
Reza dan Rafa mulai menjalankan rencana mereka. Langkah pertama adalah mereka harus mencari kembali peta menuju ke rumah Dilla. Setelah mereka pulang sekolah, mereka segera buru-buru minta pulang ke rumah.
"Tumben kalian pulang dulu, biasanya langsung ke rumah sakit?" tanya Jelita.
"Kami ada barang yang tertinggal Tante, jadi harus pulang dulu," jawab Reza.
Jelita hanya mengiyakan saja. Mobil itu kembali berputar arah. Setelah sampai di rumah mereka segera ganti pakaian agar tidak dimarahi sama Jelita. Kemudian mereka berpura-pura mau mengambil mainan buat Rio. Mereka berlari ke tempat penyimpanan mainan.
Jelita yang tidak melihat-lihat gerak-gerik aneh pada mereka hanya mengingatkan pada mereka supaya tidak memberantakan barang. Mereka segera berlari ke ruang penyimpanan barang, mereka mulai membedah kotak yang biasanya tersimpan hasil gambaran.
Mereka sangat senang saat peta menuju ke rumah Dilla ditemukan.
"Rafaa lihat ini, ini adalah peta menuju ke rumah Mommy," ujar Reza senang.
Mereka berteriak senang karena telah menemukan peta tersebut.
"Husss, jangan terlalu ribut, nanti didengar sama yang lain," kata Rafa.
Rafa menganggukkan kepala.
"Sekarang kita perlu uang untuk menuju ke rumah Mommy," ujar Reza.
"Tapi bagaimana kita memperoleh uang? uang kita tidak mungkin cukup untuk pergi ke tempat Mbak Dilla," tanya Rafa.
Mereka memikirkan bagaimana mereka bisa mendapatkan uang. Tiba-tiba Rafa punya ide.
"Bagaimana kalau kita mengambil uang Daddy saja. Daddy banyak menyimpan uang di kotak besinya," usul Rafa.
"Bukannya kotak besi ada kode pengaman?" tanya Reza.
"Kamu tenang saja, Rafa tahu kodenya. Daddy biasa akan membuat kode tanggal pernikahan Daddy sama Mommy," sahut Rafa.
"Tapi jika kita mengambil tanpa izin tidak baik, itu namanya mencuri. Kalau ketahuan Mommy Dilla bisa dimarahi," ujar Reza takut.
"Kan kita ambil dulu, nanti kita bilang sama Daddy. Jadi kita tidak mencuri, hanya telat minta izin. Daddy pasti tidak marah akan marah kok," kata Rafa menyakinkan Reza.
Setelah bisa menyakinkan Reza, mereka segera lari ke kamar Dafa dan juga Jelita. mereja berlari bersembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh siapapun. Mereka membuka pintu masuk dan membuka lemari. Dafa memasukkan kode tersebut.
"Tuh kan bener apa kata Dafa, Daddy selalu membuat kode dengan kode ini," ujar Rafa bangga.
"Berapa banyak uang yang perlu kita bawa?" tanya Reza.
"Rafa juga tidak mengerti, kita tidak tau nanti perlu berapa," sahut Rafa.
Mereka bingung mau bawa uang berapa, mereka tidak tau harga tiket dan lainnya.
"Bagaimana kalau kita mengambil semuanya saja," usul Reza
"Ide bagus, kita bisa bawa semuanya. Jadi nantibkita perlu takut tidak cukup uang."
Mereka mengambil semua uang yang ada di dalam lemari itu. Mereka memasukkannya ke dalam baju mereka. Jumlah uang yang mereka ambil ada puluhan juta. Setelah mengambil uang, Rafa tidak lupa menutup kembali brankas dan juga lemari. Mereka kembali sembunyi-sembunyi lari ke kamar mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Jelita.
Mereka berdua terkejut dengan kehadiran Jelita.
"Eh ada Mommy," sahut Rafa.
"Kenapa kalian mengendap-endap seperti maling? apa yang ada di dalam baju kalian?" tanya Jelita curiga.
Reza dan Rafa saling melirik ketakutan. Mereka takut ketahuan.
"Ini hanya mainan kami Mommy. Kami bawa mainan ini buat Rio, biar Rio tidak bosan," jawab Rafa gugup.
