Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 89.Ruang Operasi



"RAFA!" teriak Jelita dan Dilla.


Jelita tidak tau seberapa cepat langkahnya. Sepersekian detik Jelita sudah bisa merengkuh tubuh Rafa kedalam pelukannya. 


Brakkk


Tubuh Jelita terlempar beberapa meter ke jalan dan kepalanya terbentur trotoar jalan.


"MBAK JELITA!" teriak Dilla histeris.


Dilla segera menghampiri mereka. 


Jelita masih sadar, dia melepaskan pelukannya. Dia merasa bersyukur Rafa baik baik saja. Tubuh Rafa gemeteran shock.


Dengan tangan yang lemah Jelita meraih pipi Rafa yang sudah duduk.


"Sayang maafkan Mommy ya, Mommy bukan Mommy yang baik buat kamu, huk huk," ucapan Jelita terhenti karena dia muntah darah.


"Mommy harap kamu selalu bahagia, sekarang Mommy akan pergi sesuai keinginan kamu," sambung Jelita setelah batuk darah.


Tangan Jelita jatuh terkulai, Jelita mulai menutup matanya pelan pelan. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Jelita ingin sekali mengatakan pada Rafa supaya jangan menangis tapi suaranya tidak mau keluar lagi.


"Mommy… Mommy… MOMMYYY."


"Mommy bangun, Mommy jangan tinggalin Rafa lagi."


Rafa berteriak tidak karuan.


Dilla segera memangku Jelita.


"Mbak, Mbak Jelita ayo bangun Mbak, mbak harus yang kuat," ujar Dilla.


Pak Jaka, Rio dan Reza mendekat. Beberapa para pejalan kaki juga melihat kejadian itu dan mulai berkerumunan.


Rio dan Reza juga ikut menangis.


"Pak Jaka cepat telpon ambulan," suruh Dilla.


Pak Jaka langsung menghubungi ambulan. Dan bertugas menjaga Rio dan Reza.


Dengan tangan yang lemah Jelita meraih tangan Dilla setelah dia membuka matanya walau hanya sedikit.


Tolong jaga Rafa.


Jelita menggerakkan bibirnya berharap Dilla mengerti.


"Mbak harus kuat, kita akan menjaga mereka bersama," jawab Dilla.


 


Jelita merasa tenang Dilla mengerti pesannya. Untuk terakhir kalinya Jelita memberikan sebuah senyuman pada Rafa, senyuman pahit dengan darah di sekujur mulut. Jelita kembali menggerakkan bibir.


Maafkan mommy, Mommy sayang Rafa.


Setelah itu Jelita hilang kesadaran sepenuhnya.


"Mommyyyy…."


"Tidak tidak tidak, Mbak harus kuat," tolak Dilla.


Dilla bisa merasakan nafas Jelita yang mulai melemah.


Rafa terus berteriak memanggil Jelita sampai dia pingsan.


Dilla kembali merengkuh badan Rafa yang terjatuh.


"Rafa…."


Beberapa saat kemudian mobil ambulan datang dan segera memberikan pertolongan pertama dan mengangkatnya ke atas ambulan.


Dilla menggendong tubuh Rafa dengan kaki yang lemah.


"Pak saya titip Rio dan Reza ya, tolong hubungi keluarga Suherman," kata Dilla.


"Baik Dilla," sahut Pak Jaka.


"Omyyy."


"Rio Mommy mohon." Dilla sudah tidak bisa membendung air matanya.


Reza segera memeluk Rio. Rio mengangguk kepalanya.


Dilla kemudian naik ke dalam mobil.


"Ayo Tuan Muda."


Rio dan Reza berjalan sambil berpelukan. Mereka juga sedih melihat keadaan Tante Jelita dan Rafa.


***


"Mbak Mbak harus yang kuat, demi Rafa dan juga Tuan Dafa," Dilla menyemangati Jelita.


"Maaf Mbak apa anak itu baik baik saja?" tanya Suster Perawat yang melihat Rafa.


"Rafa tadi pingsan saat melihat Mommy kecelakaan," kasih tau Dilla.


"Sini Mbak biar saya cek."


Dilla segera menyerahkan Rafa, dia juga khawatir sama kondisi Rafa.


"Maaf Mbak, keadaannya sangat kritis, kita harus segera membawanya ke ruang operasi."


Dilla semakin menangis.


"Keadaan anak ini juga kurang baik seperti nya dia mengalami shock berat, tapi ini tidak membahayakan nyawanya" sambung Perawat yang satunya.


Dilla tidak tau harus berbuat apa.


"Sebaiknya Mbak memberi semangat kepada Mbak ini agar bisa bertahan, biasanya orang yang di bawah kesadaran masih bisa mendengar suara yang tidak asing bagi dia," saran Perawat.


