
Dua bulan kini juga telah berlalu sejak Dilla menjadi baby sitter. Selain Dilla yang semakin akrab dengan Reza dan Rio, yang lain tidak ada yang berubah.
Pekerjaan membersihkan rumah sudah di urus oleh Mina dari lembaga penyediaan pembantu profesional yang kemarin di gantikan sama Dilla. Sebenarnya Rita mau menolak dia, tapi dari lembaga mengatakan bahwa Mina cukup kompeten dan profesional. Kemarin adalah suatu kelalaian Mina saja. Dan Mina juga berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
Kini waktu sudah menunjukan siang, Dilla baru saja selesai menemani Rio tidur siang. Setelah Rio tertidur, Dilla keluar dari kamar Rio dan segera turun ke lantai satu.
Saat tiba di lantai satu Dilla bertemu dengan Rita. Dari gelagatnya, Rita seperti buru-buru mau pergi ke suatu tempat.
"Dilla di mana Rio?" tanya Rita.
"Rio sudah tidur siang Tante."
"Kalau gitu boleh Tante minta tolong sama kamu?" tanya Rita.
"Minta tolong apa Tante, kalau Dilla sanggup, Dilla pasti bantu."
"Bisakan Tante minta tolong sama kamu untuk kasih makan Ryan anak Tante. Tante ada urusan mendadak yang harus diurus sekarang. Dia dari pagi belum makan, tadi pagi saat Tante tawarin makan katanya nanti saja dan perawat yang merawatnya juga sudah mengundurkan diri dari kemarin. Tante khawatir dengan kesehatan Anak Tante."
"Baik Tante, akan Dilla bantu."
"Terima kasih ya Dilla. Kalau begitu Tante pamit dulu. Tante sudah sangat terlambat, mungkin besok lusa baru Tante balik. Tante titip anak dan cucu Tante ya. Nanti kalau Tante sudah selesai sama urusan ini, baru Tante bisa mencari perawat yang baru buat Ryan."
"Iya Tante."
Rita segera pergi dari sana menuju keluar rumah yang sudah ditunggu oleh supir pribadinya. Mobil tersebut langsung meluncur kejalanan.
Sedangkan Dilla menuju ke dapur untuk mengambil makanan untuk tuannya. Dilla mengambil nampan yang ada di dalam lemari, mengambil nasi dan lauk pauk serta tidak lupa buah-buahan juga. Dilla menaruh makanan dan minuman di atas nampan tersebut dan membawanya ke lantai dua.
Sebenarnya perawat yang merawat Ryan adalah perawat yang baru direkrut juga. Masuknya barengan sama Mina, tetapi perawat itu merasa tidak sanggup merawat Ryan dan akhirnya lebih memilih mengundurkan diri daripada dia makan gaji buta. Karena Ryan susah sekali kalau dibilangin dan juga sering menolak makan. Perawat itu merasa Ryan tidak memerlukan perawatannya maka ia lebih memilih mengundurkan diri.
Dengan nampan di tangan Dilla menaiki tangga menuju ke kamar Ryan.
"Permisi Tuan," ujar Dilla.
Dilla mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak mendapatkan respon apapun, yang ada hanya suara angin berhembus. Dilla memilih membuka langsung kamar majikan yang itu. Kesan yang terlihat pertama kali bagi Dilla adalah kamar yang mewah, nyaman dan indah. Kamar ini lebih di dominasi oleh warna biru cerah.
'Kamar orang kaya mah beda sama orang di kampung, semua isinya mahal-mahal,' batin Dilla melihat isi kamar itu.
Dilla dapat melihat tuannya yang duduk membelakangi Dilla. Ryan duduk di atas kursi roda, di depan jendela sambil melihat ke arah langit.
"Permisi Tuan, saya Dilla baby sitter Tuan Muda Reza dan Rio," Dilla memperkenalkan diri.
Merasa ketenangannya terganggu, Ryan melirik ke arah orang yang mengusiknya. Dilla terpana dengan wajah tampan tuannya.
'Waaah... Tuan Ryan ternyata sangat tampan. Baru kali ini Dilla lihat orang setampan ini. Hati Dilla jadi dag dig dug serrr.'
