Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 bab 162. Ngambek



Makan malam, malam itu adalah kari ayam yang pedas dan masih mengepul asap karena masih panas. Ada juga yang tidak pedas buat anak-anak. Dilla lebih suka makan yang pedas. 


Dilla memakannya dengan begitu lahap. Memang jika sedang hamil dianjurkan banyak. Dilla menambah lagi nasi dan lauk. Dilla makan sambil sesekali mengelap keringat yang keluar di muka. 


Rio yang melihat muka Dilla semakin mengerikan, Rio jadi berhenti makan. Ryan yang pertama kali menyadari Rio tidak makan lagi. Dari tadi mata Rio tetap  menatap Dilla. Ryan juga menoleh ke arah Dilla. Ryan penasaran kenapa Rio terus melihat ke arah Dilla.


Ryan tersentak kaget melihat Dilla. Ulah Ryan menganggu yang lain. Mereka juga melihat ke arah Dilla. Mereka juga ikut terkejut.


Make up yang dipakai sama sudah meleleh akibat keringat yang keluar. Dilla yang merasa ditatap berhenti makan. Dilla jadi risih. 


"Kenapa kalian semua pada menatap Dilla?" tanya Dilla. 


"Tidak apa-apa," sahut Ryan.


"Muta Omy milip cama antu yang ada di pilem temalin yang Liyo tonton," kata Rio jujur.


Ryan jadi berkeringat dingin. Ryan bisa merasakan firasat buruk.


"Bernahkah Rio?" tanya Dilla menekan suara.


"Iya Omy. Liyo ndak boong. Omy anya aja cama Bang Lapa dan Bang Eja, meleta uga tonton," jawab Rio polos.


Tanpa sadar Rio telah membuat sang papa dalam bahaya.


Dilla segera menatap ke arah Reza dan Rafa. Reza dan Rafa mengangguk  kepala sebagai jawaban. Mereka takut untuk menjawab. Kemudian Dilla menatap tajam ke arah Ryan.


"Mas…," panggil Dilla geram.


"Iya," jawab Ryan takut-takut.


"Kenapa Mas bilang tadi jika Dilla manis seperti rainbow cake."


"Bukan… bukan seperti itu, maksudnya…."


"Apa Mas mau bilang jika Dilla jelek?"


"Ah…."


"Dilla kecewa sama Mas. Mas buat nafsu makan Dilla hilang. Dilla tidak mau makan lagi."


Dilla bangun dari kursi dan menuju ke ruang keluarga. Beberapa langkah berjalan Dilla kembali lagi dan mengambil keranjang buah-buahan. Baru setelah itu Dilla benar menghilang di balik tembok.


Mereka menatap Dilla yang labil. Dilla bilang tidak ada nafsu makan lagi. Tetapi piring Dilla sudah kosong hanya ada tulang ayam saja. Dilla sudah berapa kali juga nambah. Dilla juga memborong semua buah-buahan.


'Itu tidak ada nafsu makan atau sudah kenyang?'


"Sebaiknya kamu susul saja Dilla. Pasti emosi dia sedang tidak stabil," suruh Rita.


"Nanti biar aku bantu ambilkan penghapus make up," sambung Jelita.


Ryan mengikuti saran Jelita dan Rita. Ryan segera bangun dan mengikuti langkah Dilla.


Rio yang inin mengikuti Ryan dan Dilla segera ditahan oleh Dafa. Dafa mengangkat Rio kembali ke pangkuan dia. 


"Addy epas. Liyo mau itu Omy," berontak Rio.


"Rio di sini dulu sama Daddy," sahut Dafa.


"Ndak mau, Liyo ndak mau cama Addy," ucap Rio.


"Bukannya tadi Rio bilang jika Rio takut sama mama?"


Rio kembali terdiam. 


"Iya, api Liyo mau cama omy uga," jawan Rio lemah.


Rio takut-takut ulat bulu. Saat jadi ulat takut, ketika jadi kupu-kupu mau.


"Di sini dulu sama Daddy sebentar. Baru nanti ketemu lagi sama mama dan papa. Biarkan papa dan mama bicara dulu. Tadi mama lagi marah sama papa. Jika sudah baikan baru Rio pergi ke mama," ujar Dafa.


Rio akhirnya mengalah. Dafa sengaja menangkap Rio agar Rio tidak menemui Dilla dan Ryan. Dafa takut jika Rio malah menambah masalah diantara Dilla dan Ryan yang sedang berselisih. Kepolosan Rio wajib diwaspadai. 


