
Sebelum itu saya mau memberitahukan lagi. Di novel ini tidak akan ada PELAKOR atau PEMBINOR ya. Saya hanya menambah sedikit konflik sedang, biar ada naik turun perasaan pembaca (ketawa, sedih, marah kesal dan lainnya). Biar cerita tidak datar.
Jangan lupa like, komentar dan vote ya. Selamat membaca.
***
"Dilla bukan seperti itu," kasih tau Jelita.
"Tapi Mbak, jika ditambahkan ini pasti lebih bagus," komen Dilla.
Saat ini Dilla sedang belajar make up sama Jelita. Jelita dan Dilla duduk di ruang tengah dengan alat make up yang terletak di meja. Jelita sengaja duduk sedikit berjauhan sama Dilla. Jelita tidak tahan dengan mau make up.
Sedangkan Rio bermain di samping mereka sambil sekali melihat perdebatan antara Dilla dan Jelita.
"Terserah kamu saja lah," pasrah Jelita.
"Lho, Mbak kok begitu. Katanya Mbak mau mengajari Dilla," kata Dilla tidak terima.
Emosi Jelita tiba-tiba naik lagi. Dilla saat dikasih tahu tidak mau mendengarkan Jelita. Tetapi saat Jelita mengalah maka Dilla akan protes.
"Jadi Mbak, sekarang pakai yang mana lagi?" tanya Dilla.
Jelita menarik nafas, kemudian menghembuskan agar emosinya turun.
"Tadi kamu telah pakai blush on warna peach sebelah kiri. Sekarang kamu juga pakai warna yang sama dengan pipi sebelah kanan," arah Jelita.
"Tapi Mbak, warna pink ini lebih bagus. Dilla pakai warna ini saja ya," tawar Dilla.
Dilla menggunakan blush on warna pink di sebelah pipi kanan.
Ada perempatan yang muncul di dahi Jelita. Jelita gemas dengan tingkah laku Dilla sekarang. Jelita benar-benar menyerah mengajari Dilla. Jelita tidak sanggup lagi mengajari Dilla. Dilla bertanya pilih antara A dan B, saat Jelita menjawab pilih A maka Dilla pasti akan memilih B. Kadangkala Dilla malah memilih pilihan yang tidak sesuai dengan yang Dilla tanya.
Dilla terus saja bereksperimen dengan Jelita yang menjawab seadanya. Jelita sudah tidak mau berkomentar banyak.
"Rio," panggil Dilla setelah selesai make up.
Rio melihat ke arah Dilla.
"Bagaimana hasil dandan Mama kali ini?" tanya Dilla dengan penuh percaya diri.
Make up Dilla pada hari ini tidak jauh beda dengan kemarin malam. Walaupun tidak semenor malam kemarin.
"Muta Omy milip cama adut," jawab Rio polos.
Dilla yang tadi tersenyum lebar langsung luntur senyuman dia saat mendengar jawaban Rio. Padahal bagi Dilla, dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk make up dengan cantik.
"Yang benar Rio?" tanya Dilla memastikan lagi.
'Siapa tau tadi Rio salah lihat.'
"Benel Omy. Liyo ndak boong," sahut Rio.
Rio kembali melanjutkan bermain dengan mainan dia.
"Apa benar yang Rio katakan Mbak? Apa muka Dilla mirip badut?" tanya Dilla dengan kecewa.
"Muka kamu memang mirip sama badut," jawab Jelita cuek.
"Tetapi kenapa jika Mbak yang pakai tampak lebih cantik. Padahal Dilla mengikuti semua arahan yang Mbak bayar katakan," ucap Dilla sedih.
Rasa kesal Jelita sudah ada di ubun-ubun. Jelita ingin sekali mengajak Dilla bergelut jika dia tidak ingat jika mereka sedang hamil. Bagaimana Dilla bisa bertanya dengan begitu polos, padahal Dilla dari tadi membantah semua arahan dari Jelita.
"Sebaiknya kamu hapus saja make up itu. Lain kali kita belajar lagi," kata Jelita dengan memijit kening yang sudah mulai pusing.
"Tapi Mbak, Dilla suka sama make up ini. Saat Dilla mencium bau make up yang ada di muka Dilla, hati Dilla terasa senang," sahut Dilla.
"Ya sudah, terserah kamu. Mbak sudah capek," jawab Jelita beneran pasrah.
