Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 132. Jalan-jalan



Dafa dan Jelita membawa Rio, Reza dan Dafa ke pusat perbelanjaan. Mereka bertiga dari tadi sudah semangat untuk makan es krim. Mereka telah duduk pada salah satu meja yang ada di dalam restoran yang ada di jual es krim.


"Sekarang kalian mau pilih es krim yang mana?" tanya Dafa. 


Dafa menyerahkan buku menu itu kepada mereka bertiga. Mereka bertiga dengan semangat membuka buku itu untuk mencari es krim yang menarik bagi mereka. Semua gambar es krim itu terlihat sangat enak bagi mereka bertiga. Mereka sampai bingung mau beli yang mana.


"Jadi kalian memutuskan ingin beli yang mana?" tanya Dafa lagi.


"Rafa mau yang ini saja Daddy, Rafa mau yang rasa blueberry sama rasa vanilla ini," ujar Rafa menunjukkan gambar yang dia maksud


"Reza mau yang rasa vanila dan coklat ini," kata Reza.


"Kalau Rio mau pilih yang mana?"


"Liyo mau cemuana. Yang ni ni ni. Lacana asti wuenak," sahut Rio.


"Tidak bagus kalau terlalu banyak makan es krim. Nanti bisa sakit perut dan juga sakit gigi. Memangnya Rio mau sakit perut dan gigi," kata Dafa dengan mimik seolah-olah lagi sakit gigi dan perut.


"Api Liyo mau matan yang banaak Addy. Tan tata Addy Liyo bicara matan yang banaak," sahut Liyo.


'Giliran makanan tidak lupa.'


"Ya sudah kalau Rio mau makan yang banyak. Nanti kalau Rio habis makan es krim ini dan sakit gigi, Daddy tidak akan memberikan Rio coklat lagi ya. Kalau sakit gigi nanti Mama Rio juga yang repot," kata Dafa menakut-nakuti Rio.


"Emmm… Liyo ndak mau Omy cedih. Liyo uga mau matan clat-clat. Liyo ndak mau matan banaak Addy. Liyo mau matan ni ni aja," kata Rio sambil menunjukkan es krim warna coklat dan putih.


Dafa dan Jelita menggelengkan kepala. Rio ternyata masih tetap mau makan banyak, tetapi tidak sebanyak permintaan yang pertama. 


"Ya sudah jika Rio mau pesan itu," ujar Dafa mengalah. 


Dafa segera memanggil pelayan agar mencatat pesanan mereka. Dafa juga menambahkan beberapa cake sebagai teman makan es krim. Mereka bertiga berteriak senang dan dengan lahap makan es krim dan juga cake yang telah dipesankan oleh Dafa. 


Mereka sudah selesai menghabiskan es krim. Rio juga berhasil menghabiskan 2 porsi es krim tanpa tersiksa sedikitpun ditambah dengan makan cake.


Setelah mereka selesai menikmati makan es krim mereka pergi dari sana.


"Karena kalian sudah makan es krim, bagaimana kalau sekarang kita pergi bermain?" tanya Dafa.


"Ndak adi beli clat-clat Addy," sahut Rio menagih janji Dafa yang akan membelinya coklat yang banyak. 


"Kalian kan tadi baru siap makan es krim, jadi nanti saja ya kita beli coklatnya," kata Dafa.


"Oteh," jawab Rio lesu.


"Bagaimana kalau kita main yang itu saja," tunjuk Jelita pada wahana permainan anak-anak.


"Permainan apa itu?" tanya Dafa.


"Itu namanya mandi bola. Kalian bertiga pasti akan senang main itu," ujar Jelita.


"Tapi kalau mandi nanti…."


"Liyo mau Liyo mau," jawab Rio antusias.


"Rafa juga mau Mommy, ayo Rio, Reza kita kesana," ajak Rafa.


"Iya," sahut Reza.


Setelah membelikan tiket untuk mereka berlima, mereka memasuki wahana permainan itu dengan cepat. Lebih tepatnya trio R yang buru-buru masuk.


"Sekarang siapa yang mau mandi bola? tanya Dafa.


Rio, Reza dan Rafa segera mengangkat tangan dengan semangat.


"Ya sudah kalau mau mandi sini lepaskan bajunya dulu," kata Dafa mendekati rit dan ingin membuka baju milik Rio.


"Dafa, kenapa kamu buka baju Rio?" tanya Jelita.


