
Setelah menunggu beberapa menit tapi belum ada kabar tentang Dilla dan Jelita. Bahkan suara bayi juga belum terdengar.
"Sultan, kenapa kamu belakangan ini jarang pergi ke rumah Om?" tanya Aditya mengalihkan suasana.
"Maaf Om. Belakangan ini Sultan sedikit sibuk," jawab Sultan tidak enak.
"Om cibuk tenapa?" tanya Rio yang mulai bosan menunggu kabar tentang adiknya.
"Itu, Om Sultan belakangan ini sibuk mau mengurus pernikahan Om," jawab Sultan.
"Jadi Sultan ingin menikah?" tanya Aditya dan Riya barengan.
"Iya Om, Tante," sahut Sultan.
"Kenapa kamu tidak memberitahukan kabar ini sama Om dan Tante. Apa kamu tidak menganggap kami ini keluarga lagi?" tanya Aditya.
"Bukan seperti Om. Rencana Sultan dalam waktu dekat kita akan mengabari kalian," bantah Sultan.
"Kalau boleh tahu, nak Sultan mau menikah sama siapa?" tanya Rita.
"Sultan mau nikah sama Mina, Tante," jawab Sultan sambil menggaruk kepala yang tidak gagal.
"Mina?" tanya Rita yang tidak asing sama nama Mina.
"Maksud kamu Mina yang sempat bekerja di rumah kami. Mina yang mengejar-ngejar kamu itu?" tanya Ryan ikut nimbrung.
"Mina anaknya teman Tante itu ya?" tanya Rita yang sudah teringat sama Mina.
"Iya Ryan dan Tante," jawab Sultan.
"Kalau begitu selamat ya buat kalian berdua. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah," doa Rita.
"Terima kasih atas doanya Tante," ucap Sultan.
"Tapi kok kamu bisa nikah sama Mina. Bukannya kau terus menolak pendekatan Mina?'
"Ceritanya panjang. Kapan-kapan aku akan menceritakannya sama kamu," jawab Sultan Lesu.
Sultan tidak sanggup memikirkan cara pendekatan Mina. Mulai dari yang normal sampai ekstrim. Tapi lama-kelamaan Sultan luluh juga dengan sikap Mina apa adanya.
"Jangan lupa undangannya ya nak Sultan."
"Nanti Sultan akan memberikan undangan secara resmi Tante," sahut Sultan.
"Iya Sultan, kami akan menunggunya," kata Aditya.
"Om, Tante, Ryan, Dafa, Sultan mau pamit untuk bertugas lagi ya," pamit Sultan.
"Iya nak Sultan, kami paham. Kamu ini seorang dokter. Pasti kamu mempunyai banyak pasien. Nanti ada pasien yang mencari kamu," ujar Aditya.
"Iya Om."
"Ya sudah, kamu sana berangkat kerja. Tidak baik menelantarkan pasien," ucap Rita.
"Iya Tante. Kalau gitu Sultan pamit dulu ya," pamit Sultan.
"Iya nak."
Setelah itu Sultan segera meninggalkan tempat daerah bersalin. Sultan masih ada kerjaan yang menunggu. Sultan tidak mau menumpuk pekerjaan. Nanti acara pernikahan dia bisa banyak dokumen dan laporan yang belum dia periksa.
Mereka kembali menunggu proses persalinan Dilla dan Jelita. Mereka sudah tidak ada topik pembicaraan lain.
"Oek… oek… oek…."
Mereka mendengar suara teriakan tangisan bayi dari ruangan bersalin. Mereka senang dengan suara tangisan tersebut.
"Akhirnya ada satu suara bayi. Semoga yang satu lagi cepat menyusul," kata Rita senang.
"Iya Ma, semoga kedua cucu kita akan baik-baik saja," doa Aditya
Ryan dan Dafa saling berdoa agar anak mereka baik-baik saja. Mereka tidak mempermasalahkan bayi siapa yang lahir duluan. Yang penting bagai mereka ibu dan anak bisa selamat.
Mereka kembali menunggu suara berikutnya. Tetapi tidak terdengar hingga puluhan menit kemudian. Mereka takut ada masalah. Hingga tiba-tiba keluarlah seorang suster dari ruang bersalin.
"Suster, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Ryan dan Dafa secara bersamaan.
"Mohon Tuan-tuan menunggu sebentar lagi. Ibu yang pertama masuk sudah selesai melahirkan. Sekarang kita menunggu ibu yang kedua untuk proses melahirkan," ucap suster tersebut.
"Maksud Suster siapa yang yang sudah melahirkan?" tanya Dafa yang tidak tahu siapa yang telah melahirkan duluan.
