Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 22. Bergerak



Malam harinya di kediaman Suherman. Kini mereka akan menyantap makan malam. Di meja makan sudah ada Aditya dan Rita, tidak berapa lama kemudian Dilla, Reza dan Rio tiba. Mereka langsung menuju ke meja makan. Rita segera mengambil nasi serta lauk pauk untuk suaminya. Sedangkan Dilla mengambil nasi dan lauk untuk Reza dan Rio. Dilla segera menyerahkan piring ke Reza dengan senang hati diterima oleh Reza. Kini tiba untuk piring Rio.


"Omyyy... niii...," kata Rio menunjukkan udang goreng tepung yang ada di depannya.


"Ini...?" tanya Dilla sambil mengambil udang goreng tepung.


Rio menganggukan kepalanya. Rita dan Aditya kaget mendengar Rio yang sudah bisa berbicara. Mereka tadi ingin menyuapkan nasi ke mulut, tapi diurungkan niatnya karena mendengar Rio yang berbicara. Mereka juga mengabaikan panggilan Rio ke Dilla.


"Pa, Rio sudah bisa bicara Pa, Mama tidak menyangka akan mendengar suara Rio malam ini," ujar Rita senang.


Aditya menganggukkan kepalanya, ada sebutir air mata yang ada di ujung matanya. Tapi segera dia hapus. Ini adalah salah satu momen yang mereka tunggu, biasanya anak kecil akan mulai berbicara sekitar umur satu tahun.


"Sayang, cucunya Nenek sudah bisa bicara, Nenek merasa sangat senang sekali. Dilla kapan Rio bisa bicara?" tanya Rita.


Rita segera meraih pipi Rio untuk dicium beberapa kali dan kemudian beralih ke Dilla.


"Baru tadi sore Rio bisa bicara Tante."


"Ya ampun cucu Nenek, coba panggil Nenek. Nenek mau dengar Rio memanggil Nenek," ujar Rita bersemangat.


Rio melihat ke arah Dilla terlebih dahulu untuk meminta persetujuan. Melihat Dilla yang menganggukkan kepala maka Rio kemudian melihat ke arah Rita.


"Neeek...," kata Rio pelan.


"Ya ampun pintarnya cucu Nenek."


"Sekarang ayo bilang Kakek juga," kata Aditya tidak kalah antusias.


Sekali lagi Rio melihat ke arah Dilla. Melihat Dilla yang menganggukkan kepala lagi maka Rio kemudian melihat ke arah Aditya.


"Teeek...."


"Teeek...?" ujar Aditya.


Aditya merasa aneh dengan panggilan sang cucu.


"Mungkin karena Rio baru mulai bisa berbicar, jadi bicaranya belum lancar Om," jelas Dilla melihat respon Aditya.


"Ihh Papa ini gimana sih, Rio tu masih baru bisa bicara jadi wajar hanya satu kata yang bisa diucapkan. Dulu Ryan dan Reza juga gitu saat pertama kali bicara," tambah Rita.


"Ahhh Papa lupa, karena saat seumuran dengan Rio. Reza dan Ryan sudah lancar bicaranya," sanggah Aditya.


"Sudah lah Pa, sekarang kita lanjut makan aja. Rio mau makan apa lagi biar Nenek ambilkan untuk Rio. Ini mau tumis brokoli sangat baik untuk kesehatan," potong Rita mengalihkan pembicaraan.


"Ndak auu, omyyy niii...," tolak Rio atas sayuran berwarna ijo yang ditawari Rita.


Rio lagi-lagi nunjuk ke arah udang goreng tepung lagi. Dia ingin makan udang goreng tepung yang banyak.


"Omyyy...?" tanya Rita.


Aditya juga penasaran kenapa Rio memanggil Dilla omyyy.


"Ahh itu Tante, itu kata pertama yang Rio ucap. Mungkin dia melihatnya di TV tadi siang jadi masih kebawa sampai sekarang," jelas Dilla dengan canggung.


'Aduh Rio jangan panggil Mommy lagi dong, kan tidak enak sama Tante dan Om nya.'


