Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 155. Ngidam part 2



Maaf telat up 🙏🙏🙏.


Selamat membaca.


Jangan lupa like, komentar dan vote ya. Serta follow saya juga. Terima kasih.


Happy for Reading….


***


"Bagaimana Mas? apa dapat nasi gorengnya?" tanya Dila la begitu Ryan membuka pintu.


Ryan meletakkan dua bungkus nasi goreng itu di atas meja. Dilla segera meraih nasi goreng tanpa disuruh.


"Mas beli dua? apa Mas masih lapar juga?" tanya Dilla.


"Ah iya," jawab Ryan tidak enak.


Dilla mengangguk-angguk kepala. Dilla kemudian melanjutkan membuka kantong plastik. Dilla mencium bau salah satu bungkus nasi goreng untuk menemukan yang mana pesanan dia. Setelah mencium baunya sebentar, Dilla membuka salah satunya.


"Pasti ini yang dibuat sama penjual nasi goreng sama pak kumis dan memakai kain sarung?" kata Dilla setelah melihat nasi goreng.


Ryan tidak menjawab sama sekali. Ryan meletakkan air minum di samping Dilla supaya Dilla bisa segera minum. Ryan takut jika Dilla akan memuntahkan nasi goreng itu. Oleh karena itu Ryan sengaja membuka pintu kamar mandi supaya Dilla mudah ke sana.


Ryan ikut duduk di samping Dilla. Ryan membuka nasi goreng yang normal dibanding punya Dilla. Tatapan Ryan tidak lepas dari Dilla.


Dilla begitu menikmati mencium nasi goreng, berbanding terbalik dengan Ryan yang mual. Dilla memasukkan suapan pertama, kening Dilla berkedut saat rasa nasi goreng menyentuh lidahnya.


"Bagaimana enak?" tanya Ryan harap-harap cemas.


"Enak Mas. Apa nasi goreng ini pakai resep baru ya. Rasanya agak beda, seperti rasa coklat," sahut Dilla dengan terus mengunyah.


"Iya resep baru," jawab Ryan salah tingkah.


"Apa kamu tidak sakit perut makan nasinya?" tanya Ryan penasaran.


"Kenapa Mas bertanya seperti itu? Mas tidak menaruh sesuatu di nasi goreng kan?" tanya Dilla balik.


"Tidak tidak, itu… itu sakit perut karena kamu menunggu lama, iya menunggu lama," sahut Ryan panik.


"Oh," respon Dilla.


Setelah Ryan memastikan Dilla makan dengan nyaman, Ryan juga mulai memakan nasi goreng jatah satu lagi. Mata Ryan masih fokus pada wajah Dilla yang begitu menikmati nasi goreng itu.


Beberapa waktu berlalu. Dilla hanya sanggup menghabiskan setengah bungkus nasi goreng. Sedangkan Ryan sudah menghabiskan satu bungkus dari tadi. Dilla mendorong setengah porsi lagi buat Ryan.


"Ini buat Mas saja. Dilla sudah kenyang," kata Dilla.


"Mas juga sudah kenyang. Mas baru habiskan satu bungkus nasi goreng," sahut Ryan.


Ryan takut untuk mencoba yang kedua kalinya. Ryan masih terbayang rasa nasi goreng itu.


"Jadi Mas tidak mau makan jatah punya Dilla? Apa Mas jijik sama bekas makan Dilla," kata Dilla kecewa.


Sekarang Dilla dalam masa sensitif.


"Bukan seperti itu. Baiklah, akan Mas makan," pasrah Ryan akhirnya.


Ryan kembali mengambil sendok dan memulai suapan pertama. Tangan Ryan gemetar saat nasi itu menuju mulutnya. Ryan rasanya ingin memuntahkan kembali tapi melihat Dilla yang menatap dia, Ryan terpaksa mengunyah asal-asalan dan segera menelannya. Setelah itu, Ryan segera mengambil air minum dan minum yang banyak untuk menghilangkan rasa asin dan pahit.


"Bagaimana Mas? Enak kan?" tanya Dilla.


"Iya enak," jawab Ryan berbohong.


"Mas pintar cari penjual nasi gorengnya. Mas menghabiskan nasi gorengnya ya. Dilla ingin tidur kembali. Dilla sangat ngantuk," ujar Dilla sambil mengusap perut.


Setelah itu Dilla segera berbaring dan langsung tertidur. Ryan menatap antara nasi goreng dan Dilla.


"Ryan ini adalah ujian. Ini adalah demi calon anak kamu sendiri. Kamu pasti bisa," kata Ryan menyemangati diri sendiri.


