Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 117. Mandi Di Sungai



Dilla menyusuri jalan setapak untuk mencari Rio, Reza, Rafa, Yudi dan Budi. Dilla telah sampai pada tempat biasanya anak-anak bermain layang-layang. Dilla tidak melihat keberadaan mereka berlima.


"Adik-adik apa kalian melihat di mana Budi dan teman yang dibawa Budi lainnya berada?" tanya Dilla kepada mereka. 


"Tadi mereka lari ke arah sana karena layangan punya mereka putus," jawab salah satu anak di sana.


Dilla mengganggukan kepalanya. 


"Terima kasih ya adik," ujar Dilla. 


Dilla kembali mencari mereka ke tempat yang ditunjukkan oleh anak-anak itu. 


"RIO, REZA, RAFA, YUDI, BUDI," teriak Dilla kaget. 


Mereka berlima terkejut dengan teriakan Dilla yang super keras. Suara Dilla tidak perlu lagi menggunakan pengeras suara, suara toa saja sudah kalah. Dilla dengan buru-buru menghampiri mereka berlima. 


"Kenapa kalian semua bisa kotor begini?" tanya Dilla.


Dilla kaget melihat meraka yang sudah bermandikan lumpur.  Mereka hanya bisa terdiam takut dengan amukan Dilla. Mereka saling merapat.


"Sekarang jelaskan kenapa badan kalian berlima penuh dengan lumpur?" 


Mereka saling melirik satu sama lain. 


"Maaf Mbak Dilla, tadi saat kami mengejar layang-layang putus tidak sengaja Rafa terjatuh ke dalam sawah karena jalannya licin," jawab Rafa. 


"Terus kenapa kalau Rafa yang terjatuh ke dalam sawah kalian semua jadi ikutan kotor juga?" 


"Maap Omy, tadi ada itan tecil ucu ewat, adi Liyo ingin ankap dan acih buat Omy. Talena Liyo ampil atuh, Liyo dang Bang Udi," jawab Rio.


"Karena Rio hampir kepleset ke sawah maka Rio menarik baju Yudi dan Yudi menarik baju Reza, jadinya mereka bertiga jatuh ke sawah barengan," sambung Budi menjelaskan.


Dilla memijit kepalanya yang berdenyut, mereka tidak bisa ditinggalkan sebentar saja, sebentar saja ditinggalkan mereka sudah berbuat ulah seperti ini. Apalagi jika lama ditingkatkan. Dilla yakin jika mereka pasti berbuat ulah di rumah mereka saat Dilla tidak ada.


"Kenapa kamu juga ikutan kotor?" tanya Dilla mencoba bersabar.


Tubuh mereka kotor dari ujung kepala sampai ujung kaki, bagaikan pisang yang habis nyemplung ke dalam adonan dan siap digoreng dadakan. 


Mereka berlima tertawa terkekeh mendengar pertanyaan Dilla. 


"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Dilla heran. 


"Maaf Mommy, karena hanya Abang Budi yang tidak kotor maka kami juga mengejar Bang Budi supaya sama seperti kita. Kami melempar Abang Budi dengan lumpur dan menarik dia jatuh ke sawah juga biar kompak," jawab Reza. 


"Iya Mbak, kita kan kompak, jadi jika satu kotor maka semua jadi kotor. Apalagi jika satu yang tidak kotor maka wajib kotor juga," sambung Yudi. 


"Setelah itu kami kembali mencari ikan yang tadi dilihat sama Rio," kata Rafa.


"Api itan nya tabul-tabul Omy, itan ndak mau diam. Dia lali cana-cini," ujar Rio.


'Ya kali ada ikan yang suka rela ditangkap.'


Dilla menatap mereka berlima dengan tajam. Dilla tidak mentolerir tindakan mereka, bagaimana jika nanti ada yang terluka. Mereka langsung menciut ditatap sama Dilla begitu. 


"Sekarang kalian berlima ikut Mbak atau Mommy ke sungai. Kalian sebaiknya mandi terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Mbak atau Mommy tidak suka sama kalian yang sudah sama seperti kebo," suruh Dilla.


"Holeee mandi cunnai, mandi cunnai," teriak Rio senang. 


"Asyik," teriak Reza dan Rafa bertepuk tangan ria.


Mereka belum pernah mandi di sungai jadi ini pengalaman baru bagi mereka.