Mereka memeluk uang itu dengan erat.
"Kalian boleh bawa mainan buat Rio, tapi jangan terlalu banyak," tegur Jelita.
"Baik," jawab mereka berdua.
Jelita segera pergi dari sana tanpa curiga sama sekali. Reza dan Rafa menghela nafas lega dan segera berlari ke kamar mereka yang ada di atas. Mereka masukkan semua uang tersebut ke dalam tas sekolah Reza.
"Kita juga perlu bawa baju untuk Rio. Kita tidak mungkin bawa Rio pergi dengan baju rumah sakit," sahut Rafa.
"Bentar, biar Reza ambilkan baju buat Rio."
Reza berlari ke kamar Rio, dia mengambil dua sepasang Rio. Reza kembali ke kamar sendiri. Mereka memasukkan pakaian ke dalam tas Rafa.
"Sekarang kita sudah selesai menyiapkan semuanya, ayo kita segera ke rumah sakit," ajak Reza.
"Ayo," jawab Rafa bersemangat.
***
Rio yang melihat Reza dan Rafa masuk merasa senang, walaupun Rio tidak tersenyum seperti biasa. Reza segera memberi kode kepada Rio agar tidak ribut.
"Kalian sudah sampai," ujar Rita.
"Iya Nek."
"Rafa, bagaimana kita bisa membawa Rio tanpa diketahui oleh Nenek dan juga Tante Jelita?" tanya Reza.
"Rafa ada ide, Mommy Rafa, biar Rafa yang urus," bisik Rafa.
"Mommy," panggil Rafa.
"Iya sayang," sahut Jelita.
"Mommy, Rafa es krim dong, apalagi sekarang cuacanya sangat panas," ujar Rafa.
Jelita melihat ke arah luar jendela, memang cuaca sedikit panas hari ini.
"Baik sayang, akan Mommy belikan. Apa kalian mau ikut?" tanya Jelita.
"Rafa capek Mommy, kami tunggu di sini aja ya," Jawab Rafa dengan wajah memelas.
"Baiklah, Mommy akan segera pergi sendiri. Kalian baik-baik di sini ya," ujar Jelita.
Jelita mengambil tasnya dan keluar dari kamar. sekarang.
"Sekarang tugas mengalihkan Nenek biar urusan Reza saja," kata Reza.
Reza mendekati Rita yang sedang duduk di kursi. Rita membaca koran sambil minum teh yang ada di meja di depan. Reza dengan sengaja mendorong gelas teh sehingga airnya tumpah mengenai baju yang dipakai Rita. Teh tersebut tidak lagi panas karena tinggal sedikit lagi.
"Ya ampun Reza, apa yang Reza lakukan?" tanya Rita.
"Maaf Nek, Reza tidak sengaja. Tadi Reza hanya berniat mengambil buah yang ada di samping Nenek," bohong Reza.
"Lain kali hati-hati sayang. Untung saja tehnya sudah dingin. Kalian tunggu di sini dulu ya. Nenek mau cuci baju yang terkena teh biar tidak naik semut," kata Rita.
Rita bangkit dan pergi ke kamar mandi. Sekarang tinggallah mereka bertiga di dalam kamar. Mereka berdua segera mendekati ranjang Rio. Mereka dengan susah payah mencoba melepaskan sedang infus dari tangan Rio. Rio menahan rasa kesakitan saat benda itu ditarik hati-hati sama Reza dan juga Rafa.
"Bagaimana apakah sakit Dek?" tanya Reza khawatir.
"Atit ditit Bang Eja," jawab Rio meringis.
Reza meniupkan bekas luka suntikan ditangan Rio.
"Maaf ya Dek jika sakit," ujar Reza merasa bersalah.
Rio menganggukan kepalanya.
"Rio pakai baju ini dulu ya, biar kita tidak ketahuan sama yang lain," suruh Rafa.
Reza dan Rafa membantu Rio menggantikan baju rumah sakit dengan baju yang dibawakan oleh Rafa. Setelah memastikan Rio selesai memakai baju dengan rapi, mereka membantu Rio untuk turun.
"Turunnya pelan-pelan ya, biar tidak jatuh."
Mereka membuka dan menutup pintu dengan suara yang pelan. Mereka segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Bersambung....