Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 77. Makan Siang



Dilla, Ryan dan Rio memasuki restoran. Mereka memilih tempat duduk yang sedikit ke pojokan biar tidak terlalu bising. 


"Rio mau yang mana?" tanya Ryan.


Ryan sudah memilih menu untuk dirinya sendiri dan sekarang dia menawarkan kepada anaknya Rio yang ada di pangkuannya.


Rio mengambil buku menu dan berjalan ke arah Dilla. Rio naik ke pangkuan Dilla dengan bantuan Dilla.


Ryan menghela nafas, anaknya ini kalau ada Dilla pasti akan duduk di samping Dilla. Ryan kan juga mau Rio bermanja padanya.


"Omy mau yang mana," tawar Rio.


Dilla melihat menu yang ada di sana.


"Kalau Rio mau pilih yang mana?" tanya Dilla balik.


"Liyo mau yang cama engan Omy," sahut Rio.


Dilla kembali melihat dan membolak balik menu.


"Mommy mau pesan nasi goreng sama jus mangga saja," ujar Dilla setelah memilih menu.


Rio cemberut mendengar jawaban Dilla, dia merasa tidak puas.


"Jadi Rio mau pesan yang samaan sama Mommy, sini biar Papa yang catat," kata Ryan.


"Kenapa cemberut, katanya mau samaan pesannya," ujar Dilla menoel pipi Rio yang digembungkan.


"Ndak enyang Omy," protes Rio.


"Liyo mau ambah ni, ni, ni dan ni," tambah Rio sambil menunjukkan beberapa gambar makanan.


"Tapi itu terlalu banyak Rio," tegur Dilla.


Walaupun bukan uang Dilla yang habis, tapi Dilla tidak mau Rio menghamburkan makanan.


"Liyo mau matan yang banaak Omy," jawab Rio.


"Tapi itu terlalu banyak Rio, tidak akan habis jika Rio makan sendiri" kini Ryan juga menegur.


"Tan ada Omy, anti Omy yang abis tan," jawab Rio enteng.


"Mommy tidak akan membantu Rio menghabiskan makanan kali ini. Rio harus bisa menghabiskan sendiri atau kalau tidak sanggup pesan sedikit aja," jawab Dilla.


Dilla selalu yang jadi korban jika Rio tidak menghabiskan makanan. Jika dibuang terlalu mubazir bagi Dilla. Masih banyak orang diluar sana yang susah mencari sesuap nasi.


"Oteh Omy," jawab Rio yakin.


Mereka segera memanggil pelayan untuk memberikan kertas pesanan mereka. Lima belas menit kemudian semua makanan sudah siap disajikan.


Mereka makan dengan nikmat. Dilla sekali membantu Rio makan agar tidak belepotan. Di sela sela makan Ryan malah memperhatikan interaksi antara Dilla dan Rio. Mereka seperti Ibu dan anak sungguhan.


'Andai saja kamu masih di sini Riana, pasti sekarang kamu ada di posisi Dilla, yang menyuapkan makanan untuk anak kita.'


"Kenapa Tuan menatap Dilla begitu," tegur Dilla.


Dilla merasa grogi ditatap sama Ryan begitu intens.


"Saya hanya sedang berpikir saja."


Dilla menunggu kelanjutan dari ucapan Ryan.


"Seandainya Riana masih hidup, pasti sekarang dia ada di sini, di posisi kamu," jawab Ryan.


Rasanya hati Dilla ada yang mencubit. Dilla tetap mempertahankan ekspresi wajahnya, dia tidak mau Ryan melihat wajah kecewanya.


"Jadi Tuan berharap agar Dilla tidak ada di sini sekarang," ucap Dilla sebisa mungkin untuk tenang.


"Bukan bukan begitu maksud saya Dilla, kamu jangan salah paham dulu," Ryan mencoba mengelak. 


"Salah paham bagaimana Tuan. Kalau Mbak Riana di sini, pasti sekarang Dilla tidak mungkin ada di sini Tuan, apa Tuan bermaksud mengusir Dilla" ujar Dilla kecewa.


"Bukan begitu, saya hanya membayangkan jika kita seperti sebuah keluarga," jawab Ryan.


Dilla senang jika Ryan menganggap mereka seperti keluarga. Walaupun Ryan membayangkan jika Riana yang ada di depannya. Dilla yakin Ryan sudah mulai bisa menerima kehadirannya. 


