Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 47. Sakit gigi 1



"Rio, kenapa makanannya nggak di habiskan sayang"


Rita menegur Rio yang makan sedikit. Padahal yang lain sudah siap makan semua.


"Apa Rio nggak suka apa yang mommy pilih kan, atau mau yang lain"


Dilla juga ikutan khawatir, Rio hanya memakan dua suapan setelah itu tidak mau makan lagi. Semua yang ada di sana menatap cemas Rio.


"Ndak mau agi omy"


"Anak papa kenapa sih" tanya Ryan juga.


Karena semakin banyak yang tanya Rio jadi menangis dan memeluk Dilla yang ada di samping nya, tingkah Rio ini yang makin membuat yang lain tambah khawatir.


"Rio kenapa sayang, ayo cerita sama papa"


Rio melihat sang papa langsung meminta papa nya untuk di gendong. Ryan dengan senang hati mengendong Rio, karena biasanya Rio hanya mau nemplok di Dilla saja.


Ryan segera membawa Rio ke ruang keluarga. Yang diikuti yang lain kecuali Rita.


"Bi bi Imah" panggil Rita.


Bi Imah langsung muncul.


"Iya nyonya"


"Bi tolong beresin meja makan ya, kami sudah siap makannya"


"Iya nyonya" setelah itu Rita menyusul yang lainnya ke ruang keluarga.


***


"Rio ada apa, jangan menangis lagi, ayo cerita sama papa"


Rio masih menangis, Rio mengintip Dilla dari balik lengan ayahnya. Ryan hanya melihat gelagat aneh anaknya.


Nyuttt


"Huwaaaaa" tangisan Rio makin kencang, Ryan dan lain jadi makin panik termasuk Dilla.


"Rio ayo cerita sama kakek apa yang terjadi"


"Hiks hiks hiks" tapi Rio masih bungkam dan bersembunyi di balik dada Ryan.


"Dilla coba kamu bujuk Rio ya, mungkin jika kamu yang bujuk mungkin Rio mau bicara" usul Rita kemudian.


Semua yang di situ ingin tau apa yang terjadi sama Rio, karena tadi siang Rio baik baik saja sehabis pulang dari supermarket.


Dilla berjongkok di depan Ryan, karena Rio berada di pangkuan Ryan yang duduk di atas sofa.


"Rio" panggil Dilla pelan, tapi Rio tidak merespon.


"Rio, apa Rio nggak ingin melihat mommy lagi" rayu Dilla.


Rio segera menoleh ke arah Dilla.


"Rio ada apa hemm" Dilla mengelus rambut Rio.


"Ndak ap..."


Nyuttt


"Huwaaaaa" teriak Rio lagi memegang pipinya.


"Rioooooo" cemas yang lainnya bahkan Reza dan Rafa juga ikutan cemas.


"Rio, apa Rio sakit gigi" Rio berhenti menangis seketika mendengar perkataan Dilla. Rio sangat terkejut dan juga takut.


"Jadi Rio sakit gigi ya?" tanya Rita lagi.


"Liyo Liyo ndak ati gigi" kata Rio menggeleng.


Nyut


"Huwaaaaaa" teriak Rio lagi dengan tangan yang memegang kedua pipi tembemnya.


"Ya ampun Rio, kenapa lagi, pasti giginya yang sakit ya" kata Dilla.


"Hiks hiks maap omy" sesal Rio.


"Udah jangan di pikirkan lagi, tante apa sebaiknya kita panggilkan dokter saja" Dilla beralih ke Rita.


"Iya kita panggilkan dokter Sultan saja, pa tolong panggilan dokter Sultan ya"


"Baik ma, tunggu sebentar ya, papa ambil HP dulu di kamar" Aditya segera bangkit dari sofa menuju kamar.


"Hiks hiks maap omy"


"Udah ya jangan menangis lagi, sebentar lagi dokter nya datang" Dilla mencoba menenangkan Rio.


Rio segera melepaskan pelukan dari papanya dan beralih ke pelukan Dilla yang di lantai.


"Maaap hiks hiks omy"


"Iya iya mommy maafkan, tapi kalau boleh mommy tau Rio salah apa" tanya Dilla.