Dilla mengangguk-angguk kepala. Dilla membereskan semua perlengkapan make up dan menaruh kembali di kamar.
Setelah meletakkan semua make up di kamar, Dilla kembali lagi ke ruang tamu. Dilla duduk di sofa dan mengambil handphone. Tiba-tiba Dilla ingin sekali memakan cake coklat.
"Kamu mau telepon siapa?" tanya Jelita kepo.
"Dilla mau menelepon mas Ryan, Mbak. Tiba-tiba Dilla ingin cake coklat,",sahut Dilla.
"Liyo uga mau tek otlat Omy," pinta Rio.
"Iya, Mama akan bilang sama papa agar membeli cake coklat yang banyak buat kita," kata Dilla.
***
Pada sore hari, Ryan dan Dafa baru pulang dari kantor. Ryan dan Dafa tidak melihat Dilla dan Jelita yang menyambut mereka. Mereka terus memasuki rumah.
"Mas sudah pulang?" tanya Dilla.
Dilla tadi tidak mendengar suara mobil Ryan dan Dafa. Begitu pula dengan Jelita. Mereka berdua lagi seru sedang membahas tentang kehamilan.
Ryan mengangkat alis melihat Dilla yang kembali bermake up aneh. Dilla beneran tidak mau menghapusnya. Ryan yang tidak mau bermasalah, takut jika Dilla jadi emosi lagi Ryan memilih diam.
"Mana cakenya?" tanya Jelita to the point.
"Ini," ujar Ryan sambil mengangkat sebuah kotak cake.
Ryan meletakkan cake itu di atas meja.
"Mbak, biar Dilla panaskan dulu cake nya. Jika cake nya hangat lebih enak dimakan," ujar Dilla
"Tidak tidak tidak.Cake itu akan lebih enak jika kita makan dalam keadaan dingin," tolak Jelita.
"Mbak salah. Cake seharusnya lebih enak jika dimakan dengan keadaan hangat," bantah Dilla.
"Mbak yang bener Dilla. Cake itu akan lebih enak dimakan saat dingin. Nanti coklatnya akan keras dan krenyes-krenyes."
"Lebih enak lagi jika coklatnya meleleh Mbak."
Dilla dan Jelita jadi berdebat mempertahankan pendapat masing-masing. Ryan dan Dafa dari tadi menatap pertengkaran mereka berdua.
"Kalian kenapa ribut-ribut?" tanya Dafa.
"Lagian jika makan cake walaupun panas atau dingin sama saja," jawab Ryan.
"Tidak sama Mas. Itu beda."
"Itu beda Ryan."
Dilla dan Jelita menjawab berbarengan dengan nada keras. Ryan dan Dafa sedikit terkejut dengan nada Dilla dan Jelita.
"Kalian tadi beda pendapat, tapi sekarang kenapa kompak," ujar Dafa.
"Kamu diam saja. Ini urusan kami," sahut Jelita pedas.
"Lagian Mas kenapa membeli satu? Kenapa tidak membeli dua?" tanya Dilla.
Sekarang Ryan jadi serba salah. Dulu Dilla lah yang selalu bilang agar berhemat. Padahal isi satu kotak cake itu adalah ukuran yang paling besar. Cukup untuk dimakan bersama.
"Kalian tidak usah saling menyalahkan. Pendapat kalian berdua sama-sama benar," ujar Dafa menenangkan mereka.
"Ini semua kalian yang salah. Kenapa membeli satu saja," ujar Jelita dan Dilla kompak.
Ryan dan Dafa langsung kicep melihat Jelita dan Dilla semakin emosi. Jelita dan Dilla segera pergi dari sana setelah memarahi mereka.
"Jika mereka tidak mau yang sudah. Biar aku saja yang makan," kata Dafa mendekati kotak cake.
Plak.
Saat tangan Dafa mau menyentuh kotak itu, tangan dia malah dipukul sama Jelita.
"Ngapain pegang-pegang. Ini punya kami," kata Jelita.
Jelita tadi berbalik lagi untuk mengambil kotak cake tersebut. Setelah mengambil kotak itu, Jelita pergi lagi dari sana.
Dafa hanya mengelus tangan yang tadi dipukul oleh Jelita.
Bersambung….
Rekomendasi salah satu novel yang bagus buat kalian baca sambil nunggu up ya.