Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 153. Pasal di Dunia



Jangan lupa vote yang banyak, like dan komentar ya.


Terima kasih banyak.


Selamat membaca.


***


Dilla tadi terbangun saat dokter dan Ryan sedang berbicara. Dilla sempat mendengar kalau dia sedang hamil. Setelah mendengar jika dia sedang hamil Dilla yang tidak berfokus lagi pada pembicaraan dokter dan Ryan. Saat ini Dilla merasa senang jika dia beneran hamil.


Senyuman terukir indah di wajah Dilla. Tetapi Dilla langsung luntur saat Ryan sedang berkata kurang beruntung.


"Jadi Mas tidak mau dengan kehadiran anak ini?" tanya Dilla sedih dengan memotong pembicaraan Ryan dan dokter.


"Bukan begitu sayang. Maksud Mas…."


"Apa Mas tidak senang dengan kehadiran bayi kita ini?" tanya Dilla lagi.


"Tidak, Mas…."


"Jadi Mas tidak senang. Apa hanya Dilla saja yang senang di sini," potong Dilla dengan air mata yang sudah turun.


"Bukan begitu sayang. Kamu salah paham. Mas…."


"Apanya yang salah paham Mas? Tadi Dilla dengar sendiri jika Mas merasa tidak beruntung dengan kehamilan Dilla."


"Bukan, bukan itu maksud Mas," bantah Ryan dengan buru-buru. 


"Bukannya apa Mas. Jika Mas tidak mau anak ini, biar Dilla saja yang menjaga dan merawat sendiri," ujar Dilla kecewa dan segera turun dari tempat tidur. 


Dilla menuju ke arah pintu keluar. Dilla tidak menyangka jika Ryan menolak anak mereka.


"Dilla tunggu," panggil Ryan.


Dilla berhenti jalan, dia segera berbalik arah dan melihat ke arah Ryan. 


"Mas jangan ikuti Dilla. Dilla tidak mau melihat Mas. Dilla kecewa sama Mas," kata Dilla. 


Dilla keluar dari ruangan inap tersebut.  


"Kenapa semua jadi kacau begini," cuman Ryan sambil menarik rambutnya. 


Padahal Ryan yang tidak bermaksud untuk menolak kehadiran calon anaknya. Ryan malah senang Dilla bisa hamil cepat. 


"Kenapa Dilla hanya mendengar kalimat ujungnya saja dan tidak mau mendengar penjelasan aku," kata Ryan pada hembusan angin. 


"Tuan," panggil dokter.


Ryan berbalik ke arah dokter.


"Tuan, saya hanya ingin mengatakan suatu hal kepada Tuan tentang pasal yang berlaku di dunia ini," kata dokter dengan serius.


"Apa itu Dokter?" tanya Ryan penasaran. 


"Asal Tuan tau, di dunia ini hanya berlaku dua pasal. Tidak tidak, sekarang untuk Tuan berlaku tiga pasal."


Ryan menaikkan alisnya mendengar perkataan dokter. Ryan tidak tahu maksud dari perkataan dokter. 


"Pasal pertama perempuan selalu benar. Pasal yang kedua jika perempuan salah maka kembali ke pasal satu. Dan pasal yang ketiga yaitu, sehubungan dengan saat ini istri Tuan sedang hamil, maka pasal ketiganya adalah semua perkataan istri Tuan selalu benar. Meskipun dia bilang api tercipta dari air maka sebaiknya Tuan mengiyakan saja, jika Tuan tidak mau adanya perang dunia ketujuh dihubungan suami istri Tuan," kata dokter sambil menepuk bahu Ryan.


Setelah itu dokter segera keluar dari ruangan yang diikuti oleh suster. Mendengar perkataan sang dokter Ryan jadi galau. 


"Apa benar aku harus mengiyakan semua perkataan Dilla. Tapi bagaimana bisa api diciptakan dari air?" tanya Ryan.


Daripada pusing memikirkan perkataan dokter, Ryan memilih untuk segera mengejar Dilla yang sudah berjalan jauh. Ryan takut jika Dilla kenapa-kenapa.


***


Dilla terus saja berjalan dengan langkah yang cepat. Dilla merasa kecewa dengan Ryan. Langkah Dilla semakin lama semakin pelan saat mengingat kembali perkataan dia kepada Ryan. 


Langkah Dilla sekarang menuju ke salah satu bangku yang ada di dalam rumah sakit. Dillaa sudah terlalu capek untuk berjalan lagi. Dilla memutuskan untuk beristirahat sejenak.