"Hiks hiks maap Liyo, Liyo akal, Liyo calah"


"Iya mommy maafkan"


"Memang apa yang Rio lakukan sampai Rio harus minta maaf sama mommy" tanya Ryan sambil mengelus rambut Rio, kini Dilla dan Ryan begitu dekat.


"Liyo boong cama mommy, Liyo akal, Liyo ndak ocok gigi" akui Rio.


Tadi Dilla menyuruh Rio untuk mengosok gigi karena Rio tadi siang terlalu banyak makan coklat jadi harus wajib sikat gigi biar giginya tidak sakit. Sedangkan Dilla sendiri pergi mengambil handuk di dalam lemari. Tetapi Rio malah mengabaikan perkataan Dilla sehingga alhasil gigi Rio jadi sakit karena banyak makan coklat dan malamnya tidak gosok gigi.


"Rio bohong sama mommy?" tanya Dilla untuk memastikan lagi.


"Iya rio boong"


Nyut


"Huwaaaa omy atit, gigi Liyo atit omy" gigi Rio berdenyut lagi.


"Rio sabar ya, sebentar lagi dokternya datang, lain kali kalau mommy ingatkan sikat gigi ya sikat gigi, kan sekarang Rio sendiri yang merasakan sakitnya"


"Hik hiks maap omy, Liyo calah"


"Gimana pa, apa kata Sultan"


"Sebentar lagi Sultan nya sampai, karena kebetulan Sultan juga tidak jauh dari rumah kita"


"Syukurlah kalau begitu"


"Rio sini papa gendong, papa bawa ke kamar"


Ryan mencoba mengendong Rio, Ryan sudah meletakkan tangan di ketiak Rio, tapi Rio malah menolak dan menepis tangan papanya. Ryan hanya bisa menghela nafas. Anaknya begitu lengket sana Dilla. Mungkin Dilla sudah menggunakan lem cap gajah kali ya.


"Ndak mau, mau cama omy" tolak Rio.


"Dilla sebaiknya Rio kamu bawa ke kamar dulu ya, dia nggak mau di bawa sama yang lain"


"Baik tante, ayo Rio kita ke atas" Dilla segera membawa Rio ke kamar Rio.


"Mommy ikut" kata Reza dan Rafa.


"Reza Rafa di sini saja ya" cegat Dafa.


"Tapi daddy Reza mau sama adik Rio"


"Reza, Rafa untuk sekarang biar Rio sama mommy Dilla dan papa dulu ya, soalnya kalau sakit gigi dan banyak orang bikin tambah ngilu, kan Reza juga pernah sakit gigi" Rita mencoba menjelaskan.


"Baik nenek" patuh Reza dan Rafa.


"Dafa kamu jagain Reza dan Rafa ya, tante mau ke atas juga, mau lihat kondisi Rio, dan papa di sini aja dulu tunggu nak Sultan sampai"


"Iya ma, papa akan menunggu nak Sultan dulu"


Rita segera ke kamar Rio. Beberapa saat kemudian dokter Sultan pun sampai di kediaman seherman.


"Malam om" sapa dokter Sultan.


"Malam nak Sultan, ternyata kamu sudah sampai, ayo kita segera ke atas, Rio nya ada di atas"


Sultan mengekori Aditya naik tangga.


"Sebenarnya Rio kenapa om?" tanya Sultan.


"Rio mengeluh giginya ngilu, mungkin giginya ada yang sakit"


"Apa Rio ada makan manis manis tidak lama ini?"


"Om juga kurang tau, nanti kita tanya sama Dilla saja, karena Dilla yang tau apa saja yang di makan sama cucuku"


"Iya om"


***


"Pa" panggil Rafa.


"Iya Rafa, ada apa"


"Pa, dulu kan Rafa pernah makan coklat tiga bungkus, terus besoknya Rafa sakit gigi"


"Iya" jawab Dafa mendengar curhatan anaknya.


"Kan saat itu Rafa juga sakit gigi, sakiiiiiit sekali, terus jika kita makan sekeranjang penuh coklat akan sesakit apa pa"


Rafa ingin tau seberapa sakit gigi Rio, Rafa aja yang makan tiga bungkus saja bisa sangat sakit apalagi Rio yang makan terlalu banyak.


"Kenapa Rafa bertanya begitu"


"Soalnya Rio tadi makan coklat nya banyak sekali, habis satu keranjang penuh"


"Whaaatttt" kaget Dafa.


Bersambung....