Sepuluh menit kemudian.


"Akhirnya habis juga," kata Ryan sambil mengelap keringat yang keluar.


"Semoga perut aku baik-baik saja besok," guman Ryan.


Ryan memutuskan untuk tidur kembali setelah menunggu beberapa saat. Setelah beberapa menit tertidur Ryan terbangun beberapa kali ke kamar mandi karena terlalu banyak minum. Hal itu terulang beberapa kali. Satu jam kemudian Ryan terbangun kembali karena merasa perutnya berputar-putar.


"Aduh…."


Ryan segera berlari ke kamar mandi. Sepanjang malam itu Ryan bolak-balik antara tempat tidur dan kamar mandi karena diare.


***


"Mas kenapa?" tanya Dilla.


"Tidak apa-apa sayang," jawab Ryan lesu.


"Tapi wajah Mas sangat pucat," ucap Dilla.


"Mas tidak ukh…."


Perkataan Ryan terputus karena tiba-tiba Ryan ingin muntah. Ryan segera berlari ke kamar mandi. Dilla juga ikut menyusul.


"Ukh… ukh… ukh…."


Ryan memuntahkan semua makanan yang belum sempat dicerna semua.


Dilla dengan telaten mengosok tekuk Ryan.


"Mas kita ke rumah sakit ya. Dilla khawatir sama keadaan Mas," ujar Dilla.


"Hah hah…. Mas tidak ap… ukh…."


Ryan kembali memuntahkan kan isi perut yang sudah kosong.


"Kita ke rumah sakit ya," pinta Dilla hampir menangis.


"Baiklah, kita ke rumah sakit," jawab Ryan pasrah.


***


"Jadi bagaimana keadaan suami saya Dokter?" tanya Dilla setelah dokter memeriksa Ryan.


Ryan masih terbaring di ranjang karena terlalu lemas.


"Sebelum itu saya ingin bertanya, apa Ibu sedang hamil?" tanya dokter.


"Iya Dokter," jawab Dilla.


"Sudah saya duga. Tadi suami Ibu sempat mengatakan jika dia sudah beberapa hari mengalami muntah-muntah. Mungkin ini adalah morning sickness," kata dokter.


"Morning sickness?" tanya Dilla.


"Iya, morning sick adalah hal biasa yang dialami oleh ibu hamil. Tetapi bisa juga dirasakan oleh ayah sang bayi," ujar sang dokter.


Dilla segera melihat ke arah Ryan.


"Kenapa mas tidak pernah menceritakan kepada Dilla?" tanya Dilla melihat ke arah Ryan.


"Mas tidak ingin kamu cemas. Mas pikir, jika Mas hanya masuk angin biasa," jawab Ryan lemah.


"Jadi suami saya baik-baik saja kan Dokter?" tanya Dilla setelah berfokus kembali kepada dokter.


"Iya, semuanya baik-baik saja. Ini saya kasih resep agar suami Ibu bisa menahan morning sickness dan juga vitamin agar suami Ibu masih bertenaga. Ibu bisa menembusnya segera di apotek," ujar sang dokter.


Dilla segera pergi ke apotek setelah minta izin pada Ryan dan dokter.


Dokter kembali menuju ke arah Ryan setelah Dilla keluar.


"Bagaimana keadaan Bapak?"


"Tubuh saya sangat lemas Dokter."


"Semua itu wajar karena Bapak sedang mengalami morning sickness. Apalagi tadi malam Bapak bilang Bapak salah makan. Sebenarnya Bapak lemas bukan karena morning sickness tetapi gara-gara makan nasi goreng yang Bapak makan semalam. Itu yang menjadi penyebab utama Bapak lemas. Bapak banyak kekurangan cairan karena diare."


"Terima kasih ya Dokter. Dokter tidak menceritakan kepada istri saya


Saya tidak mau jika istri saya khawatir dan merasa tidak bersalah," ujar Ryan.


"Iya Tuan sama-sama," ujar Dokter.


***


Ryan beristirahat sebentar setelah minum obat. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah setelah Ryan merasa baikan. Sepanjang hari mereka habiskan untuk beristirahat di kamar. Mereka tidak lupa mengabari orang di rumah karena cepat pulang.


Rita dan lainnya bertanya kenapa mereka cepat pulang. Ryan dan Dilla sengaja merahasiakan itu semua agar menjadi kejutan bagi keluarga mereka. Berita kepulangan Ryan dan Dilla disambut suka cita oleh Rio dan Reza.


Bersambung….