
Dilla beneran panik mendengar teriakan Ryan yang begitu keras, padahal tadi Dilla masih memasak. Ketika mendengar teriakan yang begitu nyaring, dia langsung lari ke atas. Yang Dilla lihat setelah masuk ke kamar adalah Reza yang menindih papanya dengan Rio yang berada di samping mereka.
"Aduh Reza apa yang Reza lakukan," kata Ryan.
"Reza kangen sama Papa," Reza makin memeluk papanya erat.
"Tapi kenapa menindih Papa begini. Kan Papa jadi sakit," keluh Ryan.
Dilla sudah berada di samping kasur. Rio yang melihat Dilla langsung minta digendong, yang dengan senang hati disambut Dilla. Reza mengangkat kepalanya melihat sang papa dengan posisi masih menindih sang papa.
"Kata Rio, Papa yang bilang kalau kangen harus memeluk sambil tidur. Jadi Reza hanya mengikuti apa kata Papa saja dan apa yang Rio lakukan," ujar Reza polos.
Kalau ibarat kartun kini di kepala Ryan ada beberapa bulir keringat yang bertengger di dahi. Tetapi karena ini kenyataaan maka kemudian Ryan hanya menghela nafas setelah kaget dari pernyataan Reza. Badan Ryan terasa remuk hari ini. Dilla yang mendengat ucapan Reza ingin ketawa tapi cukup di dalam hati aja.
'Rasain tuh, makanya kalau ngomong ya disaring dulu.'
"Ahh itu maksud Papa bukan gitu kok," ujar Ryan.
Ryan tidak tau harus menjelaskan gimana, dia bingung sendiri.
'Coba tadi aku tidak mengerjai Dilla.'
Ryan melirik ke arah Dilla mencari bantuan, tapi Dilla tetap diam tanda tidak mau bantu.
"Reza, tadi Rio melihat Papa dan Mbak Dilla yang terjatuh, dengan Papa yang menimpa Mbak Dilla. Papa hanya iseng aja bilang kalau Papa kangen sama Mbak Dilla, jadi jangan salah paham lagi ya," jelas Ryan.
Setelah mendengar penjelasan Ryan, Reza bangun ingin mencoba menindih papanya lagi, tapi dengan cepat di tahan Dilla. Dilla memengang pinggang Reza dengan Rio yang berada di gendongan tangan kiri.
"Sayang apa yang Reza lakukan?" tanya Dilla panik.
Sedangkan Ryan hampir copot jantungnya, masak dia mau ditindih lagi, sudah sakit semua badan Ryan sekarang.
"Reza ingin menindih Papa lagi, Papa sudah jahat sama Mbak Dilla. Masak Papa menindih Mbak Dilla yang badannya lebih kecil daripada Papa, pasti sakit," ujar Reza sedih dan tak terima.
Reza mengusap kedua pipi Dilla dengan tangan kecilnya, berharap Dilla tidak merasakan sakit lagi. Dilla terharu atas sikap Reza, Reza sangat peduli padanya bahkan lebih menyayangi Dilla daripada papanya.
"Jadi kalau Papa yang sakit Reza tidak kasihan," ujar Ryan berpura-pura sakit.
"Tidak, karena Papa sudah jahat sama Mbak Dilla," jawab Reza spontan.
Ryan cemberut mendengar jawaban anaknya, anaknya sudah pilih kasih sekarang.
"Pa pa ahat...," sambung Rio lagi.
Rio memberontak turun dari gendongan Dilla. Setelah turun Rio langsung menindih papanya karena marah tehadap sang papa. Reza juga ikut menindih Ryan di sebelah kanan dengan Rio di sebelah kiri.
Ryan hanya ketawa dengan tingkah anaknya, kali ini meraka lebih seperti berbaring di atasnya daripada yang dilakukan tadi dengan tidak melompat lagi.
"Hahaha anak Papa pilih kasih sekarang ya, kalau Mbak Dilla dibela, sedangkan Papa tidak. Sekarang rasakan serangan Papa," Ryan mengelitik Rio dan Reza bersamaan.
"Hahaha Papa geli," ujar Reza kegelian.
Reza menggeliat dari atas tubuh Ryan karena geli.
"Hahaha eyi Pa Pa...."
Rio juga menyingkirkan tangan papanya.
Dilla hanya melihat kegiatan mereka. Mereka asyik dengan dunia mereka sendiri. Dunia yang sudah lama hilang.
"Rasain pembalasan Reza sama Rio."
Reza dan Rio membalas menggelitik Ryan balik.
"Lacain Pa Pa...," ulang Rio ikut mengelitik Ryan.
"Udah udah hahaha... Papa menyerah. Papa tidak sanggup lagi hahaha...."