***


Dilla duduk di atas sofa. Dilla juga melihat kedua kaki di atas sofa. Dilla memeluk keranjang buah-buahan dengan erat sambil memakan apel.


"Sayang," panggil Ryan.


Ryan juga ikut duduk di samping Dilla.


"Sayang," panggil Ryan lagi. 


Dilla tidak menjawab.


"Maaf, bukan maksud Mas tidak berkata jujur. Tapi Mas tidak mau membuat kamu sedih," ujar Ryan lembut.


"Kenapa Mas tidak bilang jika Dilla mirip hantu atau badut. Asal mas tau, ini juga bawaan bayi kita. Mas jahat… Mas…," Dilla tidak sanggup meneruskan lagi perkataannya. Dilla sudah terlanjur mengeluarkan air mata karena kebawa emosi.


"Maafkan Mas ya. Mas tetap mencintai kamu apa adanya," kata Ryan dengan mengusap air mata Dilla yang berwarna hitam.


Ryan mengusap nya begitu lembut. Membuat hati Dilla jadi luluh. Ryan dan Dilla saling bertatapan intens.


"Jika kalian ingin bermesra-mesraan sebaiknya di kamar saja. Jangan di sini, banyak yang lihat," tegur Jelita yang baru saja datang.


"Ini," kata Dilla menyerahkan air pembersih make up dan kapas.


Setelah itu Jelita segera berlalu dari sana. Jelita tidak mau jadi obat nyamuk yang harganya lima ribuan.


Dilla tadi sempat malu karena ketahuan oleh Jelita. Dilla jadi salah tingkah.


"Biar Mas bantu," ujar Ryan.


Ryan membuka botol itu dan menaruh air itu pada kapas. Ryan mengusap muka Dilla dengan pelan-pelan supaya Dilla tidak terasa sakit. 


"Jika kamu menatap Mas seperti itu terus, maka Mas jadi grogi," ucap Ryan.


Dilla kembali tersipu. Dilla dari tadi memang fokus menatap Ryan.


"Sudah bersih di tempat lain. Sekarang tutup mata dan mulut dengan rapat, biar Mas bersihkan yang ada di sana," ujar Ryan.


Dilla dengan patuh menutup matanya dan memajukan sedikit mukanya agar Ryan dengan mudah bisa menghapus make up dengan teliti. Ryan menghapus semua make up yang ada di mata Dilla, kemudian tidak lupa mengusap lipstik yang ada di bibir Dilla. 


Lama-kelamaan mata Ryan berfokus pada bibir Dilla yang sedikit dimonyongkan agar mudah dibersihkan. Ryan mulai memajukan muka dia. Ryan ingin mencium Dilla. 


"Omy," panggil Rio.


Saat hampir dekat tiba-tiba Rio memanggil Dilla. Dilla yang dipanggil oleh Rio refleks membuka mata. Dilla terkejut saat melihat betapa dekatnya muka dia sama Ryan.


"Omy," panggil Rio lagi yang hampir mendekati mereka.


Dilla segera mendorong Ryan dengan cepat. Dilla tidak mau jika Rio bertanya macam-macam. Ryan dan Dilla sedikit menjauh.


"Ada apa sayang?" tanya Dilla.


"Muta Omy dan antik agi. Udah ndak milip cama antu," puji Rio.


Rio semakin mendekat. Rio mencoba naik ke atas sofa yang diduduki oleh Ryan dan Dilla. Rio ingin duduk diantara Ryan dan Dilla. Dengan susah payah Rio naik dengan usaha sendiri. 


Ryan menatap Rio tanpa berniat membantu sama sekali. 


"Papa tenapa ndak antu Liyo na ik. Liyo tan adi apek Pa," ujar Rio dengan mengelap dahi seakan ada keringat yang mengalir.


"Katanya Rio mau jadi abang yang mandiri. Masak naik ke atas sofa saja harus dibantu," kata Ryan beralasan. 


Padahal Ryan masih sedikit kesal dengan Rio yang datang tiba-tiba dan merusak moment romantis dia dan Dilla. 


'Untung anak sendiri.' 


"Jadi Rio sekarang mau dekat-dekat dengan Mama. Tidak takut lagi sama Mama," ujar Dilla manja.


"Iya Omy. Tan Liyo cayang Omy," kata Rio dengab memeluk lengan Dilla. 


"Kenapa tadi tidak mau duduk dekat Mama?" tanya Dilla.


Rio melepaskan pelukannya.


"Adi muta Omy celem."


"Kalau muka Mama serem Rio tidak mau mendekat?"


"Hehehe…," terkekeh Rio.


Bersambung....