"Omy tenyang," ujar Rio yang sudah siap makan.


Makanan Rio masih banyak yang tertinggal seperti prediksi Dilla.


"Katanya bisa menghabiskan makannya, itu masih banyak," ujar Dilla sambil menunjuk meja makan .


Dilla menghela nafas, sudah dia menduga Rio pasti tidak akan menghabiskan makanannya.


"Tapi mommy hanya sanggup makan sebagian punya Rio, Mommy tidak sanggup makan semuanya," ucap Dilla memperhatikan makanan yang masih banyak. 


Dia sudah selesai makan pesanannya sendiri, kalau makan punya Rio setengah masih sanggup tapi kalau semua dia tidak yakin. Perutnya bukan perut karet yang bisa diisi banyak makanan.


"Ya udah biar Papa yang habiskan setengah lagi, nanti kasihan Mommy Rio bisa gendut kalau terlalu banyak makan," kata ryan bercanda.


"Tuan, Dilla tidak gendut," ujar Dilla tidak terima.


Dilla memang merasa selama beberapa minggu ini berat badannya naik karena sering menghabiskan makanan Rio.


"Iya Omy endut, pipi Omy uga penuh. Lembut cepelti cuichi, tenyel tenyel" kata Rio sambil memegang pipi Dilla dan meremasnya.


Ryan malah ketawa melihat wajah Dilla yang lucu karena di unyel unyel sama Rio. Dilla segera menyingkirkan tangan Rio dari wajahnya. Rio suka sekali pegang pipi Mommynya sekarang.


"Udah Rio, jangan di pegang lagi, nanti pipi Mommy jadi sakit," tegur Dilla.


"Maaf Omy," kata Rio sambil ketawa.


"Rio mulai nakal ya sama Mommy."


"Hihihi abis Omy ucu."


"Sudah jangan ganggu Mommy dulu, Mommy mau lanjut makan, Rio duduk tenang aja di samping Mommy," ujar Dilla.


Dilla dan Ryan melanjutkan makan makanan punya Rio.


***


Setelah selesai makan mereka pergi ke kasir. 


"Ryan," Panggil Daniel rekan bisnis Ryan.


"Daniel," sahut Ryan balik.


Mereka berdua bersalaman dan bertegur sapa. Mereka selain rekan bisnis juga teman kuliah dulu.


Dilla memperhatikan pria yang ada di depannya. Dilla merasa sepertinya pernah melihat pria ini.


"Ini anak kamu?" tanya Daniel.


"Iya ini anak aku yang kedua, namanya Rio. Rio baru berusia 3 tahun, Rio ayo beri salam sama teman Papa," Ryan menyuruh Rio memperkenalkan diri.


"Allo Om, nama Liyo, Liyo," sapa Rio.


"Ah Rio masih cadel rupanya, Seperti Samuel waktu seusia Rio. Nah Rio perkenalkan ini Samuel anaknya Om, dia lebih tua dari Rio empat tahun," ujar Daniel.


"Berati Samuel seusia sama Reza anak pertama aku."


"Mungkin jika mereka bertemu mereka bisa jadi teman."


"Iya, mereka bisa jadi teman," sahut Ryan.


Daniel memajukan tubuh Samuel tapi samuel malah cuek dan diam saja.


"Ayo Sam kenalan sama Rio," suruh Daniel.


Samuel masih diam saja dia bahkan tidak mau melirik Rio. Rio yang melihatnya cemberut.


"Liyo ndak cuka cama cam, cam abai Liyo," kata Rio tidak suka.


"Aku juga tidak suka sama kamu, kamu itu bicara aja masih cadel," jawab Samuel pedas.


"Maafkan anak saya ya Ryan. Samuel memang tipe orang yang susah dekat sama orang lain," ujar Daniel tidak enak.


"Iya tidak apa apa," sahut Ryan.


Daniel kini melihat ke arah Dilla yang memperhatikan Rio dan Sam.


"Kalau yang ini siapa Ryan," tanya Daniel.


"Ah kalau ini namanya Dilla dia…."


"Ini Omy nya Liyo," jawab Rio bersemangat.


Dilla dan Ryan hanya melirik mendengar ucapan Rio, jika orang lain yang mendengar bisa salah paham.


Bersambung….