Dilla terbengong melihat betapa tampan tuannya.
"Pergi!" ketus Ryan.
Ryan kembali menekuni kegiatan tadi, melihat langit yang cerah.
'Tidak jadi di ACC deh tampannya. Galak bener, kek macan.'
Dilla yang awalnya suka jadi tidak suka lagi melihat sikap tidak sopan tuannya.
"Maaf Tuan, kata Tante Rita, Tuan belum makan, jadi Tante Rita menyuruh saya memberikan Tuan makan siang. Jadi sekarang Tuan makan ya," ujar Dilla lembut.
"Tapi Tuan harus makan dulu. Baru setelah itu saya akan keluar."
'Siapa juga yang mau lama-lama sama macan macam Tuan.'
"SAYA BILANG KELUAR YA KELUAR!" teriak Ryan.
Dilla benar-benar kaget mendengar teriakan Ryan yang cukup keras.
"Tapi kata Tante, Tuan harus makan," kata Dilla dengan kekeh.
"KAMU BENERAN TULI YA! TIDAK DENGAR SAYA BILANG SAYA TIDAK MAU MAKAN. KELUAR DARI KAMAR SAYA DAN BAWA SEKALIAN MAKANANNYA!" murka Ryan.
"Pokoknya Tuan harus makan dulu, baru setelah itu saya keluar," ucap Dilla santai.
Dilla tidak terpengaruh sama teriakan Ryan. Karena Dilla tau Ryan lumpuh dan tidak bisa bergerak sama sekali. Dilla juga bukan tipe yang akan takut jika digertak, malahan Dilla akan mengertak balik. Tapi kali ini kondisi berbeda tidak mungkin dia menggertak balik majikannya, apa lagi majikannya sedang sakit.
"Kalau saya tidak mau makan, kamu mau apa. Itu terserah saya, mulut-mulut saya, tubuh-tubuh saya. Tidak ada hubungannya sama kamu," Ryan berujar acuh karena tidak mempan meneriaki Dilla.
"Pokoknya Tuan harus makan," ngotot Dilla.
Karena merasa orang yang tak dikenal ini tidak mau keluar, Ryan memilih diam saja. Ryan tidak mau hari tenangnya diganggu. Dilla yang melihat sang majikan mengabaikannya, Dilla merasa marah dan kesal.
Tanpa diduga Ryan, Dilla mendorong kursi roda Ryan ke arah teras balkon. Karena memang Ryan lumpuh jadi Ryan tidak bisa berontak sama sekali. Dilla memberhentikan kursi roda Ryan pas di tengah terik matahari. Sedangkan Dilla langsung menepi ke arah yang lebih teduh di bawah bayangan pohon.
"APA YANG KAU LAKUKAN HAHHH!" teriak Ryan lagi.
Ryan kaget atas apa yang dilakukan Dilla.
"Menjemur," jawab Dilla enteng.
Dilla sudah mendudukkan diri di kursi yang ada di tepi jendela yang tidak terkena sinar matahari.
"KAMU PIKIR SAYA KAIN JEMURAN! BAWA SAYA KE TEMPAT SEMULA!" Ryan semakin marah atas kelancangan gadis yang tidak jelas asal usulnya itu.
"Kalau Tuan mau saya bawa ke tempat semula, Tuan harus janji dulu kalau Tuan mau makan."
"JANGAN LANCANG KAMU!"
"Ya udah tetap di sana aja," ujar Dilla dengan memperhatikan kuku-kuku tangannya.
'Sepertinya ini kuku sudah panjang, sudah bisa di potong kembali.'
"KAMU TIDAK DENGAR APA KATA SAYA HAH!"
Dilla mengabaikan majikannya.
Beberapa menit berlalu Ryan sudah mulai kepanasan, hari ini cuaca lumayan terik. Karena sudah terlalu lama di bawah sinar matahari yang sangat panas, Ryan memilih mengalah dari pada dia nanti gosong.
"Baiklah saya mau makan, bawa saya kembali ke kamar," pasrah Ryan.
"Nah gitu dong dari tadi, kan enak," ujar Dilla.
Dilla menghampiri Ryan dan mendorong kembali kursinya ke dalam kamar.
Bersambung....