Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 44. Ais Telim



"Kenapa mommy lama sekali, Rafa dan Reza bosan menunggu mommy" protes Rafa.


"Kenapa kalian tidak main terus"


"Tidak ada mommy tidak seru" jawab Reza.


"Ya sudah, sekarang kita mau main apa, ah ini aja, bagaimana kita main puzzle aja" Dilla bertanya kepada mereka tapi malah memilih pilihan sendiri.


"Baik mommy"


"Masing masing satu ya, nanti kita lihat siapa paling cepat siap dia yang menang"


"Siap mommy"


"Omy anti antu Liyo ya"


"Iya sayang"


"Ih mommy curang, masak Rio di bantu sih" protes Rafa.


"Kan Rio masih kecil, beda sama kalian yang sudah biasa mainnya"


"Baiklah mommy sama Rio, sedangkan kami masing masing, jadi kalau cepat siap dapat hadiah apa mommy?"  tanya Reza.


"Nanti yang kalah dapat satu cup es cream sedangkan yang menang dapat dua cup, gimana?" tanya Dilla.


"Kenapa dapat dua mommy, bukan tiga" tawar Rafa.


"Tidak baik makan es cream banyak banyak, nanti bisa sakit perut, jadi kapan ni mau mulai mainnya"


Mereka langsung memulai bermainnya, memasang pasangan puzzle dengan yang cocok.


"Omy di cini?"


"Ah bukan yang itu sayang, tapi yang ini" Dilla memberikan potongan puzzle yang cocok.


"Oteh omy" Rio segera mengambilnya dan menaruhnya di bagian gambar yang cocok.


Mereka sibuk bermain, mereka telah menyusunnya sebagian tapi tiba tiba ada suara ributan di ruang tamu.


"Mommy ada apa sih, ribut sekali di depan" tanya Reza.


"Mommy juga tidak tau, kira kita ada apa ya"


"Jangan jangan ada orang jahat yang masuk lagi mommy"


"Husss jangan bicara begitu, tidak baik"


Mereka bertiga sedang bertanya tanya apa yang terjadi di ruang tamu, tanpa mereka sadari Rio membongkar beberapa pasang puzzle milik reza dan Rafa.


"Yah rio, apa yang rio lakukan" teriak Rafa saat melihat Rio ada di samping puzzelnya.


"Kenapa puzzle Reza yang tersusun tinggal segini tadi tinggal pasang sedikit lagi" mendengar ucapan Reza, Rafa juga memperhatikan puzzle nya.


"Kenapa punya ku juga berubah, tadi tinggal sedikit juga"


Rio segera membuang puzzle milik Reza dan Rafa yang di ambil tadi.


"Lho bukannya ini bagian puzzle milik Reza dan Rafa ya" Dilla mengambil dan memperhatikan puzzle yang Rio buang.


"Yah pasti rio main curang" protes Rafa.


"Riooooo" seru Dilla.


"Maap omy"


"Maaf kenapa" Dilla melipat kedua tangannya di depan dadanya dengan ekspresi di buat sedikit tampak marah.


"Maap omyyy" Rio hanya bisa menautkan tangannya melihat ekspresi mommy nya.


"Rio tau apa yang Rio lakukan" tanya Dilla lagi.


Rio menganggukkan kepala nya.


"Liyo calah omy, liyo culang"


"Kenapa Rio berbuat curang begini, padahal mommy sudah membantu Rio dari tadi, padahal punya Rio juga tinggal sedikit lagi, mommy jadi kecewa sama Rio" Dilla kini beneran kecewa.


"Maap omy, liyo calah, Liyo anya inin ais telim uwa tup" kata Rio sambil menunjukkan tiga jarinya.


"Rio bilang dua tapi jarinya menunjukkan tiga" Dilla melipatkan satu lagi jari rio.


"Nah ini baru dua"


"Adi Liyo apat ais telim uwa tup?" tanya Rio berbinar senang.


"Iya Rio dapat dua cup es krim, uhhh gemesnya Rio"


Dilla memeluk gemas Rio dan menggoyangkan badan ke kiri dan ke kanan sangking gregetnya. Sedangkan Rio senang mendengar bahwa dia bisa makan es krim dua cup.


"Ihhh mommy gimana sih, Rio sudah berbuat curang tapi malah Rio yang dapat dua cup, Rafa nggak terima" protes Rafa.


"Iya, mommy yang adil dong sama Reza dan Rafa juga" tambah Reza.