"Oh begitu," ujar Rita mengiyakan perkataan Dilla.


"Omyyy niii...," Rio masih ngotot mereka menunjuk ke arah udang goreng tepung yang belum ditambah sama Dilla.


Dilla segera mengambil apa yang Rio mau, kemudian diberikan piring itu ke depan Rio. Rio menerima dengan senang hati. Kini Rio sudah mulai diajarkan makan sendiri, walaupun belepotan dan harus dibantu sekali-kali. Rio makan udang goreng tepungnya dengan begitu lahap.


Sekarang makan malam sudah selesai beberapa menit yang lalu, ketiganya kini menuju ke kamar Ryan. Mereka ingin memberikan kejutan ini kepada Ryan. Sedangkan Rita dan Aditya balik ke kamar mau istirahat karena capek seharian sudah sibuk dengan aktifitas masing-masing.


Dilla mengendong Rio di tangan kiri dan di tangan kanan memegang tangan Reza. Kebetulan di depan pintu mereka berpapasan sama bi Imah yang lagi membawa makan malam buat Ryan.


"Bi mau antar makan malam buat Tuan Ryan ya. Biar Dilla aja yang sekalian kasih," kata Dilla dengan menurunkan Rio dari gendongan.


"Apa tidak apa-apa ni Dilla. Bibi jadi tidak enak sama kamu. Kamu udah jaga mereka berdua, pasti capek," kata bi Imah.


"Tidak apa-apa kok Bi Imah, karena sekalian kami mau menemui Tuan Ryan juga kok. Iya kan Reza, Rio," Dilla meminta pendapat Reza dan Rio.


Mereka berdua menganggukkan kepala mereka.


"Kalau gitu terima kasih ya. Bibi juga mau lanjut beres-beres di dapur, masih banyak pekerjaan yang harus Bibi lakukan sebelum Bibi tidur."


"Iya Bi sama-sama. Ayo Rio Reza kita masuk ke kamar Papa. Bi kami langsung masuk ke kamar Tuan Ryan ya," pamit Dilla saat kini nampan sudah ada di tangan Dilla.


Mereka bertiga langsung masuk, dilihatnya Ryan yang lagi di depan jendela memandang langit.


"Papa...," panggil Reza.


Dilla segera meletakkan nampan di atas meja kemudian didorongnya kursi roda Ryan menuju karpet samping meja.


"Anak Papa sudah ada di sini," kata Ryan senang.


Kini Ryan sangat senang saat anaknya mengunjunginya.


"Iya Pa, Reza ada kejutan buat Papa lho...."


"Oh ya... kejutan apa sayang. Papa tidak sabar ingin tau apa kejutan yang akan Reza katakan sama Papa," kata Ryan senang.


"Rio sini," panggil Reza kepada adiknya.


Rio segera mendekat ke arah abangnya dengan bingung.


"Rio sekarang ayo panggil Papa," suruh Reza dengan senang.


Ryan yang mendengar ucapan Reza sungguh terkejut. Dia sangat terharu jika anaknya sudah bisa berbicara. Ryan kini menunggu anaknya memanggil namanya. Seperti tadi Rio melihat ke arah Dilla lagi, Dilla yang melihat Rio menoleh ke arahnya Dilla menganggukkan kepalanya.


'Kenapa dari tadi selalu melihat ke arah Dilla ya sebelum bicara. Seperti anak bebek yang mengikuti induknya saja.'


Melihat Dilla yang menganggukkan kepala maka Rio kemudian melihat ke arah Ryan. Rio segera berjalan ke arah Ryan.


"Pa... Pa...," ujar Rio memeluk kedua kaki ayahnya.


Ryan meneteskan air matanya, anaknya benar-benar sudah bisa berbicara. Tadi kedua tangan Ryan berada di atas pegangan kursi roda, perlahan namun pasti Ryan tanpa sadar menggerakkan tangannya hingga tangannya kini sudah berada di atas tubuh Rio. Ryan sedang memeluk Rio tanpa sadar dengan air mata yang terus mengalir tanpa berhenti.


Bersambung....