Mereka berlima berjalan ke arah sungai dengan riang gembira dan tangan saling bergandengan. Sepanjang perjalanan mereka terus bercanda dan bernyanyi dari satu lagu ke lagu lain. Dilla hanya mengikuti langkah mereka dari belakang dengan tersenyum. Dilla senang jika mereka semua bisa bahagia seperti ini.


"Nah sekarang kalian bisa turun ke sungai dan lepaskan baju kalian, biar bajunya bisa dibersihkan."


Mereka segera melepaskan baju dan celana mereka untuk diberikan kepada Dilla. Setelah itu mereka turun ke sungai yang tidak dalam dan segera mandi. Dilla memperhatikan mereka mandi sambil mengucek baju mereka agar lumpur yang ada di baju mereka hilang. 


Rio, Reza dan Rafa yang belum pernah mandi di sungai bermain dengan gembira. Mereka saling menyiram satu sama lain.


"Kalian saja yang mandi karena kalian yang kotor, kan Mommy tidak kotor jadi tidak perlu mandi lagi." 


Rio kembali lagi kepada mereka berempat dengan cemberut. Padahal dia juga ingin  mandi bersama Dilla. Setelah bersih Dilla meletakkan baju mereka di atas berbatuan. 


"Rio sini," panggil Dilla kepada Rio.


Yang dipanggil Rio tapi mereka semua mendekat ke arah Dilla. 


"Ya Omy?"


Tanpa menjawab Dilla menarik tubuh Rio, Dilla menggosok lumpur yang masih tersisa tubuh Rio dan lainnya satu persatu. Setelah memastikan mereka bersih, Dilla menyuruh mereka untuk segera kembali ke daratan  dan memakai celana mereka kembali. Dilla tidak menyuruh mereka memakai baju agar tidak masuk angin.


Mereka kecewa saat disuruh pulang. Mereka belum puas mandi di sungai.


"Ayo  kita pulang, Papa kalian sudah menunggu di rumah."


"Buat apa Papa kemari?" tanya Reza.


"Mommy tadi kan sudah bilang bahwa Papa kalian ingin jemput kalian bertiga."


"Liyo ndak mau puyang, Liyo mau cama Omy," tolak Rio.


"Kami tidak akan mau pulang kalau Mommy tidak ikut sama kami."


"Rafa juga tidak mau pulang jika Rio dan Reza tidak mau pulang." 


Dilla menatap mereka dengan sendu, tetapi dia tidak berhak atas mereka bertiga karena dia bukanlah siapa-siapa. Mereka mau tidak mau harus ikut Tuannya pulang.


"Tapi kalian harus pulang, pasti yang lainnya sedang khawatir menunggu kalian."


"Liyo ndak mau puyang," teriak Rio keras. 


Rio segera berlari karena dia tidak mau dijemput sama Papanya. 


"Budi, Yudi, kalian jaga Reza dan Rafa sebentar ya, Mbak mau mengejar Rio. Kalian tunggu di sini ya, jangan kemana-mana."


Tanpa menunggu jawaban, Dilla segera mengejar Rio yang sudah berlari jauh. Dilla menangkap Rio sesudah dia bisa menyusul Rio. 


"Rio jangan lari-lari, nanti bisa terjatuh sayang."


"Liyo ndak mau puyang, Liyo mau cama Omydi cini aja ya," pinta Rio yang sudah menangis.  


Dilla segera mengendong Rio dan menepuk bahunya. Dia tidak peduli dengan bajunya yang ikut basah sama celana yang digunakan Rio.


"Rio tidak boleh begitu, bagaimanapun itu, Papa adalah Papa Rio."


"Liyo ndak mau, Omy itut ya."


"Rio jangan nakal, kalau Rio nakal Mommy tidak suka." 


"Liyo enci Papa, Liyo mau cama Omy."


"Rio," tegur Dilla.


Dilla membawa kembali Rio pada mereka berempat saat Rio sudah tidak protes lagi. Rio masih saja menangis sambil memeluk leher Dilla dengan erat.


"Ayo sekarang kita pulang saja ke rumah, pasti Papa kalian sudah lama menunggu kalian."


Reza dan Rafa berjalan dengan tidak semangat. Padahal mereka baru saja bisa bersenang-senang. Tapi Papa cepat sekali sudah menyusul mereka.


Bersambung….


Jangan lupa like, komentar kritik dan sarannya ya, serta vote yang banyak seikhlasnya ya.


#Rekomendasi novel yang keren ini juga ya....