"Ibu yang bernama Jelita sudah melahirkan. Ibu Jelita sudah pernah melahirkan sekali sehingga prosesnya lebih cepat. Sedangkan untuk ibu Dilla, ini adalah proses persalinan pertama. Jadi membutuhkan waktu yang yang lebih lama. Tuan-tuan dan keluarga tidak perlu khawatir. Keadaan mereka semua baik-baik saja," terang suster.
"Terus bagaimana keadaan bayi saya yang lahir tadi suster?"
"Bayi Tuan dalam keadaan sehat. Saya izin permisi dulu ya Tuan. Nanti Tuan tanyakan lagi. Ada barang yang perlu saya ambil."
"Iya suster," sahut mereka tidak mau mengganggu pekerjaan Suster.
Suster itu segera pergi dari sana untuk mengambil perlengkapan yang diperlukan. Dia berjalan cukup cepat.
"Ryan, kamu yang sabar. Dilla pasti kuat," kata Dafa menepuk bahu Ryan yang tegang.
"Iya Dafa. Aku percaya jika Dilla kuat. Dia melawan preman saja berani, pasti melahirkan juga lebih berani," kata Ryan untuk menghibur diri sendiri.
"Kamu ini bisa saja," sahut Dafa.
Setelah menunggu waktu yang cukup lama akhirnya Dilla juga sudah melahirkan.
"Oek… oek… oek…."
"Akhirnya lahir juga," ucap Ryan bangga.
"Selamat ya Ryan, Dafa."
***
Sesuai dengan prediksi saat mereka cek kandungan. Dilla melahirkan seorang putri yang sangat cantik. Sedangkan Jelita melahirkan seorang anak laki-laki.
Kini Jelita dan Dilla sudah dibawa ke ruang menginap. Dilla dan Jelita ditempatkan di satu ruangan yang sama. Mereka masih dalam pengaruh efek habis melahirkan. Mereka sangat capek.
Sedangkan untuk kedua bayi mereka sedang dibersihkan oleh para suster di dalam ruangan steril. Di sana juga sudah ada Reza dan Rafa yang sudah diantar oleh supir mereka.
Di dalam ruangan terlihat Rio yang duduk cemberut dengan meletakkan kedua tangannya di depan dada. Perhatian Rita terpecah oleh tingkah Rio.
"Rio kenapa sayang?" tanya Rita ikut duduk di samping Rio.
"Adik Liyo mana Nek," jawab Rio kesal tidak bisa bertemu sang adik.
"Rio yang sabar dulu. Suster sedang memandikan adik Rio," ucap Rita.
"Tenapa butan Liyo yang manditan adik Liyo. Tenapa custel tu main ambil aja?" tanya Rio tidak terima.
"Adiknya masih kecil. Jadi harus dimandikan hati-hati," ujar Rita menggelengkan kepala.
Rita tidak sanggup lagi berdebat sama keposesifan Rio tentang adiknya. Rita memilih untuk duduk di tempat lain. Jika duduk di samping Rio pasti Rio akan menanyakan pertanyaan itu lagi.
"Sayang kamu sudah bangun," ujar Ryan yang melihat Dilla mulai siuman.
Dilla mulai membuka matanya dengan pelan-pelan. Dilla masih terasa lemah dan pusing.
"Mas, di mana kita?" tanya Dilla linglung.
"Kita ada di rumah sakit. Kamu baru saja melahirkan putri kita," ujar Ryan sambil mengecup kening Dilla.
Dilla mengabaikan kecupan Ryan. Dilla segera berapa perutnya. Dilla bisa merasakan perutnya sudah data seperti semula.
"Terus anak kita mana Mas?" tanya Dilla melihat ke sekeliling.
"Dia sedang dibersihkan sama suster. Sebentar lagi mereka akan dibawa ke sini," jawab Ryan lembut.
Dilla menganggukkan kepalanya. Dilla sudah tidak sabar melihat rupa anak mereka. Dilla juga ingin menggendong bayi dia sekarang.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu. Kamu harus banyak istirahat," tegur Ryan yang melihat Dilla mau bangun.
"Iya Mas. Dilla sudah tidak sabar menunggu untuk melihat bayi kita," ujar Dilla.
"Mas juga tidak sabar. Tapi ada yang lebih tidak sabar dari kita," kata Ryan menunjukkan Rio yang mulai mondar mandir di dekat sofa.
Dilla terkekeh melihat Rio yang sudah seperti setrikaan. Sedangkan Reza dan Rafa duduk tenang di samping Aditya dan Rita.
Bersambung....