"Horeeeee dapat dua cup eskrim, dua cup"


"Horeeeee dapat dua cup eskrim, dua cup"


Banzai reza dan rafa, mereka berpegangan tangan sambil lompat lompat kecil.


Rio segera melepaskan pelukan Dilla dan ikut melompat lompat kecil seperti abang abangnya.


"Sudah sudah jangan lompat lompat lagi, nanti kalian jatuh dan terluka, ayo sekarang kita pergi ke supermarket buat beli es krim, soalnya stok es krim yang ada di rumah sudah habis"


"Mommy mommy nanti beli snack kentang juga ya" tawar Rafa.


"Iya mommy Reza juga mau snack, tapi Reza mau yang rasa jagung"


"Kalau Rio gimana mau beli snack juga nggak"


"Liyo uga Liyo uga, Liyo mau banaaak nek nek" kata Rio merentangkan kedua tangannya.


"Ah Rio emang doyan makan, tapi nggak boleh beli banyak banyak ya, nanti kalian masing masing cuma boleh beli dua cup es krim dan satu snack saja oke, kalau nggak kita nggak jadi pergi"


"Iya mommy kami janji" Reza dan Rafa berjanji.


Tetapi Rio hanya diam saja.


"Kalau begitu ayo kita berangkat, kita minta tolong sama pak Jaka agar mengantar kita ke supermarket biar lebih cepat"


"Ayo mommy"


"Yo yo Omy"


Mereka bertiga buru buru menarik Dilla pergi ke supermarket yang ada di dekat perumahan Suherman. Di dekat pintu Dilla melihat Mina yang lagi misuh misuh.


"Mbak Mina ada apa?" tanya Dilla


"Oh Dilla ternyata kamu, itu tu, tadi ada orang gila yang nyariin tuan Dafa"


"Orang gila?" tanya Dilla.


"Iya orang gila, sudah di bilangin tuan Dafa nggak ada di rumah, tapi masih ngotot aja mau menemui tuan Dafa"


"Orangnya di mana mbak"


"Orangnya sudah aku usir, dia nggak sopan sama sekali jadi tamu"


"Tapi mbak Mina apa nggak apa apa mbak ngusir tamunya, siapa tau itu tamu penting tuan Dafa"


"Tamu penting dari mana, palingan itu orang yang ngejar ngejar tuan Dafa, karena tuan Dafa menghindari dia, pasti dia nekat datang ke rumah, wanita sekarang memang sungguh tidak tau malu ya" ujar Mina.


Padahal Mina juga tak tau malu saat bertemu dokter Sultan.


"Ah iya mbak" Dilla hanya bisa meng ia kan saja.


"Mommy ayo dong cepat nanti es krim nya ke buru meleleh"


"Iya Rafa, sabar ya, lagian mana ada orang yang menjual es krim yang meleleh, kan semua ditaruh di tempat pendingin"


"Aduh mommy jika kita lama pergi nya nanti keburu di beli orang lain" Reza juga ikutan menyuruh Dilla cepat cepat.


"Iya iya kita pergi sekarang" Dilla hanya bisa mengelengkan kepala. Lagian mana ada orang yang memborong semua es krim.


"Kalian mau ke mana Dilla"


"Itu mbak, Dilla mau ke supermarket depan, mau beliin mereka es krim"


"Omy ama" Rio kini malah menarik Dilla.


"Mbak, Dilla pergi dulu ya, mereka sudah nggak sabaran"


"Iya Dilla, hati hati di jalan"


Mina hanya bisa mengelengkan kepala, dia mengurus satu bocah saja sudah kerepotan, apa lagi mengurus tiga bocah sekaligus. Mina memutuskan melanjutkan pekerjaannya dari pada memikirkan anak majikannya yang membuat dia makin pusing gara gara tamu yang tidak sopan tadi.


***


"Pak tolong antarkan kami ke supermarket depan ya"


Kebetulan pak Jaka juga ada di depan rumah sambil mengelap mobil. Jadi mereka tidak perlu mencari pak Jaka terlebih dahulu.


"Baik Dilla"


Mereka memasuki mobil, Reza duduk di depan sedangkan yang lain duduk di belakang.


"Pak ayo cepat nyalain mobilnya" seru Rafa.


"Iya tuan muda, ini mau jalan kok"


"Rafa yang sabar sayang, supermarket nya nggak akan kabur kok"


Setelahnya mobil itu meluncur ke arah supermarket.


Bersambung.....