Ryan tidak sanggup lagi digelitik sama kedua anaknya. Ryan sangat kesusahan karena dia memang tidak bisa menggelak, jadi Ryan hanya berusaha menyingkirkan tangan mereka dari tubuhnya.
"Udah ya Reza, Rio sayang, Papanya sudah kegelian. Nanti Papa tambah sakit lho," ujar Dilla.
Dilla segera memindahkan Rio dan Reza dari atas tubuh Ryan. Diturunkannya mereka berdua dari atas kasur agar terjauh dari tubuh Ryan.
"Maa ap Pa," Rio juga sedih.
Ucap Reza dan Rio menyesal. Mereka tidak mau papanya bertambah sakit lagi.
"Iya iya, Papa tidak apa apa kok. Papa hanya geli saja kalian gelitikin," ujar Ryan menenangkan anak-anaknya.
"Ya dah sekarang kita makan siang dulu ya, Mbak Dilla sama bi Imah sudah memasak masakan kesukaan kalian tadi," ujar Dilla.
"Hole matan matan," ujar Rio senang.
Dilla segera membantu Ryan duduk di atas kursi roda.
"Ayo kita turun," ajak Dilla.
Mereka segera keluar kamar untuk makan siang.
***
Mereka tiba di ruang makan, di ruang makan sudah disajikan semua makanan yang siap untuk disantap. Ryan beberapa hari belakangan ini sudah mulai makan di meja makan tidak lagi makan di kamarnya.
Dilla mendorong kursi roda Ryan ke arah meja makan. Reza segera duduk di kursinya.
"Omyyy duk...," ujar Rio.
Rio merentangkan tangan untuk meminta Dilla mengangkat Rio ke kursi makannya.
Dilla segera mengangkat Rio untuk duduk di kursinya, karena kalau tidak segera diangkat, Rio akan langsung protes. Tidak lama kemudian Rita dan Aditya menyusul duduk di kursi.
Posisi duduknya Aditya duduk di ujung meja, di sebelah kanan duduk Rita istrinya. Di sebelah kiri Aditya duduk Ryan, sebelahnya lagi Rio, Dilla baru Reza. Dilla memang memilih duduk diantara mereka berdua agar lebih mudah untuk mengambil makanan bagi Reza dan Rio.
Rita mulai mengambil makanan untuk Aditya dan Ryan. Sedangkan Dilla mengambil untuk Reza dan Rio.
Seperti biasa Dilla akan mengambil makanan untuk Reza terlebih dahulu, karena Reza apapun yang dikasih Dilla akan memakannya tanpa protes. Walaupun dia sendiri kurang suka dengan apa yang dikasih Dilla seperti sayuran hijau. Beda halnya dengan Rio, sejak bisa bicara Rio suka sekali protes jika dia tidak menyukainya.
"Omy ndak au yul," Rio sudah mulai protes lagi.
Rio kadang susah sekali dibujuk untuk makan sayuran, bahkan sengaja disisihkan di samping piring makannya. Yang ujung;ujungnya tidak di makan dengan alasan sudah kenyang.
Tadi Dilla berniat menaruh beberapa kentang untuk Rio.
"Rio harus makan sayur juga ya, biar sehat."
"Ndak au," tolak Rio.
"Ni ja," tawar Rio.
Rio malah menunjuk ke arah ayam goreng.
"Kan di piring Rio ini sudah Mbak Dilla tarok ayam goreng."
"Gi gi Omy."
"Rio lebih baik Mbak Dilla kasih kentang daripada ayam ya, kan ayamnya sudah ada."
"Ndak au, ni ni ma, clat clat," sahut Rio.
Tolak Rio lagi, malahan Rio malah membandingkan ayam goreng sama kentang yang berwarna coklat.
"Itu beda Rio, ini Mbak Dilla kasih kentangnya saja. Rio harus makan sayur juga, Mbak Dilla tidak suka jika Rio nolak apa yang Mbak Dilla kasih dan makan kentangnya harus habis," kata Dilla tegas agar Rio mau menurut.
Rio akhirnya mau menerima apa yang dikasih Dilla, padahal Rio mau nambah ayam goreng bukannya kentang.
"Dilla kamu hebat bisa paham apa yang dikatakan sama Rio. Tante yang mendengarkan dari tadi tidak paham apa yang dimaksud Rio," puji Rita.
"Mungkin Dilla sudah terbiasa sama adik-adik Dilla Tante. Jadi Dilla bisa paham apa yang mau di katakan Rio."
"Oh begitu, ya sudah ayo kita lanjut makannya."
Mereka melanjutkan makan malam. Rio sesekali ingin menyingkirkan atau menyembunyikan kentang yang di kasih Dilla tapi selalu ketahuan sama Dilla.
Bersambung....