"Terrnyata kamu di sini sayang," ucap Ryan dengan nafas yang terputus-putus. 


Ryan sudah putar-putar rumah mencari Dilla di sekitar rumah sakit. Ryan bahkan sudah mencari sampai lobi rumah sakit tapi tidak menemukan Dilla. Akhirnya Ryan mencoba mencari lagi ke dalam rumah sakit sampai dia ada di depan Dilla sekarang. 


Dilla hanya melihat sekilas ke arah Ryan. Kemudian Dilla mengalihkan lagi pandangan. Dilla tidak mau melihat ke arah Ryan.


Ryan ikut menyusul duduk di samping Dilla. Ryan ingin mengistirahatkan diri. 


"Kenapa Mas masih mengikuti Dilla?" tanya Dilla. 


"Bagaimana Mas tidak mengikuti kamu sayang. Mas khawatir sama kamu dan juga calon anak kita," sahut Ryan.


"Mas bilang khawatir sama Dilla dan calon anak kita? Bukannya Mas tidak peduli dengan calon anak yang Dilla kandung ini," kata Dilla menyindir perkataan Ryan tadi.


Ryan bangun dari kursi dan berjongkok di depan Dilla. Ryan meraih dan menggenggam kedua tangan Dilla. 


"Sayang, kamu tadi salah paham. Mas tidak bermaksud berkata seperti itu," Ryan mencoba melemahkan suara agar Dilla bisa luluh.


"Dilla mendengar sendiri Mas. Mas tadi bilang jika Mas merasa tidak beruntung," kata Dilla malingnya wajah dari Ryan.


Ryan menghela nafasnya sebelum dia lanjut berbicara sama Dilla. Ryan memang harus lebih bersabar sekarang.


"Sayang kamu masih ingat kenapa kita pergi ke sini?" tanya Ryan.


Dilla menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kita pergi ke sini untuk menikmati waktu kita berdua, menghabiskan malam dengan bersama di kasur. Mas hanya tidak menyangka jika ternyata kamu sudah hamil. Dokter juga mengatakan jika untuk sementara waktu kita tidak boleh berhubungan badan. Oleh karena itu, Mas merasa kurang beruntung karena Mas tidak bisa meminta hak Mas sama kanu saat ini. Mas harus bisa menahan diri agar tidak membahayakan kamu dan calon anak kita. Mas harap Dilla paham dan tidak salah tafsir," terang Ryan panjang lebar.


Dilla yang tahu maksud perkataan Ryan segera berdiri. Muka Dilla sudah memerah merona. Dilla malu mendengarkan perkataan Ryan. Ryan berbicara di tempat terbuka.


"Tetap saja Mas membuat Dilla kecewa," ucap Dilla berfokus kembali pada pokok permasalahan untuk menutupi rasa malu.


"Iya, Mas minta maaf," sesal Ryan.


"Apa hanya minta maaf saja Mas?"


"Mas…."


"Kenapa Mas tidak menjelaskan secara langsung?"


"A… "


"Jika Mas mengatakan pada Dilla, Dilla tidak akan salah pa...." 


Cup….


Ryan gemes dengan Dila yang terus memotong perkataan dia. Ryan spontan mengecup bibir Dilla sekilas agar Dilla bisa diam. Dilla terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Ryan. 


"Nah, akhirnya sekarang kamu sudah berhenti bicara juga. Biarkan Mas bicara dulu, jika kamu terus bertanya tanpa memberikan Mas waktu untuk menjawab maka…."


Plakkk….


Dilla tiba-tiba menampar wajah Ryan. Dilla segera berlari dari sana wajah sudah seperti kepiting rebus karena tindakan Ryan tadi. Ryan berani mengecup bibir Dilla tanpa melihat kondisi dan situasi. Mereka tadi berada di tempat umum dan ada orang yang mondar-mandir.


"Ya Tuhan, apalagi salah aku. Dari tapi salah melulu."


Kemudian Ryan segera berlari menyusul Dilla. Ryan tidak mau Dilla semakin marah sama dia.


Bersambung….


Pengumuman pemenang giveaway pembukaan jatuh pada Tri Marhaeni. Selamat buat Kakak ya, jangan lupa cek PC untuk konfirmasi. 


Semoga semua sahabat NAD mau mengikuti giveaway ini sampai tanggal 30 Agustus. Tolong vote sebanyak-banyaknya ya. Semoga Novel ini bisa masuk peringkat tinggi berkat dukungan kalian semua.


Terima kasih. ^_^