Dilla segera memberikan semangat kepada Jelita. Mobil itu terus melaju dengan kencang menuju ke rumah sakit.


Mobil tiba di rumah sakit. Mereka segera melarikan Jelita ke ruang operasi. Sedangkan Rafa di bawa ke ruang UGD.


"Mbak tolong jaga Rafa sebentar, saya harus menyusul Mbak Jelita," pinta Dilla.


Dilla tidak tau harus minta tolong sama siapa lagi kalau bukan pada Perawat yang membawa mereka.


"Baik Mbak, Mbak tenang saja, sebaiknya Mbak segera menyusul Mbak nya saja."


Setelah mengucapkan terima kasih, Dilla segera berlari ke ruang operasi.


"Siapa keluarga pasien yang kecelakaan tadi?" tanya seorang Dokter.


"Saya Dok," jawab Dilla yang baru sampai.


Nafas Dilla terengah engah. Kaki dia juga mulai lemas.


"Pasiennya harus segera dioperasi jadi kami membutuhkan tanda tangan," ujar sang Dokter.


Dilla bukanlah keluarga sah Jelita, dia hanya menganggap Jelita sebagai Mbak nya. Dia tidak berhak menandatangani surat pernyataan tersebut.


"Biar saya yang tanda tangan, pokoknya Dokter harus melakukan yang terbaik buat istri saya," sahut Dafa.


Dafa dan Ryan tiba di ruang operasi. Tadi mereka mendapat telpon dari Pak Jaka. Mereka segera berangkat ke rumah sakit. Mereka cepat sampai karena tadi mereka berada di dekat rumah sakit.


"Tuan tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik."


Dokter kembali masuk beserta Perawat setelah mendapat tanda tangan. 


Dilla tidak sanggup lagi menopang kakinya. Ryan memegang bahu Dilla yang hampir terjatuh. Ryan membimbing Dilla duduk di kursi.


"Apa yang sebenarnya terjadi Dilla?" tanya Dafa.


Saat ini Dafa sedang tidak stabil.


Dilla menjelaskan kejadiannya dari mereka keluar dari restoran dan sampai mereka di sini.


Dafa meninju tembok rumah sakit sampai tangannya berdarah. Dafa jadi ke ingat pembicaraan sama Jelita yang tadi pagi. Dafa berharap pembicaraan itu bukanlah pesan terakhir Jelita. Dia tidak sanggup lagi jika harus kehilangan jelita. Dafa menjambak rambutnya.


"Terus Rafa nya ada dimana?" tanya Ryan.


Dafa juga baru ingat akan anaknya.


"Rafa saat ini sedang ada di UGD, tadi Dilla menitipkannya sama Perawat karena Dilla mau menyusul Mbak Jelita," jawab Dilla.


"Dafa, biar aku yang jaga Rafa, kamu pasti lebih mengkhawatirkan kondisi Jelita, kamu fokus saja sama Jelita," ujar Ryan.


"Terima kasih," sahut Dafa.


Ryan segera mencari keberadaan Rafa.


Beberapa waktu kemudian Sultan datang.


"Dilla, Dafa," panggil Sultan.


Mereka berdua melihat ke arah Sultan.


"Kenapa kalian bisa di sini, siapa yang kecelakan?" tanya Sultan.


Belum mereka menjawab seorang Suster keluar dari dalam ruang operasi.


"Dokter sudah sampai, ayo cepat masuk Dok," suruh Suster itu.


"Ada apa ini Suster, kenapa Sultan juga ikutan masuk?" tanya Dafa.


Karena Dafa tau jika Sultan Dokter spesialis saraf.


"Maaf Tuan, luka pasien yang di kepala cukup parah dan dekat dengan saraf. Jadi kami memanggil Dokter saraf untuk ikut dalam operasi, selebihnya Tuan bisa tanya nanti."


"Sultan tolong selamatkan istri aku," Dafa memohon.


"Kamu tenang saja, kamu harus berdua agar istri kamu bisa bertahan. Kami akan melakukan yang terbaik."


Setelah menepuk bahu Dafa, Sultan segera masuk.


"Tuan harus kuat, tTuan harus memberi semangat buat Mbak Jelita juga Rafa," ujar Dilla.


"Terima kasih Dilla, untung saja saat kejadian ada kamu yang menolongnya, saya tidak tau harus bagaimana jika Jelita beneran pergi," kata Dafa berterima kasih. 


"Tuan harus yakin sama Mbak Jelita, Mbak Jelita pasti kuat," kata Dilla menenangkan.


Dilla yakin jika Dafa dalam keadaan yang sangat kacau. Dilla juga prihatin, baru sebentar mereka bersama, tapi Tuhan memberikan mereka cobaan yang berat. Tuhan pasti sangat menyayangi mereka.


Bersambung…