"Kan katanya mau mandi. Jadi bajunya dilepaskan dulu biar tidak basah," sahut Dafa.


Jelita, Rio, Reza dan Rafa beserta beberapa orang pengunjung yang mendengar perkataan Dafa mereka menertawakan Dafa. Dafa bingung sendiri kenapa mereka semua pada tertawa.


"Kenapa kalian pada tertawa semua? apa ada yang lucu?" tanya Dafa tidak mengerti.


Dafa semakin bingung karena masih tidak paham kenapa mereka tertawa.


"Dafa main bola itu tidak perlu lepas baju. Maksudnya mandi bola mereka bermain sama bola-bola yang banyak. Itu bukan mandi beneran," kata Jelita menjelaskan dengan masih menahan tawa.


"Ahhh…."


Dafa sudah paham apa yang masuk dengan mandi bola. Sekarang dia tau kenapa yang lain juga ikutan tertawa. Dafa jadi malu sendiri.


"Oh begitukah," ujar Dafa canggung.


Dafa menggosokan lehernya karena malu.


"Ma melihat deh Om itu. Masa Om itu tidak tahu mandi bola."


"Sayang itu tidak baik. Ayo kita pergi saja,"kata ibu dan anak itu. 


Ibu itu menunduk minta maaf dengan masih menahan geli juga.


" Kenapa kalian masih tertawa juga. Apa kalian tidak jadi mandi bola. Jika tidak ayo kita segera keluar dari sini aja," ajak Dafa kepada mereka bertiga.


"Eh Daddy jangan begitu dong. Kan kita baru masuk. Main saja belum masak mau pulang aja," protes Reza.


"Iya, Daddy masak gara-gara bikin malu sendiri kita tidak main lagi," tambah Rafa.


Dafa menghelakan nafasnya dan mencoba sabar.


"Sudah sana kalian pergi main sekarang atau kita keluar dari sini," ujar Dafa mengusir mereka.


Mereka bertiga segera berlari ke arah tempat permainan bola tersebut.


Dafa menundukkan diri pada salah satu bangku yang ada di sana di samping Jelita. Jelita sudah duduk duluan di sana.


"Kamu ini ada ada aja Dafa," kata Jelita terkekeh.


"Mana aku tahu jika mandi bola bukan mandi beneran. Ini namanya permainan sesat," ujar Dafa tidak Terima 


Jelita kembali tertawa dengan jawaban Dafa.


Jelita merebahkan kepalanya pada bahu Dafa. Mereka berdua memperhatikan Rio, Reza dan Rafa yang sedang mendorong bola-bola itu. Setelah bermain kurang lebih 1 jam mereka keluar dari sana. Mereka sudah sangat puas bermain mandi bola.


***


"Adi tan Addy beli clat-clat," tuntun Rio setelah mereka keluar dari sana


'Masih aja teringat sama coklat,' batin Dafa.


"Kita belinya nanti saja ya. ekarang kita main permainan yang lain lag. Nanti saat kita pulang baru kita belikan coklat yang banyak karena jika kita beli sekarang nanti kita harus bawa kemana-mana makanannya," ujar Dafa.


"Oteh Addy, tapi angan boong ya."


"Iya, masa Daddy yang ganteng begini bohong," sahut Dafa pede sambil tersenyum merekah.


"Papa kan sering bohong sama Rafa dulu," ujar Rafa.


Senyuman Rafa langsung luntur mendengar perkataan Rafa. 


"Daddy kan sudah berubah, jadi Daddy tidak akan berbohong lagi," kata Dafa memperbaiki imeg di depan anaknya.


"Masak sih Daddy? kemarin Daddy janji.au beli Rafa robot. Tapi sampai sekarang Rafa juga belum dibelikan. Kata Daddy kemarin-kemarin lupa. Kenapa Daddy jadi pelupa sih," tambah Rafa.


Dafa kicep. Dia memang janji mau beliin Rafa mainan. Tapi karena kesibukan dia jadi lupa.


"Iya, Daddy mengaku salah. Habis ini kita beli mainan ya," ucap Dafa.


"Benel ya Addy angan boong lagi."


"Iya, Daddy tidak bohong," sahut Dafa.


Bersambung….


Note: Jangan janjikan apapun sama anak kecil jika tak bisa dikabulkan. Anak kecil memiliki ingatan yang kuat dan akan menagihnya sampai mereka dapat.