seharusnya aku yang ada di posisi Dafa,'


"Mas kamu baik-baik saja?" tanya Dilla saat Ryan meremas rambutnya.


"Aku baik-baik saja kok, rambut aku hanya gatal saja," jawab Ryan.


"Jangan-jangan rambut Papa ada kutu lagi," teriak Reza.


Mereka tertawa lagi saat mendengar perkataan Reza.


"Ih Papa jolok," sahut Rio.


Ryan hanya bisa mengikhlaskan saat kedua anaknya membuli dia.


Bersambung....